
"Bagaimana cara memasukkan bola dalam ring?" tanya Lightnar.
Lucan mempraktekkan cara shoot, berhasil masuk dalam ring, kemudian ditangkapnya kembali dengan mudah "Seperti itulah caranya, kau hanya perlu menekuk kakimu seperti tadi dan memposisikan kedua tanganmu sesuai apa yang kulakukan" jelas Lucan.
"Aku sudah paham cara bermain serta peraturannya, tampaknya ini akan menyenangkan" ucap Lightnar lagi, menangkap bola basket yang di passing oleh Lucan.
Tern mengangguk setuju "Aku juga sudah tidak sabar. Kebetulan tubuhku lebih tinggi dari kalian, aku pasti dengan mudah melakukan slam-dunk tadi" katanya bersemangat dengan mata berbinar-binar ketika mengingat Alzent melakukan dunk.
Lucan tertawa "Haha.. takkan semudah itu pastinya"
"Baiklah, jadi dua lawan dua?" tanya Lightnar.
Alzent mengangguk "Ya, kebanyakan pasukan beristirahat sesudah berperang begitu lama"
Dengan begitu, kedua tim dibentuk. Team Falcon untuk Lucan dan Tern, Nikers untuk Alzent dan Lightnar. Mereka bersiap-siap di posisi masing-masing. Para gadis duduk di kursi mereka yang Reyla ciptakan dari akar-akar pohon, bahkan ring basketnya pun dari akar pohon yang terlihat begitu mulus mengilap.
Bola telah dilempar oleh Tern,Lightnar yang berhasil mengambilnya, mendribble melewati Lucan, mem-passingnya pada Alzent yang berada di sebelah kiri. Tern dengan cepat menghalang jalan Vampire muda itu, namun Alzent dengan gesit memutar tubuh, melewatinya dan saat akan melakukan Slam-dunk, Lucan telah lompat lebih dulu, merebut bola tersebut, membawanya ke ring musuh sambil mengatakan "Tak semudah itu, Alzent"
Alzent tersenyum, berlari cepat menyusul Lucan. Mereka berempat sama sekali tak menggunakan kekuatan maupun sihir, melainkan tenaga fisik, sehingga permainan terasa lebih adil, dimana jika kembali dengan tubuh normal, kecepatan, kekuatan, kelincahan mereka hampir sama, hanya berbeda tipis.
Lucan sengaja memancing Lightnar yang telah berada sangat dekat, seolah melempar bolanya ke atas, namun mem-pass nya pada Tern. Tern membaca situasi yang tak memungkinkannya untuk melakukan dunk, sehingga ia melempar bola tersebut, terkena sisi atas ring, terpantul kembali ke tanah, kemudian direbut Alzent yang sudah berada disana.
Alzent mendribble bola itu dengan cepat, melewati serta mem-pass nya pada Lightnar, lalu berlanjut pada Alzent, memusingkan kedua orang lawannya. Alzent melompat tinggi, akan memasukkan bola yang juga Lucan telah berada di sampingnya, mencoba menghalang bola tersebut, tapi Alzent ternyata melemparnya ke belakang, diambil oleh Lightnar yang kemudian melakukan dunk.
Para gadis bersorak riang, menarik perhatian banyak orang yang akhirnya ikut menonton. Pertandingan tersebut terus belanjut hingga team Falcon memenangkannya. Karena menyaksikan sebuah permainan sekaligus olahraga yang begitu seru dan baru, banyak orang ingin mencobanya, sehingga dibentuklah team berjumlah 5 orang.
Pertandingan kembali berlanjut, begitu banyak orang datang menonton dan bersorak untuk team yang memenangkan pertandingan. Hanya dalam waktu sekejap, basket menjadi salah satu olahraga baru dalam dunia tersebut serta nama team Falcon serta Nikers dikenal luas. Anak-anak kecil pun mengidolakan mereka, terlebih setelah mereka tahu bahwa empat orang di dalamnya adalah para pahlawan yang mempertahankan Risenland.
Veron juga menonton mereka di bangku penonton bersama Sang ratu. Ia ikut bahagia dapat melihat sahabatnya kembali tersenyum seperti sebelumnya, sebelum semua masalah ini dimulai. Kemudian, Veron menoleh pada Luna yang tatapannya berbinar-binar serta tampak sedikit tersipu malu menyaksikan Alzent bermain, kebetulan mereka yang bermain basket menggunakan pakaian tanpa lengan dan membuat baju menempel pada tubuh berotot itu karena keringat.
'Semoga kau memilih pilihan yang membuatmu tak menyesal di kemudian hari, Alzent' ucapnya dalam hati.
Ketika malam tiba, setiap orang kembali pada kegiatan masing-masing, entah itu sendiri atau bersama orang yang disayangi. Lightnar menghabiskan waktunya bersama Merith, menonton sebuah festival yang diadakan di tengah kota, Lucan dan Reyla saling berlatih di lapangan istana, Veron membaca buku di perpustakaan istana bersama ratu Urvi yang menyandarkan kepalanya pada bahu laki-laki dengan senyuman tulus itu.
Tern akhirnya mendapatkan seorang gadis yang berasal dari bangsanya sendiri, seorang gadis Orc bernama Nerta. Kemunculan gadis Orc yang tak pernah dilihat sebelumnya ini, membuat Alzent dan yang lainnya mengedipkan mata dua kali untuk memastikan 'apakah benar gadis seperti itu menyukai Tern?' Postur tubuhnya yang seksi, namun berotot, membuatnya terlihat cantik sekaligus garang.
Bukannya pujian Lightnar itu hanyalah kebohongan, Tern memang tampan, tapi Nerta adalah 'wow'. Sosok yang membuat pasangan dari tiap orang itu cemburu dan menarik laki-laki mereka menjauh, sambil mengancam akan melakukan sesuatu yang tidak baik jika mereka terus menatapnya.
Namun beda cerita pada Luna, ia hanya menatap Alzent pergi kembali dalam istana sesudah pertandingan berakhir, kemudian Luna menghabiskan waktunya sendiri di taman istana. Ia berdiri di tengah bunga-bunga indah bercahaya. Gadis itu melantunkan sebuah nyanyian indah yang tanpa sadar, didengar Alzent dari kamar, sebab jendela kamarnya tepat mengarah pada taman.
Alzent membuka jendela, memperhatikan sosok Luna dari belakang yang dikelilingi oleh cahaya-cahaya keemasan dari bunga-bunga berwarna oranye. Angin bertiup pelan, menerbangkan tiap sari dari bunga-bunga itu, membuat sekeliling Luna tampak jauh lebih indah dan mendengar nyanyiannya, sungguh menenangkan hati.
Alzent teringat pada kesalahannya pada Luna yang entah mimpi atau tidak, namun ia tetap memantapkan hati untuk meminta maaf, sehingga Alzent terbang tepat ke belakangnya, turun dengan perlahan agar Luna tak sadar, lalu menyentuh pundak kiri Luna dua kali, menghindar ke sebelah kanan dan memasang senyum.
"Aaa! Kau membuatku kaget" keluh Luna, memalingkan wajahnya karena malu.
"Maaf maaf" Alzent benar-benar ingin mencubit pipi gadis itu, ekspresinya membuat Alzent sangat gemas "Bolehkah aku berbicara denganmu sebentar saja?"
Luna terkejut, mengangguk pelan sambil berusaha mempertahankan senyuman normal yang biasa ia pampang tiap saat di wajah cantiknya "Ya" jawabnya lembut.
Alzent maju selangkah, berdiri di hadapan Luna, menatap kedua mata indah itu "Aku.. benar-benar minta maaf atas sikapku padamu, shh-" potong Alzent pelan saat Luna ingin berkomentar "Aku tahu ini terdengar aneh, tapi aku minta maaf, aku seharusnya tidak memperlakukanmu seperti itu, jika kau mengingatnya"
Terdengar sebuah helaan napas dari Vampire muda tersebut "Jujur saja, aku memang masih belum bisa melupakan Yuna, seseorang yang pernah hadir dihidupku, namun mendengar perkataan Lightnar, Lucan, Veron bahkan Tern yang belum pernah merasakan cinta, mampu menjelaskan sesuatu seperti itu, tampaknya aku terlalu dikekang oleh masa lalu"
Kedua mata Luna melebar, ketika Alzent memegang kedua tangannya.
"Tolong tunggu aku mengobati hati ini, lalu aku akan berusaha membuka hati untukmu" ucap Alzent tulus.
Tanpa Luna sadari, setetes air mata jatuh mengalir. Alzent menghapusnya, lalu Luna menjawab "Kapanpun itu, aku selalu menunggumu. Aku tidak akan melupakan dirimu, aku tidak akan meninggalkanmu, aku berjanji"
Alzent mengangguk pelan, menarik Luna dalam pelukannya "Terima kasih"