
Bangsa Elf mulai membangun kembali kerajaan mereka di atas tanah yang luas membentang. Kini mereka menyebutnya sebagai Dawnfiant, sebagai tanda kebangkitan bangsa Elf, begitu sinar mentari pagi menyinari, memberi sebuah harapan baru bagi mereka. Namun, mereka bertanya-tanya, ke manakah Alzent Sang Pahlawan pergi?
Mereka tidak tahu jika sekarang, Alzent sementara dibawa pergi oleh Lightnar, bersama Lucan serta Veron, menuju sebuah daratan yang terletak di ujung cakrawala, tanah suci bagi para naga, tanah yang tak dapat disentuh oleh siapapun kecuali mendapat izin dari Sang Alpha.
Bangsa Elf sebenarnya berasal tak jauh dari tempat tersebut, namun karena terjadi perpecahan di zaman dahulu, di mana Dark Elf pertama kali muncul di tengah-tengah mereka, bangsa Elf terpaksa berjalan jauh agar tanah suci tersebut tak tersentuh oleh para Dark Elf, dengan sihir-sihir gelap mereka. Sebuah perjalanan yang memakan begitu banyak waktu, kesabaran serta kematian.
Saat sudah mencapai tanah yang mereka tuju, tak lama bencana kembali datang. Mahluk-mahluk yang awalnya adalah mahluk indah serta ramah, berubah menjadi mahluk haus darah, menyeramkan. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk bertahan dari setiap tantangan yang membuat bangsa Elf menjadi jauh lebih kuat dibanding sebelumnya, hingga mereka menemukan sebuah batu dengan kandungan sihir sangat besar, di sebuah gua yang kini tertutup rapat, tak dapat dibuka. Gua yang sebenarnya, memiliki ujung lain, di mana sebuah dunia berbeda, berada..
Hari demi hari berlalu, bangsa Elf mulai membangun kehidupan barunya di tanah terkutuk tersebut, bertahan dari serangan mahluk kegelapan, sama seperti dahulu. Beberapa bangunan penting telah jadi berkat sihir mereka yang mampu mengendalikan alam di sekitar, membuat pepohonan menjadi sebuah bangunan yang layak untuk ditinggali.
Luna berada di sebuah bukit, sementara mengumpulkan tanaman obat, lalu melihat ke arah datangnya matahari terbit "Aku harap kalian baik-baik saja" ucapnya pelan. Di wajah gadis itu, terbentuk sebuah senyuman manis.
Lightnar dan para penumpangnya sudah terbang berhari-hari tanpa berhenti, dengan kecepatan yang tak bisa dikatakan lamban. Kepakan sayap raksasanya, membuat mereka melaju beberapa kali lebih cepat dibandingkan naga-naga biasa. Mereka bahkan dapat beristirahat di atas tubuh Lightnar yang tertutupi bulu putih, seperti sebuah bantal empuk, ditambah angin beritup pelan, ketika Lightnar memperlambat kecepatan terbangnya agar kedua orang cerewet itu dapat tidur tenang dan dirinya bisa bernapas lega, tak perlu menjawab berbagai pertanyaan dari pemuda bernama Lucan. Dia tampak benar-benar jatuh cinta pada dunia ini.
Sinar mentari pagi menyinari mereka, memberikan rasa hangat dan nyaman. Veron yang pertama kali bangun. Lightnar menghela napas lega saat mendengar erangan laki-laki itu, ketika meregangkan tubuhnya. Veron menaikkan sebelah alis tebalnya, tertawa kecil melihat Lightnar "Tampaknya, kau benar-benar kelelahan menghadapi Lucan"
"Aku sendiri tidak menyangka, seorang Vampire muda dapat membuatku kelelahan mental seperti ini" jawab Lightnar, tak berusaha menyembunyikannya.
Veron tertawa, menoleh pada Lucan yang masih tertidur lelap, kemudian menatap Alzent yang sudah diam setelah memberontak selama 5 hari penuh tanpa berhenti. Setidaknya, sekarang ia terlihat lebih jinak dibanding sebelumnya "Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Apa itu?" tanya Lightnar.
"Mengapa seekor naga perkasa seperti dirimu, terkena sihir kegelapan?" tanya Veron, penasaran.
Aku tidak menyangka, akan ada seseorang seperti dirinya yang rela mengorbankan nyawa untuk mahluk sepertiku. Selama Darkoth mengamuk, aku dapat melihat semua yang terjadi dengan jelas, tapi aku tak mampu melakukan apa-apa untuk menghentikannya. Alzent, sahabat kalian, menyadari itu"
Veron terkejut mendengarnya "Alzent, menyadari jika dirimu termakan oleh.. kegelapan?" tanyanya memastikan.
"Aku sendiri masih bertanya-tanya darimana ia mengetahui hal tersebut. Namun tanpa ragu, ia menyerap setiap kegelapan pekat yang ada di dalam diriku, hingga aku.. dapat bebas kembali, dan merasakan udara segar, sesudah terkurung di dalam kegelapan hampa.. tanpa jalan keluar" Lightnar melihat Alzent dari balik bahunya "Aku benar-benar berterima kasih pada pemuda itu. Aku akan melakukan apa saja untuk membalas perbuatan baiknya"
Di dalam kepala Veron, beragam kemungkinan terus bermunculan, namun tak satupun ada hal positif. Dahinya berkerut, ia menggigit bibir, takut membayangkan apa yang ada di dalam pikirannya itu, benar-benar terjadi. Veron kemudian menepisnya, menanyakan satu hal lagi pada Lightnar "Oh, kenapa kau selalu menyebut kami sebagai 'pemuda' ? Aku lihat umurmu tak jauh berbeda dari kami"
Lightnar tertawa, menjawab "Aku sepuluh kali lebih tua dari kalian"
Lucan membuka matanya, langsung duduk tegap sambil memerhatikan sekitar "Wahh, pemandangan di sini cukup berbeda dibangin sebelumnya. Apakah kita sudah dekat?"
'astaga...' keluh Lightnar dalam hati "Belum, perjalanan kita masih sangat panjang"
Lucan menghela napas kesal. Namun dirinya memang benar, pemandangan di sekitar mereka sudah tampak berbeda dibanding Dawnfiant. Disini pepohonan lebih berwarna kemerahan, dengan udara sedikit lebih dingin. Dipenuhi oleh perbukitan, naik-turun seperti gelombang ombak yang tenang, terus meninggi ke sebelah kiri menjadi sebuah pegunungan, menciptakan siluet-siluet indah di setiap lekukannya.
Sulit dibayangkan jauhnya perjalanan bangsa Elf dahulunya dengan sihir yang terbatas, dapat mencapai bahkan membuat kerajaan baru di daratan yang sepenuhnya asing. Tapi, cerita bangsa Elf kurang lebih sama seperti manusia, di mana manusia terus menjelajah, mengarungi lautan, mendaki pegunungan, mengalahkan ganasnya ombak dan cuaca ekstrim di puncak. Pada dasarnya, mahluk hidup akan terus menjelajah, mencari tempat yang sempurna untuk hidup bersama dalam harmoni. Sayangnya, iri hati serta kesombongan menciptakan perang yang membuat daratan indah menjadi sebuah ladang kehancuran.
Alzent yang sementara ini, mengurung diri di dalam kegelapan, terus memikirkan perkataan Zeon. Benarkah dirinya adalah pembawa kehancuran? Pemberi kehampaan dan pembangkit mimpi buruk di tanah yang akan dipijak? Tanpa ia sadari, semakin terpuruk dirinya, semakin cepat pula ia dimakan oleh kegelapan tersebut. Hanya satu hal yang membuatnya dapat terus bertahan, yaitu permintaan seorang gadis yang dicintainya untuk terus berjuang demi kisah yang akan datang dan diceritakan pada dirinya, ketika... mereka.. bertemu suatu saat nanti.