
"Kenapa Reyla harus pergi kesini? Tempat ini terlalu mengerikan" keluh Lucan, sembari menyusuri jalan utama yang lurus menuju gerbang istana. Jalan tersebut cukup lebar, sekitar sepuluh meter dengan kabut putih menutupi permukaan. Bangunan di kanan-kiri terbuat dari sebuah batu hitam dengan burung-burung gagak bertengger di ujung atap, mengeluarkan suara yang membuat bulu kuduk merinding.
Lucan terus berbalik ke belakang, sebab merasakan seseorang atau sesuatu mengikutinya, semenjak ia menginjakkan kaki masuk melewati gerbang. Detak jantungnya terus berdegup cepat, napasnya memburu. Ia berusaha menghilangkan rasa takut dengan membuka-tutup telapak tangan sambil memikirkan Reyla, namun di setiap ujung lorong gelap, tanpa pencahayaan, sepasang mata merah menatap lurus. Jiwa Lucan seakan merasa ditatap langsung, begitu menusuk dan mengerikan.
"Mengapa dia begitu berani? Tempat ini, sudah terasa seperti wahana hantu.. Siapa disana?" Lucan berbalik ke belakang, tak menemukan siapa-siapa. Namun, tak sampai sedetik yang lalu, ia benar-benar merasakan kehadiran seseorang berhawa dingin, seakan ingin menyentuh leher belakang "Ayo Lucan, kau pasti bisa, demi Reyla" ucapnya menyemangati diri.
Ia terus melangkah menyusuri jalan tersebut dengan pelan. Ia tak ingin mahluk-mahluk besar menakutkan itu tiba-tiba menerkamnya, tanpa ia sempat memberi perlawanan. Bukannya Lucan tak bisa menggunakan kekuatan besar miliknya, hanya saja ia tak ingin keadaan Reyla semakin dalam bahaya karena tiap mahluk tersebut merasakan tekanan dari kekuatan yang jauh lebih besar, lalu memutuskan untuk menghabisi Reyla lebih cepat.
Tetapi, semenjak Zeon memperlihatkan gambaran tersebut, Lucan merasa Reyla seharusnya sudah tiada atau terluka parah, sebab telah lewat beberapa hari semenjak ia kembali dari Frozenland "Tidak, aku yakin Zeon hanya memainkan perasaanku dan menunjukkan sebuah ilusi, tak mungkin Reyla dalam bahaya" tukasnya, namun rasa takut kehilangan, semakin menguasai.
Lucan mempercepat langkah, merasakan sesuatu mengikuti dari belakang. Dengan cepat Lucan berbelok ke sebuah lorong sempit, disana ia bersembunyi, menahan napas ketika melihat sosok pakaian hitam, melayan di atas udara. Jubahnya berwarna hitam pekat dengan sedikit robekan disana-sini, di dalam kerudung hitam yang ia pakai, terlihat sepasang mata merah tanpa wajah, namun memiliki mulut dengan deretan gigi tajam menjorok keluar. Kedua tangannya yang terlihat seperti sebatang kayu, berwarna hitam, keriput. Jari-jari kurus dan panjang dengan kuku menjorok keluar menghias mahluk mengerikan tersebut.
Perlahan, ia melewati gang sempit tempat Lucan bersembunyi. Hawa dingin begitu terasa dan kuku-kuku panjangnya mengiris tanah, menimbulkan suara gemericik yang begitu mengganggu. Lucan berusaha menahan suaranya untuk tidak keluar, melihat kuku mahluk tersebut hampir saja mengenai ujung sepatu lucan. Jantungnya berdegup kencang, napasnya mulai memburu.
Baru saja Lucan akan keluar, wajah mahluk itu tiba-tiba muncul di depannya, dengan senyuman lebar mengerikan. Lucan langsung melompat tinggi, menghindar dari cakaran mahluk tersebut. Ia berguling ke depan, berlari menuju gerbang utama istana tanpa memedulikan mahluk aneh yang mengejarnya dan tak hanya satu, ternyata ada begitu banyak mahluk yang sama, keluar dari gang-gang sempit nan gelap, termasuk gang tempat ia bersembunyi tadi.
Semakin jauh ia berlari, mulai terlihat hewan-hewan gaib ganas serta menakutkan. Mereka ikut mengejar Lucan dengan kecepatan tinggi. Seekor harimau berkulit hitam, dipenuhi bekas cakaran, hampir saja menerkam kepala Lucan, jika saja ia tak menunduk dan mempercepat langkah. Lucan sudah tak memikirkan apa-apa lagi, satu-satunya yang ada dalam pikirannya hanyalah kabur dari semua mahluk menyeramkan itu, bersembunyi lalu mencari Reyla.
"Yess, sudah dekat dengan gerbang istana" sahut Lucan bahagia.
Sayangnya, mahluk yang tampak seperti Grim Reaper, muncul di depan gerbang, seukuran dengan rumah dua tingkat, menghalangi jalan. Lucan menoleh ke belakang, memperhatikan mahluk-mahluk yang semakin dekat dengannya, siap menerkam, mencincang, memakan jiwanya hingga tak bersisa.
"Kalian yang memintanya!" Lucan mengumpulkan seluruh kekuatan utama dengan cepat, menghempaskan kekuatan bersinar keemasan tersebut, menghabisi semua mahluk yang berjarak lima puluh meter darinya. Lucan melirik sekitar, memerhatikan apakah ada yang tersisa, lalu menghilangkan kekuatan yang membuat tubuhnya diselimuti oleh cahaya keemasan, kemudian membuka gerbang istana.
Hewan-hewan gaib yang tampak seperti harimau berbadan hitam, serigala berkepala dua serta beruang dengan empat lengan itu bergerak maju, siap menghabisi sosok Vampire di hadapan mereka. Mereka tampak begitu mengerikan dan kejam, hewan-hewan yang sangat cocok berada di dalam pasukan Arkbyss, bahkan kekuatan mereka juga tak dapat dibilang kecil, meskipun Lucan tak terlalu sulit mengatasinya. Cuma, mereka pintar.
Saat Lucan akan menghabisi serigala yang tercepat di antara mereka, harimau langsung maju menerkam, membuat Lucan terpaksa menghindar, lalu yang beruang akan menghantam Lucan saat itu juga, sehingga, Lucan tak mampu melancarkan serangan sebab si serigala selalu mengganggunya untuk mengendalikan pedang darah dan ketika Lucan maju akan menyerang, kombinasi yang sama selalu membuatnya terpukul mundur.
"Aku benar-benar membenci hewan yang memiliki akal seperti ini. Seandainya mereka menjadi teman, aku tidak masalah, tapi menjadi musuh? Mereka harus mati" ucap Lucan cukup keras hingga didengar oleh mahluk-mahluk tersebut.
Tiba-tiba,si harimau mengaum kuat, membuat kepala Lucan pening, kemudian si beruang memukul tanah, menciptakan gelombang yang berhasil menghempaskan Lucan ke dinding. Sebelum Lucan dapat bergerak, si serigala langsung menghantam kembali Lucan dengan cakar, menahannya disana. Serigala itu menggertakkan giginya, matanya menatap tajam dan ia mengatakan "Kau ingin membunuh kami?"
"Kalian bisa bicara?" tanya Lucan terkejut, sembari mengumpulkan kekuatan utamanya diam-diam, agar si serigala tak menyadarinya.
Hewan-hewan tersebut datang mendekat. Mereka memancarkan kekuatan yang tak lemah, hampir sama kuatnya dengan Lightnar "Tentu saja kami bisa bicara, apa yang kau harapkan? Kami hanyalah mahluk yang tak memiliki akal dan cuma tau membunuh?" balas si beruang.
"Bukan cuma kalian yang memiliki otak, kami juga memilikinya dan melihat dari caramu menyerang, tampaknya kami lebih pintar darimu" tukas si harimau sambil menyeringai sombong "Sayang sekali, padahal kami mengharapkan lawan yang pantas sesudah merasakan tekanan energi yang begitu kuat sebelum kau memasuki gerbang. Ternyata, hanya seseorang yang bahkan tak pantas menginjakkan kaki disini"
Lucan memasang senyum menyebalkannya "Lalu, kalian pikir kalian pantas? Ini adalah istana milik ratu Ezra. Kalian yang cuma budaknya, tolong jangan nilai diri kalian terlalu tinggi"
Perkataan Lucan itu, mendapatkan auman keras dari si harimau, serta kuku tajam miik si serigala mulai menusuk masuk dadanya "Jangan pernah menyebut kami sebagai budak. Kami bukanlah budak siapa-siapa, ratu pengecut itu menggunakan sihir gelapnya untuk langsung mengendalikan kami tanpa memberi kesempatan kami untuk melawan" jelas si beruang dengan sedikit nada mengancam.
"Bukankah itu artinya, ia melihat kalian sebagai mahluk rendahan yang bahkan tak cocok dijadikan sebagai lawan?"
Si serigala menusuk masuk kukunya, membuat Lucan memuntahkan darah segar. Namun, Lucan hanya tersenyum, menggenggam kakinya itu, kemudian memutarnya hingga patah dan mengalirkan kekuatan besarnya hingga meledakkan tubuh serigala tersebut. Lucan bangkit berdiri, cahaya keemasan mulai mengelilingi badannya "Jangan mengira, aku adalah mangsa bodoh yang tak tahu bertarung. Kalian bahkan tak tahu siapa diriku" kedua matanya berubah kuning terang dengan sinar keemasan menjorok tinggi ke atas langit. Di saat itulah, dua mahluk yang tersisa tahu, mereka seharusnya tak mencari masalah dan lebih baik untuk mengikutinya.