Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #9



Sebuah lubang besar terdapat di dinding ruangan akibat pertarungan Yuna dengan Feurig. Namun, mereka masih belum berhenti dan justru semakin ganas antar satu sama lain. Yuna menggunakan kekuatan sihir berelemen es yang adalah lawan dari api, begitu pula Feurig yang menggunakan sihir berelemen api, kebalikannya. Pertarungan kedua orang itu sampai menarik perhatian tiap murid dalam akademi beserta para guru yang tak akan tiba-tiba datang menghentikan, dikarenakan sebuah peraturan, dimana ketika murid maupun alumni bertarung dalam area akademi, tidak sepatutnya diganggu, tetapi mereka harus bertarung hingga salah satunya terluka parah dan tak mampu bangkit kembali atau menghembuskan napas terakhirnya dalam rasa malu besar.


Yuna merapalkan sebuah mantra, lima lingkaran sihir besar tampak di depannya, berputar cepat menembakkan bebatuan es tajam ke arah Feurig yang terus menghindar dengan lincah. Ia terus berlari memutari lapangan besar tempat mereka berada sekarang, mencoba untuk mencari titik buta gadis itu, namun Yuna terus berputar mengikuti arah Feurig pergi. Sayangnya, Yuna juga tak dapat menggunakan sihir ini terlalu lama atau mana dalam tubuhnya akan habis, sehingga mau tidak mau ia menghilangkan kelima lingkaran sihir yang berubah menjadi serpihan cahaya biru terang. Saat itu juga, Feurig muncul di hadapannya, memberi sebuah pukulan keras di perut hingga Yuna terlempar beberapa meter ke belakang.


"Haha, tak kusangka. Seorang alumni, murid kedua terkuat di akademi, ternyata dapat ditangani dengan mudah seperti ini, begitu memalukan" ucap Feurig. Senyuman sombong itu kembali muncul di wajahnya.


Yuna berusaha bangkit berdiri, menopang tubuh menggunakan kedua tangan yang gemetaran. Pandangannya mulai kabur serta dadanya terasa sedikit sesak. Ia tidak menyangka, cuma sebuah pukulan dapat membuat ia merasa seperti ini, merasa begitu lemah dan tak berdaya. Namun, demi Alzent, Yuna berhasil bangkit berdiri, merapalkan mantra lain. Kali ini sebuah lingkaran biru muncul di atas kepalanya secara Horizontal, berputar turun mengelilingi tubuh gadis tersebut hingga mencapai kaki, merubah pakaiannya menjadi sebuah zirah perak bersemu biru. Sebuah pedang tampak di kedua genggaman tangannya, mengarah pada Feurig seakan menantang untuk maju.


Ia menaikkan salah satu alisnya, mendengus pelan lalu merapalkan mantra yang sama. Dua buah lingkaran sihir muncul di kiri-kanan Feurig. Ia meregangkan kedua tangan, tersenyum sembari menunggu dua lingkaran sihir itu berputar pelan, mengubah seluruh pakaiannya menjadi sebuah zirah berwarna merah gelap bersemu oranye dan begitu kedua lingkaran sihir telah saling bertemu tepat di bagian tengah tubuh, dua lingkaran tersebut pecah menjadi serpihan cahaya merah yang kemudian saling bergabung membentuk sebuah pedang merah, mirip seperti milik Yuna, hanya sedikit berbeda di bagian pembatasnya.


"Apa kau lupa? Kita berasal dari akademi yang sama, sudah pasti aku juga tahu mantra yang kau gunakan" ejek Feurig.


Namun, Yuna justru tersenyum mendengar itu "Tentu saja aku tahu, aku sengaja menggunakan kekuatan ini untuk menunjukkan bahwa kau tak pantas melawan diriku" balasnya, kemudian memasang kuda-kuda.


Feurig berdecak kesal, hanya dalam selangkah ia sudah berada di depan Yuna, mengayunkan pedang yang ditangkis dengan mudah oleh gadis itu hingga menimbulkan percikan api karena gesekan kedua pedang. Yuna memutar badan, menangkis serangan Feurig yang lain dan terus melakukan hal yang sama hingga ia bisa menemukan titik lemah pada laki-laki itu, sekecil apapun, ia pasti dapat memberikan sebuah serangan yang mampu membuat Feurig tertegun untuk sesaat.


"Hei Yuna! Katakan dirimu menyerah sambil berlutut padaku, mungkin aku akan memaafkanmu atas kesombonganmu tadi" perintahnya sembari menginjak kepala gadis itu dan memangku tangannya di atas lutut kaki tersebut "Cepat katakan!" ia menginjaknya jauh lebih keras hingga wajah Yuna terhempas kuat ke tanah, kedua tangannya sudah tak mampu menahan aura kuat yang dikeluarkan laki-laki itu.


Feurig menunggu beberapa detik, namun Yuna tak mengatakan apa-apa, melainkan hanya tertawa kecil. Saat ia menaikkan kaki akan menginjak kepala Yuna lebih keras lagi, sebuah es tajam berbentuk kerucut, menusuk masuk tubuh Feurig. Yuna bangkit berdiri, menjegal kakinya sehingga begitu tubuh laki-laki itu menghantam tanah, es tersebut masuk makin dalam dan kemungkinan besar melukai jantungnya. Darah segar mengalir dari kedua sisi mulut Feurig dengan tubuh mulai gemetaran.


"Jangan melakukan selebrasi terlalu cepat sebelum kau memastikan lawanmu telah kalah atau setidaknya mati. Inilah sebabnya kau tak pernah menjadi seorang juara dan hanya segini kekuatanmu, lalu kau ingin menghadapi Alzent? Kau takkan mampu" ucap Yuna pelan, beranjak pergi dari tempat tersebut tanpa berbalik ke belakang lagi, ia sudah tak peduli apa yang akan terjadi pada Feurig, lagipula memang salahnya mencari masalah saat mereka sama sekali tak melakukan apa-apa padanya.


"Hoi tunggu!" sahut laki-laki itu, melihat Yuna berjalan menjauh begitu saja, membuat amarahnya mulai memuncak "Kubilang tunggu!" namun Yuna tampak sama sekali tak ingin berbalik. Feurig bangkit berdiri, ia mencoba mencari keseimbangan dengan tubuh yang mulai kehilangan tenaga, tetapi melihat gadis itu berjalan semakin jauh, amarah Feurig akhirnya memuncak dan aura kemerahan yang semenjak tubuhnya tertusuk tadi muncul mengelilingi tubuhnya, kini berubah menjadi api merah, berkobar memberikan hawa panas di sekitar serta memberikan tanda bagi Yuna untuk berhenti melangkah dan segera menghabisi laki-laki ini sebelum membawa masalah lebih lanjut.


Sayangnya, ketika Yuna berbalik, es pada tubuh laki-laki tersebut sudah mencair, lukanya telah tertutup dan dapat dilihat bekasnya. Zirah kemerahan Feurig berubah menjadi sepotong celana berwarna putih dengan dua garis oranye di bagian pangkal kaki, lalu garis-garis kemerahan tampak di sekujur tubuhnya, membentuk sebuah ukiran rumit yang kemungkinan besar adalah rapalan sihir. Sepasang mata itu, kini berupa api merah dan di belakang tubuhnya, terdapat sembilan bola api, melayang di udara membentuk sebuah lingkaran. Pedang yang tadi ia genggam ikut berubah menjadi sebuah tombak panjang yang seluruh tangkainya terbuat dari api. Feurig membuka mulut, mengucapkan "Jangan pernah memalingkan muka dariku" ancamnya, lalu ia mulai menulis beberapa rapalan sihir di udara yang kemudian berubah menjadi sebuah tulisan dari api "Akan kuperlihatkan yang namanya kekuatan padamu!" tulisan-tulisan itu bergabung menjadi satu, menutupi tubuh Feurig dengan sebuah zirah yang seluruhnya tercipta dari kobaran api panas serta garis-garis kuning bersemu oranye yang sama seperti pada tubuhnya.


Yuna menghela napas, memasang kuda-kuda dan dalam sekejap mereka sudah saling bertukar serangan.