
Lucan menatap enam orang di depan, menguatkan pegangan pada gagang pedang "Mengapa hanya kalian berenam yang muncul? Dimana sisanya?" tanya Lucan dingin.
"Kami tak membutuhkan begitu banyak orang untuk menghadapimu" jawab Xeth.
"Kita lihat sampai mana kesombonganmu itu bertahan" Lucan maju menerjang, namun ia langsung dihadang oleh dua orang laki-laki berbadan kekar dengan senjata sebuah kapak. Mereka mengayunkan kedua kapaknya, tapi Lucan menahan kapak tersebut menggunakan pedang sebelum mata pisaunya mengenai dia. Lucan mengeluarkan lebih banyak kekuatan, berhasil membuat kedua orang tersebut bergetar tak mampu menahan dan akhirnya terhempas.
Baru saja akan melangkah, seorang laki-laki melemparkan tombak tepat ke depan Lucan. Lucan melompat ke belakang menghindari ledakan dari tombak tersebut, sekaligus menghindari beberapa panah yang dilepaskan secara cepat saat ia masih berada di udara. Lucan mendarat dengan aman, bersamaan dengan panah-panah yang meledakkan pepohonan di belakang. Kedua matanya menatap tajam sosok laki-laki yang kini bergerak maju sambil memutar-mutar tombak.
Lucan dan laki-laki itu kemudian beradu. Permainan tombaknya tak bisa dibilang lemah, beberapa luka sayatan kini mulai terlihat di wajah Lucan yang tak terlindungi zirah dan beberapa bagian zirahnya mulai pecah menghadapi serangan tombak beruntun tersebut. Lalu, dua orang perempuan di kiri dan kanan Xeth menembakkan beberapa anak panah ke arah Lucan, mau tidak mau Lucan harus menghindarinya selagi menghindari serangan tombak dan serangan dengan dampak penghancur besar dari dua laki-laki berbadan kekar yang kini bergerak maju sesudah pusing selama beberapa saat.
Lucan tahu ia tak bisa mengalahkan mereka jika hanya menggunakan setengah dari kekuatannya. Andai saja mereka sekuat Zeon, mungkin ia masih bisa menghadapi laki-laki itu dengan mudah, meskipun kekuatan orang itu juga sudah mendekati seorang Immortal. Namun, menghadapi enam Immortal dengan kekuatan penuh mereka, hanya seorang diri, Lucan mau tidak mau harus menggunakan seluruh kekuatan utama yang berkemungkinan besar akan menarik lebih banyak Immortal untuk datang ke dunia ini dan pertarungan mereka bisa saja menghancurkan seluruh pegunungan, dengan kata lain, nyawa Reyla akan dalam bahaya.
"Andai saja aku bisa menggandakan diri" keluh Lucan selagi bertahan dari serangan tombak dan menghindari hujan panah.
Lucan lalu melihat gelang yang diberikan oleh Veron "Semoga gelang pemberianmu ini ada gunanya Veron" ucapnya, kemudian memutuskan gelang tersebut. Tiba-tiba, dari aura hitam yang keluar saat gelang tersebut putus, sosok lain dari Lucan tercipta namun dengan mata berwarna ungu serta rambut hitam. Lucan menatap sosok di sampingnya, menyentuh lengan laki-laki itu "Kau.. nyata'kan?"
Sosok tersebut menoleh pada Lucan dengan tatapan aneh, membersihkan bagian yang disentuh oleh Lucan "Berhentilah menyentuhku seperti itu. Aku ini tiruan yang hanya memiliki setengah kekuatan darimu, namun untuk membantumu menghadapi enam orang di depan ini, itu sudah lebih dari cukup" jawabnya mantap.
"Aku tidak menyangka sosok diriku sesombong ini, namun sekarang aku bisa bertarung lebih leluasa" sahut Lucan senang. Kekuatan emasnya berubah kemerahan termasuk seluruh bagian langit yang berada di dunia tersebut. Terjadi gempa bumi dengan suara bergemuruh serta menggelegar dari tiap petir merah yang menyambar ke bawah.
Wajah enam orang di depannya berubah buruk, mereka tidak menyangka Lucan masih memiliki kekuatan ini, kekuatan yang mampu menghancurkan seorang God hanya dalam sekejap. Itulah sebabnya, Lucan ditendang keluar dari dunia Immortal meskipun ia tak memiliki salah apapun, bahkan Lucan terkenal akan kebaikannya disana, namun hanya karena rasa takut berlebihan yang dimiliki para Immortal, mereka menendang keluar Lucan dan sudah membuat ia jatuh ke dunia Mortal dengan luka parah. Tak disangka, ia masih bisa menggunakan kekuatan ini meskipun jiwanya sudah terluka akibat serangan tersebut.
Zirah Lucan berubah merah-kehitaman dengan rantai mengelilingi kedua lengan serta saling menyilang di bagian dada. Muncul garis-garis tribal merah bercahaya di wajah Lucan serta kedua lengan dan lehernya. Pedang di tangan laki-laki itu berubah menjadi butir-butir cahaya merah yang masuk ke dalam diri Lucan, memunculkan sepasang pedang panjang di tiap lengannya. Mata Lucan berubah hitam dengan pupil berwarna hazel terang dan tiap tanah berjarak seratus meter dari Lucan berubah menjadi duri-duri hitam berujung merah darah dengan akar-akar hitam bersemu merah gelap mengelilingi tiap duri tersebut.
Kini keenam Immortal itu mengeluarkan kekuatan penuh mereka. Mereka tahu mereka mungkin takkan selamat menghadapi mahluk di depan, namun apapun yang terjadi, dunia Immortal harus dijauhkan dari keberadaan mahluk seperti Lucan. Mereka tidak ingin terjadi hal buruk terhadap dunia tersebut, namun mereka juga tak peduli jika Lucan mengamuk di dunia para Mortal.
Dalam sekejap keenam orang itu sudah berada di depan Lucan, tetapi terhempas kuat ke belakang dengan sekali kibasan pedang yang gelombang energinya berhasil menghancurkan tiap pohon di belakang mereka. Lucan perlahan melangkah maju, wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan sama sekali seperti yang biasa ia tunjukkan saat menggunakan kekuatannya ini. Xeth langsung tahu, Lucan menggunakan kekuatan ini karena terdesak akan sesuatu.
"Tampaknya kau terburu-buru semenjak awal" ucap Xeth, menatap sosok mengerikan di depan yang berjalan makin dekat dengan dirinya "Apakah kau sedang mencari sesuatu? Ataukah.. menyelamatkan sesuatu?" Xeth memerhatikan raut wajah Lucan dengan seksama, melihat kedua mata yang bagai pedang menusuk dan mencincang-cincang jiwanya itu, sedikit berkedut "Ouhh, kau ingin menyelamatkan seseorang" Xeth tersenyum penuh makna, terbang tinggi ke atas, memancarkan energinya untuk mencari sosok yang kemungkinan besar ingin Lucan selamatkan.
Tak butuh waktu lama, ia menemukan energi hijau yang terasa lemah, namun juga memancarkan energi kehidupan besar di dalam pegunungan serta kekuatan dari seorang Immortal kalangan bawah. Xeth tersenyum senang menemukan sosok tersebut dan menebak dialah yang ingin diselamatkan oleh Lucan. Namun, baru saja akan melesat ke sana, Lucan sudah muncul di belakangnya, menempelkan sisi tajam pedang merah ke leher Xeth "Jangan coba-coba untuk melakukan itu" ancam Lucan.
"Atau apa?" tanya Xeth.
"Akan kulahap habis jiwa busukmu itu" tukasnya.
Xeth tertawa keras, menunjuk ke arah Reyla yang berada di dalam pegunungan "Apakah kau merasa dalam pihak yang bisa mengancam sekarang?"
Dahi Lucan berkerut, ia melihat ke samping, menemukan pedang Xeth yang siap melesat cepat menghancurkan tempat Reyla berada. Mungkin Lucan memiliki kekuatan yang jauh kebih besar, namun tak menutup kemungkinan Xeth masihlah seorang Immortal dengan kekuatan di atas mahluk Mortal, terlebih lagi Reyla hanyalah mahluk Mortal biasa, ia tak mungkin selamat dari serangan Xeth.
Lucan menggertakkan gigi, andai saja ia bisa membunuh sosok di hadapannya ini sekarang, hidupnya pasti akan terasa jauh lebih nyaman "Apa yang kau inginkan?" tanya Lucan berusaha menahan amarahnya.
"Mudah saja, habisi nyawamu atau gadis itu yang kehilangan nyawanya"