Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Another Allie



Tak seorang pun berbicara melihat dua orang dengan wajah yang sama berada di depan mereka, hanya terdengar desiran angin sepoi-sepoi yang membuat situasi semakin terasa aneh. Alzent melipat lengannya, mengatakan "Sampai kapan kau ingin terus menggunakan wujudku, ratu Ezra?"


"Hah!?" sahut yang lainnya terkejut.


Alzent yang berkekuatan gelap tersebut perlahan berubah menjadi debu, memperlihatkan ratu Ezra seperti saat belum mati. Ia tertawa lantang, menyunggingkan senyum licik "Aku tak menyangka kau mampu lolos dari kegelapan tersebut. Aku sudah meremehkanmu, Alzent- oh.. maaf, aku lupa. Maksudku pangeran Alzent" ucapnya, membungkukkan badan, lalu mengumpulkan dua bola energi gelap di masing-masing telapak tangan.


"Apa maksudnya, Alzent?" tanya Lucan tak paham.


"Akan kujelaskan begitu semua ini selesai. Sebaiknya kau segera mengobati Veron, aku sudah memberikan sedikit kekuatanku padanya, jadi semestinya ia masih dapat bertahan, namun tak terlalu lama" balas Alzent. Butiran-butiran cahaya keemasan mulai terbentuk di sekitar tubuhnya, perlahan masuk dalam diri Alzent, menutup kulitnya dengan zirah berwarna putih dengan aura keemasan "Ratu Ezra!" panggilnya "Bagaimana kalau kau menyerah dan mengembalikan pasukan-pasukan tersebut? Aku tidak ingin melukaimu"


"Kau bahkan sudah membunuhku" ucap ratu Ezra "Apa gunanya mempercayaimu?" ia lalu melemparkan dua bola energi tersebut yang dengan mudah Alzent belah menjadi dua menggunakan pedang baru miliknya, memiliki ukiran di bagian tengah pedang tersebut serta gagang berwarna putih berhias emas "Oh? Baiklah, aku tidak akan menahan diri lagi" sebuah pedang berwarna hitam-keunguan muncul di genggaman tangan kanan Sang ratu.


"Aku tidak pernah memintamu menahan diri" jawab Alzent, menangkis serangan ratu Ezra. Mereka berdua saling beradu kekuatan, saling menghempaskan satu sama lain ke tanah, lalu berlanjut memberikan serangan demi serangan yang menimbulkan suara pedang saling beradu disertai angin kuat di sekitarnya. Keduanya bertarung sembari tersenyum, menikmati pertarungan terakhir tersebut yang akan menentukan pemenang serta seseorang yang akan memimpin pasukan besar dari kelima bangsa.


Alzent tidak memberi ruang bagi Sang ratu untuk bernapas, begitu pula sebaliknya. Permainan pedang mereka yang gesit, cepat, lincah dan kuat, memukau setiap orang yang menonton. Tak seorang pun bergerak dari tempat mereka semenjak awal, sebab mereka juga berada lumayan jauh dari area tempat dua orang tersebut sedang bertarung.


Ketika pedang mereka saling mengadu, tercipta sebersit percikan api yang tanpa sengaja mengenai minyak dari mesin para Orc, lalu meledak, menimbulkan api yang terus menyebar hingga membuat arena Alzent dan Sang ratu tertutupi oleh lingkaran api besar serta panas. Keduanya tampak tak peduli dengan hal tersebut, mereka terus saling menyerang, saling memberikan luka sayatan, memberikan segalanya dalam pertarungan ini.


Hanya Lightnar seorang yang menyadari jika Alzent menggunakan kekuatan yang sama sepertinya "Mungkinkah kekuatan milikku tersimpan saat menyegel kekuatan gelapnya?" tanyanya ragu, karena bahkan ia sendiripun tak memiliki kekuatan sebesar itu meskipun berubah menjadi seekor Alpha. Lalu, ratu Ezra menyebut Alzent dengan 'pangeran?', Lightnar sama sekali tidak mengerti, namun ia tahu perkataan Uhro salah.


Lucan menyaksikan sahabatnya itu, memperhatikan setiap serangan serta kekuatan yang dimilikinya. Lucan tersenyum, ia melihat ke atas puncak gunung yang terletak tak jauh dari Risenland, di mana si laki-laki bertopeng berdiri sambil menatap ke arah mereka "Sudah dimulaikah?" tanyanya pada diri sendiri.


Alzent terus memberikan serangan, setiap ayunan pedang yang diberikan mengandung tenaga yang kuat serta teknik berpedang yang indah. Sementara ayunan pedang ratu Ezra gesit dan mematikan, ia memainkan pedang hitam miliknya seperti sebuah rapier


"Sayang sekali kalau kita harus bermusuhan, bagaimana kalau menjadi partner?" tanya Alzent, selagi menghindari tusukan yang tampak hanya satu serangan, tapi sebenarnya mengandung lebih dari sepuluh serangan mematikan tersebut.


"Partner? Aku mengakui kalau dirimu itu kuat serta tak dapat diremehkan, tapi partner?" ia memberikan serangan lagi pada Alzent yang tiba-tiba berada di belakangnya, mengayunkan pedang, namun Sang ratu melompat beberapa meter ke depan, menghindari serangan itu "Jangan harap aku ingin berteman dengan seseorang yang telah melubangi dadaku, lalu membiarkannya begitu saja di medan peperangan" tolaknya.


Alzent berteleportasi ke depan Sang ratu, membungkuk begitu Sang ratu memberikan sebuah tusukan yang cepat, lalu dijegal oleh Alzent. Alzent berada di atasnya, menusukkan pedang miliknya ke tanah di samping kepala Sang ratu "Bukan berarti aku membencimu, aku hanya ingin membebaskan sekaligus menyatukan bangsa Dark Elf dengan Elf" ucapnya.


Setiap orang yang menyaksikan pun dapat melihat tubuh Alzent yang kini dipenuhi beberapa lubang, anehnya tak keluar sedikitpun darah. Begitu angin berhembus, tubuh Alzent itu berubah menjadi debu yang mengikuti arah tiupan angin. Sebuah pedang dingin menyentuh leher ratu Ezra "Aku tanya sekali lagi, ingin hidup atau mati sia-sia?" tanya Alzent pelan dekat telinga kanan Sang ratu.


"Apa untungnya bagiku mengikutimu?" tanya balik Sang ratu.


"Tentu saja ada. Dibanding mati sia-sia sebagai seseorang yang tergila-gila akan kekuatan dan dipandang rendah oleh bangsamu sendiri, mengapa tidak menjadi sosok pahlawan bagi mereka di peperangan yang akan datang? Aku yakin, mereka akan menerimamu kembali"


Ratu Ezra tampak ragu sejenak "Baiklah" ia tersenyum, lalu pedang hitamnya menghilang menjadi aura-aura ungu gelap "Aku akan ikut denganmu, namun pertarungan kita belum berakhir"


Alzent juga menghilangkan pedang miliknya yang berubah menjadi debu-debu emas bercahaya, tersenyum "Santai saja, aku juga memiliki banyak pertarungan yang belum terselesaikan- eitss.." ia menangkap lengan Sang ratu yang hampir saja menusukkan sebuah belati ungu ke lehernya "Sebaiknya kita tidak saling membunuh sebelum tiba saat yang tepat, Yang Mulia"


Ratu Ezra menyimpan kembali belati tersebut "Aku hanya mengetes apakah kau benar-benar berhak menjadi partnerku, jangan menyimpan dendam" katanya, memadamkan setiap api yang mengelilingi mereka menggunakan kekuatan gelapnya, lalu berjalan menuju kerajaan dengan santai, tak memedulikan tatapan yang diberikan oleh setiap orang.


"Hey, pasukanku.." kata Alzent.


Sang ratu tersenyum, menjentikkan jarinya, membuat setiap pasukan kegelapan kembali sadar "Tenang saja, pangeran. Aku masih memiliki harga diri sebagai seorang ratu, aku takkan mencuri mereka darimu"


Lightnar melangkah mendekati Alzent dengan tatapan bingung "Umm, sejak kapan kalian berdua menjadi begitu dekat? Dan mengapa ia berjalan menuju kerajaan?"


"Dia akan ikut dengan kita dan jangan khawatir, dia tidak akan bisa membunuhku" jawab Alzent.


"Itu tidak menjawab pertanyaanku yang pertama" ucap Lightnar kesal, lalu menghela napas "Setidaknya peperangan telah berhenti, kita dapat menghirup napas segar serta beristirahat untuk sementara"


Alzent tersenyum mendengar itu, tangan kanannya mengarah ke belakang, menciptakan sebuah lingkaran sihir besar yang melindungi mereka dari serangan para Gigant "Siapa bilang telah selesai? Justru pertarungan selanjutnya telah menunggu"


Di belakang para Gigant tersebut, Uhro melangkah dengan tatapan tajam mengarah pada Alzent.