Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Watcher



"Apa maksudmu bumi telah hancur?" tanya Lucan tak paham "Kau sendiri yang menyarankan kami untuk pergi kesini, berlatih untuk menghadapi mahluk kegelapan yang akan keluar dari retakan dimensi! Kau bilang retakan tersebut masih lama terjadi, mengapa sekarang kau tiba-tiba muncul disini, mengatakan bumi telah hancur!?" bentak Vampire tersebut.


"Tenang dulu, aku juga tidak mengerti mengapa retakan itu lebih cepat terjadi, dibanding perkiraan. Tidak ada waktu untuk ini, kita harus kembali ke bumi untuk menghentikan mereka menghancurkan bumi lebih jauh-


"Tunggu Gerald, bagaimana kami percaya padamu bahwa bumi benar-benar sudah hancur? Kau bersikap sedikit aneh, tak seperti biasanya" ucap Veron curiga. Ia melipat lengannya, menatap Gerald dengan dahi berkerut "Ada yang aneh, pertama, jika memang retakan dimensi terjadi, kau sudah pasti akan muncul saat itu juga, bukan ketika retakan tersebut telah lama terjadi. Kalau dilihat dari perkataanmu tadi, bumi sudah dihancurkan separuhnya bukan? Kalau tidak seperempat atau bahkan lebih"


Gerald berdecak kesal "Intinya kita harus ke bumi saat ini juga, tidak ada penolakan. Aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian sekarang" ucapnya pelan, begitu melihat raut wajah dua Vampire tersebut "Aku berjanji, apa yang kulakukan ini adalah demi kita semua. Kalian harus percaya padaku"


Namun, Veron mengeluarkan ombak besar, meskipun tak sekuat sebelumnya, ia hanya ingin mengintimidasi "Kulakukan?" ulang Veron "Apa maksudmu dengan yang 'kulakukan?', setidaknya jelaskan hal tersebut lebih dulu pada kami.. atau kami takkan pernah ikut denganmu"


Beberapa detik terlewati, Gerald masih terdiam di tempatnya, menatap Veron maupun Lucan bergantian. Ia lalu berbalik pada Alzent yang tampak bingung harus percaya pada siapa. Saat Gerald akan bertanya, terjadi ledakan kuat di langit. Angin kencangnya mendorong apapun ke bawah, hingga Alzent dan yang lainnya terpaksa bertekuk lutut untuk menahan dorongan tersebut, sementara Gerald masih berdiri tegak, menatap langit yang kini terbelah tersebut dengan tatapan terkejut.


Terdengar suara aneh dari dalamnya, suara seperti sebuah desiran angin menyapu pasir, namun terasa begitu lamban dan keras. Tak lama, beberapa binatang buas seperti singa, macan, serigala, bahkan T-Rex pun keluar dari dalamnya. Tubuh mereka sama seperti Uhro, dari besi hitam mengilap, serta bagian tulang berwarna merah menyala. Dari sisi-sisi mereka, berjalan beberapa pasukan berzirah hitam. Setiap bagian pergelangan serta mata mereka berwarna merah menyala. Ketika mereka bergerak, zirah tersebut tampak tertiup oleh angin, menerbangkan besi hitam menjadi kepulan debu serta asap hitam, namun tak benar-benar mengikis zirah.


"Kita terlambat" ucap Gerald "Segera pergi dari dunia ini, dunia ini takkan bertahan lama seperti bumi. Aku akan menahan mereka sebisa mungkin, jangan sampai satupun dari kalian tertangkap oleh mereka" perintahnya, lalu dari tubuh kakek tua tersebut, terpancar aura kekuatan besar, yang bahkan lebih besar dari milik gabungan kekuatan Lucan, Veron, Lightnar dan ratu Ezra.


"Kami tidak akan meninggalkanmu disini, lagipula, kami sudah memiliki seseorang yang berharga untuk kami jaga di dunia ini. Kami tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja" bantah Lucan, menaikkan tiap tetes darah ke udara, membentuknya menjadi sebuah pedang "Biarkan kami membantumu, kami bukanlah Vampire lemah seperti dulu"


Gerald menggeleng pelan "Kalian tidak mengerti, mahluk kegelapan sebelumnya yang kalian lawan di bumi, ia bahkan tak menggunakan lima persen dari kekuatannya. Kalian lihat di hadapan kalian? Para pasukan tersebut setidaknya memiliki sepuluh persen dari kekuatan orang itu, sementara mahluk-mahluk raksasa disana? Mereka memiliki empat puluh persen dari kekuatan laki-laki itu"


Tentu saja penjelasan Gerald membuat tiga Vampire muda kaget. Mereka tidak menyangka Zeon selama ini hanya bermain-main dengan mereka, terlebih Alzent, ia mengira dirinya setidaknya sudah mampu menghadapi Zeon seorang diri, namun kini Alzent menjadi sedikit tidak percaya diri, sesudah mendengarnya "Ahh tidak!" tolak Alzent "Bagaimanapun, kami harus membantumu. Meskipun aku akui kau terkadang sedikit aneh dan tampak menyimpan begitu banyak rahasia dari kami, tetap saja kau adalah orang yang telah membantu kami, menjadi kami yang sekarang. Meskipun tak banyak membantu" Alzent mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, menatap musuh tak jauh di depan dengan percaya diri "Kami ingin percaya bahwa kami mampu melakukan sesuatu tanpa melarikan diri"


Lucan mengangguk setuju "Ya, itu benar. Maaf kami meragukanmu sebelumnya, tapi biarkan kami menunjukkan apa yang telah kami dapatkan selama berada di dunia ini. Memang benar, kami menggunakan kekuatan pinjaman dari Zeon, namun bukan itu saja yang membantu kami untuk terus berusaha, melainkan keberadaan mereka" Lucan menoleh pada teman-teman baru mereka, yaitu para Elven dan Orc, kemudian tersenyum lembut pada Reyla yang tampak malu, lalu membalas senyumannya itu dengan sebuah senyuman manis "Berkat mereka, kami tahu tak ada waktu untuk menyerah"


Veron tertawa kecil, menepuk pundak Gerald dan menunjuk pasukan berzirah hitam yang sedang diam di tempat, menunggu "Walaupun mereka memang lebih kuat dari kami, kami juga telah merasakan sendiri kekuatan empat puluh persen dari salah satu mahluk raksasa tersebut. Kami berhasil mengalahkannya meskipun memakan begitu banyak tenaga, lalu kini Alzent dapat mengendalikan bangsa Gigant, mereka bisa menjadi umpan yang bagus. Pancaran kuat kekuatanmu sebelumnya juga, mengembalikan tenaga maupun mana kami menjadi penuh. Apalagi yang harus dikhawatirkan?" Veron menepuk tinjunya dengan tinju Alzent "Benarkan, kawan?"


"Biarkan kami ikut membantu" kata Lightnar, berubah menjadi seekor naga. Ratu Ezra memunculkan pedang hitam miliknya, melakukan sebuah tarian pendek, mengubah pedangnya menjadi dua.


Tern berlari ke arah mereka bersama ratu Sysilla dan pasangan dari tiap laki-laki tersebut, kecuali Tern "Jangan melupakan kami, meskipun kami tak mampu menghadapi mereka secara langsung, kami akan membantu kalian semampu kami" ucap Tern "Lagipula, aku sudah tak sabar mencoba bertarung melawan para mahluk kegelapan ini"


"Apakah aku bisa menggunakan pasukan kegelapan milikku kembali?" tanya ratu Ezra.


"Tanya saja pada mereka" jawab Alzent, menunjuk para pasukan dari dua bangsa yang sedang berjalan mendekat.


Salah seorang pemimpin dari pasukan tersebut membungkuk pada ratu Ezra, mengatakan "Tolong, berikan pada kami kekuatan untuk melindungi bangsa serta dunia ini dari mahluk-mahluk tersebut. Kami mohon, agar Yang Mulia segera mengembalikan kami begitu peperangan selesai" pintanya.


Ratu Ezra terenyum, menjentikkan jarinya, membuat para pasukan yang sebelumnya pindah menjadi pasukan miliknya, kembali menggunakan kekuatan kegelapan tersebut, namun masih memiliki kesadaran mereka "Tenang saja, aku takkan menyegel kesadaran kalian lagi. Kalian dapat dengan puas menggunakan kekuatan tersebut, tentu saja ada bayarannya.. begitu semua ini berakhir"


"Baik, terima kasih banyak Yang Mulia" balas laki-laki Elven tersebut, kembali pada barisan pasukannya.


"Hey, kau tahu kita sementara berperang bukan?" tukas Alzent tak senang.


"Santai saja, aku yakinkan padamu, bayaran tersebut akan menguntungkan kita semua" jawab Sang ratu, lalu mengedipkan mata, membuat Luna menatap Alzent dengan tatapan khawatir.


Gerald menggeleng-geleng tak percaya, menyaksikan seluruh bangsa di dunia ini berhasil disatukan hanya dalam waktu beberapa minggu semenjak mereka tiba. Senyumannya makin lebar, ia menatap Alzent yang kini sedang berbicara pada Luna, mengatakan 'aku tak salah sudah memilihmu, Pangeran' dalam hati "Baiklah! Akan kukatakan sekali lagi! Musuh yang akan kita hadapi adalah bangsa 'Arkbyss', bangsa kegelapan dari sebuah dunia yang tak diketahui. Tujuan mereka adalah menyelimuti tiap dunia dengan kegelapan dan bersatu dengan mereka, kita tentu saja tak menginginkan hal tersebut. Angkat tinggi senjata kalian! Serahkan hati kalian! Percayalah masih ada hari esok untuk sebuah langkah besar dalam menghadapi masa depan!!"


"Aaaaaaaaaa!!!" sorak semua orang "Untuk hidup! Untuk kedamaian! Untuk masa yang akan datang! Serang!!"