Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Strong but Dumb



"Apa kau sudah siap?" tanya Alzent.


Ligthnar mengangguk. Kedua sayap mereka muncul di belakang punggung, mengejutkan teman-teman yang mengantar. Hanya dalam sedetik, mereka sudah berada di atas langit, terbang melewati gerbang selatan untuk mengintai perkemahan para Orc.


Namun, ada yang aneh di perkemahan tersebut. Perkemahan mereka terlihat terlalu sepi dan tanpa penerangan maupun api untuk menghangatkan diri. Hening, tak bersuara. Alzent dan Lightnar mendarat tak jauh dari sana, melihat dari jarak yang lebih dekat dari balik semak-semak. Perkemahan tersebut tampak benar-benar kosong seperti tak pernah digunakan lagi.


"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?" saran Lightnar.


Alzent mengangguk setuju, mulai menelusuri perkemahan yang cukup besar tersebut. Benar saja, tak ada Orc yang terlihat. Perkemahan itu terlihat baru saja diserang sesuatu, sesuatu yang besar dengan kuku-kuku tajam "Ada kemungkinan mereka diserang oleh mahluk-mahluk kegelapan yang tersisa" jelas Alzent sembari memerhatikan cakaran besar merobek sisi tiap kemah.


"Baru 2 jam terlewati, mereka tak mungkin menghilang secepat itu tanpa meninggalkan jejak. Ini sedikit aneh" ucap Lightnar, kemudian memukul tanah menciptakan gempa kecil. Tanah yang mengitari perkemahan tersebut terangkat naik, menjadi semacam dinding tanpa jalan keluar. Alzent mengerti, lalu berteleportasi ke dalam hutan, di mana ia muncul di belakang salah satu Orc, kemudian melemparnya ke hadapan Lightnar.


Karena melihat salah satu dari mereka telah ketahuan, bangsa Orc akhirnya keluar dari persembunyian mereka, membawa senjata-senjata berukuran besar sambil tersenyum lebar "Haha, tak kusangka kau bisa mengetahui rencana kami" sahut pemimpin mereka yang memiliki sebuah garis tribal dari cat merah di mata kanan.


Alzent kembali ke samping Lightnar, menjawab "Bagaimana kami tidak menemukannya, jika beberapa dari kalian tanpa sengaja memperlihatkan senjata-senjata berukuran besar itu dibalik semak-semak?"


Sang pemimpin Orc terdiam mendengarnya "Oh... Itulah salah satu dari rencana kami, untuk umm.."


"Sudahlah. Katakan, kenapa kalian berniat berperang melawan Elven?" tanya Alzent.


"Elven? Ah, persatuand dari Elf dan Dark Elf. Tentu saja karena kami menganggap kalian adalah lawan yang pantas. Bangsa Orc hanya melawan bangsa yang sebanding, bukan yang lemah" jawabnya bangga "Sudah cukup bicaranya, mari selesaikan dengan kekuatan!"


Lightnar menggeleng-gelengkan kepala "Apa mereka masih belum dapat melihat kemampuan musuh yang bahkan dengan mudah berteleportasi? Aku malah khawatir mereka akan menjadi beban nantinya"


Namun, begitu Sang pemimpin Orc mengayunkan kapak bermata dua besarnya itu ke hadapan Lightnar, Lightnar menahannya dengan kedua tangan, namun masih kesulitan dan masuk makin dalam ke tanah. Alzent menendang Orc tersebut hingga terlempar ke samping, menghentikan langkah anak buahnya "Ya, mereka memang sedikit berotak udang, tapi kekuatan mereka tidak main-main. Seekor Alpha sepertimu saja dapat didesak oleh pemimpin pasukan kecil ini"


Sang pemimpin Orc tertawa, bangkit berdiri tampak tak terluka sama sekali "Hoho, kami bukan hanya pasukan kecil biasa, melainkan pasukan khusus yang dikirim untuk mengintai selagi memancing kalian untuk terus bertarung sementara pasukan utama datang" jelasnya dengan bangga lagi.


"Bukankah dengan kata lain, kalian hanyalah umpan?" Alzent mencoba menahan tawanya "Kalian, bangsa Orc bernar-benar lucu. Kalau bisa, aku ingin berteman dengan kalian dan berperang bersama!" sahutnya, kemudian menerjang pemimpin Orc tersebut.


Ia memasang kuda-kuda, siap menerima serangan Alzent "Buktikan terlebih dahulu, kalau kau pantas menjadi teman seperjuangan kami!" kapak dan tinju saling bertemu, menciptakan gelombang energi kuat, menghempaskan apapun di sekitar. Sang pemimpin Orc semakin bersemangat, menemukan lawan sekuat pemuda itu. Ia lalu mendorong Alzent dan mementalkannya cukup jauh dengan sekuat tenaga "Ternyata, kau benar-benar kuat. Namun, masih belum cukup untuk membuktikannya!"


Sang pemimpin Orc tersenyum, memasang kuda-kuda kembali. Baru saja dirinya berkedip, Alzent sudah menghilang dari pandangan, muncul di belakangnya, memberikan sebuah tendangan keras di tulang rusuk, tendangan kedua di leher dan tendangan ketiga di wajah. Tubuh Orc tersebut sampai terpelanting keras, meretakkan tanah. Ia terus terlempar-lempar jauh hingga terseret di tanah, lalu berhenti.


Ia tak lagi bergerak. Alzent merasa bersalah sudah membunuhnya, padahal ia hanya ingin bertarung secara serius. Alzent berbalik badan dan mendapat tendangan keras di punggung, terlempar kuat menghantam dinding tanah ciptaan Lightnar.


"Waktunya bertarung serius, bocah" ucap Orc tersebut.


Alzent tersenyum, melesat cepat dari dinding, menghadapi Sang pemimpin Orc. Mereka terus bertukar serangan yang menciptakan suara hempasan udara kuat, seakan-akan udara juga ikut terdorong bersama tinju maupun tendangan mereka. Gerakan keduanya makin lama makin tak terlihat, gerakan mereka sangat cepat dan hanya terlihat saat salah satu terlempar jauh atau terbanting ke tanah. Pertarungan tersebut bahkan jauh lebih mengejutkan dibandingkan pertarungan Alzent melawan Lightnar. Dari sini, Lightnar tahu, Alzent sama sekali tak pernah mengeluarkan kekuatan penuhnya, meskipun Alzent sering mengatakan sudah mencapai batas, ia tahu Alzent masih menahan diri. Entah sekuat apa pemuda itu.


"Haha! Aku tak pernah bertarung seserius ini semenjak pertarungan terakhir melawan kepala clan!" ia berhasil melancarkan sebuah tinju keras ke wajah AlzentĀ  sampai laki-laki itu terlempar beberapa meter ke belakang.


Alzent perlahan bangkit berdiri "Jadi, kau mengatakan aku sekuat kepala clan bangsa Orc?"


"Tentu tidak bocah. Kau hanya berhasil melampui tiga dari lima kepala clan, dalam bangsa Orc. Saat itu, aku dikalahkan oleh Sang Warchief hanya dalam sekali pukulan dan pingsan selama seminggu penuh" jelasnya kecewa.


"Itu koma!" sahut Alzent histeris.


Sang pemimpin Orc tertawa kecil "Haha, tampaknya itu benar, tapi dari situ aku tahu, aku masih membutuhkan banyak latihan untuk melawan Warchief"


Alzent kembali tersenyum, memasang kuda-kudanya, begitu pula Orc tersebut "Jadi, aku hanyalah semacam latihan untukmu?"


"Oh tidak, anak muda. Aku menganggapmu sebagai lawan yang sebanding, lawan yang membuatku harus mengeluarkan potensi penuh diriku, melewati batas yang tak pernah berhasil kulewati sebelumnya"


"Senang medengar itu"


Mereka kembali bertarung, kali ini dengan serangan yang cukup mematikan. Senyuman mereka masih terpampang jelas di wajah masing-masing, seakan mereka sangat menikmati pertarungan tersebut. Bukan pertarungan antara hidup dan mati, melainkan pertandingan untuk menghormati keduanya, sebagai ksatria terhormat dari bangsa berbeda.


Tiba-tiba mereka berhenti bertarung, merasa ada yang aneh dengan keheningan di sekitar. Mereka mencari-cari dimanakah anak buah Orc dan Lightnar yang ternyata malah duduk bersama, menonton sambil memberikan komentar terhadap dua orang tersebut, seperti sedang menonton sebuah pertandingan nasional.


"Apa yang kalian lakukan hah?!" sahut Alzent dan Sang pemimpin Orc bersamaan.