
Namun, sesuai perkataan Gerald. Begitu para pasukan berhadapan dengan salah satu dari mereka, hanya seorang diri ia mampu menghabisi pasukan yang berjumlah tak sedikit. Keampuannya memang sangat besar, namun sebanding dengan Lucan, Veron, Alzent dan yang lainnya. Sayangnya, para pasukan terpaksa menghadapi mereka sebab Alzent dan teman-temannya sementara menghadapi mahluk-mahluk berukuran besar yang sama kuat dengan Uhro. Mereka benar-benar kewalahan menghadapi mahluk tersebut, hingga Gerald memberikan setiap orang sebuah penambahan kekuatan sebanyak dua puluh persen, sehingga kini para pasukan tak lagi kesulitan menghadapi pasukan-pasukan kegelapan, lalu Alzent mampu menghabisi mahluk-mahluk raksasa itu seorang diri.
Ini juga membuat mereka menyadari, betapa kuatnya Gerald yang bahkan mampu menghadapi lima mahluk tersebut bersamaan dan tampak tak berkutik menghadapinya.
Peperangan dengan kekuatan sebesar itu sudah pasti membuat apapun di sekitar mereka menjadi rusak parah. Tanpa mereka sadari, akibat dari perang tersebut sudah menyebar hingga sejauh mata memandang. Pertarungan dari Gerald bahkan sampai di gunung tempat bangsa Orc sebelumnya lewati dan dapat dilihat dari arah kerajaan, gunung tersebut memiliki banyak bekas pertarungan hebat.
Alzent dan yang lainnya, berusaha membawa mahluk-mahluk tersebut sejauh mungkin dari kerajaan, namun ternyata mereka dapat berpikir, juga berbicara seperti Uhro. Mereka menyadari apa yang para lawan mereka sedang coba lakukan, kemudian kembali mendekati kerajaan agar Alzent dan teman-temannya tak mampu mengeluarkan kekuatan penuh, melihat para mahluk tersebut dengan sengaja berada dekat dengan dinding, tapi tak merusaknya.
"Ayolah Vampire muda, kau sudah menghabisi lebih dari empat saudaraku. Mengapa kau menahan diri menghadapi serigala ini" tantang salah satu dari Arkbyss tersebut, sengaja berada sangat dekat dengan dinding, memancing amarah Alzent.
Alzent mencoba untuk menahan diri, berteleportasi ke bawah rahang serigala tersebut dan meninjunya ke atas hingga terlempar tinggi, memberikan serigala tersebut serangan bertubi-tubi menggunakan pedang, membentuk sebuah pola sihir yang langsung menciptakan lingkaran sihir besar. Lingkaran sihir tersebut menggandakan dirinya menjadi empat, lalu mengecil bersamaan dengan cepat, memotong tubuh serigala itu menjadi empat bagian yang Alzent langsung tebas menjadi serpihan-serpihan kecil. Untungnya Arkbyss tersebut tak memiliki permata seperti Uhro, sehingga tak mampu beregenerasi.
Alzent mendarat dengan aman di tanah, memerhatikan pertarungan Lucan di kejauhan. Ia menggunakan tiap pedang yang melesat dengan cepat, mengejar seekor macan. Macan itu terus berlari berputar dengan cepat, hingga ia kembali mengarah pada Lucan. Arkbyss tersebut sudah tersenyum akan mengayunkan cakar besi tajamnya, namun Lucan mengangkat tangan kiri, menaikkan pedang-pedang, menusuk tubuh bagian bawah Arkbyss itu hingga terpotong menjadi beberapa bagian yang kemudian pecah dengan sendirinya menjadi butiran-butiran hitam beraura.
Sementara itu, Veron memunculkan dua ombak besar yang menghalangi jalan keluar seekor singa. Ombak-ombak tersebut saling menderu, terdengar begitu menakutkan. Tiap terpaan ombak yang kencang serta tak ada habisnya, Singa itu sudah dipastikan tak memiliki sisa. Veron menyatukan kedua telapak tangannya, menutup dua ombak dari sisi kiri-kanannya, menenggelamkan Arkbyss tersebut yang masih berjuang, meskipun tahu tak ada gunanya. Terdengar jeritan terakhir, lalu tak terdengar apa-apa lagi, selain suara ombak yang kini tak terlalu ganas.
Veron baru saja akan menarik napas lega, begitu seekor T-Rex menggunakan ekornya dengan sisi-sisi berduri besi, menghantam tubuh Veron hingga terlempar ke dekat Alzent. T-Rex tersebut meraung keras, berlari kencang menuju Veron. Lucan dengan cepat menerjang, memberikan sebuah tendangan di mulut T-Rex itu hingga terjatuh, lalu berlari menuju tempat Veron berada. Ia sudah ditangani lebih dulu oleh Alzent, sehingga kini lukanya telah sembuh, lagipula tak satupun dari mereka dapat merasakan sakit, semenjak pindah ke dunia ini, jadi ini bukanlah sebuah hal yang terlalu besar.
"Aku rasa Arkbyss itu jauh lebih kuat dibanding Arkbyss lainnya" ucap Lucan, melihat T-Rex itu sudah kembali bangkit berdiri, berlari ke arah mereka sambil meraung-raung keras, seakan mengucapkan 'kalian akan mati! Kalian akan mati!!' "Memangnya dia tak bisa bicara?" tanya Lucan bingung.
"Tampaknya kita harus bekerja sama lagi" ucap Alzent yang ditanggapi oleh kedua sahabatnya dengan sebuah anggukan "Baiklah. Sudah lama kita tidak saling membantu dalam peperangan seperti ini" katanya penuh semangat, memutar pedangnya 360 derajat, membentuk sebuah lingkaran sihir yang kemudian membesar dan maju melewati tubuh T-Rex tersebut, menutupinya dengan kerlap-kerlip keemasan, membuatnya bergerak begitu lamban.
Veron menggunakan ombak raksasanya lagi yang kali ini seperti akan memangsa T-Rex. Ketika ombak tersebut menenggelamkan Arkbyss di dalam sebuah bola air raksasa yang di dalamnya seperti sebuah badai besar, Alzent melepas sihir padanya, lalu melemparkan pedangnya ke atas bola air Veron. Pedang itu pecah menjadi butiran-butiran cahaya keemasan yang saling menyatu membentuk sebuah lingkaran sihir besar, memberikan tekanan kuat pada T-Rex itu, sehingga daya hancur ombak menjadi berkali-kali lipat lebih kuat.
Tetapi, tak lama bola air milik Veron pecah, begitupun lingkaran sihir Alzent. Arkbyss tersebut menggoyangkan badannya, membersihkan tubuh dari sisa-sisa air serta cairan darah Lucan. Tubuhnya memang sudah tampak rusak parah, namun ia masih mampu berdiri tegap dengan tatapan penuh hawa membunuh "Akan kubunuh kalian! Akan kubunuh kalian!!" sahutnya keras.
"Oh, dia bisa bicara" ucap Lucan.
Veron tertawa kecil, lalu menghela napas "Aku juga berharap dapat bertemu dengan mereka kembali"
Alzent kembali memunculkan pedangnya yang tercipta dari butiran-butiran cahaya keemasan "Setelah kita kembali ke bumi, ayo kita cari mereka sekaligus membersihkan para Arkbyss dari bumi. Aku yakin, mereka tidak akan tinggal diam melihat bumi dihancurkan begitu saja" ucapnya semangat.
Begitu T-Rex tersebut sudah sangat dekat, Alzent berteleportasi ke depan wajahnya, menancapkan pedang di sisi kiri mahluk itu, membuat luka panjang hingga mencapai tubuh bagian tengah begitu ia berhenti berlari. Alzent lanjut melompat tinggi ke atas, melempar pedangnya ke bawah, berteleportasi ke sana dan membelah kaki kirinya yang lebih tipis dibanding kaki kanan. Sebelum T-Rex tersebut jatuh menimpa tanah, Lucan menggunakan tiap darah yang ia dapatkan, membuat sebuah tombak-tombak berukuran besar yang masuk menembus tubuh Arkbyss itu dari bekas serangan Alzent. Veron menggunakan dua ombak besar, menghancurkan kepalanya, lalu berlanjut menggunakan Scythe, membelah lehernya karena ia masih berusaha hidup. Akhirnya, Arkbyss itu pecah menjadi butiran-butiran hitam beraura gelap, melayang tinggi ke atas hingga hilang ditelan langit malam.
"Tidak kusangka ada yang mampu mengalahkan Arkbyss di dunia ini" sahut seorang laki-laki.
Baru saja mereka bertiga akan bertindak, ia sudah berada di tengah-tengah mereka, tersenyum penuh percaya diri, mengangkat tinggi tangan kanan, memanggil sebuah petir berwarna merah terang. Petir tersebut, tak terasa seperti petir biasa di bumi, petir ini bertegangan jauh lebih tinggi serta terasa begitu menyengat. Mereka bertiga berusaha bangkit berdiri, namun efek dari petir itu masih membuat seluruh tubuh mereka bergetar.
"Oh, maafkan diriku jika terlalu keras pada kalian. Hanya saja, aku benci melihat mahluk seperti kalian menghabisi Arkbyss, terlebih melihat Sang Pangeran berada disini" ucapnya, memberikan tatapan menusuk pada Alzent "Tapi, karena aku adalah orang yang baik, aku akan memberikan hadiah bagi pangeran" ia kembali tersenyum, menyentuh punggung Alzent dan saat itu juga, petir merah terang yang sebelumnya terus bermunculan menyetrum Alzent. Suara guntur dari petir tersebut serta ledakan begitu mengenai Alzent, membuat perhatian tersita padanya, terlebih begitu mendengar jeritan penuh rasa sakit Vampire muda itu.