Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Encounter



Langit malam nan gelap, berhiaskan warna-warni sendu aurora dengan setiap salju putih memantulkan cahayanya yang indah ke permukaan, memberikan pencahayaan cantik pada keempat orang, berjalan santai menuju tempat yang ditunjukkan oleh Sang pemilik hotel, tak jauh dari hotel, hanya memakan waktu beberapa menit, dekat dengan danau.


Saat sampai di tempat tersebut, tak ada apa-apa disana. Hanya berupa tanah kosong dikelilingi oleh pepohonan tinggi.


"Um, benarkah kita berada di tempat yang tepat?" tanya Lucan bingung, melihat-lihat sekitar, berusaha mencari sesuatu yang mungkin mengarah ke sebuah portal, retakan dimensi atau apapun itu.


"Ya, inilah tempat yang ditunjukkan oleh Guardian tersebut, namun tidak ada apa-apa disini" jawab Veron.


Alzent melangkah sedikit menjauh dari mereka, matanya menangkap sebuah pantulan cahaya indah yang ternyata berasal dari danau. Namun sesuatu tampak aneh di permukaan danau itu. Jika diperhatikan dengan seksama, danau itu seolah-olah sebuah proyeksi hologram dan tampak sedikit lebih padat.


"Apa kalian melihatnya?" tanya Alzent.


"Lihat apa?" tanya Lucan "Itu hanyalah sebuah danau- tunggu, aku melihatnya!" lalu menunjuk aurora di langit "Auroranya sangat indah"


Veron menggeleng pelan, mencoba memerhatikan lebih detail ke danau "Maksudmu bagian kecil pada danau yang kelihatan seperti sebuah kaca melayang di permukaannya? Ya, aku melihatnya"


"Mana? Mana?" tanya Lucan antusias sembari mencari dari arah yang ditunjuk oleh Veron "Ohhh, ya aku melihatnya, memang kelihatan sedikit aneh, tapi bukankah itu hanyalah pantulan cahaya yang menimbulkan ilusi pada mata kita?"


Alzent menggeleng "Tidak, karena kita adalah Vampire. Jika manusia yang melihatnya, mereka mungkin akan mengganggap itu hanyalah ilusi, namun pandangan kita jauh lebih tajam dan jelas dibanding manusia karena pada dasarnya kita adalah mahluk nokturnal yang selalu aktif di malam hari"


Tanpa disadari, Luna sudah berada di pinggir danau. Ia melempar sesuatu tepat mengenai bagian danau yang aneh itu dan seketika terdengar suara gemuruh serta perasaan tidak nyaman pada mereka.


Bagian yang tampak seperti cermin tersebut, kini pecah menjadi beberapa bagian, melayang ke udara membentuk sebuah lingkaran dengan suara aneh disertai dengungan.


"Benda apa yang kau lempar ke retakan dimensi tersebut?" tanya Lucan, penasaran setengah curiga. Ia memang masih sulit percaya pada gadis yang tiba-tiba muncul entah dari mana ini.


"Oh ini?" ia menunjukkan sebuah permata indah berwarna kehijauan "Ini adalah Amethyst, aku menggunakannya untuk memancing elemen sihir yang tersisa pada retakan dimensi tersebut, kebetulan dimensi para Vampire kan memiliki sedikit sihir meskipun tak sebanyak dimensi Elf atau mahluk magis lainnya" jelas gadis itu dengan pelan, seperti seorang guru pada muridnya.


Tatapan Lucan berubah tak percaya "Kau melempar sebuah permata yang berharga untuk sebuah retakan dimensi? Aku tak menyangka ada perempuan yang mampu melakukannya"


Luna melipat lengan, ia merasa tersinggung dengan kalimat laki-laki itu "Jadi maksudmu aku sama seperti perempuan lain yang begitu menyayangi permata? Maaf saja, aku bukanlah tipe perempuan yang begitu tergila-gila pada permata, aku lebih memilih hidupku dibanding sebuah permata yang bahkan tak sejajar dengan nyawaku" tukasnya.


Alzent meminta mereka untuk diam, ia mencoba mendengar suara samar-samar dari dalam lingkaran aneh di depan mereka. Alzent memejamkan mata, memfokuskan pendengaran, tercengang begitu mengetahuinya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Luna khawatir.


"Apa kalian tidak mendengarnya? Dari lingkaran aneh tersebut, aku mendengar suara yang terus-menerus meminta untuk membuka retakan dimensinya"


Mereka bertiga terkejut, heran mendengar penjelasan Alzent karena mereka sama sekali tak mendengar apa-apa. Lucan akhirnya berusaha untuk mencoba mendengar suara tersebut, namun nihil, ia sama sekali tak mendengar apa-apa selain keheningan malam.


Luna mengambil sesuatu dari dalam kantungnya, memberikan Amethyst lagi, namun dengan ukuran yang lebih besar, seukuran telapak tangan laki-laki dewasa "Coba teteskan darahmu pada batu ini" katanya.


Alzent menoleh pada Lucan yang hanya mengangkat bahu, menyerah untuk mengomentari gadis itu, lalu pada Veron yang menganggukkan kepalanya, seakan pasrah pada permintaan aneh yang terus dilontarkan Luna.


"Dekatilah portal itu" jawab Luna, menunjuk lingkaran aneh di depan mereka seakan itu adalah hal biasa.


Alzent memerhatikan sepatunya yang sudah berada di bibir danau, menghitung jarak menuju portal yang kira-kira memakan 15 langkah "Baiklah, aku akan percaya padamu" mulailah Alzent melangkahkah kakinya. Ternyata ia tak jatuh dalam air, melainkan berdiri di atasnya, seakan berjalan di atas permukaan lantai.


Lucan dan Veron terkejut melihatnya, mereka mulai mempercayai kalau hal-hal dalam film kini benar-benar ada di dunia nyata. Seorang Vampire berjalan di atas air? Sudah lebih dari cukup untuk membangun fantasi masa kecil mereka kembali.


Semakin dekat Alzent melangkah menuju portal, potongan-potongan portal tersebut juga berputar semakin cepat dengan cahaya redup perlahan terang di bagian tengahnya.


Begitu Alzent telah menyelesaikan setiap langkah, portal itu tiba-tiba bercahaya terang menciptakan gelombang ombak pada danau. Amethyst di tangannya pecah menjadi serpihan-serpihan kecil bercahaya keunguan, memenuhi seluruh bagian danau, dimana aurora seketika berubah cahayanya menjadi nila dan lebih terang dibanding sebelumnya.


"Bukankah Gerald mengatakan kalau retakan dimensi ini sudah tak berfungsi?" tanya Lucan bingung.


Veron menggeleng pelan "Aku juga tak mengerti, entah dia yang berbohong pada kita atau kehadiran gadis ini yang merubah semuanya. Namun setidaknya kini kita yakin bahwa retakan dimensi ini masih berfungsi dan mungkin saja hal yang sama terjadi pada retakan dimensi di Afrika"


Lucan berubah serius "Jika memang benar kita berasal dari dimensi lain dan retakan tersebut tertutup, siapa atau benda apakah yang menutupnya dan mengapa?"


Masih di tempatnya berpijak, Alzent terdiam menatap portal yang berputar sangat cepat serta terang. Ia tampak berusaha mengerti sesuatu dan bersamaan dengan raut wajahnya yang terkejut, sesuatu keluar dari dalam portal tersebut, sesuatu yang tampak tidak asing bagi mereka.


"Ahhh, akhirnya kembali ke dunia ini"


Tanpa mampu berkata-kata, Alzent melangkah mendekati orang itu, memerhatikan wajahnya dengan seksama lalu menampar wajahnya sendiri berusaha bangun dari mimpi yang sayangnya adalah sebuah kenyataan.


"Oh, Alzent? Eh? Bahkan Lucan dan Veron? Dan seorang gadis cantik yang mirip seperti Yuna, apakah dia pacar barumu?" tanya sosok itu.


Lucan melompat tinggi, menimpa tubuh orang tersebut kemudian mengacak-acak rambutnya "Denzel!! Kau masih hidup!" sahutnya bahagia.


Veron yang entah sejak kapan sudah berada di samping Alzent, mengatakan "Bukankah dia tiba-tiba menghilang seusai perang berakhir? Kita bahkan mengiranya telah mati di medan perang karena kehilangan jejaknya dan sekarang dia muncul dari dalam portal? Kepalaku benar-benar pusing"


"Kau masih sama seperti dulu, Veron. Selalu memikirkan hal-hal tak penting, intinya aku masih hidup bukan?" ucapnya lalu tertawa. Ia bangkit berdiri, dibantu oleh Lucan, lalu mendekati Alzent yang masih terdiam "Hoi Alzent, kenapa kau tampak seperti orang idiot? Bicaralah"


"Ini benar-benar dirimu bukan?" tanya Alzent curiga.


"Hah? Tentu saja ini aku, memangnya siapa lagi yang bisa meniru Denzel semahir diriku?"


Alzent mengambil langkah mundur, bersiap jika keadaan memburuk "Lucan! Veron! Jangan termakan oleh tipu dayanya, dia bukanlah Denzel yang kita kenal, perhatikan baik-baik warna matanya"


"Kau benar, warna mata Denzel hitam, tapi dia memiliki warna mata yang sama denganmu" sahut Lucan, lalu bersiap menyerang "Katakan dirimu siapa, kau sudah memainkan perasaan seorang lelaki"


Denzel tertawa lantang, separuh wajahnya berubah hitam pekat dengan api hitam membara "Tak kusangka, aku yang tak pernah ketahuan sebelumnya, kini gagal dalam menghadapi seorang Vampire?" kedua tangannya dilapisi oleh api hitam panas "Baiklah, karena kalian berhasil, bagaimana kalau kita bersenang-senang dahulu, sebagai hadiah"