
Kerajaan bangsa Akrbyss dapat dikatakan mirip seperti kerajaan Risenland para Elven dan hanya sedikit berbeda dari kerajaan kegelapan milik ratu Ezra. Bedanya, mereka tak menggunakan tanaman sebagai bangunan, hiasan, pagar dan lain-lain, juga sebuah parit penuh air besar mengelilingi kerajaan tersebut, sehingga satu-satunya jalan masuk ialah melalui jembatan panjang menuju gerbang utama, jembatan berukiran indah, menggambarkan kegelapan dalam kehampaan, berhias lampu kecil di sepanjang dinding pembatas, bercahaya putih, seperti sebuah harapan yang selalu menemani dalam tiap keputusasaan. Dalam kerajaan ini, dapat dilihat seluruh bangunannya terbuat dari sebuah batu bata abu-abu dengan cat hitam bercorak acak.
Alzent juga dapat melihat, kerajaan Arkbyss sangat jarang mendapatkan sinar matahari secara langsung, terhalangi oleh kumpulan awan gelap yang mengitari tiap pulau apung di atas kerajaan. Ia masih tidak mengetahui mengapa terdapat pulau apung tepat di atas kerajaan, yang dimana dapat membawa bahaya jika energi yang membuat pulau tersebut tetap mengambang di atas, tiba-tiba habis atau terkena serangan. Mungkin saja, pulau-pulau itu menyimpan sebuah rahasia penting bagi bangsa Arkbyss atau pulau-pulau itu sebenarnya adalah sebuah senjata pertahanan, karena Alzent tahu bangsa Arkbyss tak mungkin sengaja membangun kerajaan di bawah pulau-pulau tersebut hanya untuk tertimpa oleh mereka.
Di sekitar kerajaan juga terdapat begitu banyak hewan gaib dengan kekuatan yang setara dengan T-Rex besar di peperangan sebelumnya. Hewan-hewan itu tersembunyi dibalik hutan berdaun putih lebat dengan batang berwarna hitam-keabuan, seakan menandakan kehidupan dan kematian.
Ada satu hal yang terus mengganggu pikiran Alzent semenjak mereka tiba di dunia ini. Ia merasa, seseorang atau sesuatu terus mengawasinya dari belakang. Alzent tak tahu jika Zeon benar-benar ingin membantu dirinya mendapatkan ingatan masa lalu atau hanya bermain-main dengannya. Orang itu, terlalu misterius untuk dapat ditebak. Dia terus melakukan apapun sesuai kemauannya, dengan menyebutkan 'demi bangsa Arkbyss', tetapi mengapa dia justru membantu musuh yang akan menghancurkan kerajaannya? Mungkinkah dia memiliki motif lain?
"Alzent, Alzent!" panggil Luna.
"O-oh, ada apa?" tanya laki-laki itu kaget.
"Kita sudah berada di depan gerbang kerajaan" jawab Luna, menunjuk sebuah gerbang besar berwarna hitam beberapa puluh meter di depan mereka. Di tiap sisinya, terdapat besi hitam mengilap, memancarkan cahaya kemerahan. Di depan gerbang itu, ada beberapa serigala seukuran truk, berbulu hitam dengan tatapan merah menyala. Zirah terpasang di tubuh serigala-serigala tersebut, zirah yang tampak lebih kuat dari zirah para Holy Knight. Cakar-cakar mereka telah dipasangkan cakar besi tajam dengan ukuran lebih panjang dan tampak mematikan.
Alzent memerhatikan para penjaga gerbang berzirah lengkap, menggunakan mata kegelapannya untuk mengukur kekuatan para penjaga itu, menemukan mereka setidaknya lebih kuat dibanding pasukan biasa yang menyerang Risenland, padahal pasukan biasa tersebut sudah mampu mendesak Alzent dan yang lainnya hingga Gerald mesti turun tangan, membagikan kekuatan besarnya.
"Kita tidak mungkin diperbolehkan lewat. Mereka dapat merasakan kekuatan sihir kita begitu kita mendekat beberapa meter saja. Terlebih, para serigala itu dapat mencium bau dari bangsa lain dengan mudah dan kita akan sangat sulit untuk lolos dari mereka" jelas Luna sembari memerhatikan serigala-serigala bertampang menakutkan dengan seksama.
Alzent cukup terkejut mendengar Luna mengatakan hal itu. Namun, bukan waktunya untuk membicarakan hal tersebut sekarang "Jika Zeon menginginkan kita untuk masuk ke dalam kerajaan yang aku yakin penuh dengan penjagaan dimana-mana, melihat mereka bahkan meletakkan beberapa prajurit setingkat lebih tinggi dibanding pasukan biasa hanya untuk menjaga gerbang. Dia pasti ingin kita memikirkan cara yang tepat, entah itu dengan menyelinap atau mencari jalan masuk lain yang kemungkinan besar ada"
Selagi Alzent memikirkan jalan yang harus mereka pilih, Luna mengatakan "Sepertinya kau tahu banyak soal Zeon. Aku bahkan belum bisa menebak jalan pikir laki-laki misterius itu"
Mereka melompat masuk dalam gerobak tersebut tanpa menimbulkan suara, berkat pelatihan Alzent selama menjadi pasukan elite di bumi. Mereka menunggu hingga gerobak mencapai bagian tengah jembatan yang terasa begitu panjang, dimana pada bagian tengah jembatan, tak ada lampu dan sinar hitam kebetulan sedang mengarah ke sana, sesuai perkiraan Alzent. Mereka langsung melompat ke samping kanan jembatan, Alzent menahan tubuh Luna agar tak jatuh ke dalam air berwarna abu-abu itu, bergelantungan untuk sementara menunggu sinar hitam bergerak pergi dan melompat turun ke sebuah daratan kecil di bawah jembatan.
"Darimana kau tahu ada daratan disini?" tanya Luna.
"Entahlah, aku hanya mengikuti insting yang seketika muncul dalam kepalaku. Untungnya, instingku tak salah, mungkin ada jalan masuk disini" jelas Alzent, melangkah menyusuri daratan yang hanya menjorok pada pilar penyangga jembatan.
Luna dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda pada diri laki-laki itu, namun ia masih tak tahu apa yang tampak berbeda darinya. Hanya saja, hatinya mengatakan untuk berhati-hati terhadap sosok di hadapannya ini, meskipun Luna juga bingung mengapa perasaannya tiba-tiba meminta dirinya untuk melakukan itu, seakan Alzent adalah orang yang jahat.
"Aishh, apa yang aku pikirkan?" tukas Luna pada dirinya sendiri. Ia berusaha menepis pemikiran tersebut, tetapi perasaannya tetap tak dapat tenang.
Alzent berbalik, tersenyum pada Luna "Ada apa? Apa kau butuh istirahat?" tanyanya.
Luna menggeleng pelan sambil membalas senyuman Alzent dengan canggung, ia baru saja melihat sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya merinding "A-ah, t-tidak apa-apa.. Aku masih bisa, hehe" jawabnya gugup. Kini ia benar-benar yakin, dirinya mesti waspada akan laki-laki di depan.
Alzent kembali melangkah mendekati dua pilar besar tersebut, memerhatikan permukaannya untuk mencari sebuah tombol, tuas atau apapun yang dapat memicu jalan rahasia masuk dalam kerajaan tanpa harus melewati para penjaga yang tampak menakutkan itu.
Zeon menyaksikan kedua orang yang berada di bawah jembatan tersebut dari menara penjaga beberapa puluh meter ke kanan dari gerbang utama. Ia menyunggingkan senyum khasnya sembari melipat lengan "Tampaknya kau mulai mengingat sesuatu, aku tak sabar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya" Angin berhembus, meniup tubuh Zeon menjadi kepulan asap hitam "Berhati-hatilah Alzent, terkadang kita memang harus melupakan masa lalu yang tak pantas untuk diingat atau kau akan kehilangan dirimu sendiri"