Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
An Icy Journey #7



Raja Feraz merapalkan sebuah mantra terlarang, membuat Esrene menyahut, meminta untuk tidak menggunakannya atau seluruh daratan Frozenland akan hancur dan tak dapat dikembalikan. Namun, Sang raja tidak mempedulikan hal tersebut, ia terus merapalkan mantra panjang tersebut, selagi menunggu Lucan selesai mengumpulkan kekuatan yang mengejutkan Lightnar, sebab ia baru pertama kali merasakan kekuatan sebesar itu selain Alzent.


Langit bergemuruh keras karena keduanya, bahkan seakan terpisah menjadi dua bagian. Dia belakang Lucan, langit berubah ungu bersemu oranye-kemerahan, sedangkan di belakang Sang raja, langit menjadi berwarna biru berbecak hitam.


Keduanya memancarkan hawa yang berbeda, hangat namun sesak, dingin namun menusuk. Setiap mahluk hidup, berlari ketakutan, mencari tempat aman untuk berlindung dari dua sosok yang kemungkinan besar akan menjadikan hari ini, menjadi hari hilangnya dunia Frozenland.


Sang pangeran ikut menggunakan kekuatan dari cincin tersebut. Sekujur tubuhnya tertutupi oleh serpihan es, membentuk sebuah armor biru transparan dengan hawa dingin merembes keluar dari tiap selanya. Kedua mata pangeran berubah biru muda terang dan kulitnya menjadi seputih salju. Di atas kepala dia, terbentuk sebuah mahkota es yang tampak jahat dan mengerikan, dari bunga-bunga salju yang mulai turun bersama badai, membawa angin kencang nan dingin. Setiap orang yang tak mampu menahan, akan membeku di tempat dalam sekejap mata dan terperangkap nyawanya.


Lightnar menarik Esrene menjauh, ia tahu mereka hanya akan menjadi beban dalam pertarungan yang sebentar lagi terjadi. Tetapi, sisi lain dirinya juga sangat ingin membantu Lucan, ia tak mungkin membiarkan Vampire cerewet dan ceroboh itu bertarung sendiri. Lightnar mengepal kedua tangannya dengan kuat, ia selalu menduga dirinya sudah menjadi sosok terkuat karena menjadi seekor Alpha, namun semenjak kedatangan tiga orang laki-laki itu, ia tahu dirinya masih jauh, sangat jauh dari kata kuat. Ia masih butuh banyak belajar, namun apakah yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menonton dan melihat? Tentu Lightnar tidak menginginkan itu.


Lucan menatap tajam dua orang di hadapannya, ia akui, kekuatan mereka tidak jauh berbeda dari Alzent saat menggunakan sihir kegelapan. Dia juga membenci sosok Goddess yang menjaga dunia ini, namun, ia benar-benar tak senang melihat mahluk yang bahkan bukanlah seorang Immortal, berani merendahkan sosok Goddess yang telah lama melindungi mereka, seakan mereka tak memiliki rasa berterima kasih sama sekali. Tetapi, apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Lucan tak bisa memutar balik waktu, ia hanya bisa menghadapi apa yang sudah menjadi buah dari perlakuannya dan dua orang di hadapannya ini, akan menjadi tumbal sebagai permintaan maaf untuk Sang Goddess.


"Aku benar-benar minta maaf" ucap Lucan pelan.


"Apa yang kau bicarakan hah!? Kami tak dapat mendengarmu!" sahut Sang pangeran dengan raut wajah sombong, mengisyaratkan Lucan untuk maju dengan tangan kanannya "Berhenti membuang waktu, aku sudah tak sabar menghancurkan wajah sombongmu itu"


"Seharusnya aku yang mengatakan itu" balas Lucan.


Dalam sedetik, Lucan sudah menghilang dari tempatnya disertai cahaya kuning menyilaukan. Ia muncul di hadapan Sang pangeran, menarik lehernya, kemudian memberikan sebuah tinjuan ke wajah yang sudah semenjak awal ingin ia injak-injak "Ternyata, begini rasanya meninju wajah seseorang yang sangat menyebalkan" ucap Lucan senang sembari memutar-mutar lengannya, bersiap untuk menyerang raja Feraz.


Amarah Sang raja memuncak, ia memaki Lucan sambil melayangkan beberapa pukulan. Lucan menghindari semua itu dengan mudah, namun ia dapat merasakan kekuatan pukulannya hampir sama dengan kekuatan pukulan milik Gerald. Lucan tahu ia tak bisa bermain-main terlalu lama dalam menghadapi kedua ayah dan anak ini, sehingga Lucan mencari kesempatan, lalu mendapatkannya ketika Sang raja terpancing, memberikan sebuah pukulan kuat yang hanya mengenai bayangan dari tubuh Lucan sebelum ia mendapatkan sebuah pukulan keras di dadanya yang membuat zirah dari balik jubah panjang Sang raja retak.


"Ternyata zirahmu itu keras juga" kata Lucan, mengibaskan tangan kanannya yang terasa lumayan sakit "Jika saja kau tidak menggunakan sihir terlarangmu itu, mungkin tubuhmu sudah hancur tanpa sisa sekarang"


Sang pangeran tiba-tiba muncul di belakang Lucan, mengayunkan sebuah pedang es yang terasa begitu dingin menusuk di punggung. Lucan dengan cepat berpindah tempat sesudah terkena serangan tersebut, memasang kuda-kuda untuk menerjang dua orang di hadapannya 'tampaknya ini tidak sesederhana yang aku pikirkan' keluhnya.


Lightnar melihat semua itu dari bawah, ia dapat menyaksikan Lucan sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan. Vampire tersebut masih dapat bertahan, namun untuk berapa lama? Badai es membuat pergerakannya menjadi sedikit lebih lamban, meskipun langit di belakangnya juga membuat dua orang itu sulit bernapas. Lightnar berusaha memikirkan sesuatu yang dapat membantu, setidaknya meringankan beban Lucan, kemudian ia melihat gelang yang ada di lengannya "Kenapa aku tidak memikirkan ini semenjak tadi" gerutunya pada diri sendiri, kemudian memutuskan gelang tersebut.


Lucan dan dua orang itu terus bertukar serangan yang tidak hanya menyakitkan, melainkan juga mematikan. Semua yang ada di sekitar mereka berubah menjadi kepingan es serta terbakar habis. Lucan bernapas lega ia masih dapat menggunakan kekuatan api nya untuk menekan dua orang tersebut, namun ia tak bisa menggunakannya terlalu banyak atau Lightnar mungkin akan mempertanyakan siapa ia sebenarnya. Ia hanya bisa bergantung pada kekuatan darah yang diberikan oleh Zeon. Jujur saja, Lucan tak suka jika harus menggunakan kekuatan tersebut, namun karena keadaan yang memaksa semenjak dari perang pertama, mau tidak mau ia bersenang-senang dengan kekuatan tersebut. Ia akui, pedang darah itu cukup nyaman dipakai, meskipun harus terus menggunakan darahnya dan ada kemungkinan ia mati karena kehabisan darah.


Raja Feraz memberikan sebuah pukulan keras di dada Lucan, lalu Sang pangeran menghujani Vampire itu dengan duri-duri es besar yang membuatnya tertahan di tepi sebuah gunung. Lucan berusaha melepaskan diri dengan memanaskan kedua tangan, tapi Sang pangeran tak membiarkannya, menciptakan dua duri es lagi untuk menusuk lengan Lucan, membuatnya menjerit kesakitan.


"Sudah kuduga, kau hanya bisa omong besar" ucap Sang raja, melayang mendekati Lucan bersama anaknya.


"Ayolah! Bukankah di awal pertemuan kita kau begitu sombong! Tunjukkan kepercayaan dirimu itu!" tantang Sang pangeran sambil tertawa keras.


Lucan mengernyitkan dahi, andai saja ia bisa menggunakan kekuatan utamanya, ia akan menghabisi dua orang di hadapannya ini dengan sangat mudah. Jangankan menghabisi dua orang itu, menghabisi Zeon pun akan terasa seperti mematikan seekor semut.


'Jangan Lucan, tahan dirimu, tahan dirimu. Kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu itu sekarang, belum saatnya' ucap Lucan pada dirinya sendiri, mencoba untuk menahan nafsu membunuh yang mulai menguasai hatinya.


Perlahan kedua mata Lucan berubah oranye, Lucan masih berusaha keras untuk bertahan hingga bibirnya berdarah karena menggigitnya. Jika ia mengeluarkan kekuatannya sekarang, bisa dipastikan dunia Mortal akan hancur seluruhnya dan ia tak bisa membiarkan itu terjadi, tidak selama Alzent masih berada disana.


Ketika Raja Feraz akan meluncurkan sebuah bola energi berwarna biru besar, sebuah bola api menghempaskannya. Sang pangeran menatap tajam sosok yang melemparkan bola api tersebut dan melesat cepat ke bawah, akan memberikan pelajaran pada Lightnar.