Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Fall of Elfiant



Kerajaan Elfiant yang tadinya damai, tentram, indah... kini berupa medan kehancuran, tubuh tak bernyawa yang perlahan berubah menjadi butiran-butiran cahaya kecil, melayang tinggi ke angkasa menghiasi langit hitam berhias awan gelap bergemuruh, menciptakan teror di daratan tersebut. Sang naga malapetaka, terus terbang ke sana ke mari, membakar apapun yang berada di hadapannya tak peduli itu adalah musuh maupun teman, yang terlihat dari tatapan merah menyalanya hanyalah kehancuran dan keputusasaan.


Setiap Holy Knight berjuang keras untuk bertahan selagi warga biasa melarikan diri menggunakan para naga, terbang jauh ke bawah, tempat bersemayamnya mahluk-mahluk mengerikan. Namun, pilihan apa lagi yang mereka miliki? Dibanding mati oleh naga kegelapan itu, lebih baik berusaha bertahan hidup melawan mahluk yang tak seberapa menakutkannya dibandingkan monster tersebut.


Panah-panah kehijauan terus menghujani tubuh keras naga itu, tapi serangan dari panah Elf yang sudah diberi sihir sama sekali bukan apa-apa baginya, bagaikan melempar kertas yang digulung-gulung hingga kecil. Raut wajah Holy Knight dipenuhi rasa takut dan hilangnya semangat bertarung, menghadapi mahluk mengerikan yang tak pernah mereka temui sebelumnya.


Karena situasi sudah tidak mendukung, mau tidak mau Alzent menggunakan kekuatan yang didapatkannya dari tato di leher kanan. Ia tidak tahu sejak kapan kekuatan ini muncul pada dirinya, namun demi menyelamatkan semua penduduk Elf serta teman-temannya, ia harus mengupayakan segala cara, meskipun mungkin akan mengorbankan dirinya, sebab begitu kekuatan gelap ini mengalir di setiap pembuluh darah, membuatnya terlihat lebih pucat dengan pembuluh darah berwarna keunguan, rasa sakit tak tertahankan menusuk setiap bagian tubuh.. rasa sakit yang sama seperti sebelumnya.. rasa sakit yang membuatnya begitu malu dan membuatnya ingin terus melangkah maju untuk membalaskan dendam tersebut.


Di kejauhan, Holy Knight sementara menghadapi naga raksasa itu, meskipun tahu mereka tak berdaya di hadapannya. Segala macam cara telah mereka gunakan, membuat sihir dalam tubuh mereka terkuras cukup banyak, sehingga mereka tak mampu mengeluarkan kekuatan penuh kembali mengingat masih ada pasukan Dark Elf merajalela di setiap sudut kerajaan.


Tiba-tiba naga itu meraung keras, membuat daratan Elfiant bergetar hebat, naga-naga yang berada di puncak tertinggi pohon menjadi terbang ke arahnya, melancarkan berbagai serangan. Tampaknya naga yang dikenal sebagai mahluk berego tinggi dapat juga takut pada mahluk yang jauh lebih kuat darinya.


Setiap Holy Knight berusaha bertahan dari jatuhnya meteor-meteor berukuran besar, melihat naga raksasa itu melepaskan sebongkah batu besar ke langit melewati kumpulan awan-awan gelap, lalu meledak di atas sana dan berjatuhan sebagai meteor berukuran sebuah rumah, dengan bara api begitu panas, bahkan dapat melelehkan apa saja yang berjarak 10 meter darinya.


Saat pasukan Holy Knight akan menyerah, menyaksikan kekuatan mengerikan mahluk kegelapan tersebut, sesuatu mengejutkan mereka. Serangan seseorang berhasil membuat luka di leher naga itu, luka yang tak terlalu besar, namun cukup dalam hingga membuat mahluk itu menjerit kesakitan, lalu terbang ke angkasa, bersiap menerjang balik dan tampaknya ingin menghancurkan sebagian dari daratan Elfiant.


"A-Alzent?" tanya Ulthar, Sang pemimpin Holy Knight yang sempat dikalahkan olehnya, si tampan bermulut besar itu.


"Cepat lindungi warga Elf, biarkan aku menghadapi mahluk itu sendirian" perintah Alzent, kemudian melompat tinggi ke atas. Sepasang sayap berwarna hitam dengan aura keunguan terbentuk di punggungnya, membuat ia dapat terbang tinggi ke angkasa.


Tanpa ragu, Ulthar memerintahkan setiap Holy Knight untuk membantu para warga Elf mengungsi, sementara Alzent yang entah mengapa tampak berbeda itu untuk menangani naga kegelapan. Sesuatu di dalam diri Ulthar mengatakan agar percaya pada Alzent, namun di lain pihak ia juga merasa bahwa Alzent lah yang harus mereka hadapi selanjutnya.


Di tengah-tengah kumpulan awan gelap kemerahan, Alzent terus mencari ke manakah naga itu pergi, namun tak dapat menemukannya "Tak mungkin naga sebesar itu dapat menghilang" katanya pada diri sendiri.


Beberapa detik berlalu, Alzent merasakan sesuatu di belakang dan berbalik sembari mengayunkan pedangnya yang terbuat dari aura gelap yang sama seperti di sayap. Pedang itu berhasil memberikan irisan panjang pada mulut kiri Sang naga kegelapan. Alzent bergelantungan tepat di ujung luka tersebut, mengayunkan tubuhnya ke atas kepala naga kemudian menusukkan pedangnya, membuat luka besar di sepanjang leher hingga kepala naga tersebut, lalu melompat ke bawah, hampir saja termakan oleh mulutnya yang besar dengan gigi-gigi setajam kristal.


Alzent sengaja membuat dirinya dikejar oleh naga raksasa itu. Daratan Elfiant mulai terlihat tak jauh di bawahnya. Selagi ia meluncur cepat ke bawah, salah satu matanya berubah menjadi api ungu dan bersamaan dengan itu, ia berteleportasi ke tepat ke depan naga kegelapan sebelum tubuhnya terbentur tanah, menancapkan pedang kegelapan lain yang ia ciptakan dengan imajinasinya, menggunakan pedang tersebut mengiris kepala Sang naga hingga mencapai pedang lainnya yang masih tertancap disana.


Benturan keras naga tersebut membuat seluruh tanah Elfiant bergetar hebat, seakan terjadi gempa, membuat sisi kanan Elfiant sedikit miring dan tampak akan jatuh ke bawah. Alzent menggunakan kesempatan dari tubuh Sang naga yang sementara terbalik dengan cepat, membuat luka panjang lainnya di sekujur tubuh bagian atas, berakhir di ekor kemudian berlanjut lagi di tubuh bagian bawah yang tak sekeras tubuh bagian atas, sehingga serangan Alzent dapat masuk semakin dalam.


"Kau bisa bicara?" tanya Alzent tanpa menurunkan pengawasannya.


"Tentu saja, aku adalah Alpha terakhir yang ada di dimensi ini, Darkoth" jawab Sang naga dengan lantang.


"Dengan kata lain, masih banyak terdapat Alpha lain di dimensi berbeda. Apa yang membuatmu berbeda dibandingkan mereka?" tanya Alzent lagi, berusaha memancing amarah mahluk mengerikan di hadapannya.


Darkoth tertawa keras "Hey mahluk kecil, apa yang membuatmu pantas bertanya seperti itu kepada seekor naga yang agung?"


Alzent menghilangkan kedua pedangnya, lalu melipat lengan "Agung? Naga agung mana yang ingin menghabisi nyawa tak bersalah, lalu terluka di tangan seorang mahluk kecil?" cercahnya sambil tersenyum merendahkan.


Karena naga pada dasarnya adalah mahluk berego tinggi dan begitu menjunjung harga diri, sesuai dugaan Alzent, Darkoth terpancing, menyemburkan apinya ke atas, kemudian menatap kembali Alzent "Sudah cukup! Aku akan benar-benar menghabisimu sekarang! Jangan menyesal sudah hidup sebagai mahluk rendahan!!" sahutnya dengan tatapan menusuk, melesat cepat menuju Alzent,


"Ternyata memang benar..." Alzent melompat tinggi begitu Darkoth sudah dekat, berteleportasi ke atas kepala Darkoth lalu menancapkan kedua pedangnya yang kembali dimunculkan dan membuka lebar luka tersebut. Darkoth meraung kencang selagi setiap luka di tubuhnya terbuka makin lebar akibat serangan Alzent yang tidak ia sadari terpusat pada luka di kepalanya itu. Darkoth terus terbang tinggi, memutar tubuhnya agar mahluk kecil di atas kepalanya itu jatuh, tapi Alzent terus bertahan.


Kedua pedang Alzent masuk makin dalam, membuat lukanya semakin lebar lagi di mana darah keunguan mulai mengalir keluar, menghanguskan sebagian pakaian Alzent, namun kulitnya menyerap cairan ungu tersebut, membuat Alzent merasakan kekuatan yang jauh lebih besar mengalir di setiap pembuluh darahnya.


Begitu mencapai ketinggian tertentu, Darkoth mulai kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke bawah. Ia masih berusaha membuat agar Alzent jatuh, agar ia dapat menginjaknya terlebih dahulu kemudian membakarnya. Alzent tak membiarkan hal itu terjadi. Mereka berdua jatuh cepat ke bawah, menabrak sisi kiri Elfiant hingga hancur berantakan dan dengan puing-puingnya, mereka jatuh menghantam tanah di bawah, menciptakan angin kencang  yang mendorong hancur apapun sejauh 600 meter, mengingat tubuh Darkoth yang sangat besar.


Warga Elf sudah diungsikan ke daratan yang cukup jauh dari tempat Darkoth jatuh, meskipun tidak terhitung juga dari mereka yang telah kehilangan nyawa. Semuanya tak mampu berkata-kata melihat pemandangan tersebut, perasaan mereka tercampur-aduk. Mereka mungkin saja telah berhasil mengalahkan naga terkuat yang berada di dimensi ini, namun mereka juga kehilangan seseorang yang berharga serta rumah yang telah lama mereka tinggali.


Perlahan Elfiant terjatuh ke tanah, bersama setiap daratan melayang lainnya. Lifestone masih berada di tangan tuan putri. Elfiant telah kehabisan sihir cadangannya untuk membuat daratan tersebut tetap berada di atas udara, akibat digunakan untuk melindungi para warga Elf dari serangan Dark Elf serta melawan Darkoth. Suara dari benturan itu, membuat gemuruh kuat disertai gempa bumi, sesuatu yang akan terus teringat dalam memori, hari yang akan dikenang sebagai jatuhnya Elfiant.