
Suasana menjadi hening, tak seorang pun bergerak karena aura mencekam mengelilingi tempat tersebut. Masing-masing dari mereka memperhitungkan langkah yang harus mereka ambil untuk mendapatkan kemenangan sekaligus keuntungan tanpa adanya kerugian.
Alzent melihat adanya peluang untuk membuat suasana menjadi rusuh. Ia sengaja berlari beberapa langkah mendekati kelompok orang tidak waras, lalu melompat tinggi ke belakang ketika keenam Dark Soul menembakkan panah, lalu dibalas oleh orang-orang itu. Suasana menjadi kacau, panah-panah beterbangan menciptakan beberapa ledakan yang sudah pasti didengar oleh pembunuh lainnya dan kemungkinan besar didengar oleh para pasukan kerajaan, kecuali jika mereka tak peduli dengan apa yang terjadi diluar kerajaan.
Sayangnya, Alzent dan Luna juga kesulitan untuk mencari jalan keluar dari kerusuhan di sekitar mereka. Mau tidak mau Alzent harus menggunakan tubuh seseorang sebagai tameng dari panah-panah yang datang, lalu begitu membuka mata, ia melihat tubuh tersebut sudah hilang setengahnya. Alzent melempar jauh tubuh tersebut sekaligus menghalangi penglihatan Luna agar dia tidak trauma menyaksikan pemandangan menjijikkan itu, terlebih Luna jarang berpartisipasi dalam peperangan secara langsung, ia juga hanya mengobati luka parah, namun tak pernah melihat tubuh yang terpisah. Untungnya, karena ledakan, tempat mereka berada sekarang dipenuhi oleh kepulan-kepulan debu tebal, menghalangi penglihatan orang-orang itu dari Alzent dan Luna yang sementara berlari kabur.
Mereka berdua pergi bersembunyi di dalam sebuah bangunan. Dilihat dari dekorasi serta hiasannya, bangunan ini adalah sebuah restoran sederhana yang biasa dapat ditemukan di pinggir jalan. Luna bersembunyi di dalam dapur dengan pintu menuju sebuah gang. Alzent memerhatikan situasi, mencari tahu apakah orang-orang diluar sana masih tak menyadari mereka telah tiada ataukah mereka sudah mulai sadar.
Luna menjulurkan kepalanya dari balik pintu, melihat Alzent yang masih terdiam di belakang pintu masuk, mengintip dari balik jendela "Sembunyikan dirimu, aku akan ke sana ketika ada kesempatan bagi kita, mengerti?" pinta Alzent begitu melihat ekspresi khawatir Luna.
Tiba-tiba, salah seorang dari Dark Soul terlempar masuk, menghantam kaca dengan kuat. Di dadanya terdapat sebuah panah energi miliknya sendiri, membuat Alzent mengernyitkan dahi karena bingung "Apakah dia membunuh dirinya sendiri atau terjadi pertikaian di antara mereka?" Alzent mengintip keluar, namun kepulan debu tebal menghalangi penglihatan "Apakah Dark Soul kalah? Bukankah mereka pembunuh profesional?"
Alzent mengambil crossbow miliknya serta beberapa tabung energi, mengingat crossbow yang ia curi sebelumnya, terpaksa dilempar sebab kehabisan amunisi. Alzent juga mengenakan seragam Dark Soul itu beserta topeng tengkorak, karena lebih aman menggunakan seragam mereka yang terbuat dari kulit hewan gaib yang sulit ditembus. Sesudahnya, Alzent bergegas ke dapur, mendapatkan sebuah pukulan di kepala dengan panci "Apa yang kau lakukan? Ini aku" sahut Alzent cepat, jika tidak Luna akan terus memukulnya hingga pingsan.
"O-Oh maaf, aku pikir kau salah satu dari Dark Soul itu" jawab Luna.
Alzent menghela napas, menggenggam tangannya, kemudian menuntun mereka melalui gang yang mengarah ke sebuah daerah baru. Daerah ini tampak sama sekali berbeda dengan daerah sebelumnya. Tempat ini terlihat jauh lebih tenang, rapi serta indah bertema Gothic. Begitu banyak orang berjalan mengenakan pakaian serba hitam, namun terdapat senyuman di tiap wajah mereka, senyuman yang menyimpan begitu banyak makna serta tipu muslihat.
Mereka berdua mulai berjalan menyusuri tempat tersebut. Tetapi, perasaan tidak nyaman menyerang Luna "Alzent, mengapa aku merasa sedikit aneh dengan tempat ini? Bolehkan kita kembali ke tempat sebelumnya? Aku merasa tidak tenang" pinta Luna, merapat pada Alzent dan dapat terasa, tubuh gadis itu gemetaran.
Telah beberapa menit terlewati, namun Alzent mulai merasakan ada yang janggal dari tempat ini. Ia mencoba menelusurinya beberapa menit lagi dan berhenti di tempat sambil memerhatikan sekitar "Kau benar, ada yang salah dengan tempat ini" ucap Alzent tiba-tiba.
Luna meringkuk ketakutan di belakang Alzent, mencengkram baju laki-laki tersebut dengan kuat.
"Kita sudah berjalan selama beberapa menit, namun kita tetap kembali ke tempat yang sama, melihat wajah yang sama, merasakan suasana mencekam yang sama. Sepertinya kita berada dalam sebuah pengaruh sihir atau semacamnya, namun tak tahu apa. Kemungkinan besar sihir ilusi" jelas Alzent tenang "Dan sihir ilusi memiliki kelemahan tersendiri, contohnya..." Alzent berbalik, menyentuh pipi Luna dengan kedua tangan. Seketika, orang-orang di sekitar mereka berhenti berjalan, dapat terdengar suara retakan kaca "Ilusi lemah terhadap dua hati yang telah menyatu" ia memberikan sebuah ciuman pada bibir Luna dan tempat mereka berada itu pecah menjadi serpihan-serpihan kaca kecil, termasuk baju seragam Dark Soul yang Alzent kenakan.
Terdengar suara tepukan tangan. Alzent dan Luna langsung berbalik, menemukan Zeon sedang duduk bersandar di bawah sebuah pohon berdaun putih dan berbatang abu-abu. Ia menggigit sebuah apel berwarna ungu, lalu menoleh pada dua orang itu "Aku tak menyangka kalian berhasil membebaskan diri dari ilusi tersebut. Ternyata, ikatan kalian sudah cukup kuat untuk berhasil mematahkan ilusi yang bahkan tak mampu dilewati oleh Gerald" Zeon menggigit apel tersebut sekali lagi, melemparnya ke belakang lalu berjalan mendekati Alzent serta Luna "Maaf aku membuat kalian harus sedikit tersiksa di dalam ilusi tadi, namun aku butuh bukti jika ikatan kalian berdua memang benar-benar kuat untuk dapat bertahan di kerajaan kami"
Alzent melangkah sekali ke depan, melindungi Luna di belakang "Bagaimana aku bisa percaya padamu jika ini bukan salah satu ilusi?" tanyanya.
Zeon tertawa kecil "Hanya kau yang tahu jawabannya" Ia tiba-tiba sudah berada di samping Alzent, berbisik "Karena kaulah yang mengetahui kelemahan ilusi ini" tubuh Zeon berubah menjadi kepulan asap hitam, menghilang tertiup oleh angin yang terasa dingin menusuk "Aku akan menunggu kalian di dalam akademi pelatihan pasukan elite. Cari sendiri bagaimana cara kalian dapat masuk ke tempat ini, terutama dirimu Alzent. Jangan harap kau mampu menerima apa yang terjadi di masa lalumu jika mencari akademi saja kau tak bisa... Oh, aku hampir lupa satu hal" setengah tubuh Zeon muncul kembali di hadapan Alzent. Wajah mereka hanya berjarak sepuluh senti "Itupun kalau kau bisa menemukannya" lalu ia menghilang lagi dan kali ini benar-benar menghilang sebab Alzent tak dapat merasakan kehadirannya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Luna.
"Sesuai perkataannya, kita mencari di mana akademi tersebut" jawab Alzent.
Mereka menatap sebuah kerajaan yang sama seperti yang mereka lihat sebelumnya, namun kali ini terlihat jauh lebih besar dengan beberapa pulau apung tepat di atas kerajaan tersebut. Kumpulan awan gelap mengitari masing-masing pulau, memancarkan sinar kemerahan dari petir yang tak henti-hentinya menyambar. Sebuah kerajaan yang sangat tepat untuk menggambarkan... kegelapan.