Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Vision



"Ugh, apa yang terjadi?" tanya Alzent, menyandarkan badannya di sandaran kasur, memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.


"Oh kau sudah siuman"


Alzent menoleh ke arah pintu kamar, Lou masuk sembari membawa baki besar penuh makanan hangat, meletakkannya di sebuah meja panjang di samping pintu masuk, lalu melangkah memutari kasur tempat Lucan terbaring dan mengecek suhu tubuh Alzent "Baguslah kau tidak terkena demam. Minum teh ini terlebih dahulu, jika sudah merasa lebih baik, aku sudah menyiapkan sup panas di atas meja"


Alzent mengambil cangkir berisi teh beraroma Chamomile, ia menyesap teh itu, terkejut dengan rasanya yang enak. Lou melihat raut wajah Alzent, tertawa kecil menatap mata yang berbinar-binar tersebut "Kau menyukainya?"


"Sangat, entah mengapa teh ini membuatku lebih tenang dan nyaman" jawab Alzent mengagumi cairan hangat tersebut.


"Aku juga selalu meminumnya ketika butuh waktu menyendiri, menghilangkan beban dari setiap masalah yang ada. Terkadang aku bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah manusia yang membuat segalanya berubah ataukah karena manusia dunia dapat terus bergerak maju"


Alzent memiringkan kepalanya tidak paham, Lou menyadari itu lalu tersenyum "Sudahlah, tidak perlu dirimu pikirkan. Hidup seorang Vampire itu sangat panjang, aku yakin kini umurmu 120tahun bukan?"


"Ya, namun aku masih saja belum bisa mencari arti dari hidup ini, alasan adanya dua ras berbeda di dunia ini dan mengapa selalu saja terjadi pertikaian yang menimbulkan peperangan"


Lou melihat mata pemuda di hadapannya, tatapan yang telah melihat kekejaman dunia, tatapan seseorang yang berusaha bertahan di tengah-tengah kekacauan. Tapi anehnya tidak ada satupun tatapan yang menunjukkan dirinya telah membunuh seseorang "Bagaimana caranya dia bertahan di medan perang?"


"Apa anda mengatakan sesuatu?" tanya Alzent.


Lou tersadar lalu menggelengkan kepala "Ah tidak, beristirahatlah, jangan lupa memakan sup nya dan panggil saja aku Lou"


"Jadi, nenek Lou?" tanya Alzent dengan polosnya.


Lou berusaha meredam amarahnya yang bangkit, ia tidak suka jika dipanggil dengan sebutan 'nenek' meskipun fisiknya memang sudah menunjukkan hal tersebut, ia setidaknya masih ingin dianggap muda, lagipula kekuatannya tidak main-main "Umm, bibi Lou saja, tidak ada pertanyaan, lakukan saja, mengerti?" tanyanya sambil tersenyum, namun mengeluarkan aura gelap yang menakutkan.


Alzent mengangguk cepat, menunggu bibi Lou keluar ruangan hingga akhirnya menarik napas dalam-dalam, lupa jika dirinya tidak bernapas sama sekali.


"Kau hampir saja mati Alzent" sahut Veron, masih memejamkan mata di atas kasurnya.


"K-kau sudah bangun semenjak tadi?"


"Untung saja aku tidak membuka mata" sahut Lucan diiringi senyuman khas dirinya, menopang kepala dengan satu tangan menghadap pada Alzent "Kau masih harus banyak belajar soal perempuan Zent"


Veron mendengus geli "Percuma saja Lucan, mantan wakil ketua kita yang hebat adalah laki-laki paling tidak peka yang pernah hidup di dunia ini, apa kau lupa jawaban Alzent ketika Yuna menanyakan soal penampilannya sebelum kita mengadakan pesta?"


Sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, Lucan menebak "Kau terlihat cantik namun bukankah gaunmu tidak cocok?" Lucan langsung tertawa keras mengingat hal tersebut "Kau benar, keesokan harinya Yuna benar-benar menghiraukan dirimu, hahahaha... terkadang aku bingung, kau itu memuji apa menyindir?" tanyanya, lanjut tertawa.


Alzent melipat lengan "Saat itu dia memang terlihat sangat cantik, namun gaunnya terlalu banyak menunjukkan lekuk tubuh. Aku hanya tidak ingin ia ditatapi oleh laki-laki lain" sanggahnya, mencoba menutupi rasa malu.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok Gerald yang membawa sebuah bola berukuran seperti bola bowling terbuat dari kaca dengan serpihan-serpihan besi berbentuk abstrak melayang memutari bola kaca tersebut.


"Ahh, kau kakek tua yang sudah membuat kami bertiga pingsan!" tunjuk Lucan kesal.


Gerald tertawa kecil "Maafkan aku, tapi kalian sendiri yang meminta untuk cepat sehingga aku bergegas ke desaku, lagipula semakin cepat semakin bagus bukan?"


"Bukankah itu hanyalah alasanmu untuk membalas perbuatan kami yang tidak mempercayai ceritamu? Kau terus saja menyindirku" keluh Lucan.


Gerald tertawa lalu duduk di kasur Alzent, meletakkan bola tersebut disana yang langsung melayang tinggi, hampir menyentuh langit-langit kamar "Aku akan melanjutkan ceritaku, aku harap kalian mendengarkan ini dengan baik"


Veron serta Lucan langsung melompat turun dari kasur mereka, duduk di hadapan Gerald. Kini mereka terlihat seperti seorang ayah yang akan menceritakan legenda pada anak-anaknya.


"Seperti yang kalian tahu" katanya memulai "Sebuah retakan dimensi akan terjadi, retakan yang akan mengubah segalanya, merubah sejarah umat manusia maupun Vampire bahkan bumi ini sendiri. Aku yakin kalian sudah merasakan adanya perasaan aneh sebelum bertemu denganku bukan?"


Mereka bertiga mengangguk.


"Itulah salah satu tanda bahwa retakan dimensi akan terjadi tidak lama lagi. Pertanyaannya mengapa hanya para Vampire yang merasakannya? Simpel, karena kalian juga tidak berasal dari dunia ini, kalian berasal dari dimensi yang lain"


Mata ketiga pemuda itu terbelalak, tak pernah terbayangkan kalau mereka berasal dari dimensi yang berbeda.


"500 tahun yang lalu, terjadi retakan dimensi yang sama di Eropa sebelum berubah menjadi sebuah kesatuan baru yang sekarang kita kenal sebagai The Magistral Empire, saat itulah Vampire pertama kali menginjakkan kakinya di dimensi ini kemudian berbaur dengan manusia untuk dapat menghisap darah mereka, namun seiring berjalannya waktu, Vampire mulai menyembunyikan diri di tengah-tengah umat manusia karena takut akan terjadinya perpecahan, meskipun mereka tidak lagi meminum darah dari manusia melainkan dari hewan seperti ****.


Dan benar saja, terjadi perang selama 10 tahun yang mengubah tatanan pemerintahan dunia, sebab tanpa disadari di pemerintahan manusia sendiri, Vampire ada di dalamnya. Eropa, Asia, Africa, America, Australia terpecah lalu akhirnya membentuk tatanan pemerintahan baru.


Eropa sebagai The Magistral Empire, Asia sebagai The Eastern Union, Africa sebagai Reign of Desert, America sebagai The Liberal Union dan Australia sebagai Newfound Kingdom.


Berkat Team Fox 1 serta Wolf 3 di tahun ke-7 peperangan, umat manusia dan Vampire mulai membentuk kepercayaan. Lalu perang tersebut berakhir 3 tahun kemudian ketika Alzent mengorbankan Yuna yang hampir lepas kendali"


Gerald memerhatikan wajah Alzent sebelum melanjutkan "Apa kalian tahu alasan teman kalian itu kehilangan kendali atas dirinya?" Gerald sengaja menggunakan kata 'teman' sebagai pengganti Yuna, melihat tatapan Alzent yang sedikit berubah "Alasan ia kehilangan kendali adalah ia seorang 'Key'. Mahluk apapun yang membawa Key dalam tubuhnya akan membuka dimensi lain dalam dunia tersebut... mengapa aku bisa mengetahuinya?


Sebab aku adalah seorang Watcher, seseorang yang bertugas mengawasi retakan dimensi. Jika dimensi itu terlalu berbahaya bagi dunia yang ditinggalinya, sudah menjadi tugasku untuk mencari 'Gate' seperti kalian, seseorang yang dapat menutup retakan dimensi tersebut"


"Tunggu" potong Alzent "Apakah itu artinya aku tidak perlu membunuh Yuna?"


Gerald menahan diri untuk menjawab melihat tatapan penuh harap pemuda itu, tapi secara terpaksa ia mengatakan "Justru untuk menutupnya seorang Gate harus membunuh Key agar retakan tersebut tidak terjadi"


Alzent melemah, ia menghela napas dalam-dalam kemudian siap untuk mendengar lanjutannya.


"Anehnya, meskipun Key dunia ini telah tiada, retakan dimensi tetap terjadi, dengan kata lain mereka memaksa masuk ke dalam dunia ini. Jangan memotong, aku akan menjelaskannya" kata Gerald cepat, melihat Veron membuka mulut "Seseorang atau mahluk apapun itu yang mampu membuka retakan dimensi lain secara paksa, hanya sedikit jumlahnya, perbandingannya 1:1000000, ya itu memang sangat jarang, tapi jika ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut, ia adalah mahluk yang berbahaya. Tidak peduli ia memaksa meretakkan dimensi dengan alasan apa, setiap dunia memiliki haknya sendiri, kau tidak bisa begitu saja masuk dan berbuat seenaknya.


Begini saja, jika mahluk tersebut memaksa untuk menciptaksn retakan dimensi, entah itu karena dia kabur, tidak memiliki pilihan lain atau alasan sedih lainnya, endingnya adalah ia meminta tolong atau memaksa setiap mahluk dalam dimensi yang dimasukinya untuk menuruti perintah, terlebih ia memiliki kekuatan besar sehingga aku rasa meminta tolong tidak akan menjadi tujuan utamanya datang ke dunia ini.


Sudah pernah ada kasus 850 tahun yang lalu, mahluk dari dimensi yang lain mendapatkan kekuatan untuk meretakkan dimensi, menggunakan kekuatan luar biasa tersebut untuk memperbudak mahluk dari dunia lain dan kembali ke dunianya menggunakan pasukan budak yang kuat itu untuk menguasai dunianya selama beberapa saat sebelum akhirnya dihancurkan oleh para Gate-


"Tunggu sebentar" potong Veron "Aku ingin menanyakan satu hal, apa sebenarnya tujuan adanya Key tersebut?"


Gerald menjentikkan jari, tersenyum lebar "pertanyaan bagus, para Key ditugaskan untuk menghubungan setiap dunia yang ada, para Watcher mengawasi kedua dunia yang akan dihubungkan dan para Gate untuk mencegah terjadinya malapetaka"


"Kenapa tidak bilang begitu saja!?" sahut Lucan kesal "Tidak perlu bercerita terlalu panjang, kami hanya butuh intinya dan akan kami kerjakan tugas tersebut lalu kembali dengan selamat, kemudian dunia kembali terselamatkan"


Alzent mengernyitkan dahi, ia berusaha memikirkan sesuatu yang sangat penting namun hilang karena dikagetkan teriakan Lucan.


"Ahhhh!" sahut Alzent begitu ingat, menarik perhatian ketiga orang yang sementara berdebat "Aku masih bingung, jika Key ada di setiap dunia untuk menghubungkan dunia yang satu dengan yg lain, mengapa mereka tidak menggunakan Key untuk menghubungkan dunia kita lebih mudah, dibanding harus memaksa masuk?"


Gerald mengehela napas "Karena setiap Key hanya bisa membuka satu dimensi dan mereka sendiri tidak tahu dimensi apakah yang akan mereka buka itu, itulah gunanya para Watcher mengawasi, agar jika terjadi kesalahan, mereka bisa menginformasikan Gate untuk bertindak. Hukum Multiverse itu sangat sulit untuk dimengerti dan membuat kepala sakit jadi hanya inilah yang bisa kujelaskan"


"Jadi tugas kami hanyalah menghentikan agar retakan dimensi tidak terjadi?" tanya Veron memastikan.


Gerald tertawa lantang "Salah, tugas kalian adalah membunuh mahluk apapun yang akan muncul dari dalam dimensi tersebut"