Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
An Icy Journey #2



Mereka bertiga telah berjalan selama lebih dari tiga puluh menit, namun masih belum menemukan ujung dari tempat tersebut. Jangankan sampai, melihatnya saja tidak, seolah koridor ini tak ada habisnya.


Mereka masih berjalan selama beberapa menit, hingga sesuatu terjadi. Sebuah kekuatan besar menarik mereka ke depan begitu cepat. Lalu mereka tiba di sebuah tempat yang tampak begitu asing, begitu kuno, dengan serpihan-serpihan es terbang mengelilingi sebuah cincin di atas sebuah pilar es. Cincin tersebut berputar pelan, mengeluarkan sebuah aura dingin yang bahkan membuat udara membeku di sekitarnya.


Tepat di samping pintu keluar dari ruangan itu, terlihat mayat Arkbyss yang membeku. Kedua mata mereka masih terbuka lebar, namun kulit mereka berubah biru dan terasa begitu dingin. Lightnar mengambil kesimpulan, bangsa Arkbyss tak berhasil mengambil Frost Ring, namun apa yang membuat mereka menyerah untuk mengambilnya?


Baru saja akan membicarakan hal tersebut, serpihan-serpihan es yang mengelilingi pilar, berputar cepat, lalu bersatu membentuk tubuh seorang perempuan. Perempuan itu tampak berumur tiga puluhan, kedua matanya berwarna biru seperti es, tiap helai rambutnya tertutupi oleh lapisan es tipis yang terlihat begitu halus dan tubuh dia, sepenuhnya terbentuk dari serpihan-serpihan es yang saling tersambung.


"Apa yang ingin kalian lakukan disini, Mortal?" tanya perempuang tersebut tanpa membuka mulutnya, namun suara dia terdengar menggema di ruangan besar itu.


"Mortal?" Lightnar terbelalak, lalu langsung berlutut memberi hormat "Maafkan ketidaksopanan kami ini, Goddess. Kami benar-benar tak tahu jika ini adalah tempat anda beristirahat, mohon dimaafkan" sahutnya sopan.


Esrene ikut berlutut mendengar hal tersebut, kecuali Lucan yang masih menatap Goddess di hadapannya dengan tajam, namun Goddess itu tak peduli dan mengucapkan "Tidak apa-apa, Mortal. Karena kalian sudah bersikap baik, aku akan memaafkan kalian, setidaknya kalian tidak seperti orang-orang disana itu" tunjuknya pada dua Arkbyss yang tak bernyawa.


Lightnar bangkit berdiri "Goddess, kami mohon izin padamu untuk mengambil Frost Ring, kami benar-benar membutuhkannya"


Sang Goddess melayang mundur mendekati cincin tersebut "Biar aku tebak, kalian membutuhkan ini untuk menahan jiwa Hellheim pada seorang pemuda bernama Alzent" perkataannya itu membuat Lightnar terkejut, namun ia tahu para Goddess maupun God sudah pasti mengawasi mereka semua dari tempat mereka berada "Aku yakin kau sudah tahu, bahwa kami, mahluk Immortal, selalu mengawasi kalian. Namun, apapun permasalahan dunia kalian, kami tidak akan ikut campur, sebab kami juga memiliki masalah tersendiri.


Hanya satu yang ingin aku katakan, apa kalian yakin akan memberikan cincin ini pada teman kalian itu? Kalian harus ingat, cincin ini tak hanya mampu menahan kekuatan beratribut api, namun juga memiliki kekuatan yang sangat besar. Kalian yakin percaya pada laki-laki tersebut?"


"Tentu saja, Goddess. Kami percaya pada Alzent dengan segenap hati kami" jawab Lightnar tegas.


Sang Goddess tersenyum menatap Lightnar, lalu senyumannya menghilang ketika menoleh pada Lucan "Lalu kau... melihat aura yang keluar dari dalam tubuhmu, aku jadi mempertanyakan dari manakah dirimu berasal? Kau terlihat familiar dengan rambut keemasan itu, serta mata sehijau zamrud tersebut"


Lucan tersenyum sinis, namun menyembunyikannya dan berlutut pada Goddess "Maafkan hamba-mu ini, aku sudah berlaku tidak sopan pada kaum Immortal" ucapnya, menekan kata Immortal "Tapi, aku hanyalah mahluk biasa, aku hanya kebetulan mirip dengan seseorang yang anda kenal. Kenal begitu lama"


Sang Goddess melihat tatapan tersebut, terkejut, lalu berbalik dan melayang kembali ke Frost Ring "Terserah apa katamu. Aku tidak peduli" ia menoleh pada Lightnar "Jika kalian ingin mengambil cincin ini, kalian harus dapat menahan kekuatannya, atau kalian juga akan ikut membeku seperti kedua orang disana. Tidak mati, namun juga tidak hidup, selamanya terperangkap dalam tubuh yang tak dapat bergerak, dingin, hampa, sepi, menunggu sesuatu menyelamatkan mereka"


Lightnar menghela napas. Begitu akan menerima tantangan dari Sang Goddess, Lucan melangkah maju, memegang bahunya mengisyaratkan untuk dirinyalah yang menerima tantangan tersebut. Lightnar melihat kemantapan dalam tatapan laki-laki itu, lalu mengangguk setuju, membuat raut wajah Sang Goddess menjadi sedikit tidak ramah.


Sang Goddess tanpa berkata apa-apa, menyerahkan cincin berwarna biru dengan bercak-bercak hitam tersebut. Ketika Lucan memegangnya, ia dapat merasakan seluruh tubuhnya gemetar hebat, mencoba menahan dingin yang terasa begitu menusuk sekaligus membuat tubuhnya serasa akan pecah.


Saat Sang Goddess melihat pantulan cahaya di mata Lucan yang seketika berubah merah, Sang Goddess langsung menarik kembali cincin tersebut, namun Lucan telah berhasil menaklukkan kekuatan yang membuat Lightnar serta Esrene membeku, mereka masih hidup, hanya tak dapat menggerakkan tubuh saja.


Sang Goddess terpental di dinding ruangan, tatapannya berubah tajam. Ia mengumpulkan energi dingin di kedua telapak tangannya sembari mengatakan "Aku tidak menduga seseorang sepertimu berada disini! Apa yang ingin kau lakukan!?"


"Tidak ada, sudah kukatakan, kau salah orang. Aku hanyalah mahluk biasa yang kebetulan mendapatkan misi untuk menyatukan setiap dunia" jawab Lucan santai, mementalkan serangan itu ke dinding dengan mudah yang langsung dapat menghancurkan ruangan tersebut hingga mencapai permukaan.


Sang Goddess menjadi semakin yakin jika Lucan bukanlah mahluk biasa, ia benar-benar menyesal telah memberikan cincin tersebut padanya "Segera serahkan cincin tersebut atau akan-


"Akan apa?" potong Lucan dengan sebuah senyuman sombong "Tampaknya kau telah melihat sesuatu yang seharusnya tak dirimu lihat. Mungkinkah ini?" ia mengubah warna kedua matanya menjadi merah-kehitaman, dengan pupil yang berbentuk seperti sebuah bintang bersudut empat lancip.


Lightnar dan Esrene tak mampu mendengar apa yang mereka berdua bicarakan, maupun melihat apa yang Lucan tunjukkan, namun Lightnar menduga, ada yang tidak beres. Ia lalu berusaha mencari cara untuk membebaskan diri dari bongkahan es yang memerangkapnya.


Lucan tertawa kecil "Apakah salah jika aku ingin membantu sahabatku menyelamatkan dunia?"


Sang Goddess membuat begitu banyak duri-duri es tajam yang langsung melesat cepat seperti ribuan jarum mengejar seekor lalat. Tetapi, sama seperti sebelumnya, Lucan dengan mudah menahan tiap serangan tersebut, serangan yang berhasil menghancurkan sebuah gunung dengan ledakan es nya. Sang Goddees lalu mencoba berbagai macam serangan, yang semuanya berakhir sama.. tak satupun melukai Lucan.


"Bukankah kau sudah tahu siapa diriku? Kenapa masih bersusah payah menyerang?" ucapnya, lalu menjentikkan jari, membuat langit seketika berubah merah dan terdengar suara gemuruh keras. Dari balik kumpulan awan hitam, sebuah rantai raksasa mengikat kedua lengan serta kaki Goddess tersebut "Kau yang memintanya, padahal aku sudah jelaskan, aku ini orang yang baik. Aku bahkan merendahkan diri di hadapanmu"


Sang Goddess mengucapkan sumpah serapah yang dibalas Lucan dengan sebuah senyuman. Laki-laki itu lalu mengatakan "Aku kembali" dan menjentikkan jarinya sekali lagi, membuat keempat rantai raksasa tersebut menarik tubuh Sang Goddess menjadi empat bagian, dimana semuanya disaksikan oleh Lightnar.


"Lucan apa yang kau lakuka- eh?" tanyanya bingung melihat mereka telah kembali ke tempat semula tanpa adanya tanda-tanda bekas pertarungan.


"Kau kenapa?" tanya Lucan, menatap Lightnar aneh, lalu melangkah menuju tangga yang berada di belakang pilar, menuju pintu keluar "Cepatlah, waktu kita tak banyak" sahutnya.


Lucan menggeleng pelan, menepuk pipinya dua kali sambil mengira apakah yang baru saja terjadi itu hanyalah efek samping dari menahan kekuatan Frost Ring ataukah benar-benar terjadi. Ia akhirnya menyerah, lalu memutuskan untuk menyusul Lucan dan memikirkannya lain waktu. Yang ia tak sadari adalah.. salah satu serpihan es yang membentuk tubuh Sang Goddess terletak di samping pilar, lalu pecah menjadi butiran cahaya ketika mereka telah menghilang ke atas.