Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #4



Tak lama, Alzent menemukan sebuah batu bata yang tampak menjorok keluar dan saat ditekan, sebuah gerbang terbuka dari permukaan kedua pilar yang saling tergeser ke samping. Mereka masuk menyusuri tangga yang tampak jauh ke bawah, tak dapat dilihat dimana akhirnya karena terlalu gelap tanpa sedikitpun pencahayaan. Alzent baru saja akan menjentikkan jari memunculkan api hitamnya yang kebetulan memancarkan cahaya putih, namun langsung ditahan oleh Luna. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam kantung jaket, meniup sebuah ranting di telapak tangannya yang kemudian berubah menjadi serbuk-serbuk emas bercahaya, mengelilingi keduanya dan memberikan pencahayaan yang cukup terang, namun dasar ruangan ini masih belum dapat terlihat, hanya terdapat kabut putih tebal jauh di bawah sana.


Mereka terus melangkah turun dalam diam, memasang seluruh indera untuk mencari tanda-tanda adanya perangkap atau monster. Tak terasa sudah beberapa menit terlewati, namun sejauh mata memandang, deretan tangga ini masih jauh turun ke bawah. Alzent seketika berhenti melangkah, membuat Luna menabraknya sebab sedang memerhatikan apa yang kemungkinan berada di balik kabut tebal. Saat Luna akan bertanya, Alzent menutup mulutnya, fokus pada pendengaran "Kau dengar itu?" bisiknya dekat dengan telinga Luna, membuat gadis itu bergidik geli.


Luna berusaha untuk tak mempedulikan hal tersebut, mencoba mendengarkan suara yang tampak samar, namun jika fokus pada suara itu, maka akan terdengar makin jelas dan tampak sangat dekat "Apa itu sebuah dengkuran?" tanya Luna memastikan.


Alzent mengangguk "Ya, lebih tepatnya dengkuran sesosok mahluk yang besar dan kemungkinan besar akan kita hadapi untuk dapat masuk dalam kerajaan. Aku berharap perkiraanku salah" ucap Alzent pelan, lalu lanjut melangkah menuruni tangga.


Beberapa menit kembali terlewati semenjak mereka mendengar suara samar itu. Kini mereka sudah dapat melihat dasar dari tangga yang terlihat berwarna hitam dan dengkuran mahluk tersebut dapat terdengar lebih jelas tanpa harus memfokuskan pendengaran. Mereka juga harus lebih berhati-hati untuk tidak menimbulkan suara, mengendap-endap melewati mahluk apapun itu, dibanding harus menghadapinya tanpa menggunakan kekuatan sama sekali.


Mereka melangkah pelan, bersembunyi di balik sebuah pilar besar, menjulang tinggi hingga ke langit-langit ruangan. Tubuh mahluk tersebut kini makin dapat dilihat, bersisik hitam dan tampak begitu keras. Kemungkinan besar adalah seekor naga. Mereka kembali melanjutkan langkah, berhenti tepat di belakang pilar lainnya, lalu berlanjut lagi dan mengulangi hal yang sama selagi mencari pintu menuju jalan keluar, tetapi mereka malah kembali ke pilar pertama yang mereka temui, melihat kembali tangga sebelumnya dan Alzent mengambil kesimpulan, mereka hanya berputar mengelilingi sosok yang masih tak dapat diketahui adalah mahluk apa.


"Mungkinkah jalan keluarnya berada di tengah?" tanya Luna.


Alzent memerhatikan mahluk tersebut, lalu mendapati sebuah lingkaran yang tampak sedikit naik dari permukaan lantai "Ck, sepertinya kita harus menghadapi mahluk ini untuk dapat naik ke atas. Sebaiknya kau kembali ke atas, jangan terlalu jauh, cukup sampai mahluk ini tak dapat menggapaimu, aku akan mencoba untuk menghadapinya" saran Alzent yang diterima Luna dengan sebuah anggukan sekaligus raut wajah khawatir. Alzent memberikan gadis itu sebuah senyuman lembut agar setidaknya dia sedikit tenang, lalu kembali menatap mahluk di depan.


Ia melangkah mendekat, melihat sesuatu berbentuk balok, bersandar pada salah satu pilar. Saat sudah berada di depan mahluk itu, Alzent menjentikkan jari, memunculkan api berukuran kecil yang ia buang mengenai tubuhnya. Saat itu juga, terdengar geraman keras. Alzent melompat jauh ke belakang bersamaan dengan kabut yang langsung terdorong ke sudut ruangan, memperlihatkan sosok Cyclops berukuran besar dengan tinggi setara gedung sepuluh lantai dan benda berbentuk balok yang ia lihat sebelumnya, ternyata adalah sebuah palu besar dari batu dengan penuh ukiran berpola rumit.


Cyclops itu menatap ke arah Alzent dengan penuh amarah "Mengapa kau mengganggu tidurku?" tanyanya.


Alzent memerhatikan dengan seksama mata bulat besar miliknya, mengetahui bahwa Cyclops di depan ternyata buta. Ia dapat mengetahui keberadaan Alzent karena mendengar langkah kaki laki-laki itu ketika melompat 'Mungkin, ini bisa menjadi senjata untuk melawan Cyclops ini' ucap Alzent dalam hati.


"Kau tak mau menjawab hah! Akan kubuat kau merasakan apa yang seharusnya kau dapat jika mengganggu waktuku untuk beristirahat!!" ia merogoh gagang palu di samping, mengangkatnya tinggi dan diayunkan turun ke bawah, menimbulkan getaran kuat serta suara hantaman keras, namun lantai hitam itu masih tampak baik-baik saja tanpa lecet sama sekali.


"Ouh? Tampaknya kau adalah salah satu dari pasukan elite Arkbyss. Kini aku mengerti mengapa kau memiliki nyali untuk menggangguku" ucap Cyclops itu, membuat Alzent semakin waspada sebab ia tak menyangka mahluk di hadapannya dapat mendeteksi kekuatan gelap tersebut "Akan kuberi kau hadiah atas keberanianmu, yaitu.. kematian!" ia mengayunkan palunya secara horizontal, menyapu seluruh bagian ruangan hingga tercipta angin kencang dari ayunan kuatnya.


Alzent berusaha tetap menahan postur tubuhnya untuk tak terbawa terbang oleh angin kencang yang bahkan dapat dirasakan Luna di atas sana. Tiba-tiba, permukaan palu tersebut sudah berada di samping Alzent, menghantamnya kuat hingga terlempar, menghantam dinding. Darah segar mengalir keluar dari kedua sisi mulutnya. Luna menjeritkan nama Alzent, membuat si Cyclops menoleh ke arahnya lalu tersenyum lebar "Tampaknya kau membawa kekasihmu ke sini, sebuah pilihan yang sangat buruk"


Dengan cepat, Alzent berteleportasi ke depan mata Cyclops itu, memberikan sebuah tendangan kuat hanya mengandalkan kekuatan fisik Vampire miliknya. Ia menjerit kesakitan, menutup matanya dengan satu tangan sementara tangan lain mencengkeram kuat gagang palu "Jangan coba-coba untuk menyakiti dia atau kaulah yang akan berhadapan dengan kematian" ancam Alzent.


"Jangan sok kuat di hadapanku!" sahut Cyclops tersebut, mengayunkan palunya dengan liar.


Alzent hampir tidak dapat menghindari semua serangannya, namun berhasil menemukan peluang untuk menerjang. Ia menggunakan palu yang sedang terayun ke arahnya, menghantam kuat tanah sebagai pijakan untuk berlari di sepanjang gagang, melompat tinggi dan memberikan sebuah tendangan kuat lagi hingga si Cyclops terlempar ke sudut ruangan. Alzent mendarat dengan mulus, menyunggingkan sebuah senyuman penuh percaya diri "Sebaiknya kau menyerah dibanding kehilangan nyawa"


"Jangan harap aku akan menyerah pada mahluk sepertimu!!" balas Cyclops itu, melempar palunya, berputar cepat ke arah Alzent, menggunakan itu sebagai pengalihan sehingga ia bisa berlari mendekat. Baru saja tinjunya akan mengenai tubuh kecil laki-laki tersebut, ia sudah menghilang dari tempat, muncul lagi di depan mata Cyclops dan memberikan sebuah tendangan kuat hingga ia terlempar kembali ke sudut ruangan yang sama.


"Apakah kau tak pernah belajar dari kesalahanmu? Seharusnya kau tahu aku akan melakukan hal yang sama" ucap Alzent, sengaja memancing emosi.


Kali ini, ia berlari maju, mengikuti ucapan Alzent, meninju tempat Alzent berada, lalu langsung melindugi mata dengan salah satu tangan, namun malah mendapatkan sebuah tendangan di kaki hingga tubuhnya terputar di udara, kemudian Alzent memberikan tendangan lagi ke matanya yang tak lagi terlindungi, kembali ke sudut ruangan itu.


"Sayangnya, bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama" ucap Alzent.


Luna menyaksikan itu semua, lalu mulai berpikir 'benarkah dia Alzent yang sama dengan yang kukenal sebelumnya? Mengapa ia terlihat seperti Lucan, namun jauh lebih parah, lebih seperti Zeon?' kedua tangan Luna terkepal kuat, ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya merasuki diri laki-laki itu dan membuatnya sadar kembali.