
Hari esok telah tiba, ketiga pemuda tersebut akhirnya selesai bersiap-siap dan akan mencoba berbagai kawasan wisata.
Sebagai seorang pemimpin, Lucan bertugas untuk membuat rencana. Karena dia adalah seseorang yang mengutamakan bersenang-senang, ia memilih untuk naik Snowmobile yang terletak tidak terlalu jauh dari hotel.
Begitu sampai di sana, ternyata sudah lumayan banyak orang berkumpul ingin mencoba wahana itu. Kebetulan hari ini adalah tanggal 25 Desember, dimana Natal sedang berlangsung, jadi turis dari berbagai negara datang ke Finlandia untuk mencoba merasakan suasana Natal paling besar dan indah disini.
Saat sedang menunggu giliran, seorang gadis berambut pirang mengawasi mereka, terutama Alzent. Gadis itu sengaja terus mencari kesempatan hingga akhirnya berada tepat di belakang Veron.
"Aku sudah benar-benar tidak sabar untuk mencoba Snowmobile" sahut Lucan bersemangat "Ini sudah seperti impian masa kecil yang menjadi nyata bagiku" ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Alzent tertawa menanggapinya, lalu menggeleng saat Veron bertanya 'apakah Alzent mengingat masa kecilnya?', yang membuat Veron serta Lucan bingung.
"Bukankah kau pernah menceritakan masa kecilmu, ketika kita akan pergi berperang di Africa?" tanya Lucan.
"Aku juga tidak mengerti, aku hanya tidak bisa mengingatnya" jawab Alzent sambil berusaha mengingat apapun saat umurnya dibawah 10 tahun, namun hasilnya nihil "Entah mengapa aku bahkan tidak dapat mengingat pertama kali aku bertemu kalian"
Lucan memanyunkan bibir, melipat lengan sembari menggali bagian dalam otaknya. Ekspresi dia begitu selesai, menjawab pertanyaan Veron sebab Veron juga merasakan hal yang sama "Aku tidak mengerti, apakah otak kita pernah dicuci sebelumnya? Ataukah terbentur saat terkena bom?"
Tanpa ingin mempermasalahkan hal ini lebih jauh, Alzent meminta keduanya untuk berhenti berusaha mencari tahu dan hanya fokus pada bersenang-senang, kapan lagi mereka bisa melakukan ini bersama bukan?
"Kata-katamu itu seolah kau akan meninggalkan kami saja" tukas Veron kesal "Berhenti mengatakan sesuatu seperti itu, aku tidak ingin mendengarnya keluar dari mulutmu lagi"
"Iya iya, maaf" balas Alzent.
Si gadis asing yang mendengar semua itu, mengernyitkan dahi di balik kacamata saljunya. Ia tak pernah menduga kalau Alzent adalah-
"Yeayy! Snowmobile nya sudah ada! Alzent! Veron! Ayo cepat!" sahut Lucan yang sudah melompat naik ke atas salah satu snowmobile paling depan.
Mau tidak mau, si gadis asing ikut naik si salah satu Snowmobile, lupa akan sesuatu yang begitu penting.
Jumlah orang yang naik snowmobile adalah 9 orang, dimana tiga pemuda tersebut berada di barisan paling depan, si gadis asing di belakang Alzent dan sisanya dinaiki oleh beberapa turis asing.
Baru saja akan menyalakan mesin, Lucan sudah tancap gas lebih dahulu. Alzent serta Veron menjelaskan pada salah satu yang mengurus bahwa mereka sudah mengenal baik daerah ini dan akhirnya mereka diperbolehkan untuk menyusul Lucan yang sudah lumayan jauh.
Snowmobile mereka melaju cepat melintasi padang salju luas berhias pepohonan putih, dimana setiap rantingnya tertutupi salju tebal.
Veron yang awalnya ingin melaju santai, kini mulai saling menikung dengan Lucan sementara Alzent tetap menggunakan kecepatan standar, mengawasi mereka dari belakang.
Si gadis asing berusaha untuk sejajar dengan Alzent, namun pikirnya tak baik untuk berbicara dengan Alzent sekarang, jadi ia memilih untuk terus mengikuti Alzent dari belakang selagi menjaga jarak agar tidak dianggap sebagai stalker.
Begitu selesai, Lucan tanpa menunggu bergegas untuk mengunjungi Rami's Huskies, dimana mereka dapat mencoba DogSledding serta bermain dengan para Husky yang terlihat ganas sekaligus imut.
Tanpa rasa takut sedikitpun, Lucan mengelus beberapa husky sekaligus dan alhasil ia dikerubungi para husky yang langsung bermanja-manja dengannya.
Alzent melangkah sedikit menjauh dari sana, perasaannya mengatakan ada seekor Husky di dalam sebuah bangunan dan benar saja, ia menemukan seekor Husky berbulu putih bersih seperti warna rambutnya dengan sepasang mata yang sama seperti dirinya.
Perlahan Alzent mendekati Husky yang tampak waspada itu, langkah demi langkah, dengan tatapan lembut dan sentuhan penuh perasaan, akhirnya Husky itu datang mendekat bahkan seperti menganggap Alzent adalah pemiliknya.
"Alzent! Alzent!"
Ia mengelus kepala Husky tersebut sekali lagi, lalu bergegas beranjak dari tempat itu menemui Lucan dengan wajah yang seolah bertanya 'darimana saja dirimu?'
Lucan lalu segera naik ke atas kereta luncur yang dapat dinaiki oleh dua orang, Lucan dengan Veron dan kebetulan si gadis asing ada disana juga pingin mencoba naik DogSledding, jadi pengurus tempat itu meminta Alzent untuk membagi kereta luncurnya.
Dengan malu si gadis asing naik di bagian depan, sementara Alzent di bagian belakang. Si pengurus tempat merasa bangga sudah menjadi mak comblang bagi mereka, melihat reaksi dari si gadis dan pemuda tampan yang tampak begitu ramah.
Sampai lupa mengendalikan para Husky dan terjatuh di atas salju. Alzent dan si gadis asing tertawa melihatnya. Lucan serta Veron segera menaikkan kembali kereta luncur tersebut, berusaha menyusul sahabatnya yang sedang bersenang-senang dengan seorang gadis.
Sayangnya mereka tidak melihat raut wajah Alzent yang tampak terkejut serta penasaran saat mendengar suara tawa gadis yang sedang duduk sambil menikmati pemandangan. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu ketika si gadis berbalik ke belakang, Alzent bingung melihat gadis itu malah memalingkan muka.
Dengan sangat cepat gadis tersebut menghilang ketika mereka telah sampai di tempat tujuan. Alzent menengok ke kiri-kanan, namun tak dapat menemukannya.
"Sedang mencari dia?" tanya Lucan penasaran. Senyuman nakal khas dirinya membuat Alzent sedikit malu.
"T-tentu saja tidak. Aku cuma penasaran saja" jawab Alzent cepat, kemudian melangkah cepat menuju jalan keluar "Sudahlah, kita harus bergerak cepat ke Ounasvaara Forest lalu ke Snowman World"
Veron dan Lucan tersenyum penuh selubung sambil menyenggol-nyenggolkan bahu, berusaha menahan diri untuk tidak mengganggu Alzent.
Di Ounasvaara Forest, mereka bertiga berjalan sembari menikmati hamparan salju tebal. Pepohonan disini bahkan terlihat begitu cantik akan pantulan cahaya matahari di saljunya. Mereka menyempatkan diri untuk mengambil foto sebagai kenang-kenangan dan bersiap untuk pergi ke Snowman World.
Disana mereka terkesiap dengan bangunan yang seluruhnya terbuat dari salju, bahkan interiornya pun terdiri dari salju serta es berhias cahaya lampu berwarna-warni, begitu indah dan sulit dilupakan.
Mereka bahkan mencoba untuk mengukir es menjadi sesuatu. Lucan mengukir es nya menjadi lambang Minecraft, Veron sebuah buku dan Alzent sebuah bunga mawar berlekuk sempurna serta indah. Di bawahnya, ia mengukir kalimat 'For U'.
Pengurus tempat disana memuji hasil karya mereka, lalu berfoto bersama di depan karya masing-masing.
Tak terasa hari sudah akan malam, langit mulai gelap berhias bintang. Seusai pamit dengan pengurus tempat, mereka menuju ke Santa Claus Village.
Saat sampai hari sudah benar-benar gelap dan itulah yang membuat Santa Claus Village di Finlandia begitu indah, impian setiap anak kecil yang ingin merasakan suasana Natal, dikelilingi salju, namun terasa hangat dan nyaman.
Ketiga pemuda itu sekali lagi terpukau akan tempat itu dengan pencahayaannya yang begitu mengingatkan masa kecil, namun tidak bagi Alzent.
Masing-masing mulai menjelajahi tempat tersebut, sesudah mengambik foto bersama di tempat-tempat yang indah. Lucan serta Veron menghilang entah ke mana, sementara Alzent menghangatkan diri di depan api unggun luar ruangan.
Sebenarnya ini adalah rencana Lucan dan Veron, sebab mereka tahu si gadis asing itu juga berada di Santa Claus Village. Mereka mengambil posisi terbaik untuk mengintai dari kejauhan, tersenyum gembira ketika melihat si gadis asing sudah berjalan mendekati Alzent.
Gadis tersebut duduk di atas balok kayu, di samping Alzent. Awalnya Alzent masih tidak sadar dan membuat kedua sahabatnya gregetan hingga saat gadis itu terbatuk, Alzent bertanya apakah dia baik-baik saja kemudian menyadari kalau gadis itu adalah gadis yang sama ketika naik DogSledding.
"Apakah kau membutuhkan minuman hangat? Karena tampaknya kau menggigil?" tanya Alzent khawatir, masih berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan namanya.
"Ah, tidak perlu, aku baik-baik saja" jawab gadis itu cepat.
"Tunggu sebentar, aku akan kembali lagi" pinta Alzent lalu bergegas mencari minuman hangat di sekitar situ. Betapa beruntungnya ia mendapatkan segelas coklat hangat dengan bau yang menggoda.
"Ini untukmu, aku sekalian mengambilnya karena aku juga membutuhkan coklat hangat" jelas Alzent sebelum si gadis berkomentar.
"Terima kasih" ucapnya begitu Alzent duduk.
Lucan dan Veron semakin memanas di belakang, berusaha menahan diri untuk tidak datang ke sana dan menanyakan hal-hal tidak penting yang dapat merusak segalanya.
"Namaku Alzent, boleh aku tahu namamu?" tanya Alzent berusaha tidak terdengar terlalu ingin tahu.
Belum memberitahukan jawabannya, gadis itu membuka kacamata saljunya, menyisakan kupluk berwarna putih dari wol. Alzent terbelalak melihatnya, ia merasa seluruh hidupnya berhenti berputar, jantungnya berdegup sangat cepat sampai ia tak dapat bernapas seperti biasa.
Lucan serta Veron penasaran apa yang membuat sahabat mereka menjadi seperti ini, karena wajahnya yang kelewat cantik dan hanya satu gadis saja yang mereka tahu dapat membuat Alzent bereaksi seperti itu...
"Y-Yuna... ?"