
Dunia para Immortal gentar melihat sosok yang sudah lama menjadi mimpi buruk mereka, kini kembali muncul dalam keadaan tak terluka, tampak masih baik-baik saja dan sudah pasti membawa balas dendam pada mereka. Terlebih ketika menyaksikan begitu banyak pasukan Titan berada di belakang Kronos, tampak begitu ganas dan memancarkan kekuatan besar.
Zeus menggertakkan gigi melihat pemandangan di depannya, pemandangan yang lebih cocok dikatakan sebagai mimpi buruk. Mungkin, para Mortal memang akan hancur dari dunia, namun melihat ini, sepertinya para Immortal juga akan ikut menghilang. Ia bersiap-siap, menunggu sosok tersebut datang menyerang. Krono hanya tersenyum, menatap lalu menunjuk sesuatu di belakang Zeus. Zeus berbalik dan begitu sadar itu hanyalah sebuah pengalihan, Kronos sudah muncul di depan, melayangkan sebuah pukulan hingga membuat Zeus terlempar jauh menghantam pegunungan hingga hancur berantakan. Kronos masih belum berhenti, ia berteleportasi ke samping, meraih kerah pakaian Zeus dan melemparnya ke bawah, menciptakan kawah besar dengan sebuah jurang dalam di kedua sisinya.
Kronos melebarkan kedua tangan. Tiap lahar di tubuhnya bercahaya terang. Tidak lama, begitu banyak lahar tersembur keluar dari dalam tanah, mengikuti tiap pergerakan tangan dan masing-masing mendekat ke arah bagian tengah kawah, membanjirinya. Kemudian Kronos mengubah lahar tersebut menjadi bebatuan dingin berwarna kehitaman. Ia pun menunggu sambil melayang di atas. Ia dapat merasakan sesuatu muncul di belakang, Kronos langsung berbalik, menahan tinjuan tersebut dan memutar tangan Zeus ke samping kemudian menendangnya ke bawah.
Zeus berusaha bangkit berdiri, namun ratusan meteor besar melesat cepat ke arahnya. Baru saja akan terbang, sebuah bebatuan hitam keras menahan kedua tangan. Ia mengalirkan listrik dalam jumlah besar, berniat menghancurkan bebatuan itu, tetapi usahanya tak menunjukkan hasil dan ratusan meteor menimpa dirinya. Tiap orang di medan perang tampak terkejut melihat para Titan bersama-sama mengeluarkan kubah pelindung besar yang melindungi mereka dari lampiasan ledakan besar serta mendengar suara ledakan bertubi-tubi serta gempa besar yang terjadi dari arah cahaya terang bermunculan. Tak seorang pun ingin membayangkan apa yang sedang terjadi disana, hanya merasakan getaran kuat di tanah, hati mereka sudah ciut.
Tak lagi terlihat hutan hijau dibalik pegunungan. Hanya terdapat lahan tandus penuh kawah raksasa, berhias lahar panas dan bebatuan keras. Zeus perlahan bangkit berdiri, ia dapat merasakan sakit di sekujur tubuh. Kronos melayang turun dari udara, melipat lengan sambil memandang rendah sosok di depan "Apa yang sudah terjadi pada dirimu Zeus? Baru beberapa ribu tahun terlewati dan kau sudah tampak begitu lemah? Ayolah, cuma kau satu-satunya yang bisa mengusir kebosananku. Jangan mengecewakan 'teman' lamamu ini" ucapnya, sengaja menekan kata 'teman'.
Zeus mengeluarkan listrik dalam jumlah besar, mengalir di sekujur tubuh "Jangan harap aku akan berbelas kasihan padamu sesudah kau melakukan ini padaku" ancamnya, maju menerjang melayangkan sebuah tinju yang mengeluarkan angin kuat begitu ditahan oleh Kronos.
Laki-laki itu mendengus lalu tertawa kecil "Apa kau sedang bercanda? Bisakah kau melihat dimana posisimu sekarang berada?" tatapannya berubah tajam, ia menghempaskan energi besar yang berhasil membuat Zeus membelalakkan mata "Berhenti bermain-main" ia mendorong Immortal tersebut jauh ke belakang, berleportasi ke belakang, menendang Zeus tinggi ke atas melewati awan kemudian menendangnya dengan kuat kembali ke medan perang dimana terjadi ledakan besar lagi begitu tubuh Immortal itu menghantam tanah. Untugnya, para Titan selalu siaga ketika mengetahui akan terjadi ledakan atau serangan berakibat fatal pada para Mortal, sehingga mereka masih dapat menghirup napas, menyaksikan bagaimanakah sebenarnya pertarungan para mahluk dengan kekuatan di luar nalar.
Kronos mendarat di tanah, bangkit berdiri sambil tertawa keras. Tak lama sebuah pedang melesat cepat ke arahnya, Kronos berhasil menangkap pedang tersebut, mematahkannya kemudian berbalik ke arah seorang gadis cantik yang tampak sedang dalam posisi untuk menyerang. Kronos menaikkan alis, tak menyangka ada seorang Immortal tak dikenal berani menantang. Ia pun berteleportasi ke depan gadis tersebut "Bolehkah aku mengetahui namamu sebelum kau hancur tak bersisa?" tanyanya, bersikap normal seakan pertanyaan itu adalah hal biasa.
Tanpa memberikan jawaban, ia menusukkan pedang ke dalam tubuh Kronos. Namun, Titan tersebut tampak baik-baik saja. Ia pun tersenyum begitu melihat rasa takut mulai menguasai si gadis cantik, tetapi tak berotak "Aku memintamu untuk memberitahukan nama, bukan memberikan luka" Kronos meninju perutnya, membuat dia memuntahkan darah segar dan langsung jatuh berlutut di tanah "Dasar tak tahu diri" ia pun berbalik, menangkap petir yang dilemparkan Zeus, kemudian menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil. Ia berteleportasi tepat ke samping Zeus, berkata "Tidak baik menusuk orang dari belakang, kau tahu itu?" kemudian meninju wajah tersebut hingga lebam. Tubuh Zeus kembali terlempar jauh menghantam sisi lain pegunungan. Kronos menyaksikannya sembari tersenyum senang, puas melihat orang itu akhirnya merasakan apa yang dinamakan keputusasaan.
Situasi dalam medan perang pun berbalik. Para pasukan Immortal Zeus tak sedikit yang kehilangan nyawa karena berhadapan dengan para Titan. Mereka tampak tak sanggup menghadapi mahluk-mahluk besar berkekuatan luar biasa itu, seperti semut menghadapi seekor harimau. Para pasukan di pihak Alzent, tak tahu harus merasa senang atau takut melihat para Titan, tetapi setidaknya untuk sekaran mereka bisa menarik napas sambil memerhatikan pembantaian yang sedang terjadi di depan mata. Tidak butuh waktu lama, pasukan bangsa Arkbyss pun ikut terdesak menghadapi seluruh pasukan yang tadinya terpecah untuk menghadapi pasukan Immortal dan pasukan Arkbyss, namun kini mereka telah bersatu, menjadi lawan yang sulit untuk dikalahkan, terlebih mereka diberi sihir penyembuhan oleh salah satu Titan, membuat mereka kembali dalam kondisi bugar serta penuh semangat.
Pertarungan Zeus dengan Kronos telah merusak dunia tersebut hingga sulit lagi untuk dikenali. Para mahluk yang sebelumnya disimpan oleh para Arkbyss sebagai senjata perang, kini terlepas dari pulau apung. Salah satunya adalah mahluk besar dari dunia Frozenland yang dengan mudah menginjak-injak para Immortal, menghancurkan mereka sembari mengamuk.
Pemandangan yang mereka semua saksikan pada saat ini akan terus berbekas dalam ingatan. Tak seorangpun akan melupakan waktu dimana hidup dan mati serasa begitu dekat. Sekali salah mengambil keputusan, maka hidupmu berakhir. Tak sedikit juga pasukan yang telah kehilangan nyawa, mengorbankan hidup mereka demi keselamatan yang lain, sosok pahlawan selain Alzent. Laki-laki itu kini terbaring di samping Yuna, gadis dengan tubuh bersinar makin terang dan tak lama lagi akan menghilang. Yuna memangku kepala sosok yang pernah ia cintai dan sampai sekarang pun masih, perasaannya takkan pernah menghilang sampai kapanpun. Sayangnya, waktu berkata lain. Setidaknya, untuk sekarang, walau sebentar, ia bisa menghabiskan waktu bersama, menatap wajah tampan itu untuk keterakhir kali. Air matanya jatuh menetes membasahi wajah Alzent sembari mengusap-usap kepalanya. Kronos dari kejauhan sempat melihat, lalu kembali membabak-belurkan Zeus.
"Aku tak menyangka, karena sebuah keputusan yang aku buat, semuanya menjadi seperti ini" ucap Lucan, memerhatikan keadaan sekitar dimana beberapa tornado berukuran besar diciptakan oleh mahluk dari Frozenland itu berhias awan-awan gelap memancarkan petir disertai gemuruh guntur dan tanah yang tak lagi berupa tanah, melainkan mirip seperti sebuah dunia bawah, dunia asing tak dikenal.. begitu menyeramkan... sebuah malapetaka.
Veron menghela napas "Apa yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Namun, aku tak tahu apalagi yang harus kita lakukan sesudah ini"
"Menyelamatkan bumi?" Lucan melihat di kejauhan, lalu menjawab "Entahlah"
"Apa maksudmu entahlah?" tanya Yuna tersinggung tanpa mengusap air mata "Alzent sudah berjuang keras demi hal itu dan kau sebagai sahabatnya berkata, entahlah? Apa kau masih dapat mengganggap dirimu sendiri sebagai seorang 'sahabat?'"
"Aku tidak tahu oke! Aku tahu aku sudah membuat keputusan yang salah dan aku tahu aku tak bisa lagi menjadi seorang sahabat bagi Alzent, tapi.. tapi.... bagaimana caranya aku bisa menyelamatkan bumi sementara aku sendiri yang sudah membuat bumi dalam bahaya? Jika saja.. jika saja.. Alzent masih... ada" Lucan berusaha menahan tangisnya yang kini tak lagi dapat terbendung.
Gerald datang mendekat, berlutut di samping lima remaja itu "Sekarang, kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya"
Tepat sesudah ia mengatakan itu, terlihat tubuh Zeus berhasil ditembus masuk oleh tangan Kronos. Zeus memuntahkan darah, ia terbatuk-batuk dan menatap tajam sosok di hadapannya "J-jangan pikir kau sudah menang.. para Immortal takkan.. membiarkan ini begitu.. saja"
Kronos tersenyum, ia menarik keluar tangannya, melempar tubuh Zeus ke udara lalu mengumpulkan energi besar hingga tanah mulai retak. Dunia itu terasa ikut gemetar hebat dan dapat dirasakan sesuatu dari dalam sedang mencari jalan keluar dengan cepat. Begitu mata Kronos bercahaya terang, tiap tanah hancur, mengeluarkan pancuran lahar panas. Angin berhembus kencang, membawa awan penuh badai memutar membentuk spiral tepat di atas laki-laki itu. Terjadi begitu banyak bencana alam yang sulit dibayangkan dengan nalar, namun begitu melihatnya dengan mata kepala sendiri, maka akan menjadi pemandangan yang membuat kita mempertanyakan, selemah apakah diri kita ini di alam semesta yang begitu luas?
Terjadi malapetaka besar, sesuatu yang mungkin kita katakan sebagai 'kiamat' atau 'The End of The World'. Tak seorang pun tahu apa yang terjadi pada Zeus dan Kronos serta Titan-Titan lain. Tak seorang pun tahu bagaimana mereka tiba-tiba sudah berada di Risenland, tampak baik-baik saja tanpa sedikit pun luka, membuat mereka bertanya-tanya apakah sesuatu semengerikan sekaligus semenakjubkan itu pernah terjadi, namun melihat warga Arkbyss kini juga berada di Risenland, sudah menjadi bukti bahwa mereka pernah mengalami semua itu. Situasi antara hidup dan mati, nyawa serasa di ujung tanduk, menyaksikan teman seperjuangan, orang yang dicintai dan disayangi mati mengorbankan nyawa. Sebuah kisah lengkap perjuangan serta pengorbanan dalam satu peperangan. Perang besar yang takkan terjadi untuk kedua kalinya, atau.. mungkin akan terjadi kembali... suatu saat nanti.
Terdengar suara ketukan di pintu, Lucan membuka pintu, membawakan terai berisi bubur dan meletakkan di atas meja, samping tempat tidur "Bagaimana keadaannya?" tanya Lucan dengan penuh harap, namun kembali sedih begitu melihat gadis di samping Alzent menggelengkan kepala "Oh begitu"
Ruangan yang penuh akan orang, terasa begitu sepi dan sunyi. Masing-masing dari mereka menatap wajah seorang laki-laki yang pernah menjadi kekasih, sahabat, lawan tanding bahkan musuh. Mereka tak menyangka, seseorang yang berhasil menyatukan mereka semua kini terbaring di atas kasur, dengan mata tertutup dan dada naik-turun normal, seolah ia sedang menikmati tidur siang, bukannya tertidur entah untuk waktu berapa lama, kemungkinan besar selamanya.
"Aku rasa, kita harus membiarkan Alzent beristirahat" ucap Veron, dibalas dengan anggukan oleh tiap orang.
Mereka pun mulai berjalan keluar, akan menutup pintu hingga Lucan menyahut "Jarinya bergerak!" dan mereka bergegas kembali masuk, menunggu saat yang telah mereka harapkan terjadi.
Yuna mengusap wajah tampan itu, memanggil "Alzent?"