Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
An Icy Journey #3



Saat mereka mencapai permukaan, bangsa Frostheim telah menunggu dengan senjata siap di tangan. Lightnar melangkah maju, mengeluarkan aura naganya untuk menakuti mereka, namun entah karena apa, mereka tampak tak takut sama sekali, bahkan menyengir sombong.


"Tampaknya kalian telah berhasil mengambil cincin terkutuk itu tanpa terluka sedikit pun" ucap Sang pemimpin mereka, orang yang sama seperti sebelumnya.


"Lalu kenapa?" tanya Lightnar.


Laki-laki berwajah tak ramah itu melangkah maju, mengarahkan tombaknya pada mereka "Serahkan cincin tersebut pada kami, kamilah yang seharusnya menggunakan cincin tersebut, andai saja kami tak diperintah oleh Goddess yang bahkan kami tak kenal itu" katanya lantang.


Lucan mengernyitkan dahi, mengepalkan kedua tangan dengan kuat "Kau menghina seorang Goddess? Apa kau tahu akibatnya jika dia ataupun Gods lain mendengarnya?"


Laki-laki itu tertawa keras, menunjuk cincin di jari Lucan "Asal dirimu tahu, selama dia telah memberikan cincin tersebut, maka jiwanya juga akan menghilang, dengan kata lain, kami bebas melakukan apa saja di dunia terkutuk ini dan akan bergabung bersama Arkbyss untuk mendominasi dunia lain"


"Kau-


Lucan menghentikan Lightnar, berjalan mendekati mereka dengan tatapan tajam yang hanya ia berikan ketika benar-benar serius "Kalian bangsa Frostheim, bangsa yang bersaudara dengan Elven, namun sikap kalian jauh lebih buruk dibanding Dark Elf. Kalian sampai tak mengakui Goddess kalian sendiri" Kedua mata Lucan berubah kuning menyala "Mungkin aku membenci Goddess kalian" gumamnya pelan "Tapi.. aku sangat membenci orang tak tahu diri!"


"Apa yang akan kau lakukan? Melawan kami? Jumlah kami bahkan melebihi kalian!" tantang laki-laki tersebut, mengisyaratkan anak buahnya untuk maju.


"Apa kalian pernah mendengar, kualitas jauh lebih penting dibanding kuantitas?" Lucan sengaja membiarkan tubuhnya ditusuk oleh begitu banyak tombak, membiarkan laki-laki tersebut tertawa dengan puas. Darahnya mengalir jatuh ke atas salju, namun Lucan tersenyum sinis. Ia mengepalkan tangan kanan, mengangkat darah tersebut ke atas, darah yang kini diselimuti aura kuning terang dan berubah bentuk menjadi missile "Aku tak pernah menggunakan darahku sebanyak ini sebelumnya, karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi, tetapi untuk menghadapi orang-orang seperti kalian, tampaknya aku harus memberikan pelajaran yang, saaaangat berat"


Lightnar tahu apa yang akan terjadi, melompat jauh membawa Esrene yang membentak karena mereka meninggalkan Lucan "Kau akan tahu alasannya" jawab Lightnar, lalu menurunkan mereka di atas sebuah bukit yang tak jauh dari sana.


Ketika setiap missile melesat cepat, meledakkan tubuh para Frostheim, Esrene akhirnya paham mengapa Lightnar membawa mereka pergi. Jika mereka masih berada disana, kemungkinan besar mereka akan terluka parah. Namun, Esrene sedikit merasa tak tenang menyaksikan tubuh-tubuh terkoyak berserakan di udara, entah mengapa ia merasa sedikit waspada pada sosok Lucan.


Lucan masih tidak menghentikan setiap missile yang menghujani pasukan tersebut, meskipun mereka telah meminta ampun dan memohon, ia benar-benar tak suka melihat ada bangsa yang tak menghormati Goddess mereka.


"Lihatlah bangsamu ini, mereka bahkan tak peduli terhadap dirimu. Mengapa kau begitu melindungi mereka?" gumamnya pelan, kemudian menarik tiap missile yang belum meluncur, mengubahnya menjadi cairan darah dan masuk kembali dalam tubuhnya, sekaligus menyembuhkan dan menggandakan diri untuk mengganti cairan darah yang telah digunakan.


Dari banyaknya pasukan Frostheim, hanya tersisa tak lebih dari setengah di hadapan Lucan yang meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetaran "Kalian bilang, kalian ingin mengambil cincin ini bukan?" Ia melempar cincin tersebut ke hadapan Sang pemimpin yang sengaja ia biarkan hidup untuk melihat wajahnya "Ambil saja kalau bisa, aku takkan menggunakan kekuatanku, silahkan mencobanya dan pahamilah mengapa aku begitu marah melihat kalian tak menghormati Goddess kalian sendiri yang sudah menahan kekuatan menakutkan itu begitu lama untuk membuat kalian aman!" sahutnya marah.


"Kalian yang memakainya atau aku yang akan memaksa kalian untuk menggunakannya?" ancam Lucan.


Mau tidak mau, laki-laki itu mengambilnya, merasakan hawa dingin menjalar ke tiap sudut tubuh, bagaikan bongkahan es tajam menusuk tiap inci kulitnya. Tangan kirinya mulai membeku, namun melihat tatapan Lucan, ia lebih memilih untuk mati karena ini dibanding harus tersiksa.


Saat ia memakainya, seluruh tubuhnya langsung membeku. Jiwanya terperangkap, di dalam kehampaan serta kegelapan. Ia memaksa untuk keluar namun tak bisa, ia terus mencoba untuk menghancurkan jiwanya sendiri, namun tak mampu. Akhirnya, Lucan menghancurkan sihir tersebut, mengatakan "Apa kau mengerti bagaimana rasanya hidup sendiri, tak ditemani oleh siapapun selama ratusan tahun, hanya untuk melindungi bangsa tak tahu diri seperti kalian? Seandainya dia tak ada, kalian sudah musnah"


"Maafkan kami, maafkan kami! Kami benar-benar tak tahu!" pinta laki-laki itu dengan air mata bercucuran, berlutut meminta ampun.


"Kalian tak seharusnya meminta maaf padaku, minta maaflah pada Esrene yang telah berusaha melindungi kalian namun justru kehilangan adiknya dan kalian justru tak berterima kasih" balas Lucan, menunjuk Esrene dengan anggukan,  yang terbang dari jauh bersama Lightnar lalu mendarat di samping Lucan.


Sang pemimpin pasukan itu melihat tatapan lembut dari Esrene, menghantamkan kepalanya dengan kuat ke tanah "Kami benar-benar meminta maaf! Kami bangsa Frostheim mengaku salah. Kami sangat sedih telah kehilangan seseorang yang begitu berharga bagi kami dan kami tak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan perasaan bersalah karena tak mampu melindungi mereka, lalu menyalahkanmu sebagai pelarian" jelasnya sambil terisak.


Esrene berlutut di hadapan orang tersebut, mengangkat kedua pundaknya "Tidak apa-apa, aku tahu apa yang kalian rasakan. Namun, lebih baik kita terus berjuang bersama dibanding saling menyalahkan bukan? Aku juga benar-benar meminta maaf tak mampu melindungi kalian dengan baik sebagai seorang Alpha" ucapnya pelan, lalu menatap tajam Lucan "Namun aku tak setuju dengan caramu yang terlalu kejam"


Lucan menghela napas "Esrene, orang-orang yang hatinya telah dibutakan oleh amarah hanya bisa disadarkan melalui pukulan keras. Mungkin terdengar sedikit kejam, namun kau takkan bisa membuka hati mereka hanya dengan sebuah senyuman dan perbuatan baik" Lucan diam sejenak, lalu melanjutkan "Mungkin bisa, tapi akan memakan waktu yang terlalu lama dan justru perasaan mereka itu akan tertanamkan oleh generasi yang akan datang. Di akhir hal yang sama akan terjadi, kecuali seorang dari mereka memiliki hati yang jauh lebih besar dan ingin melihat kebenaran sebelum mengambil sebuah keputusan"


"Aku sebagai pemimpin bangsa Frostheim, mengaku bersalah atas nama bangsa kami dan akan melakukan apapun untuk menggantinya, namun" ia menahan diri, lalu menyahut "Tolong bantu kami menghentikan bangsa Frosgant!"


"Memangnya apa masalah kalian dengan mereka?" tanya Lightnar penasaran.


"Sebenarnya, bangsa Frosgant telah dikendalikan oleh bangsa Arkbyss dan berniat menghancurkan kami" jawab laki-laki itu dengan cepat "Kami mohon, bantulah kami untuk menghentikan mereka!"


Esrene tersenyum pada laki-laki itu, lalu menjawab "Baik, sebagai seorang Alpha sudah tugasku untuk melindungi kalian semua dari ancaman bukan?"


"Terima kasih banyak, terima kasih banyak" ucapnya berulang kali sambil berlutut, namun sebuah senyuman licik menghiasi wajahnya 'dasar bodoh, dengan adanya cincin ini di tanganku, kalian akan menjadi budakku dan aku akan menjadi orang ternama di bangsa Arkbyss'