Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
It's Her Again?!



"Bukannya kau bisa menghancurkan mereka jika dirimu mau, Lightran?" saran Lucan.


"Masalahnya, aku tidak mau. Seekor Alpha dari para naga, tidak mengambil nyawa seenaknya saja. Aku bahkan menggunakan wujud nagaku hanya dalam keadaan terdesak" jelasnya.


Semenjak memasuki wilayah dari para Harpy, mereka hanya menemukan daratan bersalju atau hutan-hutan berukuran tak terlalu luas yang diapit oleh dua gunung besar serta terjal. Bangsa Harpy sama sekali belum dapat terlihat. Mereka berlima mulai waspada, melihat sekitar dengan seksama, terlebih sekarang mereka berada di tengah-tengah lembah yang diapit oleh dua jurang tinggi, sehingga dapat menjadi sasaran empuk dari atas tebing.


"Di depan, di atas tebing kanan, berdaun lebat" ucap Alzent pelan.


"Sepertinya kita harus memperlambat laju jika ingin menemukan para Harpy tersebut" sahut Lightran, agar para Harpy tak menyadari jika mereka telah tahu.


"Eh? Eh? Lightnar! Jangan tiba-tiba, aku terjatuh!" jerit Alzent.


Lightnar bergegas, terbang lebih rendah sembari meneriakkan nama Alzent dengan panik, diikuti Veron serta Lucan, sementara Reyla sengaja menembakkan panahnya ke bawah tanpa terlihat dari arah para Harpy berada. Ia dapat mengendalikan pergerakan panah-panah tersebut.


"Tampaknya mereka-


Si gadis Harpy terkejut merasakan ujung dari sebuah pedang hitam, terasa dingin menusuk di lehernya. Seinci lagi dia maju, lehernya sudah akan berdarah. Alzent menatap tajam gadis tersebut, memperhatikannya dari bawah ke atas, mencari senjata tersembunyi yang mungkin saja disembunyikan, kemudian bertanya "Mengapa kalian akan menyergap kami?"


Gadis Harpy itu tidak menjawab.


"Kami tidak menginginkan masalah dengan kalian, kami datang dengan damai untuk menegosiasikan sesuatu" jelas Alzent.


Tapi dia masih belum menjawab.


Alzent melihat gerakan jari kiri Harpy tersebut, menjegalnya ke tanah, lalu menahan kedua tangannya ke belakang "Diam di tempat! Atau teman kalian ini akan kehilangan sayap indahnya" ancam Vampire muda itu. Beberapa Harpy yang melompat keluar dari balik semak-semak, memilih untuk diam dibanding harus melihat teman mereka menderita. Alzent menambahkan poin tersebut sebagai bahan negosiasi, "Kami datang untuk bernegosiasi. Aku mohon, tolong jangan lakukan ini, aku tidak ingin ada yang terluka" kata Alzent sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tenang.


Seorang Harpy keluar dari dalam persembunyiannya, mengenakan zirah yang terlihat lebih megah dan kuat. Alzent yakin, gadis itu adalah pemimpin dari kelompok ini. Sang pemimpin Harpy mengangkat tangan kanan, menjelaskan "Maafkan untuk perlakuan kami ini, bangsa Harpy lama tidak mendapatkan pengunjung, terlebih mahluk dari dimensi lain seperti kalian. Keluarlah" perintahnya.


Tak lama, begitu banyak Harpy beranjak keluar dari tempat persembunyian mereka, bahkan dari tebing di sebelah pun ada. Mereka terlihat begitu cantik, mengalahkan kecantikan bangsa Elf. Bangsa Elf terlihat seperti seseorang yang suci dan tampak seperti bangsawan, namun mereka... mereka terlihat lebih dewasa, lebih menggoda. Suara mereka yang seksi, ditambah pakaian mereka yang terbuka, termasuk zirah di badan mereka yang justru dipertanyakan masih termasuk dalam perlindungan atau tidak. Alzent sampai harus mengedipkan mata, menyadari dirinya dikelilingi oleh begitu banyak gadis cantik bersayap yang sepenuhnya memerhatikan dia.


"Alzent" balas laki-laki itu singkat, membuat Merith sedikit menajamkan matanya 'laki-laki ini akan sedikit sulit ditaklukkan' keluhnya dalam hati.


"Boleh aku tahu, hal apakah yang membuat kalian.. harus.. bernegosiasi dengan kami.. para Harpy, hm?"


"Hal ini sangat mendesak dan akan lebih baik untuk dibicarakan dengan ratu kalian"


Para Harpy langsung mengarahkan pedang mereka pada Alzent. Merith mengangkat tangannya lagi, melipat lengan sembari memasang tampang sombong "Oh? Jadi maksudmu, kami harus membawa kalian ke ratu Leana? Kebetulan sekali, ratu juga meminta kalian.. untuk dibawa ke.. hadapannya" ia menjentikkan jari. Seketika seluruh Harpy terbang mengarah ke Alzent yang telah kehilangan sandera, karena sandera sebelumnya ternyata hanyalah sebuah sihir ilusi.


Baru saja ujung pedang mereka akan menusuk Alzent, panah kehijauan siap menusuk masuk rahang bawah masing-masing dari mereka. Lightnar kemudian muncul di belakang Alzent, meraung keras menciptakan rasa takut di hati para Harpy tersebut. Veron dan Lucan melompat, mendarat tepat di belakang Alzent, mengeluarkan hawa mengintimidasi, lalu Reyla, si gadis elf imut, siap menekuk jari tengah dan telunjuknya. Merith berdecak kesal "Lumayan, tampaknya kami kalah strategi darimu... pangeran tampan" pujinya sambil tersenyum menggoda.


"Ini bukanlah strategi, hanya kepercayaan antar teman dan kerja sama yang baik. Satu hal lagi, aku bukanlah seorang pangeran..." Alzent tersenyum "hanya seorang laki-laki.. biasa"


Cara Alzent menyebutkan kata 'biasa', membuat Merith semakin tertarik pada dirinya. Ia menggigit pelan bibir mendengar Alzent mengatakannya, lalu berencana untuk membuat laki-laki itu menjadi miliknya yang sudah pasti akan gagal.


Untuk menghindari pertempuran, para Harpy akhirnya membawa mereka menuju tempat tinggal para Harpy di atas sebuah gunung tinggi, tertutupi salju. Sebuah kerajaan kecil terdapat di sana, kerajaan yang tampak seperti sebuah mansion megah berpencahayaan indah.


Sepanjang perjalanan itu, para Harpy terus saja membicarakan empat laki-laki yang ikut bersama mereka, menganggap Veron itu tipe yang serius dan pintar, Lucan tipe yang lucu namun mematikan di ranjang, Lightran tipe yang dewasa, favorit Sang ratu, lalu Alzent.. tipe yang sulit ditebak serta misterius. Namun, tatapan mematikannya itu membuat mereka seketika jatuh cinta padanya, apalagi ketika sedang tersenyum, seolah-olah mentari menyinari hati.


Mereka langsung dibawa ke hadapan Sang ratu yang tampak tak begitu senang. Ia bahkan terang-terangan menatap tajam Lightran, meski sudah tahu naga itu dapat menghabisi mereka semua jika ia mau, namun putrinya yang jatuh sakit, bersamaan dengan kemunculan mereka, pasti bukanlah suatu kebetulan.


"Bangkitlah" ucap Sang ratu "Apa tujuan kalian ke mari?"


"Mohon maaf untuk ketidaknyamanan atas kedatangan kami" kata Alzent "Kedatangan kami ke sini adalah untuk membicarakan sesuatu yang begitu genting dan membutuhkan pertolongan kalian, bangsa Harpy yang kuat"


"Aku akan mendengarkan penjelasanmu itu, tapi jelaskan" Sang ratu bangkit berdiri, menunjuk putrinya yang dibawa masuk oleh seorang Harpy "Siapa di antara kalian yang membuat putriku menjadi seperti ini?!" tanyanya marah.


Alzent dan Sang putri saling bertatapan, mereka bersamaan terbelalak kaget, saling menunjuk "Kau?!" dan bersamaan terjatuh ke lantai disertai jeritan sakit.