
Lucan, Reyla dan Veron telah tiba di dunia Arkbyss menggunakan portal milik Gerald yang kebetulan juga ingin mengunjungi kerajaan Arkbyss untuk melakukan sesuatu karena tugasnya sebagai The Watcher. Ia juga dapat menggunakan portal untuk ke dunia ini tanpa harus menggunakan key, sebab Arkbyss sebelumnya sudah membuka dimensi antara dunia para Elf dengan mereka.
Mereka berempat tiba di bukit yang sama, tempat dimana Alzent dan Luna pertama kali tiba di Arkbyss. Tak jauh dari kerajaan, namun membutuhkan perjalanan yang cukup memakan waktu untuk sampai di depan gerbang utama.
Beberapa puluh menit telah terlewati, keadaan dalam dunia itu membuat Lucan, Reyla dan Veron terkejut. Mereka tidak pernah menyaksikan situasi dimana hanya terdapat kehancuran yang dipenuhi orang-orang gila membunuh, dimana Alzent serta Luna melarikan diri dari kejaran para Mercenary haus darah. Tetapi, kali ini tak seorangpun berani menyentuh mereka begitu merasakan aura kuat keluar dari dalam tubuh Gerald. Mereka lebih memilih untuk mundur dan menunggu mangsa yang jauh lebih lemah dibandingnya.
"Kau mengatakan, Alzent dan Luna pergi ke tempat berbahaya ini, cuma berdua karena mereka diundang oleh Zeon?" tanya Reyla tak percaya.
Veron menghela napas "Aku juga tidak tahu itu benar ataukah tidak, namun hanya itu satu-satunya petunjuk yang kita punya semenjak menghilangnya mereka. Masih lebih baik mereka bersama Zeon, yang tampaknya tak ingin membunuh Alzent dan juga tak pernah melukai seorang perempuan sebelumnya" jawab laki-laki itu.
"Zeon adalah sosok yang misterius, tak ada yang bisa menebak jalan pikiran orang tersebut. Ia bisa saja berniat membunuhmu, lalu sedetik kemudian menjadi sangat baik padamu. Selama kau memiliki nilai lebih di matanya, dia takkan melakukan hal berbahaya hingga nyawamu melayang, kebanyakan cuma berakhir dengan luka parah" jelas Gerad tampak tak peduli sama sekali. Namun sebenarnya sedang mencari tanda-tanda seseorang yang kemungkinan akan mencari masalah pada mereka.
"Itu sama saja! Bagaimana kalau seseorang yang terluka parah itu, kemudian mati karena tak dapat menahannya lebih lama lagi? Itu sama saja dengan membunuh" sahut Reyla khawatir.
"Begitulah peraturan dalam dunia ini. Yang lemah tak berhak hidup, hanya yang kuat dan mampu bertahanlah dapat merasakan kebebasan. Zeon juga melakukan hal itu tanpa sebuah tujuan, ia ingin melihat apakah sosok yang ia pilih, mampu menghindari kematian sekalipun. Kalau tidak, ia akan membiarkan kematian itu sendiri datang menjemput dan menganggap orang tersebut tidaklah penting" penjelasan Gerald berhasil membungkam Reyla yang tadinya tampak ingin berdebat lagi, tetapi melihat keadaan di sekitar dan mendengar hal itu, membuat ia sadar bahwa tak ada gunanya mempermasalahkan situasi absurd di dunia yang sudah kehilangan akal sehat ini.
Tiba-tiba mereka mendengar suara keributan dari arah dalam kerajaan. Gerald memperhatikan arah datangnya suara, melihat asap hitam membumbung tinggi di udara "Tampaknya murid akademi saling bertarung lagi, itu hal yang wajar di Arkbyss, tak perlu kaget melihatnya" jelas Gerald dengan tenang, ketika memperhatikan kekhawatiran di wajah tiga remaja di belakangnya. Namun, entah mengapa.. instingnya mengatakan ia harus mendatangi tempat tersebut sekarang juga.
"Murid akademi bertarung hingga membuat api besar, dianggap biasa dalam dunia ini?" tanya Lucan yang kemudian tersenyum lebar "Tampaknya menyenangkan. Seharusnya aku tinggal disini dari dulu, aku rindu masa-masa ketika diriku masih senang mencari masalah dengan orang lain dan merasakan kemenangan saat berhadapan dengan sosok yang lebih kuat dariku!" ucapnya penuh semangat.
Reyla menarik telinga Lucan, berjalan tanpa memedulikan pasangannya yang sekarang sedang menjerit-jerit meminta ampun, memohon untuk melepaskan telinganya yang sudah mulai memerah. Veron mengangkat bahu ketika Lucan memberikan tatapan memelas, sementara Gerald hanya mengatakan "Salahmu sendiri" dan ikut melangkahkan kaki.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk dapat masuk dalam kerajaan karena sosok Gerald yang telah dikenal oleh pasukan kerajaan Arkbyss. Meskipun ia adalah musuh, The Watcher juga memiliki peraturan dimana ia tak bisa memulai sebuah pertarungan tanpa adanya hubungan dengan kedamaian di antara dunia atau kekuatan miliknya akan langsung menghilang. Itulah sebabnya, Gerald cuma bisa muncul saat Alzent dan yang lain berperang melawan Arkbyss, karena perang tersebut mengancam kedamaian antar dimensi. Sedangkan peperangan yang terjadi dalam satu dunia saja, ia tak berhak untuk ikut campur.
"Aku masih bingung, mengapa Yuna masih dapat hidup sementara aku menyaksikan dia ditusuk di depan mataku sendiri" ucap Veron tiba-tiba, menarik perhatian tiga orang lainnya.
Gerald memegang dagu, mencoba mengingat-ingat gadis itu "Maksudmu, gadis berambut putih yang sangat cantik itu?Ya, dia memang terlihat sedikit aneh meskipun itu pertama kali aku bertemu dengannya. Seakan dia dikendalikan dari jauh, seperti sebuah boneka tak bernyawa. Namun, aku tak dapat mendeteksi adanya sihir pengendalian atau semacamnya dari gadis tersebut" jelas Gerald.
"Tapi, aku masih tak menyangka. Ternyata mantan pacar Alzent secantik itu. Bukan berarti Luna tak cantik, ia memang terlihat mirip dengan Yuna, tetapi ada sesuatu dari dalam gadis itu, yang membuat seluruh perhatian mengarah pada dirinya" kata Reyla.
Veron dan Lucan berhenti melangkah. Gerald serta Reyla ikut berhenti, lalu berbalik menghadap mereka akan bertanya, namun melihat raut wajah dua orang laki-laki itu, tampaknya sesuatu muncul di benak mereka "Aku mengingatnya!" sahut Lucan "Luna pernah mengatakan bahwa dia dan Luna itu mirip bukan? Saat kita berada di Finland"
Veron mengangguk setuju, "Kalau tidak salah, ia pernah menjelaskan bahwa dirinya dan Yuna itu seperti anak kembar, namun juga bukan. Dengan kata lain, ia sudah mengenal Yuna sebelum ia bertemu dengan dirinya. Mengapa kita tak menyadari hal ini?!" sahutnya frustasi sambil mengacak-acak rambut.
"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kalian bertiga sudah memikul begitu banyak beban berat, sudah pasti masalah seperti ini akan terlupakan. Lagipula, kemunculan Luna pun sudah aneh. Aku pertama kali melihat gadis itu, mengira dia adalah teman kalian. Tetapi, kalian tampak tak mengenalnya, sehingga aku berusaha membuat kalian menjadi teman dan dapat mengetahui siapa Luna sebenarnya. Aku tak menyangka kalian masih belum tahu siapa gadis itu" kata Gerald.
"Memangnya kau tahu?" tanya Lucan tersinggung.
"Tidak, tapi-" potongnya sebelum Lucan berceramah "Aku dapat merasakan sihir milik gadis tersebut yang tampaknya bukanlah milik seorang Mortal. Pertama kali melihat ia menarik keluar benda dari ruang hampa udara, dipikiranku terbesit fakta bahwa Mortal tak mungkin bisa melakukan hal seperti itu, mau dia sekuat apapun. Setidaknya ia harus mengenakan aksesori milik seorang Immortal atau kekuatan Immortal yang dapat menciptakan ruang hampa udara. Bahkan, Alzent yang mampu menghancurkan dunia sekalipun, hanya bisa menciptakan pedang menggunakan energi di sekitar, lalu berkumpul menjadi satu membentuk sebuah pedang sesuai dalam pikirannya. Namun tidak dengan menarik keluar benda dari ruang hampa udara. Anehnya, aku juga tak dapat menemukan tanda-tanda bahwa dia seorang Immortal, seakan sesuatu menghalangiku untuk mencari tahu hal tersebut" jelas Gerald.
"Jadi kau menggunakan kami untuk mencari tahu identitasnya?" tanya Veron.
Gerald menggeleng pelan "Tidak, bukan seperti itu. Aku ingin kalian berteman dengan dia dan gadis itu sendiri yang menunjukkan kebenarannya pada kalian, tapi tampaknya hingga sekarang ia masih menyembunyikan diri. Kemungkinan besar ia menyembunyikan rahasia besar mengenai siapa dirinya dan mengapa ia membantu kalian dalam misi yang kuberikan ini. Aku yakin, dia belum memberitahu alasannya bukan?" melihat raut wajah Veron dan Lucan yang seperti tampak baru saja menemukan sebuah kebenaran kelam, Gerald tersenyum "Sepertinya, selain Zeon, kita memiliki seseorang yang misterius di pihak kita.. itupun kalai dia memang benar-benar, berpihak pada kita" ucapnya sembari menatap ke arah gedung akademi di kejauhan yang sudah mulai dilahap oleh api