Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #11



 "Ck! Mengapa kali ini aku tidak bisa mencurinya!?" teriak Feurig frustasi sembari terus mengayunkan pedang yang berhasil Leo tangkis menggunakan tangannya yang telah dilapisi sebuah sihir khusus, membuat tangannya itu tampak terlapisi oleh gel berwarna putih namun keras.


Leo menyunggingkan senyum lebar, menangkap pedang laki-laki itu kemudian menendang sisi tubuh Feurig hingga ia terlempar beberapa meter ke samping. Leo menggenggam pedang tersebut, memperhatikannya dengan seksama lalu kembali menatap Feurig "Tampaknya aku berhasil menemukan pencuri pedang milik seorang Immortal, yang baru-baru ini kehilangan pedang favoritnya" Leo meraba permukaan pedang, dimana terdapat sebuah ukiran rapalan sihir dengan jari telunjuk, dari pangkal hingga ujung, membuat ukiran tersebut kemudian menyala terang "Apakah kau pencuri yang dimaksudkan olehnya?" melihat raut wajah panik dia, Leo mendengus geli sambil menggeleng-gelengkan kepala "Kau ini benar-benar tak sayang nyawa yah. Kau dengan berani menantang Yuna yang entah mengapa tak menggunakan seluruh kekuatannya, mungkin ia terlalu lelah karena misinya bersama Zeon atau dia menganggap kau tak pantas menerima kekuatan yang telah ia dapatkan dengan usaha keras dan kau juga mencuri pedang seorang Immortal? Aku salut pada keberanian atau mungkin kebodohanmu itu"


Feurig bangkit berdiri, meraba tulang rusuk bagian kiri yang terasa nyeri. Ia mengalirkan kembali sihir apinya ke masing-masing tangan dan maju menerjang Leo menggunakan kick-boxing kembali. Namun, hasilnya tak seperti yang ia harapkan. Leo kali ini dapat bertahan bahkan tampak tak berkutik sama sekali, sementara ia harus terus melancarkan serangan sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhnya itu, kemungkinan besar tulang rusuknya patah, atau Leo akan memberikan sebuah serangan kuat di daerah yang sama dan membuat Feurig benar-benar tak dapat bangkit berdiri lagi.


Sementara itu, Yuna yang baru saja siuman sesudah pingsan, menyaksikan pertarungan keduanya. Ia bingung, sejak kapan dirinya sudah berada dalam koridor sekolah, disandarkan pada dinding, tetapi begitu melihat anggota pasukan elite milik kapten Leo, ia mengerti.


"Apa kau masih merasa sakit, Yuna?" tanya salah satu anggotanya dengan raut wajah khawatir sesudah membuka helm zirah hitam. Ia adalah seorang perempuan dengan wajah yang tampak penuh dengan aura keibuan, namun tak seorang pun pernah menyangka bahwa dia adalah salah satu anggota pasukan elite terkuat serta kejam, jika melihat wajahnya sekarang.


Yuna hanya menggeleng pelan, bangkit berdiri dibantu oleh gadis tersebut, lalu mengatakan "Berikan ucapan terima kasihku pada kapten Leo, aku memiliki misi penting yang harus kuselesaikan sekarang, namun terganggu oleh Feurig" mendengar hal itu, setiap anggota yang tadinya ingin meminta Yuna untuk duduk beristirahat lebih lama lagi sembari menunggu kapten Leo selesai berurusan dengan Feurig, mereka hanya bisa menghela napas dan meminta Yuna lebih berhati-hati agar tak terulang hal yang sama "Tenang saja, aku begini karena aku yang menginginkannya. Aku tak ingin melawan seseorang yang hanya bergantung pada kekuatan yang bukan miliknya sendiri"


"Maksudmu, kau sudah tahu ia memiliki pedang itu?" tanya gadis itu kembali.


Yuna mengangguk pelan "Seperti itulah, aku hanya menunggu kapan ia menggunakannya. Tak kusangka, ia tidak ingin menggunakannya sama sekali ketika berhadapan denganku. Mungkin baginya, aku ini bukanlah lawan yang pantas untuk ditakuti"


Tanpa mengulur waktu lagi, Yuna langsung pergi ke arah dimana aura tersebut berasal. Para anggota pasukan elite juga ikut merasakan aura yang bagi mereka terasa asing tersebut, namun entah mengapa, aura itu terasa jauh lebih mencekam dibanding aura milik raja Arslaz. Mereka ingin ikut bersama Yuna, takut melihat nantinya gadis cantik itu akan terluka parah, tetapi melihat tatapan matanya yang penuh kekhawatiran, mereka tahu ini bukanlah waktu bagi mereka untuk ikut campur, kecuali masalah tersebut sudah menjadi terlalu besar dan melibatkan seluruh orang dalam akademi atau kemungkinan besar seluruh kerajaan. Barulah mereka akan ikut turun tangan.


Satu hal yang terlintas dalam benak mereka ketika merasakan aura tersebut adalah, 'apakah ada seorang Immortal di dunia ini?' sebab tak mungkin ada mahluk biasa yang memiliki aura jauh lebih besar dari milik Yang Mulia, setidaknya mereka tak pernah merasakan aura lain yang mampu membuat mereka sesak napas dan hampir kehilangan kesadaran dalam sekejap. Tetapi aura ini, jauh lebih dibanding itu, mereka merasa berada dalam genggaman tangan seseorang, seseorang yang memiliki kuasa untuk mengendalikan seluruh dunia atau menghancurkannya dan membuat jantung mereka terasa seperti terlilit oleh sesuatu yang kasar serta tajam, hingga para pasukan elite itupun terjatuh lemas di lantai, berusaha bangkit dengan kekuatan tubuh yang telah hilang sepenuhnya, menunggu mata tertutup yang sementara berusaha ditahan untuk dapat menyaksikan sesuatu yang tak lama lagi terjadi.


Pertarungan kapten Leo dan Feurig juga ikut terhenti karena merasakan aura tersebut, namun mereka tidak jatuh pingsan seperti anggota pasukan elite dan seluruh murid maupun guru yang berada dalam akademi. Mereka cuma jatuh berlutut, berusaha bertahan dari aura yang terasa begitu berat, seakan sebuah gunung berada di atas punggung, akan menghancurkan tubuh dalam sekejap.


Zeon memerhatikan semuanya dari atas atap menara tertinggi di akademi, duduk santai disana sembari menunggu sesuatu yang sudah lama ia nantikan. Ia yakin, ayahnya pun ikut merasakan aura ini dan tak lama lagi akan turun tangan secara langsung untuk menghentikan Alzent. Seekor burung merpati putih bertengger tepat di samping Zeon, memerhatikan gedung aura itu berasal, bahkan dirinya pun merasa pusing karena aura tersebut "Aku tak menyangka, bahkan seorang God pun tak dapat menahan aura besar milik Alzent" ucap Zeon, ikut merasakan kepalanya yang seakan ingin pecah, sebab ia juga dilindungi oleh aura milik merpati putih itu.


Tanpa mengatakan apapun, merpati putih terus memperhatikan sosok Alzent menggunakan penglihatannya yang dapat menembus dinding bangunan akademi. Keringat dingin mulai terbentuk di sosok aslinya yang berada jauh dari dunia Arkbyss dan dengan tangan gemetaran ia memijat pelipis. Ia memang pernah mendengar mengenai bangsa Hellraiser, bangsa Mortal yang mampu menghancurkan dunia para Mortal dan menguasai dunia para Immortal, namun tak pernah ia duga salah seorang dari mereka saja sudah sekuat ini.


Di dalam ruangan itu, kedua mata Alzent bersinar oranye-kemerahan terang. Luna bingung harus melakukan apa dan tampaknya hanya dia seorang yang tak terpengaruh oleh aura mencekam milik Alzent. Gadis itu terkejut saat Alzent mencoba meraih sebuah bola kaca dengan sebuah lambang asing berwarna kemerahan, melayang-layang di tengah bola kaca tersebut dan seketika ia sudah menjadi seperti sekarang.