
Lucan dan ketiga pengikutnya, bertarung sekuat tenaga menghadapi mahluk gaib yang tiada habisnya itu. Mereka memang tidak sekuat tiga mahluk gaib yang menjadi pengikut Lucan, entah karena mereka memiliki kedudukan yang lebih tinggi atau hal lain, namun jumlah mereka yang tiada habisnya, membuat Lucan dan yang lain kewalahan.
Si serigala dengan cepat menghindar, kemudian membalas serangan seekor cheetah hitam dengan cakarnya, membuat bekas cakaran besar di wajah cheetah tersebut hingga terhempas mundur. Si serigala langsung berlari mendekat, berkumpul bersama Lucan dan dua temannya, dikelilingi oleh begitu banyak cheetah hitam yang gesit serta cepat.
"Biar kami mengatasi bagian sini, pergilah menyelamatkan gadis itu" sahut si beruang sambil saling menghantamkan kepala dua ekor cheetah yang kemudian berubah menjadi asap hitam "Jangan membuang waktu terlalu lama, kita tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika terlambat"
Lucan menghabisi beberapa cheetah sekaligus hanya dengan sekali tebasan pedang emas miliknya. Laki-laki itu kemudian melompat tinggi, menancapkan pedang tersebut ke dalam tanah hingga menciptakan gelombang energi besar, menghapus keberadaan para Cheetah. Namun terdengar derap langkah kumpulan mahluk gaib dengan kekuatan lebih besar ke arah mereka "Aku tidak bisa meninggalkan kalian begitu saja disini. Kita ini teman bukan? Tentu saja kita harus bekerja sama melewati ini semua" balas Lucan.
Si harimau menoleh pada laki-laki itu, menunjuk ke arah pegunungan tinggi di depan dengan kepalanya "Cepat pergilah, kami bisa menahan mereka semua disini. Jangan sia-siakan waktu yang masih memberimu kesempatan untuk menyelamatkannya, kau tidak ingin menyesal di akhir'kan?" tanya si harimau.
Derap langkah yang begitu banyak, terdengar semakin keras dan dekat. Lucan mengepalkan kedua tangan, mengatakan "Setidaknya, beritahu aku nama kalian" pinta Lucan.
"Beron" jawab si beruang.
"Leorn" jawab si harimau.
Si serigala menoleh pada Lucan, menyunggingkan senyum "Wernor"
Lucan tersenyum senang, berlari memasuki hutan "Aku pasti akan menyelamatkan kalian, tunggu saja" sahutnya saat berhenti sejenak, menyaksikan begitu banyak mahluk gaib muncul dari balik pepohonan lebat. Mereka melompat tinggi, akan menerkam tiga teman baru Lucan. Lucan dapat mendengar suara hantaman kuat disertai angin kencang, meniup punggung laki-laki tersebut. Ia berharap, merekalah yang membuat suara itu dan semoga mereka baik-baik saja hingga ia kembali.
Tetapi, tidak ada perjalanan yang mudah, terlebih ketika ingin menyelamatkan seseorang yang begitu dicintai, akan selalu ada tantangan. Terkadang tantangan itu terlalu berat, membuat kita menyerah dan tak ingin lagi bangkit. Lucan tampaknya akan mengalami hal yang sama, dimana di hadapan dia, muncul Grim Reaper yang sama saat menghalangi gerbang istana, namun kali ini jubahnya berwarna merah gelap dan Scythe miliknya memiliki dua pisau, satu di bawah, satu di atas.
Lucan dapat merasakan tekanan kuat dari kekuatan yang dikeluarkan oleh Grim Reaper di hadapannya. Ia sangat yakin, Grim Reaper ini bukanlah mahluk kegelapan biasa yang sering dijumpai di dunia Mortal, terlebih di tempat-tempat dengan sihir gelap yang begitu tebal ini. Grim Reaper di hadapannya, berasal dari dunia bawah, tempat yang menjadi mimpi buruk setiap orang jika telah mati, neraka.
Tiba-tiba, Lucan merasakan kehadiran seseorang yang begitu familiar di belakang Grim Reaper tersebut. Ketika melihat wajah orang itu, dahi Lucan langsung berkerut dan kedua tangannya terkepal kuat "Mengapa kau berada disini? Xeth" tanyanya marah.
Lucan memasa kuda-kuda, ia tahu hal buruk akan terjadi "Aku sudah bilang, aku sudah tak ingin berurusan dengan dunia Immortal lagi. Mengapa kau masih saja memburuku?" Lucan memerhatikan sekitar, menganalisa tempat yang akan menjadi medan bertarungnya, untuk memutuskan apakah ia seorang diri mampu menghadapi dua mahluk berkekuatan besar di depan.
"Hanya karena kau sudah tak lagi seorang Immortal, bukan berarti kau tak ingin balas dendam, benar begitu kan? Lucan Xaverioth" jawabnya, menahan gelombang energi tajam dari tebasan pedang Lucan menggunakan pedang miliknya yang terlihat seperti sebuah katana panjang "Heyy, mengapa terburu-buru? Aku baru saja muncul dan kau sudah ingin membunuhku? Jangan lupa, kau tak bisa menggunakan kekuatan God mu itu terlalu lama atau yang lain akan segera datang" ancamnya sambil tersenyum licik.
Lucan berdecak kesal, menancapkan pedangnya ke tanah, meletakkan kedua tangannya di atas pangkal pedang tersebut "Lalu, kau berencana melawanku bersama Grim Reaper dari Hell itu? Sementara kau tahu aku tidak bisa menggunakan kekuatan utamaku terlalu lama, bukankah ini sedikit tidak adil?" tukasnya.
Xeth tertawa kecil, menghela napas, menjawab "Kau tak pernah tak berhasil membuatku tertawa" Ia menepuk pisau Scythe, lalu bersandar di permukaan datarnya "Tentu saja aku ingin mengetes, apa saja yang kau dapatkan di dunia Mortal ini? Mungkinkah sesuatu yang menarik atau sesuatu yang tak berguna, sama seperti dirimu"
Lucan menggigit bibir, ia sudah tak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang menyebalkan di depan. Lucan langsung bergerak maju, melesat cepat, mengayunkan pedang emasnya yang menimbulkan gema keras ketika berbenturan dengan katana panjang milik Xeth. Mereka saling bertukar serangan, membuat suara dengung keras dari kedua senjata yang saling beradu cepat. Setiap kali mengayun, angin kuat tercipta di sekitar mereka, mendorong kuat pepohonan hingga beberapa lepas dari tanah. Setiap tebasan mereka yang luput, menciptakan gelombang energi besar yang tajam, memotong beberapa pohon lalu berakhir dengan ledakan besar sesuai warna energi mereka.
Grim Reaper itu masih terdiam di tempat, namun tak lama lagi ia akan bergerak ketika menemukan kesempatan yang sebentar lagi diberikan oleh Xeth. Kedua tangannya yang terbuat dari tulang berwarna hitam mengilap, menggenggam kuat Scythe dan langsung melesat ke arah Lucan yang berhasil kehilangan pedangnya sesudah terpancing oleh Xeth.
Lucan melindungi tubuh dengan menyilangkah kedua lengan di depan dada, menahan sayatan Scythe Grim Reaper yang mengeluarkan aura energi kemerahan. Scythe itu terus berputar dengan cepat hingga tak lagi terlihat oleh mata telanjang, menimbulkan suara dari senjata mengerikan membelah udara. Lucan terus bertahan hingga tubuhnya terhempas kuat ke tanah, namun Scythe tersebut terus berputar cepat, mulai berhasil meretakkan zirah emas Lucan yang akan selalu muncul ketika ia menggunakan kekuatan utama.
Ketika Xeth melompat, akan menginjak wajah Lucan, Lucan terpaksa mengumpulkan energinya, meledakkan energi tersebut keluar membuat Grim Reaper itu terhempas ke belakang. Dengan cepat Lucan menarik pedang yang terletak tak jauh darinya, mengayunkannya, menciptakan gelombang energi besar mengenai tubuh Xeth hingga ia terbatuk darah.
Xeth perlahan bangkit berdiri, ia tersenyum senang "Upss, tampaknya kau menggunakan kekuatan utamamu terlalu banyak"
Tepat saat itu juga, beberapa orang berzirah emas langsung muncul di kiri-kanan Xeth. Mereka menggenggam senjata masing-masing dan energi yang begitu besar keluar dari dalam diri mereka, menutupi seluruh pegunungan dengan aura mendominasi yang berhasil mengusir tiap hewan gaib, bahkan Sang Hydra yang berada di dalam altar menggigil ketakutan menyaksikan begitu banyak Immortal turun hanya untuk menghabisi satu orang, meskipun Sang Hydra sendiri pun seorang Immortal. Namun Immortal yang menjaga sebuah barang dengan kekuatan besar bagi dunia para Mortal, kedudukannya tak lebih tinggi dibanding Immortal yang kini berada di wilayahnya.
Xeth membangkitkan kekuatan utamanya, memunculkan zirah emas, lalu menunjuk Lucan dengan katana panjang miliknya "Sekarang, apakah kita bisa bertarung lebih serius?"