
Alter berlutut di samping Alzent, memerhatikan dengan seksama sesuatu yang mungkin dapat ia temukan dan mencari tahu apa yang terjadi pada diri laki-laki itu. Ia melihat kubah energi kemerahan, bergoyang pelan seperti sebuah ombak tenang. Beberapa ledakan serta tanah bergetar dapat didengar dari layar, namun layar tersebut masih gelap karena mata Alzent tertutup. Namun, ini adalah hal baik menurut Alter, sebab itu artinya Alzent tidaklah mati dan masih baik-baik saja, cuma sesuatu sedang melindunginya, tidak ingin ia keluar lalu terluka.
Beberapa menit terlewati, ia sudah mencoba beragam cara untuk dapat kembali menguasai tubuh Alzent, tetapi tak satupun yang terjadi. Akhirnya Alter hanya berbaring di samping, beralaskan kedua tangan yang saling disilangkan, menatap langit-langit gelap seperti sebuah kabut di kejauhan.
Veron tak lama bergabung bersama Lucan menghadapi Zeus. Di pertarungan yang sudah jauh itu, jari-jari milik Zeon berkedut. Tak seorangpun menyadarinya sebab sibuk akan melindungi nyawa masing-masing, namun perlahan ia membuka mata, merasa sangat lemah dan tak dapat bergerak. Ia tak mengerti apa yang sudah terjadi, tetapi tampaknya banyak luka terdapat pada tubuh. Zeon mencoba menyatukan tiap potongan-potongan kesadaran, ia masih belum ingin menyerah untuk memberi pelajaran pada para Immortal, ia tak boleh mati sebelum tujuannya itu berhasil tercapai.
Ketika telah sadar sepenuhnya, Zeon kini dapat merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuh. Ia menoleh ke kiri-kanan, menemukan masing-masing tangan tertancap oleh besi berukuran besar. Setiap kali ia mencoba mengalirkan kekuatan maka besi tersebut akan menghisapnya, tak peduli sebanyak atau sebesar apapun. Zeon menggertakkan gigi begitu melihat sosok Zeus di kejauhan, ia tak pernah menyangka Lestra akan memanfaatkan dirinya seperti itu. Zeon merasa begitu marah, telah membiarkan seorang Immortal, tak hanya sembarang Immortal, melainkan seorang raja dari segala raja para Immortal mengendalikan tubuh tanpa seizinnya. Ia harus segera membebaskan diri dari penjara yang begitu menyiksa ini.
Zeon memerhatikan sekitar, mencoba mencari apapun yang mungkin dapat memotong- menemukan sebuah Scythe tergeletak di tanah. Karena besi-besi ini hanya bisa menyerap kekuatan secara perlahan, maka Zeon mengeluarkan seluruh kekuatannnya, berusaha meraih Scythe tersebut dengan energi. Perlahan, senjata itu bergerak, mulai terangkat. Zeon dapat merasakan kekuatannya makin banyak yang terkuras. Ia mengerahkan lebih banyak kekuatan lagi hingga seluruh urat di tubuh tampak akan melompat keluar. Scythe tersebut akhirnya dapat terangkat, Zeon dengan cepat mengendalikannya dan memotong tiap besi yang sudah menyiksa selama kurang lebih satu menit, namun terasa seperti satu jam. Ia melihat Lucan serta Veron dihajar habis-habisan oleh sosok Immortal itu, menimbulkan keraguan dalam hati, namun Zeon menepisnya dan segera menuju ke sana.
Zeus mencekik leher kedua remaja tersebut, mengalirkan listrik beraliran besar, menyetrum mereka hingga seluruh medan perang dapat melihat cahaya yang ditimbulkan. Suara dari listrik menyetrum tubuh mereka, membuat para pasukan, termasuk pasukan milik Zeus bergidik ngeri. Mereka tidak bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berada di pihak dua orang malang itu.
"Ini... belum.. seberapa!" Lucan menghempaskan energi keluar, mendorong mundur Zeus. Ia lalu maju menerjang, mengeluarkan kedua pedang dan mulai menyerang dengan brutal tanpa memedulikan orang-orang disekitar. Dibandingkan seorang pahlawan, ia lebih cocok disebut sebagai mesin pembunuh. Tak butuh waktu lama, tanah di sekitar mereka mulai ditumbuhi begitu banyak duri-duri tajam yang ketika tersentuh, dapat menyerap jiwa hingga meninggalkan tubuh tak bernyawa, kering-kerontang. Seperti sebuah tengkorak berkulit. Tak sedikit pasukan yang terkena duri-duri yang muncul secara tiba-tiba itu serta terjatuh dalam retakan besar di tanah. Namun, inilah yang dinamakan medan perang, medan satu-satunya di dunia yang mirip seperti neraka. Tak peduli lawan maupun kawan, demi tujuan bersama, segala cara diutamakan, meskipun itu artinya mengorbankan teman sendiri... atau menghianatinya.
Sekarang, Luna sedang berhadapan dengan Yuna yang tampak dipenuhi amarah serta kesedihan. Ia menyesal telah menggunakan nyawanya sebagai ganti kekuatan besar. Jika ia tahu begini nantinya, ia takkan mau menggunakan kekuatan terlarang ini, ia masih ingin berada di sisi Alzent, menjadi sandaran untuknya, menjadi sosok yang dapat menemani dirinya serta mengembalikan senyuman manis laki-laki itu. Yuna merapalkan sebuah mantra dengan cepat, menembakkan beberapa duri es yang kemudian pecah menjadi sebuah ombak es besar bersisi tajam begitu menyentuh tanah.
Dalam menghadapi gadis ini, ia tak perlu menahan diri. Tetapi, Yuna berusaha menahan dirinya demi menanyakan satu hal, 'mengapa ia melakukan itu pada Alzent?'. Namun, tampaknya Luna tak ingin memberitahu alasan itu dan terus menghindari serangan demi serangan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan membalas, seakan ia sedang mengulur waktu untuk sesuatu.
Luna masih terdiam, menghindari begitu banyak ombak-ombak es. Jika terkena salah satu saja, mungkin tubuhnya kini dipenuhi lubang. Tatapan gadis itu mengatakan ia takkan memberi jawaban apapun, membuat Yuna frustasi dan mulai menyerang membabi-buta.
Gerald memperhatikan gadis itu dari jauh, ia ingin segera datang dan menenangkannya sebelum gadis tersebut kehilangan nyawa karena termakan oleh emosi. Sayangnya, raja Arslaz terus menghalangi jalan, menyerang dengan tujuan menjauhkan Gerald sejauh mungkin dari pertarungan Lucan, Veron, Reyla dan Yuna, sebab Sang raja tahu, hanya Gerald lah yang bisa menenangkan empat remaja yang sedang mengamuk. Gerald mengerti, meskipun mereka telah melalui beberapa perang membahayakan nyawa, tetap saja mereka hanyalah remaja yang masih belum bisa menahan diri ketika emosi mengambil alih, terlebih menyaksikan sahabat, teman serta sosok yang dicintai, mati terbunuh di depan mata. Jika ada orang selain Gerald mampu menenangkan mereka, maka cuma Alzent lah orangnya.
Gerald hanya tak menyangka, Lucan berani memutuskan perdamaian antara Immortal dengan Mortal. Berkemungkinan, Gerald akan menjadi lawan mereka, sebab ia adalah The Watcher, seseorang yang tak termasuk dalam kategori Mortal maupun Immortal. Tugas miliknya, hampir sama seperti para Immortal, namun kekuatan miliknya tak dapat menyamai seorang Immortal kelas atas seperti Zeus dan Immortal kelas bawah tak pernah akan dianggap sebagai seorang Immortal, mau dia seberguna apapun. Di dunia itu, kekuatan menentukan segalanya. Yang ia takutkan, karena pernyataan Lucan sebelumnya, ia terpaksa harus melawan mereka di kemudian hari. Ia tentu saja tidak ingin melakukan itu, dimana tiga remaja laki-laki sudah mendapatkan tempat khusus di hatinya dan menganggap mereka seperti anak sendiri.
Ketika Zeus akan menusuk dada kedua remaja menggunakan pedang berbentuk petir miliknya, sebuah Scythe terbang, berputar sangat cepat membentuk cakram dan menyayat punggung Zeus, membuat ia jatuh tengkurap ke depan. Lucan serta Veron bergegas melompat menjauh, lalu mencari seseorang yang melemparkan Scythe milik Veron itu, menemukan sosok Zeon menangkap Scythe, memutar-mutarnya dengan kedua tangan selagi berjalan mendekat.
"Mengapa kau membantu kami?" tanya Lucan curiga.
"Sudah dari awal aku ingin menghancurkan para Immortal, namun tanpa sengaja aku membiarkan seorang Immortal menipuku dan memanfaatkanku sebagai wadah boneka bagi mahluk sombong disana itu" jawabnya, menunjuk Zeus yang sudah kembali berdiri, tampak begitu marah, siap meremukkan mereka hingga tak lagi berbentuk "Dimana Alzent?" tanyanya bingung.
Veron menunjuk ke tengah-tengah medan pertempuran. Zeon hanya membalas dengan 'oh'. Dapat terlihat kesedihan di wajah laki-laki itu walau hanya sesaat, kemudian Lucan berkata "Kita akan membalaskan dendamnya dengan membunuh Immortal ini"