
Zeon membuat sebuah dinding sihir berwarna abu-abu transparan, melindungi batas antara Alzent dengan Risenland. Vampire muda itu, masih terlihat seperti Alzent yang biasa, namun dengan zirah berwarna hitam yang telah dipenuhi retakan berwarna merah menyala. Dua tanduk tajam berwarna merah muncul di kepala serta dua pedang panjang berwarna merah bersemu hitam yang terhubung langsung oleh zirah tersebut.
Begitu ia mulai melangkah, tanah tempat dan bekas ia berpijak, berubah retak, cahaya kemerahan keluar dari dalamnya. Kedua matanya berubah hitam dengan iris mata berwarna merah menyala, sebuah tatapan menusuk yang bahkan mampu membuat jantung Zeon berdetak sangat cepat. Zeon mengepalkan kedua tangannya yang mulai gemetaran, melihat sosok tersebut.
Langit tampak biasa saja, tak awan gelap, badai seperti perubahan Alzent ketika dimakan oleh kegelapan, namun di belakangnya, begitu banyak mahluk-mahluk serupa berlutut. Jumlah mereka yang menutupi seluruh daratan di belakang Alzent lah, membuat pemandangan itu terlihat menyeramkan.
Zeon melepaskan sihir yang menyegel pergerakan Lightnar dan yang lain, lalu mengatakan "Sebaiknya kalian lihat dulu siapa dirinya sebelum berkomentar padaku" sebelum mereka sempat mencaci-maki.
Lightnar memperhatikan Alzent dengan para pasukannya "Aku.. tak pernah melihat bangsa seperti itu" ucapnya.
Zeon tertawa kecil "Tentu saja tidak. Bangsa mereka sudah lama menghilang, jauh sebelum kita berada di dunia masing-masing, sebuah keberadaan tersembunyi yang dapat menghancurkan setiap dunia jika mereka mau" ia menghela napas, lalu melanjutkan "Beda halnya dengan kami, Arkbyss. Kami tak memiliki keampuan untuk melakukan hal tersebut, kami hanya mampu menutup dengan kegelapan, bukan berarti menghancurkannya, sementara dia.." tunjuknya pada Alzent "Adalah mahluk yang mampu menghancurkan semua dunia yang ada, kalau dirinya sadar"
"Maksudmu, Alzent tak sadar apa yang terjadi pada dirinya sekarang?" tanya Lightnar.
"Ya, dia sama sekali tak tahu, bahkan dia tak akan mengenali kita semua. Lihat saja tatapannya itu, aku sampai gemetaran karenanya" jawab Zeon.
Dan memang benar, ketika mereka melihat tatapan Alzent, tubuh mereka tak dapat berhenti bergetar, seakan mereka menghadapi seseorang yang memiliki kuasa besar. Gerald tiba-tiba muncul di samping Zeon, menggelengkan kepala "Apa yang dirimu lakukan kali ini Zeon?" tanyanya bingung.
Zeon menaikkan bahu "Kau bisa lihat sendiri, aku hanya ingin menunjukkan sosok aslinya pada teman-teman Alzent. Itu suatu hal yang baik bukan?" tanyanya balik tanpa perasaan bersalah.
Gerald menghela napas berat "Jika saja ceritanya lain, sayangnya, kau baru saja membangkitkan salah satu bangsa paling mengerikan yang pernah hidup di alam semesta ini. Aku sendiri tak yakin dapat menahannya dan jika ia mengamuk? Aku yakin kau tahu konsekuensinya" tukas kakek tua itu, menatap Zeon dengan tajam. Kalau saja situasi tidak begini, ia sudah mengambil nyawa laki-laki tersebut.
Alzent mengangkat tangan kanannya, memerintahkan tiap pasukan untuk bangkit berdiri. Ketika Alzent menunjuk Zeon, pasukannya yang berjumlah mencapai jutaan itu, bergerak maju secara teratur. Tiap langkah mereka membuat getaran hebat, disertai suara keras.
Para pasukan Elven, Orc, Harpy, Syren segera berkumpul di atas dinding, ingin mencari tahu darimanakah asal suara yang membuat jantung berdegup kencang itu. Hal yang sama terjadi, tatapan menusuk dari pasukan Alzent membuat mereka tak mampu bergeming, menjatuhkan senjata ke bawah, jatuh berlutut dengan tubuh gemetar hebat.
"Tampaknya kita harus bekerja sama untuk menenangkan dia" saran Zeon.
"Menurutmu?" balas Gerald sarkas, lalu membangkitkan kekuatannya, begitu pula Zeon "Tak perlu banyak basa-basi, kita harus menghentikan bocah itu sesegera mungkin. Setiap orang yang ada disini takkan mampu menghadapi seorang dari pasukannya itu"
Zeon mengeluarkan kekuatan penuh, membuat Lightnar dan yang lainnnya kaget, terutama Lucan serta Veron. Kekuatan Zeon hampir mendekati kekuatan milik Gerald, namun Gerald leboh fokus pada kekuatan fisiknya serta sihir penguat tubuh, sementara kekuatan Zeon lebih bervariasi dengan berbagai macam sihir dan senjata yang dapat ia ciptakan hanya menggunakan aura-aura gelap yang keluar dari dalam tubuh.
Alzent mengawasi kedua orang tersebut, melipat lengannya sambil tersenyum. Ia menimbang-nimbang, apakah kedua orang ini mampu menjadi mainannya atau tidak. Menyaksikan kedua orang tersebut dapat mengatasi ribuan pasukan miliknya tanpa mengeluarkan begitu banyak tenaga, meskipun mereka juga tampak mulai babak belur akibatnya, Alzent mengibaskan tangan kanan ke samping, membuat tiap pasukannya berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya merah.
Gerald dan Zeon memasang posisi, mereka tahu hal berikut yang akan terjadi. Alzent melangkah santai, tetapi tiap langkahnya mengandung kekuatan besar yang jika ia mau, dapat menghancurkan gunung besar di belakang hanya sekali tendang, membuat gunung tersebut tak bersisa.
"Aku tak menyangka, setelah begitu lama, ada seseorang yang ingin membangkitkan Hellraiser" kata Alzent dengan suara yang berbeda, terdengar lebih berat serta dewasa "Lalu, apa gunanya kalian bersusah payah menyegel kami?"
"Tak ada maksud tertentu" jawab Zeon berusaha santai, meskipun kedua tangannya gemetaran.
Alzent berhenti melangkah "Apa kau bodoh? Kau tahu apa yang terjadi jika kami kembali" Ia tiba-tiba sudah berada di belakang Zeon maupun Gerald yang seketika memiliki luka sayatan di dada masing-masing, sayatan dengan bekas cahaya redup kemerahan, memberi sebuah rasa nyeri yang memaksa seseorang untuk bunuh diri karena tidak kuat menahannya.
Tak seperti ketika Alzent berteleportasi biasa, perpindahannya tadi sama sekali tak dirasakan, bahkan lintas cahaya dari zirahnya itupun tak terlihat. Ia melipat lengannya sesudah menarik kembali dua pedang panjang bersimbah darah, mengatakan "Sejujurnya aku masih mau beristirahat, namun kau yang memaksaku untuk bangkit, jadi tanggunglah dosa itu sendirian"
Alzent menjentikkan jarinya, ribuan pedang berukuran raksasa, sama seperti pedang yang sebelumnya menghancurkan Uhro, namun berwarna hitam-kemerahan dengan kekuatan yang saking kuatnya, membuat tiap orang di Risenlah kesulitan bernapas akibat tekanan pedang-pedang tersebut, bermunculan di langit.
Baru saja akan meluncurkan tiap pedang itu, seseorang membalik tubuh Alzent dan mencium bibirnya. Seketika sebuah cahaya kemerahan terang muncul dari dalam tubuh Vampire muda itu, semakin terang hinga terpaksa tiap orang mesti menutup mata. Pedang-pedang di langit menghilang, zirah pada tubuh Alzent perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya, namun beberapa serpihan cahaya itu masuk dalam tubuh sosok yang mencium Alzent.
Begitu ia menjauhkan bibirnya, Alzent dapat melihat sosok gadis tersebut, sosok gadis yang kini menjerit kesakitan karena tiap urat di tubuhnya berubah merah terang. Kedua matanya berubah merah, rambut miliknya berubah putih bersemu merah di ujungnya. Jeritan gadis itu terhenti, ia menatap Alzent, memasang senyum tulus yang ditunjukkan olehnya di malam perjanjian keduanya dibuat.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Luna?" tanya Alzent bingung "Lalu, mengapa rambutnya menjadi seperti itu, kulitmu juga.. bertato merah?? Sejak kapan?"
Luna tertawa geli, menjawab "Itu rahasia, intinya aku melakukan ini untukmu"
Alzent menggaruk kepala "Aku tak mengerti, tapi baiklah" ucapnya, ikut memasang senyum.