
Alter memegangi dada yang kini tertusuk. Ia berusaha menarik keluar pedang tersebut, namun kedua tangannya gemetaran. Bukan karena ia menjadi lemah, tetapi amarah Alzent mulai memuncak. Alter mesti menahan amarah tersebut atau pada akhirnya tubuh ini hanyalah sebuah mesin pembunuh saja.
Di tengah-tengah para pasukan yang sedang bertarung, mempertaruhkan nyawa demi apa yang mereka percayai, terjadi sebuah penghianatan antar dua orang. Pedang-pedang saling berbenturan, terayun cepat menyayat tubuh lawan. Hanya teman-teman Alzent yang menyadari penghianatan tersebut, mereka meneriakkan namanya, namun ditahan oleh lawan masing-masing untuk tidak ikut campur. Zeus perlahan bangkit berdiri, tertawa pelan dan makin keras hingga dapat tergema di langit, menarik perhatian semua orang yang langsung tertegun menyaksikan sosok pahlawan mereka kini jatuh berlutut di tanah, bersimbah darah dengan sebuah pedang di dada.
"Alzent, tenangkan dirimu" ucap Alter pelan, tetapi laki-laki itu tampak tak mendengarkan dirinya.
Zeus menghela napas panjang, menyungginkan senyum lebar penuh kesombongan "Sayang sekali. Inilah yang membuat kalian para Mortal adalah mahluk yang lemah! Kalian terlalu bergantung pada perasaan, sedangkan kalian bisa menjadi mesin pembunuh. Sama seperti bangsa Hellraiser sebelumnya, hancur dan menghilang karena perasaan semata, sesuatu dalam diri yang sama sekali tak dibutuhkan" Zeus melangkah mendekat, berlutut di hadapan Alter, memegang dagunya "Kau tahu, untuk menjadi seorang penguasa, kau mesti membuang perasaanmu itu atau halangan serta rintangan selalu mengganggu jalanmu menuju tempat yang lebih tinggi" ia mendorong wajah Alter ke samping, menciptakan sebuah petir kecil di atas jari telunjuk "Bagaimana kalau aku memberikan sesuatu demi menyadarkan dirimu, sesuatu yang disebut dengan 'keputusasaan'"
Sedetik kemudian, Zeus mengarahkan jari telunjuk kirinya tepat ke ujung pedang di dada Alter, mengalirkan petir mini tersebut masuk ke dalam luka dan menyetrumnya dari dalam, memberikan rasa sakit tak tertahankan hingga ia menjerit kesakitan, menatap langit mencoba menahan sakit yang seakan ingin meledakkan tubuh menjadi kepingan-kepingan kecil.
Seluruh medan pertempuran terdiam, terpaku pada cahaya kebiruan dari arah kedua orang tersebut. Para pasukan di pihak Alzent mengernyitkan wajah sembari menggertakkan gigi, mencengkram erat senjata masing-masing. Mereka ingin membantunya, mereka ingin berlari ke sana dan membebaskan Alzent dari rasa sakit yang sulit dibayangkan ketika mendengar jeritan yang membuat seluruh bulu kuduk berdiri. Sedangkan di pihak Zeus, masing-masing dari mereka tersenyum senang, merasa bangga telah memilih tuan yang benar. Mereka bahkan ikut bersorak selagi Zeus melakukan hal tersebut, menaikkan emosi para pasukan di pihak Alzent.
"Kau dengar itu? Mereka bahkan ikut bersorak. Itulah tandanya seorang raja yang pantas berkuasa.. tak seperti dirimu, berkekuatan besar.. namun terhianati oleh seorang perempuan yang bahkan..." Zeus berbisik di telinga Alter "Tidak mencintai dirimu, HAHAHAHA....!!" ia terus tertawa, mengalirkan lebih banyak energi listrik sampai membuat sekujur tubuh Alter dipenuhi keringat.
Di dalam ruang bawah sadar, Alzent bertekuk lutut, menyembunyikan kepala di antara kaki dan badan. Menutup mata dengan erat, menahan tiap tetes air mata yang perlahan makin deras, penuh isakan. Ia menggigit bibir, mengingat semua kenangan yang sudah mereka lalui bersama sebagai seorang teman, berlanjut hingga perasaan keduanya memekar menjadi sebuah cinta. Ia bahkan sengaja menjauhkan diri dari Yuna demi gadis itu, namun beginikah perlakukan yang ia terima di akhir?
Alzent mengepalkan tangan dengan kuat, menatap tajam Zeus dari layar di depan "Biarkan aku mengambil alih tubuhku kembali" pintanya.
"Ya"
Alter mengangguk mengerti, di luar ruang bawah sadar, kepala Alter seketika jatuh tertunduk ke bawah. Ia menjadi diam, tak lagi terdengar jeritan penuh rasa sakit yang mendalam. Semua orang mengira dia benar-benar telah kehilangan nyawa, mengirim keputusasaan pada para pasukan dan kemenangan serta sorak-sorai bagi pasukan musuh. Yuna meneriakkan nama "Alzent!" dengan kuat, mencoba melepaskan diri dari pegangan Gerald yang sedang menahan tubuhnya untuk tidak berlari ke sana dan terbunuh oleh Zeus.
Satu per satu pasukan jatuh ke tanah, melepaskan genggaman pada senjata masing-masing. Sosok yang selama ini sudah menjadi panutan bagi mereka, sosok yang berhasil menyatukan tiap bangsa dan membentuknya menjadi satu kesatuan pasukan besar, kini telah tiada... terbunuh di tangan kekasih... mati di hadapan seorang Immortal. Menyaksikan semua itu, membuat perasaan campur aduk. Mereka tidak tahu harus bersikap seperti apa, seolah-olah seluruh tujuan mereka bertarung telah hilang, terbawa pergi bersama jiwa yang malang.
Lucan dan Veron mengepalkan tangan, menggigit bibir menahan tangis melihat sahabat sejati serta saudara seperjuangan telah pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun, terlebih ia mati di tangan seorang gadis yang mereka percaya. Sosok yang mungkin dapat mengembalikan Alzent seperti semula semenjak kehilangan Yuna, tetapi ternyata mereka salah. Mereka tertipu oleh penampilannya yang mirip dan langsung mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Perlahan energi dalam diri Lucan serta Veron bertambah. Garis-garis tribal pada tubuh Lucan kini bercahaya makin terang dengan warna kemerahan. Sekujur tubuhnya tertutupi oleh zirah hitam pekat dengan pola-pola merah di tiap pergelangan serta membentuk sebuah pola robotik di bagian dada. Tubuh Veron kini terbalut kain hitam tebal yang di tiap ujungnya berubah menjadi kabut hitam, tertiup pelan ke udara. Sebuah Scythe dua sisi tercipta dari energi gelap dalam dirinya, sebuah energi baru yang belum pernah ia rasakan, namun selama ini tersembunyi, menunggu waktu tepat untuk kembali bangkit.
Para pasukan musuh yang sedang bersorak seketika terdiam, merasakan dua kekuatan besar yang tak kalah kuatnya dari Alzent muncul dari dua orang di dekat kapten Leo serta raja Arslaz. Mereka tak pernah menyangka kedua orang tersebut, ternyata juga memiliki kekuatan besar menyamai Immortal kelas atas, membuat mereka bertanya-tanya, siapakah sebenarnya ketiga orang ini? Mengapa mereka sebelumnya tak pernah terdengar di dunia Immortal, kecuali Lucan yang mereka sudah sadari sebagai seorang Godslayer, namun mereka tak pernah melihat maupun merasakan kekuatan sebesar itu dari dua orang lainnya.
Zeus berbalik pada kedua orang itu, menggertakkan gigi menahan emosi. Ia mengira peperangan ini telah selesai dengan kemenangan di pihaknya, sehingga ia dapat menghancurkan dunia ini sebagai pelampiasan sekaligus kesenangan. Tetapi, melihat adanya dua orang yang dapat mengancam dunia para Immortal, mau tidak mau Zeus harus berurusan dengan mereka sambil berharap kedua orang ini bukanlah lawan yang sulit untuk ditangani.
Lucan melangkah ke depan, menghentakkan kakinya ke tanah. Semua orang dapat merasakan energi besar menjalar cepat dari dalam tanah, terus menyebar luas. Lucan menoleh pada para pasukan, menyahut "Apa kalian akan menyerah begitu saja?!" satu kalimat itu sudah membuat tiap pasukan merasakasan sesuatu dalam hati "Apa kalian akan membiarkan Alzent terbunuh dengan sia-sia?! Ataukah kalian akan membalaskan kematiannya dan membawa kemenangan bagi dia! Dan kita semua!!"
Veron melangkah maju "Jangan lupa, orang-orang yang kalian kasihi, orang-orang yang kalian sayangi, keluarga, teman, siapapun itu! Mereka sedang menunggu kehadiran kita kembali dengan sebuah harapan! Apa kalian ingin membuat mereka kecewa dan sedih karena membuang nyawa sia-sia disini?" Veron terdiam sejenak, menutup mata, membayangkan wajah Urvi yang sedang marah atau kesal, membuat ia tersenyum mengingat sifat kekanak-kanakannya itu "Jangan menyerah! Itulah yang pernah Alzent katakan pada kita semua!! Apa kalian pernah melihat dirinya jatuh tak berdaya, ketika menghadapi musuh yang jauh lebih kuat darinya? Tidak!!" satu per satu pasukan mulai bangkit, mengusap air mata dengan punggung tangan, meraih senjata masing-masing dan berdiri tegap dengan tatapan yang mengatakan 'Aku sudah siap'.
"Jadi, aku mohon pada kalian semua, demi Alzent- tidak, demi masa depan kita bersama! Kita akan membalaskan dendam Alzent dan membawa kemenangan bagi para Mortal!!" tiap pasukan ikut bersorak bersama Lucan, diikuti Veron, Gerald, Yuna dan Reyla. Melihat ini, timbul rasa ciut di hati pasukan musuh, padahal tak sampai beberapa menit yang lalu mereka bersorak melihat kejatuhan mereka, namun tak butuh waktu lama mereka kembali bangkit hanya karena kematian satu orang? Para Immortal tak dapat mengerti hal ini, mereka tak pernah mempedulikan siapa yang mati atau karena apa. Mereka hanya menggunakan alasan 'balas dendam' untuk bersenang-senang, sehingga menyaksikan pemandangan seperti ini, sungguh membuat jantung berdegup kencang dan beberapa dari pasukan Immortal, mulai terbuka hatinya.