Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Cold As Ice



Sebelum Alpha es itu memukul wajah Lucan, sesudah ia berubah menjadi sosok gadis berambut putih-kebiruan dengan dua bola mata besar yang membuatnya tampak imut, terdengar suara keributan tak jauh dari tempat mereka berada.


Mereka bergegas ke sana, menemukan bangsa Froztheim yang sementara berperang melawan bangsa yang mirip seperti Gigant, namun dengan tubuh seluruhnya dari bongkahan es dan mereka memiliki tubuh yang terlihat lebih tajam juga ramping, dibanding Gigant yang rata serta tumpul.


"Astaga! Aku lupa kalau mereka meminta bantuanku untuk mengatasi para Frosgant itu" gadis tersebut berubah kembali menjadi seekor naga menyeramkan yang bertolak belakang dengan wujud manusia, mengejutkan kedua bangsa itu, kemudian menyemburkan napas es, membekukan para Frosgant.


"Sebentar, bukankah mereka sama-sama beratribut es? Apa gunanya menyerang menggunakan atribut yang sama?" tanya Lucan bingung.


"Tentu saja berguna, bahkan dapat dikatakan efektif. Sama halnya dengan kau membandingkan panas dari korek api dengan panasnya magma. Sudah pasti yang lebih kuat menang bukan? Begitu juga dengan kekuatan es milik Esrene, es miliknya jauh lebih dingin dibanding tubuh para Frosgant, sehingga Frosgant tak mampu bertahan dan membeku di dalamnya.


Sayangnya, Frosgant adalah mahluk yang sama seperti Gigant, mereka hanya berbeda atribut. Sehingga mereka bisa beregenerasi, namun yang menghentikan generasi tersebut adalah pembekuan yang membuat mereka menjadi patung. Seandainya Esrene ada bersama kita saat melawan Uhro, mungkin takkan begitu sulit untuk menghadapinya" jelas Lightnar.


Lucan melipat lengan, masih memerhatikan dua bangsa yang saling berperang itu "Hmm.. jadi pada dasarnya, bangsa seperti Gigant yang mampu beregenerasi dapat dengan mudah dikalahkan menggunakan es, sebab tubuh mereka membeku. Ternyata mahluk seperti itu pun memiliki kelemahan"


Lightnar berdeham "Ehem, kau melupakan sesuatu yang penting Lucan. Jika es yang membekukan mereka tak begitu kuat, mereka tentu saja dapat melepaskan diri, sehingga hasilnya akan sama seperti saat kita melawan Uhro"


Vampire muda itu tertawa "Intinya kita hanya harus berusaha bukan? Tidak ada yang mustahil jika kita tak menyerah!" sahutnya penuh semangat, lalu bersin dan kembali menggigil "Aku lupa kalau disini benar-benar dingin"


Lightnar tertawa kecil, kemudian menghela napas "Selama aku hidup, baru seorang yang kutemukan tak memiliki kelemahan, Alzent. Dia benar-benar kuat, meskipun kekuatan gelapnya adalah pinjaman, namun ia sebenarnya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar" Lightnar menoleh pada Lucan yang mendengus geli "Apa ada yang salah?"


"Alzent tentu saja memiliki kelemahan. Dengan besarnya kekuatan milikmu, semakin berat juga beban yang harus kau tanggung. Orang yang tidak menyimpan hal ini baik-baik dalam hatinya, suatu saat akan jatuh terperosok hingga ia tak mampu menahan segalanya dan mengakhiri hidupnya sendiri" jawab Lucan, mengejutkan Lightnar, sebab ia tak pernah menduga laki-laki yang cuma tahu bertanya dan tertawa ini, begitu bijak.


"Jadi, itu alasanmu terus berada di samping Alzent?" Lightnar tersenyum tulus "Benar-benar seorang sahabat sejati, walau sikapmu agak menyebalkan"


Lucan tertawa, melihat telapak tangannya dan menggenggamnya kuat 'Andai saja yang dikatakan Lightnar itu benar' ucapnya sedih dalam hati.


Pertarungan dari kedua bangsa itu tampak semakin mendekati akhir. Frosgant mulai kehilangan banyak pasukannya yang dibekukan oleh Esrene, sementara Froztheim mendominasi karena Alpha muda tersebut, namun ada yang aneh, mereka tampak tidak senang dengan kehadirannya.


Begitu banyak panah es terjun akan mengenai Esrena, meskipun mereka tahu gadis yang sebenarnya adalah sosok Alpha tidak akan terluka dengan serangan seperti ini, setidaknya mereka dapat melukai hatinya yang lemah-lembut, sebuah keberadaan yang tak diperlukan dalam dunia beku ini.


Lucan langsung melompat turun, tak memedulikan peringatan Lightnar, menyayat lengan kirinya, menciptakan begitu banyak pedang darah yang masing-masing menghancurkan satu panah, lalu melayang diam di udara. Ia berdiri di depan Esrene, menatap tajam bangsa Froztheim di depannya "Apa aku baru saja melihat bangsa tak tahu diri, menyerang penolong mereka" tukasnya.


"Seorang Vampire? Bagaimana bisa? Pasukan serang dia!" perintah orang tersebut.


Baru saja para pemanah akan menembak, Lucan telah lebih dulu meluncurkan pedang darah, menghantam tanah di depan para pemanah tersebut, serta tiga pedang darah seukuran tubuh di depan Sang pemimpin pasukan "Aku berpendapat bangsa Froztheim adalah bangsa yang baik seperti Elf, aku jadi malu pada diri sendiri. Kalian bahkan lebih buruk dari bangsa Arkbyss"


"Cih! Siapa dirimu!? Jawab atau-


"Atau apa? Bisakah kau memerhatikan posisimu sekarang ini? Apakah kau merasa berada dalam situasi dapat mengancam?" Lucan tersenyum getir "Kalian benar-benar sombong"


Baru saja Lucan akan menutup telapak tangan kanannya, Lightnar mendarat di depan Vampire muda tersebut "Lucan hentikan, kita disini tidak untuk mencari masalah" katanya. Lucan berdecak kesal, menarik semua pedang darah, mengubahnya menjadi cairan dan memasukkannya kembali dalam lengan tersayat itu yang langsung menyembuhkan diri.


"K-kau.. Lightnar, Alpha dari dunia Elf? Mengapa kau bisa berada disini? Bukankah gerbang dimensi dari kedua dunia telah tiada?" tanya orang itu, curiga.


Lightnar berpikir sejenak untuk tidak memberitahukan soal gerbang dimensi terlebih dahulu pada mereka, lalu ia menanyakan sesuatu tanpa menjawab pertanyaan tadi "Apa kau bisa menjelaskan alasan dirimu menyerang Esrene? Dia adalah Alpha di dunia kalian, Sang pelindung. Mengapa kalian bersikap seperti itu padanya?"


Laki-laki itu mendengus keras, menunjuk Esrene dengan marah "Pelindung? Pelindung kau bilang? Alpha macam apa yang kabur saat Arkbyss datang menyerang kemari!? Waktu itu kami begitu percaya padanya, namun dia!" Air mata mulai mengalir turun di wajah orang tersebut "Dia kabur begitu kalah dari seorang Arkbyss! Meninggalkan kami semua! Dan kini, bangsa Froztheim kehilangan tempat tinggal dan tak terhitung berapa banyak dari kami yang telah mati!"


Lucan menoleh pada Esrene yang menundukkan wajahnya. Ia mengepalkan tangan dengan kuat, berbalik pada orang itu "Bukan berarti kau bisa menyalahkannya begitu saja! Tapi.. jika memang seperti itu ceritanya, aku minta maaf atas sikapku sebelumnya, aku dan Lightnar akan mengajari Alpha tak berguna ini menjadi sosok yang mampu melindungi dunia Frozenland"


Esrene menatap Lucan tak percaya, tak sampai lima menit ia memuji laki-laki itu dalam hatinya, kini ia langsung berbalik memihak para Froztheim "Aku benar-benar membencimu!" Esrene melesat cepat ke udara tanpa berubah wujud.


Lightnar bergegas mengejarnya sesudah pamit pada bangsa Froztheim sebab bagaimanapun ini adalah tanah mereka, ia yang seorang dari dunia luar, tak memiliki hak untuk bersikap arogan. Lucan mengacak-acak rambutnya kesal, pamit pada bangsa Froztheim setelah memunculkan pedang darahnya kembali untuk mengejar gadis manja tersebut.