Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Between Dark and Light



Perang di depan dinding luar yang tercipta dari akar-akar pohon sekuat batu bata lalu diperkuat lagi menggunakan sihir dari Lifestone sehingga sulit untuk di tembus, pasukan musuh sudah mengerahkan pasukan yang terdiri dari Dark Elf dan mahluk-mahluk kegelapan berukuran besar. Jumlah mereka yang begitu banyak membuat Holy Knight kelelahan, bahkan pasukan Elf biasa tampak tidak kuat lagi mengangkat pedang mereka.


Dark Elf justru semakin bersemangat melihat hal tersebut, lalu mulai mengerahkan seluruh dari pasukan mereka. Tanah bergetar dari setiap langkah, membawa mimpi buruk kepada apapun yang ada dihadapannya. Gendang perang terus didentumkan, menurunkan semangat juang bangsa Elf disertai sahutan-sahutan Dark Elf, para Elf tampak akan menyerah.


Sudah beberapa hari terlewati semenjak penyerangan pertama, bangsa Elf terus diserang tanpa henti dan sepertinya Dark Elf mengerahkan pasukan besar mereka kali ini. Menyaksikan pasukan yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu, para Holy Knight mengucapkan sumpah serapah. Mereka benar-benar sudah tak mampu untuk bertahan lebih dari ini.


Asap peperangan menyelimuti udara, membawa pesan buruk pada orang-orang di balik dinding. Dentuman gendang perang, menciptakan rasa takut, mungkinkah ini akhirnya? Setidaknya mereka sudah berjuang keras, tidak apa-apa jika mereka kalah hari ini.


Lalu sebuah raungan keras di langit menyita perhatian. Matahari mulai terbit di timur, di mana seekor naga besar muncul "Hanya seekor Alpha, dia bisa apa melawan kita semua" hina salah satu Dark Elf dan mereka menertawakan hal tersebut, hingga sekelompok naga lainnya ikut terbang mengikuti mereka. Bukan naga-naga biasa, namun naga-naga perkasa berukuran dua kali lipat dibanding naga di Dawnfiant. Kemudian bangsa Harpy juga membawa pasukan besar mereka, tampak begitu menakutkan dengan tatapan haus darah.


Situasi berbalik, pasukan Dark Elf mulai kehilangan semangat, sementara pasukan Elf kembali tersenyum penuh percaya diri dan mengerahkan seluruh pasukan mereka untuk menghadapi Dark Elf secara langsung. Tanpa menunggu lagi, Dark Elf yang melihat gerbang kerajaan dibuka, segera mengerahkan pasukannya "Jangan gentar! Ingatlah! Ratu Ezra bersama kita!!" sahut pemimpin pasukan Dark Elf, menatap Sang ratu yang kini mengawasi sambil tersenyum lebar.


Tanah tersebut berubah menjadi lahan penuh darah dan tubuh tak bernyawa. Asap hitam membumbung tinggi ke angkasa, ledakan menggetarkan tanah, teriakan-teriakan pembangkit semangat dilontarkan. Genderang perang didentumkan makin keras, masing-masing pasukan berusaha semampunya untuk memenangkan perang ini, perang yang akan mengubah hidup mereka, mengubah sejarah dan hilangnya sebuah bangsa.


Holy Knight menggunakan segenap tenaganya, membantu di garis depan menghadapi musuh berukuran besar dan mematikan. Keinginan mereka untuk menyerah, lenyap menyaksikan bala bantuan besar yang dibawa oleh Alzent dan teman-temannya. Terlebih mereka mendapatkan bantuan dari para Harpy yang dasarnya adalah mahluk haus darah, sehingga mereka tak perlu khawatir akan kekalahan.


Alzent dan yang lainnnya bergabung dalam pertempuran besar itu, menghabisi Dark Elf, memperlihatkan sisi yang hanya terlihat pada perang sebelumnya, sisi di mana mereka menjadi mesin pembunuh yang kini tak perlu menahan diri, dapat mengeluarkan potensi asli yang selama ini mereka tahan. Lucan bertarung seperti seseorang yang tergila-gila pada peperangan, merobek-robek pasukan musuh sembari mencuri senjata mereka untuk digunakan, menghadapi pasukan musuh lainnya.


Veron tampak seperti seorang ksatria, menggunakan perisai dan sebuah pedang untuk bertahan serta menyerang. Tapi, Veron sedikit berbeda, ia menggunakan perisai tersebut sebagai sebuah senjata berdaya hancur besar, mematahkan tulang atau meratakan kepala musuh dengan tanah kemudian pedang untuk mengalihkan perhatian, mencari momentum untuk menggunakan perisainya kembali.


Rasa takut mulai tertanam dalam hati pasukan Dark Elf, menyaksikan tiga orang menakutkan menginjakkan kaki di medan perang, terlebih salah satu dari mereka adalah sosok yang berhasil mengalahkan Darkoth. Tapi, mereka masih memiliki sebuah senjata rahasia yang membuat pasukan Dark Elf masih belum ingin menyerah. Senjata itu ada pada ratu Ezra dengan senyuman lebarnya, seakan ia yakin kemenangan adalah milik Dark Elf meskipun dengan bantuan Alzent.


Ratu Ezra tersenyum sembari menatap Alzent yang bertarung begitu memukau, membuat ia sudah tak sabar ingin segera menggunakan mantra sihir tersebut. Sayangnya, ia harus menunggu momen yang tepat dan kebetulan momen tersebut datang dengan sendirinya.


Ratu Urvi menunjukkan diri di depan gerbang kerajaan, ditemani empat Holy Knight. Ratu Ezra mengangkat tangannya, genderang perang terhenti, setiap pasukannya diam di tempat dengan senyuman di wajah mereka. Sementara itu, ratu Ulfi terus berjalan hingga berada beberapa meter dari gerbang kerajaan, berhenti melangkah, mengatakan "Aku minta kau berhenti sekarang!" dengan keras.


"Oh, kenapa?" tanya ratu Ezra.


"Kami tidak ingin berperang melawan Dark Elf, kami tahu kalian berperang karena merasa sudah dikucilkan oleh kami dan karena kemunculan Lifestone, tapi kedua hal itu tidak akan terjadi kembali. Mari kita membangun masa depan yang baru bersama" jelas ratu Urvi sambil tersenyum tulus.


Ratu Ezra tertawa keras "Hahahaha, lucu sekali. Hey ratu muda, kau hanyalah anak kemarin sore, seseorang yang belum berhak memimpin sebuah kerajaan. Kau pikir, semudah itu bagi kami untuk melupakan hal tersebut? Kau pikir, penderitaan yang dialami oleh bangsa Dark Elf tergantikan hanya oleh sebuah perdamaian?" tatapannya berubah tajam "Dirimu masih perlu banyak belajar. Ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa selesai melalui perdamaian" ia menjentikkan jari "Alzent, bunuhlah ratu sampah itu"


Seketika semua orang langsung berbalik pada Alzent yang kini telah kembali ditelan oleh kegelapan.Lightran berusaha mencapai tempat Alzent berada, namun beberapa Dark Elf langsung menahannya, begitu pula Veron dan Lucan. Para Holy Knight di sekitar ratu bahkan belum dapat bergerak, Alzent telah berada di depan Sang ratu, mementalkan keempat Holy Knight jauh ke belakang, perlahan melangkah mendekat dengan sebuah pedang siap di tangan kanan.


"A-Alzent, hentikan" pinta Sang ratu.


Tanpa merespon, Alzent menusuk masuk pedang tersebut ke dalam tubuh Sang ratu. Tatapan dingin dari sepasang mata gelap adalah hal terakhir yang dilihat oleh Sang ratu sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Darah segar mengalir keluar, mengenang di bawahnya, menandakan sebuah kemenangan. Namun, perang sama sekali belum selesai.