
Di dalam ruang bawah sadar, Alter berdiri menunggu Alzent bereaksi, namun entah mengapa ia tak dapat merasakan apapun dari dalam diri laki-laki itu, seakan sesuatu baru saja terjadi. Ia terduduk lemas, menundukkan kepala tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bangkit berdiri. Alter mulai merasa ada sesuatu yang salah, ia mencoba mendekat, menjulurkan tangan akan menyentuh, namun sebuah energi asing melindungi tubuhnya, membentuk semacam kubah merah transparan. Alter langsung menarik tangan ketika medan energi tersebut menyetrum dirinya, ia memerhatikan medan pelindung itu, mencoba mencari tahu darimanakah energi ini berasal.
"Mengapa energi yang terlihat seperti milikku ini, justru terasa asing? Bukankah aku dan Alzent adalah satu kesamaan yang sama? Namun, aku tak pernah melihat energi semurni dan sekuat ini, bahkan melebihi energi milik Zeus dan melampaui kejernihan energi para Elf, dimana hanya mereka yang memiliki sihir berenergi murni, sebab menggunakan alam sekitar" jelas Alter sembari menggaruk-garuk kepala, lalu memerhatikan layar di depan, mengeluarkan suara sebuah pertarungan besar. Ia berdecak kesal begitu mendengar suara tersebut, ia tahu inilah pertarungan terakhir yang mungkin akan menentukan segalanya, tetapi melihat Alzent sama sekali tak merespon, membuat Alter pusing sekaligus emosi "Ck! Ke mana dirimu di saat mereka membutuhkan seorang pahlawan? Aku tak bisa menggunakan tubuhmu jika pemilik utamanya tidak sadar"
Di luar, Lucan dan Veron sementara menghadapi Zeus. Pertarungan ketiga orang itu sama brutalnya seperti pertarungan Alzent, tetapi karena dua orang melawan satu, pertarungan tersebut terlihat jauh lebih brutal dimana dua orang bekerja sama saling memberikan serangan mematikan selagi satu orang bertahan, berusaha mengincar salah satunya atau langsung keduanya.
Veron melempar Scythe yang berhasil dihindari oleh Zeus, namun ia tak sadar jika Scythe tersebut mengkloningkan diri menjadi beberapa Scythe, terbang berbalik ke arah Veron. Sementara itu, Lucan mengikat tangan kiri Zeus menggunakan rantai, sehingga ia tak mampu membebaskan diri, melihat tangan kanannya yang masih perlahan terputar pelan karena kekuatan Alzent. Zeus jadi bertanya-tanya apakah sebenarnya kekuatan bocah itu adalah sebuah kutukan? Sebab meskipun pemiliknya telah tiada, kekuatan itu masih tetap beraksi untuk memutar dan mematahkan tangannya.
Scythe-Scythe kembali, berputar kencang membentuk semacam cakram tajam, menyayat tiap sisi tubuh Zeus yang terlindungi oleh listrik. Begitu Veron menggenggam kembali Scythe, seketika aliran listrik besar menyetrum, menghempaskan ia ke jauh ke belakang. Mau tidak mau, Lucan melepas rantai, melesat cepat menuju sahabatnya, tetapi Zeus tak membiarkan hal itu. Ia ikut terbang dengan kecepatan tinggi, meraih kerah zirahnya, lalu melemparkan Lucan ke arah berlawanan. Tubuh Lucan terhantam keras dengan tanah hingga menciptakan retakan besar, menjalar tak beraturan. Baru saja akan bangkit, Zeus sudah menginjak tubuhnya dan menghentakkan kaki di dada, membuat remaja itu memuntahkan darah segar.
Sebuah Scythe terlempar, berputar cepat ke punggung Zeus. Ia berhasil menangkapnya, menoleh ke belakang sambil tersenyum mengira telah berhasil menahan serangan, namun Veron muncul dari bawah tanah, mengayunkan Scythe ke atas memberikan luka sayatan yang panjang di dada Immortal tersebut. Tak hanya sampai disitu, beberapa portal terbuka, portal berwarna abu-kehitaman, menembakkan beberapa besi tajam serta panjang, menusuk tubuh Zeus. Lucan bangkit berdiri, mengarahkan empat rantai besar dari ruang hampa udara, mengikat masing-masing anggota tubuh dia, lalu mengalirkan energi merah gelap. Zeus dapat merasakan kekuatannya perlahan terhisap oleh besi-besi Veron dan tergantikan oleh energi besar dengan tujuan untuk meledakkan tubuh dari Lucan. Zeus tersenyum, akhirnya mengetahui rahasia kekuatan mereka.
"Menyerahlah Zeus, kau sudah kalah. Tak ada gunanya melawan kami" ucap Lucan.
"Kami tidaklah sepertimu yang hobi menghabisi nyawa orang lain sebagai sebuah kesenangan. Kami masih memiliki hati nurani untuk memaafkan musuh, asal mereka mau menyerah dan segera menghentikan perang" lanjut Veron.
Zeus tersenyum, tertawa keras lalu menatap kedua remaja di depan "Menyerah? Kami para Immortal, tak pernah mengenal yang namanya menyerah.. kami jauh berbeda dari kalian, kami tak membutuhkan hati untuk memaafkan seseorang. Kami hanya butuh ia berlutut dan bersumpah menjadi budak... maka akan kami maafkan. Tentu saja, itu berlaku.. seumur.. hidupnya"
Kedua remaja itu mengernyit jijik. Lucan menggertakkan gigi, mengepalkan tangan dengan kuat, siap menusuk kepala mahluk sombong tersebut dengan pedangnya "Berhenti mengatakan omong kosong! Kami sudah mengalahkanmu, waktunya untuk menyerah atau takkan ada lagi perdamaian antara Mortal dan Immortal!"
Ia menarik napas panjang, menatap Veron sambil menunjuk Zeus "Jadi, kau ingin terus menerima diskriminasi oleh bangsa mereka? Kau ingin terus diperlakukan sebagai budak atau mainan, bahkan alat! Apa kau tak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain diluar sana yang terpaksa menerima kenyataan tersebut? Aku tidak akan membiarkan mahluk seperti mereka.. berbuat semaunya"
"Lihat? Kalian para Mortal terlalu termakan oleh perasaan, sehingga membuat keputusan yang salah. Namun, tampak menyenangkan bagiku. Bagaimana kalau aku menyiarkan ini kepada seluruh bangsa Immortal sebagai bukti jika mahluk Mortal telah berani menantang sosok yang seharusnya mereka puja dan hormati" ucap Zeus.
"Terserah apa katamu, intinya aku menentukan, mulai sekarang! Perdamaian antara Mortal dengan Immortal akan dibatalkan.." Lucan menutup mata, menghela napas "hingga salah satu dari mereka hancur tak bersisa di dunia"
Tepat saat itu juga, seluruh Immortal mendapatkan pesan dari sebuah batu permata berbentuk persegi panjang, mirip seperti sebuah smartphone, menampilkan apa yang sedang disaksikan oleh Zeus sekarang. Seluruh dunia Immortal terkejut, mengetahui sosok raja terkuat di dunia mereka kini berhasil ditaklukkan oleh mahluk Mortal, namun melihat sosok Lucan, mereka sudah dapat menerka apa yang terjadi. Banyak di antara mereka, bingung harus bersikap seperti apa. Mungkinkah menerima kenyataan tersebut? Mungkin sudah waktunya bagi para Mortal membalas apa yang telah para Immortal lakukan pada mereka? Mungkinkah Ragnarok terjadi kembali?
Namun, satu hal yang pasti... tak sedikit juga dari para Immortal yang sudah lama ingin menginjak-injak serta menghancurkan dunia para Mortal tersebut. Hanya dalam waktu sekejap, seluruh bagian dunia Immortal, bergejolak akan kebahagiaan dan kebingungan.
"Lucan! Dunia Mortal lain belum tahu kita akan berperang melawan para Immortal! Kau ingin melihat mereka musnah?" tanya Veron marah.
"Aku sudah lelah menyaksikan Immortal berbuat semena-mena pada Mortal. Sudah waktunya melancarkan pembalasan dendam yang sudah aku pendam bertahun-tahun" tukasnya, melangkah mendekati Zeus. Tiap Immortal masih dapat melihat sosok tersebut dan merasakan darah mereka mendidih.
"Kau memutuskan ini atas dasar keegoisanmu?"
Dua rantai besar keluar dari ruang hampa udara, mengikat kedua lengan Veron dan menjatuhkan Scythe miliknya "Berhenti berbicara jika kau tak ingin terluka" ancam Lucan. Veron dapat melihat tatapan itu mengatakan dia benar-benar serius, membuat Veron bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah merasuki sahabatnya "Dan kau, aku tahu kau masih menyiarkan ini, jadi.." Lucan menarik dagu Zeus, menatap langsung ke mata "Bagi kalian, para Immortal. Aku yakin, sebagian dari kalian tahu siapa diriku.. Godslayer. Seseorang yang telah kalian buang dan hampir saja kalian bunuh, tetapi lihat diriku sekarang.. berdiri di hadapan kalian semua.. di hadapan raja terkuat kalian yang kini tak berdaya" tatapannya berubah tajam "Ingatlah ini baik-baik, kami bangsa Mortal akan membalaskan semua perbuatan kalian selama ratusan tahun. Tunggu dan perhatikan.." suara Lucan merendah, terdengar begitu mengancam dan sepasang mata merah itu tampak makin terang "Kehancuran Immortal akan tiba"