
Alzent sementara duduk di balkoni istana, menatap langit malam berhias bintang. Angin bertiup pelan, membawa hawa dingin, membuat tubuh sedikit menggigil. Namun, Alzent tak memedulikan hal tersebut, ia memikiran sesuatu yang mengganggu hatinya. Ketika pedang miliknya menusuk masuk jantung ratu Ezra, mengapa Alzent tak dapat merasakan apa-apa? Seakan menusuk ruang hampa.
"Semoga itu hanya perasaanku saja" harapnya, lalu hatinya kembali merasakan perasaan tidak enak, sama ketika pertama kali terjadi retakan dimensi. Alzent bangkit berdiri, memerhatikan sekitar "Mungkinkah terjadi retakan dimensi di dunia ini? Atau, retakan dimensi di bumi kembali aktif?"
Ia merasa harus kembali lagi ke bumi, melihat Risenland telah baik-baik saja tanpa adanya penyerangan selama beberapa minggu terakhir, mungkin memang sudah saatnya. Baru saja akan membicarakan hal tersebut dengan kedua sahabatnya, sosok kegelapan itu kembali muncul di hadapan Alzent. Ia terlihat tenang, tetap diam di tempatnya sembari menatap Alzent dengan raut wajah datar.
"Jangan bilang kau ingin membawa kegelapan di dunia ini" tebak Alzent.
"Tenang saja, belum saatnya aku melakukan itu. Aku datang ke sini untuk membicarakan hal tersebut. Sudah cukup lama aku memberikan dirimu waktu untuk berpikir, aku rasa sudah saatnya kau memberitahukan jawaban" jelas Zeon.
"Sudah kukatakan, aku sama sekali tak memiliki niat untuk ikut bersamamu" jawab Alzent ketus.
"Oh?" sisi kanan bibir Zeon terangkat, membentuk sebuah senyuman yang tampak sedikit meremehkan "Kau ini naif atau hanya bodoh? Sudah jelas dirimu memiliki kekuatan kegelapan, kau bahkan dapat merasakan sihir gelap dalam diri Darkoth. Apa yang membuatmu berpikir, kau itu sama dengan mereka? Takdirmu adalah untuk membawa kehancuran pada setiap dunia" melihat raut wajah Alzent, Zeon mendengus geli "Kau bahkan belum menyadarinya? Keberadaanmulah yang membuat Dark Elf maju berperang, lalu tak lama lagi, perang yang jauh lebih besar menunggu, akibat peperangan kalian sebelumnya
Apa kau sadar? Keberadaanmu itu membawa bencana, membawa mimpi buruk serta kematian. Lalu, kau berusaha menyelamatkan mereka semua?" Zeon tertawa kecil, lalu melanjutkan "Baiklah, aku akan melihat bagaimana kau akan menentang takdir yang terukir bagimu. Namun, ingatlah, ke manapun dirimu melangkah, bencana mengikuti"
"Dengan begitu, sudah menjadi tugasku untuk memperbaikinya" jawab Alzent tegas "Sama seperti penjelasan Lightnar, tak peduli mau itu sihir kegelapan atau bukan, tergantung dari penggunanyalah kekuatan tersebut digunakan"
Zeon duduk bersandar di pagar pembatas balkon "Sayang sekali, hal tersebut hanya berlaku pada sihir, sementara milikmu adalah kegelapan sempurna, kegelapan pekat, hampa.. tak berujung. Sebuah lambang kematian bagi mahluk hidup" Zeon langsung melompat ke bawah begitu Alzent mengayunkan pedang miliknya.
Alzent ikut melompat ke bawah, tak memedulikan tinggi kamarnya berada dengan lapangan belakang istana. Mereka mulai beradu pedang, pedang yang sama, sebuah kegelapan. Tak lama, pertarungan tersebut berubah menjadi pertarungan api hitam membara dan bau dari asap, menarik perhatian setiap orang dalam istana, berdatangan ke lapangan belakang, menyaksikan pertarungan dua orang, dikelilingi oleh api hitam panas yang takkan mati jika bukan pemiliknya lah yang memadamkannya atau menghisapnya kembali.
"Hey, jika kita terus seperti ini, istana baru ini akan terbakar loh. Kau tidak ingin membuat bangsa Elf kesulitan lagi bukan?" Zeon menangkis serangan Alzent, melompat ke belakang, mengambil jarak "Bagaimana kalau kita bertarung di tempat yang jauh lebih luas?" Zeon menghindar dari terjangan laki-laki itu, menangkap tubuhnya dan terbang tinggi ke udara, kemudian melempar Alzent ke bukit di belakang istana.
Di atas bukit tersebut, pertarungan kembali terjadi. Akibatnya, apapun yang berada di sekitar mereka terbakar hangus oleh api hitam tersebut. Lalu, Zeon sengaja mengarahkan serangan Alzent ke beberapa pepohonan serta semak belukar dan beberapa sosok dari bangsa Orc terlihat, mereka berlari kabur menyadari tempat persembunyian mereka diketahui, meninggalkan dua orang yang masih bertarung.
"Sekarang kau percaya bukan? Mereka adalah bangsa Orc, para mahluk bertubuh hijau itu" kata Zeon, menyunggingkan senyum penuh makna "Lebih baik kau segera memperingatkan teman-temanmu sebelum terlambat, melihat bangsa Orc sudah berada begitu dekat, aku menyimpulkan pasukan besar mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang dan tampaknya.. itu tidak akan lama.. lagi" Zeon lalu mengilang ke dalam portal hitamnya, meninggalkan Alzent yang meneriakkan namanya, meminta Zeon untuk kembali.
"Oh, jangan lupa dengan sosok dirimu itu. Aku yakin sampai kini, kau masih belum dapat mengingat masa kecilmu bukan?" sahut Zeon hingga sepenuhnya menghilang dari dunia itu.
Alzent memunculkan sayap hitamnya, terbang kembali ke istana untuk menjelaskan bangsa Orc yang sementara memata-matai mereka dan kemungkinan mereka sudah berada cukup lama disana. Veron melipat lengan, menghela napas panjang "Pertama Dark Elf, sekarang Orc? Lalu apalagi? Syren?" keluhnya.
"Dari apa yang kulihat di atas bukit, tampaknya mereka sudah cukup lama mengawasi kita, dan kemungkinan besar mereka akan menyerang. Terlebih karena aku sudah menemukan tempat persembunyian mereka tanpa sengaja" jelas Alzent.
Lightnar memegang kepalanya, pusing menghadapi berbagai masalah yang terus terjadi "Mau tidak mau, kita harus bersiap untuk perang lagi. Bangsa Orc tak dapat kita anggap remeh, bahkan kali ini kita yang berkemungkinan kalah. Jumlah mereka begitu banyak dan kekuatan fisik mereka, setara dengan para Holy Knight"
"Jika pasukan biasa mereka setara dengan Holy Knight, bagaimana dengan kekuatan pemimpin mereka?" tanya Luna.
"Jadi ketika kita berperang, mereka sudah mengawasi kita semenjak itu?" tanya Lucan kaget.
Lightnar mengangguk mengiyakan "Bisa jadi. Lalu kemunculan Alzent yang membuat kedua bangsa dalam perang, bersatu. Bangsa Orc paling suka melawan seseorang seperti itu, sebab jika mereka menang, maka mereka akan semakin ditakuti"
"Benar-benar seperti bocah" balas Veron.
"Sayangnya bocah hijau berbadan kekar itu, tak seperti bocah biasa yang akan ngambek jika kita tak mengabulkan permintaan mereka. Bangsa Orc akan terus berusaha keras hingga berhasil. Seandainya mereka menjadi sekutu kita, perang di bumi akan sedikit lebih mudah" jelas Lightran.
"Lalu, mengapa kalian tidak berusaha menjalin hubungan dengan mereka, lalu meminta mereka menjadi sekutu ketimbang berperang?" saran ratu Urvi yang selanjutnya dipuji oleh Lucan sebagai sebuah rencana yang bagus, namun ditolak oleh Lightnar.
"Tidak bisa. Bangsa Orc lebih memilih mati dalam sebuah pertarungan, dibanding mundur dalam sebuah keputusan. Kecuali, Alzent berhasil merebut hati mereka dan membuat mereka menghormatinya" Lightnar menepukkan kedua tangannya, baru saja mendapatkan sebuah ide bagus "Alzent, bagaimana menurutmu? Apakah kau bisa membuat mereka terkesan dan mengikutimu? Hey.. Alzent.. Alzent" panggilnya makin keras.
"Ah, maaf. Apa yang kau katakan?" tanya laki-laki tersebut.
"Buatlah bangsa Orc terpukau dengan kekuatanmu dan jadikan mereka sebagai pengikutmu" pinta Lightnar.
Akhirnya rapat selesai. Alzent dengan cepat menghilang dari kelompok yang sementara ini berjalan menuju ruang makan. Luna lah yang pertama menyadarinya, menanyakan keberadaan Alzent, namun mereka juga baru tahu jika Alzent tak ikut bersama.
"Ini aneh, baru pertama kali Alzent bersikap seperti ini" ucap Lightnar, khawatir.
Lucan menghela napas berat "Sebenarnya tidak. Ia pernah sekali bersikap begini ketika menghadapi orang yang sama. Entah apa yang mereka berdua bicarakan di tengah-tengah pertarungan, namun tampaknya hal itu membuat beban Alzent semakin berat, bahkan terkadang aku mendapati ia menatap ke langit dengan pandangan kosong. Aku benar-benar ingin membantunya, tapi aku tak tahu apa yang sedang dirasakannya"
Veron ikut mengepalkan tangan dengan kuat. Luna merasa ada yang tidak beres, kemudian meminta untuk mencari Alzent sementara yang lain pergi ke ruang makan, menunggu kedatangan mereka berdua "Apa kau yakin membiarkan Luna mencari Alzent sendirian?" tanya Lightnar.
"Tak perlu khawatir, Luna sangat mirip dengan seseorang yang sangat berharga bagi Alzent. Setidaknya, aku yakin Alzent akan sedikit tenang" jawab Lucan.
"Tapi, memang benar. Alzent sudah berkorban cukup banyak untuk kita, namun kita masih belum membalasnya. Aku merasa bersalah" kata ratu Urvi.
Terjadi keheningan panjang dalam meja makan besar itu. Setiap orang memikirkan hal yang sama, bagaimana cara mengembalikan senyuman Alzent yang membuat hari terasa lebih berwarna. Lightnar, bersandar di kursinya, menghela napas lagi "Mungkin, untuk sekarang, kita biarkan dia sendiri terlebih dahulu. Tunggu momen yang tepat untuk membantunya"
Alzent duduk di pagar pembatas balkon kamar, menatap langit malam, memikirkan banyak hal yang sudah terjadi belakangan. Ia menutup mata, mulai menyenandungkan sebuah lagu yang sering didengar oleh Yuna, sembari mengingat hal-hal yang telah mereka lakukan bersama.
Luna membuka pintu perlahan, melangkah masuk dan terdiam begitu mendengar nada indah tersebut. Sebutir air mata mengalir jatuh dari pipinya, melihat sosok seorang laki-laki yang tampak begitu kesepian, di beratnya tantangan hidup.