
Alter dan Zeus saling bertukar serangan, tak sedikit mereka saling melempar dan menginjak satu sama lain, mencoba mematahkan tulang dengan membenturkan kepala ke tanah hingga retak terbelah dua serta menggunakan puing-puing bangunan sebagai senjata. Mereka mencoba segala cara paling brutal, tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Darah mengalir deras, amarah memuncak mengendalikan pikiran. Para pasukan dan teman dari kedua belah pihak sempat terhenti melihat cara mereka bertarung yang sudah tak pantas dikatakan sebagai sebuah 'pertarungan'.
Zeus menangkap pergelangan tangan Alter ketika ia akan meninju, lalu melempar laki-laki itu jauh ke arah gunung hingga puncak gunung tersebut hancur berantakan karena hantaman tubuh Alter. Zeus melesat cepat ke arah sana, melihat Alter jatuh bersama bebatuan besar. Ia menggunakan beberapa batu, melemparnya ke arah Alter lalu memukul dua batu besar di kiri-kanan, menciptakan bebatuan kecil disertai debu untuk mengalihkan pandangan dan muncul tepat di hadapan Alter ketika ia baru saja menghancurkan sebuah batu. Zeus mencengkram leher laki-laki itu, memberinya tinju beberapa kali, kemudian kembali melemparnya ke arah medan perang melalui gunung yang akhirnya tersisa setengah.
Bebatuan besar dari gunung tampak seperti sebuah meteor bagi para pasukan, meteor yang masing-masing mengandung listrik serta api karena kekuatan Zeus dan hantaman tubuh Alter mengeluarkan gelombang energi api besar. Tubuh remaja tersebut terlempar lalu terseret di tanah, ditangkap oleh Zeus dan dipukulnya lagi ke arah puing-puing kerajaan. Alter berusaha bangkit, namun Zeus sama sekali tak memberinya kesempatan. Zeus terus memberikan pukulan demi pukulan, serangan demi serangan.
Ketika Zeus berhasil mencekik Alter dan menahannya di tanah, Alter dapat merasakan cekikan itu semakin menguat dan tak lama lagi dapat mematahkan tulangnya. Alter berusaha melepaskan diri, meronta-ronta sembari menatap wajah yang kini tampak bahagia. Ia melihat-lihat sekitar, mencari apapun yang dapat dijadikan sebagai sebuah senjata, lalu melihat salah satu ksatria Hellraiser sedang berhadapan dengan ratusan Immortal. Lampu neon pada zirah Hellraiser berkedip menjadi lebih terang sekali, menandakan Alter mengirim sebuah pesan telepati. Ia melemparkan sebuah pisau yang ditangkap Alter dengan tangan kiri, lalu melukai salah satu mata Zeus.
Zeus menutup mata yang kini mengalirkan darah, menggertakkan gigi dengan kuat menahan rasa sakit serta amarah. Alter melihat ini sebagai sebuah kesempatan, menendang Immortal itu ke belakang, lalu menembakkan sinar panas dari lima lingkaran sihir di belakang punggungnya, lalu menghilang kembali menjadi butiran cahaya kemerahan. Alter melangkah mendekat, memainkan pisau sambil tersenyum "Bagaimana? Apa itu sakit?"
Zeus langsung maju menerjang, melayangkan sebuah pukulan, namun tinjunya tertahan oleh lingkaran sihir milik Alter "Jika kau marah karena merasakan sakit tersebut, bisakah kau membayangkan rasa sakit dari tiap Mortal yang telah kehilangan anggota keluarganya? Orang-orang yang ia sayangi dan kasihi? Itu tak seberapa dibanding rasa sakit di matamu itu" ia menghempaskan Zeus beberapa meter ke belakang menggunakan gelombang energi dari lingkaran sihir.
"Berhenti mengatakan omong kosong! Kami Immortal adalah mahluk yang lebih tinggi dari kalian!" sahutnya marah, memanggil beberapa petir untuk menyambar. Alter masih tampak baik-baik saja, meskipun dapat terlihat zirah robotik miliknya sudah mulai lecet disana-sini.
"Mahluk yang lebih tinggi katamu?" ia tertawa kecil "Lalu mengapa mahluk yang lebih tinggi dan pantas untuk dipuja itu kalah oleh kami.. para Mortal?" perkataan Alter membuat raut wajah Zeus makin memburuk, ia tampak seperti sebuah gunung berapi yang tak lama lagi meletus "Lihatlah sekelilingmu, apakah ini yang kau katakan mahluk dengan kasta lebih tinggi? Aku justru melihat mahluk yang cuma suka menginjak-injak mahluk lain sebagai hobinya dan hanya karena kalian memiliki kekuatan, kalian pantas dipuja? Jangan membuatku tertawa"
Kali ini, giliran Alter melempar Zeus ke arah salah satu pulau apung yang langsung hancur begitu terhantam keras hingga tembus ke atas. Alter menarik kakinya, melempar dia kembali ke arah pulau apung, lalu melayangkan sebuah pukulan keras menghantam wajah Zeus yang dampaknya sampai ke bagian bawah pulau, menghancurkan beberapa bagian pangkalnya, menjatuhkan bebatuan besar ke bawah, sebuah hujan meteor kedua yang mesti dihindari oleh para pasukan agar tak terkena dampak ledakan gelombang energinya. Alter kemudian mengangkat tubuh tersebut, melemparnya ke udara dan menendangnya kembali ke bawah sampai tanah hancur terbelah dua menciptakan gempa bumi besar.
Sayangnya, begitu Alter akan melancarkan serangan lain, Zeus sudah mendapatkan sebuah ide yang seketika muncul dalam benaknya. Ia dengan cepat melesat ke arah seorang gadis berambut putih, gadis yang sementara bertarung menghadapi Lestra. Zeus mencengkram leher gadis itu, melemparnya ke arah puing-puing bangunan. Alter tanpa ia sadari sudah berada di belakang, melindunginya dari tiap puing-puing bangunan, merengkuh gadis itu seperti akan kehilangan dirinya. Mereka berdua jatuh bersama di atas tanah dengan posisi Alter di atas mirip seseorang yang sedang melakukan push-up. Mereka saling bertatapan, rasa takut dapat terlihat di wajahnya. Setetes air mata menitik turun, Alter menggunakan jari telunjuk untuk mengusap lalu tersenyum lembut padanya.
Yuna sadar sosok yang saat ini melindungi dia bukanlah Alter, melainkan Alzent, sosok yang sudah ia cintai sejak lama. Sepasang mata indah penuh kelembutan itu hanya terdapat pada diri Alzent, ia tak pernah menemukannya pada laki-laki lain selain dia. Yuna berusaha membalas senyuman tulus tersebut, namun melihat sosok Zeus yang sudah mendekat dan akan menusuk Alzent menggunakan pedang dengan bentuk sebuah petir berwarna biru, mengeluarkan cahaya terang, dapat dilihat percikan listriknya menggunakan mata telanjang. Sebelum petir mini itu menusuk punggung, Alter menangkap pergelangan tangan Zeus, memutarnya ke samping, tampak begitu marah. Perlahan terdengar suara dari tulang yang retak bersamaan teriakan Zeus sedang menahan rasa sakit yang amat sangat, sebab Alter juga memasukkan sedikit kekuatannya ke dalam tangan itu untuk merusak seluruh bagian secara perlahan dan menyiksa.
Sebuah tinju mendarat di tubuh Sang Immortal, melempar ia ke belakang. Alter kembali menoleh pada Yuna, namun kali ini tatapannya sudah berubah seperti sebelumnya "Cepat pergi berlindung di belakang Gerald, aku akan mencoba memberi pelajaran pada mahluk tak tahu diri itu. Oh-" katanya cepat sebelum Yuna melangkah pergi "Alzent memintamu untuk berhati-hati, ia tak ingin melihatmu terluka" Yuna tersenyum lembut, mengangguk pelan dan melesat cepat ke arah Gerald yang sedang bertarung menghadapi raja Arslaz bersama Veron "Mengapa bocah lemah ini bisa mendapatkan seorang gadis secantik dirinya, bahkan memiliki gadis lain yang sama imutnya" keluh Alter, membuat Alzent tertawa canggung dalam ruang bawah sadar.
Zeus bangkit berdiri, memperhatikan tangan kanan yang kini terputar ke samping secara perlahan meskipun Alter tak sedang memutarnya sekarang dan ia juga berusaha menahan kekuatan aneh dalam dirinya yang berusaha merusak, tetapi Alter sudah kembali muncul di hadapan Zeus. Tatapannya mengatakan ia sungguh tidak senang melihat perbuatan Zeus sebelumnya "Mau menggunakan sandera? Apa kau pantas mengatakan dirimu sebagai seorang Immortal? Mahluk dengan kasta tertinggi, hah!" tangan Zeus terputar sedikit lebih cepat dengan rasa sakit yang makin menjadi hingga Zeus mulai menekukkan lutut sambil mencengkram kuat tangan kanan "Kau benar-benar tak tahu diri"
Ketika Alter akan menghancurkan tangan kanan tersebut menggunakan kekuatannya, sebuah pedang menusuk masuk tubuh. Ia berbalik, menemukan sosok gadis berambut coklat, dengan tatapan penuh rasa bersalah, mencengkram kuat sebuah gagang pedang menggunakan kedua tangan. Alzent tampak begitu terkejut dan merasa terhianati, menyaksikan seseorang yang telah berjanji akan menunggunya di malam indah berhias bunga-bunga bercahaya dari ruang bawah sadar. Hatinya terasa begitu sakit hingga amarah perlahan mulai menguasai dan berdampak pada Alter yang kini jatuh bertekut lutut, memuntahkan darah segar dengan cahaya kemerahan, terang-redup seperti sebuah detak jantung.
"Maafkan aku"