Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Hard Situation



Kemunculan para Gigant mengejutkan setiap mahluk disana. Bentuk mereka seperti hewan-hewan berkaki empat, tak ada yang memiliki sayap, bertubuh raksasa dengan tatapan tajam berwarna putih. Di dada mereka terdapat sebuah permata putih berbentuk belah ketupat, bercahaya terang dan cahaya tersebut mengalir melalui garis-garis ukiran tubuh mereka, membuat mereka tampak lebih menakutkan.


Kedua bangsa yang kini bersekutu, bergegas untuk menghadapi dua bangsa yang masih dipertanyakan apakah mereka juga bersekutu ataukah tidak. Kedua hal tersebut memiliki kelemahannya masing-masing. Jika mereka bersekutu, mereka akan sulit dikalahkan namun mudah untuk membuat sebuah rencana tambahan. Jika mereka tidak bersekutu, maka Syren yang berada di tengah-tengah akan menjadi sasaran empuk dan mungkin akan mau bersekutu dengan mereka, sayangnya rencana untuk menyatukan kedua bangsa tersebut pastilah benar-benar ribet dan memusingkan, sementara ancaman sudah berada di depan mata.


Lightnar, Lucan, Veron, Holy Knight, Tern dan bangsa Orc maupun Elven bersiap di garis depan, mereka tidak bisa membiarkan ombak yang membawa para Syren melewati dinding kerajaan, sehingga mereka harus memecahkannya yang di mana akan membuat para Syren kesulitan bernapas, tapi demi mempertahankan Risenland, mau tidak mau mereka harus melakukannya, sekaligus membuat bangsa Gigant menyerang Syren sebagai umpan dan mereka akan menaklukkannya.


"Cepatlah bangun Alzent" pinta Lightnar, menatap dua bangsa di depannya, mengepalkan tangan kemudian meneriakkan "For The Peace and Future!" setiap Elven maupun Orc mengulangnya dengan kuras, lalu bersorak dan maju ke dalam medan perang.


Bangsa Syren tidak lagi menunggu, mereka ikut meluncur menggunakan ombak mereka yang ternyata dapat terpisah dari ombak utama untuk digunakan oleh para pasukan. Ombak-ombak tersebut tidak hanya menjadi alat bagi Syren untuk dapat berpindah tempat di atas tanah, namun juga untuk menyerang, menggunakan butiran-butiran air yang dapat saling menyatu membentuk plasma air, menghantam kuat musuh mereka hingga terlempar beberapa meter ke belakang. Plasma tersebut cukup kuat hingga dapat membuat bangsa Orc terluka dan memuntahkan darah, lalu para Syren mengubah plasma air tersebut menjadi aliran air deras serta setajam pedang, membelah dua tubuh Orc yang sementara mengumpulkan kesadarannya akibat plasma air.


Kedua bangsa tak pernah berhadapan dengan Syren sebelumnya, di masa lalu pun tak pernah tercatat mereka berperang melawan Syren, sehingga kekuatan para Syren membuat mereka terkejut dan harus menyusun ulang strategi untuk dapat membuat ombak-ombak tersebut menghilang, sebab tampaknya ombak itulah yang menjadi senjata mereka. Mungkin tanpa itu, mereka akan menjadi mudah diserang.


Veron bersama para Holy Knight berusaha mencari cara untuk memutus sihir ombak tersebut, selagi bertahan dan menghindar dari serangan plasma air yang dapat membuat mereka pusing, bahkan kehilangan kesadaran atau patah tulang.


Veron terdiam di tempat sesudah menerima serangan plasma air tersebut, ia dengan sengaja membiarkan seorang Syren datang mendekat dan begitu akan mengayunkan aliran air derasnya, Veron melompat ke belakang kemudian memunculkan ombak air yang sama, tapi berwarna ungu-kehitaman, kekuatan yang didapatkannya sesudah bertarung melawan Zeon dan baru saja ia sadari saat berperang melawan bangsa Orc. Sebuah kekuatan untuk meniru kekuatan lawan, kemudian menggunakannya untuk diri sendiri dengan serangan dua kali lebih kuat dari milik lawan tersebut.


Para Syren terbelalak melihat kekuatan Veron, kemudian memutuskan untuk menyerangnya bersamaan dari segala arah. Sayangnya, kekuatan veron tak hanya meniru, melainkan dapat membuatnya menjadi lebih kuat dan berubah bentuk sesuai keinginannya. Begitu para Syren sudah siap menyerang, Veron membuka kedua lengannya, membuat air dari ombak membentuk serpihan-serpihan tajam yang melesat cepat dan menusuk mati para Syren tersebut. Para Holy Knight merasa bersyukur Veron tidak menyimpan dendam atas perbuatan mereka sebelumnya. Jika ketiga orang itu bekerja sama, mungkin Elfiant akan hancur dalam sekejap.


Sementara itu Lightnar bersama Lucan dan Tern, mencoba mencari kelemahan dari bangsa Gigant yang juga sedang berperang melawan bangsa Syren. Namun, sudah jelas siapa yang akan kalah, melihat bangsa Syren tampak kesulitan mengatasi mahluk-mahluk berukuran 12 meter itu.


Setiap serangan Gigant termasuk lamban, namun menyimpan tenaga yang sangat kuat dan memberikan dampak besar. Dalam sekali pukulan, Gigant dapat membuat kawah berdiamater 6 meter disertai tanah yang retak di sekitarnya, memunculkan bebatuan-bebatuan tajam besar yang dapat merobek tubuh.


Lucan mencoba menggunakan kekuatannya untuk memanipulasi cairan, tapi tidak berdampak serius pada mahluk berkulit batu tersebut, kemudian Lightnar mencoba menggunakan tinjunya yang dapat menghancurkan tubuh sekali terkena, sayangnya hanya dapat menghancurkan salah satu anggota tubuh Gigant yang dapat beregenerasi kembali dan ia harus menggunakan tenaga yang tak sedikit untuk menggunakan tinju tersebut. Mereka juga sudah mencoba menghancurkan permata putih di dada mereka, tetap saja tidak berhasil. Permata tersebut kembali tersambung seakan tak pernah rusak, mengembalikan tiap anggota tubuh yang terpisah karenanya dan para Gigant menjadi lebih ganas, mata mereka pun tidak lagi berwarna putih sesudahnya, melainkan berwarna kuning.


Dua bangsa ini, jika tak diselesaikan dengan cepat akan membawa dampak buruk untuk para  pasukan. Kalau dibiarkan terlalu lama, bisa-bisa semangat pasukan menurun dan itu menjadi kesalahan fatal dalam sebuah pertempuran, dan sudah dipastikan kekalahan berada di pihak mereka.


"Andai saja ada Alzent, kita pasti dengan mudah mengatasi mereka" keluh Lucan sembari melompat tinggi, menyerang lengan salah satu Gigant menggunakan pedang darah hingga terputus, namun terhubung kembali setelah 3 detik.


"Kita tidak bisa mengandalkan Alzent terus-menerus" balas Lightnar, bertahan dari serangan Gigant menggunakan lingkaran sihir pelindungnya, lalu menghempaskan energi lingkaran sihir tersebut, menghancurkan seluruh tangan kiri Gigant, tapi sama seperti Gigant yang lain, tangannya terhubung kembali "Alzent sudah menanggung begitu banyak, kita harus melakukan apa yang kita bisa. Aku yakin dalam sebuah masalah, ada banyak jalan keluar. Kita hanya perlu menemukan jalan keluar yang tepat untuk melangkah ke jalan yang benar"


"Bukankah bangsa Orc mencintai pertarungan semacam ini?" tanya Lucan.


"Tidak dengan pertarungan tak jelas seperti ini. Kita bahkan tak tahu alasan mahluk-mahluk ini menyerang" jawab Tern, melompat dan menghancurkan kepala Gigant hingga berkeping-keping yang tiga detik selanjutnya tersambung, membuat ia berteriak kesal.


Lightnar lalu terpikirkan sesuatu "Benar juga, kenapa aku tidak memikirkan hal sesimpel itu?"


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Lucan, mengarahkan setiap pedangnya, menghujani beberapa Gigant.


"Kita tinggal menanyakan alasan mereka menyerang" jawab Lightnar bangga, seakan itu adalah hal yang masuk akal dalam situasi seperti ini.


Lucan menghancurkan Gigant-Gigant tersebut, melompat kembali ke sisi Lightnar "Apa kepalamu terbentur sesuatu? Bertanya pada mahluk-mahluk yang bahkan tak bisa bicara, hanya mengerang seperti kakek tua sedang emosi? Aku tak tahu kau bahkan lebih bodoh dariku"


Tern ikut melompat kembali ke sisi kiri Lightnar sesudah terkena serangan salah satu Gigant yang membuat darah biru gelapnya mengalir keluar dari mulut "Apa yang kalian diskusikan disini? Kita dalam keadaan tidak cocok untuk saling berdiskusi!" sahutnya meluapkan emosi akibat Gigant-Gigant itu.


"Tunggu sebentar, mungkin aku bisa berbicara dalam bahasa mereka, aku hanya perlu tahu mereka dari bangsa apa" jelas Lightnar cepat.


"Kalau tidak salah, mereka terus mengucapkan GI...GANTTT RRGH.. GI...GANTT ARGGH, semacam itu" jawab Lucan sambil menirukan mereka.


"Ahhh, mereka bangsa Gigant-


Beberapa Gigant langsung menyerang tempat mereka berpijak hingga membuat tanah tersebut rusak dan tidak sama seperti sebelumnya "Ya, mereka adalah bangsa Gigant, bangsa para raksasa batu yang tinggal di dalam tanah dan terus tidur. Mungkin, peperangan kita dengan ratu Ezra sebelumnya membangunkan mereka, mengingat wilayah mereka berada jauh dari sini" lanjut Lightnar.


Mereka bertiga mendarat dengan aman di tanah sesudah melompat menghindari serangan tersebut. Kemudian mengumpulkan kekuatan masing-masing dan maju menerjang Gigant-Gigant yang tadi menyerang mereka, menghancurkan mereka menjadi serpihan-serpihan batu kecil dan Lightnar langsung mengambil salah satu dari permata putih tersebut, mengalirkan sihir mliknya ke dalam. Tiba-tiba permata tersebut bersinar terang dan Lightnar sudah berada di tempat lain, sebuah hutan yang mirip dengan hutan di sekitar Shrine of Light, namun dengan langit yang seluruhnya berwarna putih terang.


"The Alpha of Dragon, Lightnar, anak dari Glowran dan Raytar"