Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #13



Aura yang dikeluarkan Alzent kini menjadi semakin besar hingga merusak bangunan dinding di sekitar dan mereka berdua pun dapat dilihat dari arah lapangan, tempat Leo serta Feurig berada. Namun, mereka tak dapat melakukan apa-apa dalam kondisi tubuh yang sudah lemah serta tak lama lagi akan jatuh pingsan. Dampak dari aura mencekam tersebut pun sudah berefek hingga keluar akademi, hampir mengenai satu kerajaan, dimana semua orang dapat melihat cahaya merah terang dari arah akademi, bahkan api yang sementara melahap akademi menjadi lenyap karena tekanan besar aura ini.


Feurig melihat sosok Alzent, mencoba untuk tetap mempertahankan kesadaran sambil berpikir, 'inikah yang dimaksud oleh Yuna? Kekuatan besar yang mampu menggulingkan kerajaan ini dengan mudah?'. Feurig mencoba bangkit berdiri, tetapi langsung jatuh terhempas ke tanah. Ia hanya bisa menjulurkan tangan, ingin menggapai tubuh Alzent yang berada jauh darinya "Mengapa? Mengapa orang sepertimu yang mendapatkannya? Itu seha.. rusnya.. menjadi... milik.... ku"


Kapten Leo berusaha bertahan menggunakan pedang yang semenjak tadi menyangga tubuh agar tidak jatuh. Ia memerhatikan sosok berambut putih tersebut, terkejut ketika menyadari bahwa itu adalah Alzent, laki-laki yang pernah mengalahkannya dalam sekejap saat mereka masih bersekolah di akademi "Sekarang kau sudah menjadi sekuat ini? Tidak kusangka- uhuk!" darah segar mulai mengalir keluar dari dalam mulutnya. Tubuh Leo juga sudah mencapai batas.


Sesaat, sebelum ia jatuh pingsan, ia dapat melihat zirah yang begitu familiar muncul di depannya. Zirah yang selama ini dikenakan oleh Sang pemimpin bangsa Arkbyss, raja yang dikenal sebagai mahluk terkejam tanpa adanya perasaan. Raja Arslaz. Pandangan Leo menjadi jauh lebih jernih ketika raja Arslaz muncul, ia tak lagi terpengaruh dengan aura milik Alzent dan dapat bangkit berdiri "Apa yang anda lakukan disini, Yang Mulia?" tanyanya khawatir.


Raja Arslaz menunjuk Alzent. Dengan tatapan tajam, memerintahkan "Bawa dia untukku"


Kapten Leo terkejut, ia tak menyangka Sang raja sendiri meminta ia untuk menangkap Alzent. Biasa perintah dari Sang raja disampaikan oleh penasehat tertinggi istana. Karena itu, Leo tak menahan diri lagi, ia merapalkan sebuah mantra, memunculkan lima lingkaran sihir berukuran besar di atas. Satu lingkaran sihir utama serta empat lingkaran sihir berukuran lebih kecil, yang kini mulai berputar mengelilingi lingkaran sihir utama, mengeluarkan cahaya berwarna hitam-keabuan. Leo melompat tinggi ke atas, melewati bagian tengah lingkaran sihir utama yang langsung pecah menjadi serpihan cahaya kecil, saling bergabung membentuk sebuah zirah hitam pekat di tubuhnya. Tak hanya sampai disitu, Leo melayang tinggi di udara, menunggu empat lingkaran kecil itu berputar mengelilingi dirinya, membentuk sebuah pedang hitam panjang, lalu melayang diam ke belakang laki-laki tersebut.


Begitu selesai, Leo langsung maju menerjang, mengayunkan pedangnya dengan kuat yang kemudian menciptakan energi hitam besar, membelah dua gedung akademi di belakang Alzent hingga mencapai gedung-gedung lain yang berjarak seratus meter. Dapat terlihat bekas serangannya, menciptakan sebuah jurang baru di kerajaan Arkbyss, jurang yang tampak begitu dalam tanpa dasar. Leo mendarat pelan di samping Sang raja, akan menyarungkan pedang, tetapi raja Arslaz menahan tangannya, mengatakan "Ini belum selesai, siapkan perisai sihirmu" lalu mulai merapalkan perisai sihir miliknya sendiri.


Tanpa banyak tanya, Leo melakukan sesuai yang diperintah. Tiba-tiba saja, sosok Alzent yang tampak begitu berbeda, sudah muncul di hadapannya, melayangkan sebuah pukulan tepat ke tengah-tengah antara perisai lingkaran sihir milik Sang raja dan Leo. Hanya dari sebuah pukulan itu saja, mereka berdua sudah terlempar jauh ke belakang, menghantam kuat dinding bangunan hingga hancur berantakan. Sang raja lalu bangkit berdiri, mengeluarkan pedang miliknya dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari Leo, kemudian saling bertukar serangan dengan Alzent.


Kapten Leo berusaha bangkit berdiri, terdengar suara dengung tak mengenakkan akibat gelombang suara besar yang tercipta dari hantaman tinju tadi. Ia melihat Sang raja sementara bertarung melawan sosok Alzent dengan kekuatan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, jauh berbeda dari Alzent di masa akademi. Leo memfokuskan pikiran, ia tak tahu apa yang baru saja terjadi, tetapi ini bukan waktunya untuk mengingat masa lalu. Ia langsung bergabung dengan raja Arslaz untuk menghadapi Alzent.


Di tempat yang jauh, Immortal itu tersenyum, lalu menggeleng pelan "Tentu saja tidak. Aku bukan orang sepertimu yang begitu mencintai pertarungan. Aku jauh lebih suka menyaksikan semuanya dari jauh sambil menebak-nebak pihak manakah yang akan keluar sebagai pemenang, tapi jujur saja.. aku cukup tertantang untuk melawan sosok bernama Alzent ini"


Senyuman di wajah Zeon mengembang. Ia bangkit berdiri, lalu merasakan kehadiran seseorang dan menoleh ke arahnya "Wah wah, tampaknya ini akan menjadi semakin menarik" ucapnya, melihat kelompok Gerald sedang terbang menuju akademi. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai disini, dimana pertunjukkan akan menjadi jauh lebih memukau berkat kedatangan mereka. Tetapi, sebagian dirinya mengatakan bahwa ia harus mewaspadai sosok Lucan, melihat tatapan matanya yang seakan memberikan pesan 'Aku akan menghabisi siapa saja yang mengganggu sahabatku'.


Kapten Leo dan raja Arslaz terus bertukar serangan dengan Alzent, namun tampaknya serangan mereka tak berarti apa-apa bagi laki-laki tersebut. Alzent seakan sedang menghadapi dua orang anak kecil, begitu santai dan tak serius sama sekali. Ia bahkan masih dapat tersenyum lebar menghadapi dua orang terkuat di Arkbyss, selain Yuna tentunya.


Perlahan anggota pasukan elite Leo siuman. Mereka dapat mendengar suara pertarungan tak jauh dari tempat mereka berada dan dengan cepat menuju asal suara itu, menemukan Sang raja sendiri turun tangan untuk menghadapi sosok tersebut. Masing-masing dari mereka bergegas merapalkan mantra, menggenggam senjata dan beranjak pergi akan membantu mereka berdua yang tampak sudah tersudut. Sebuah situasi yang tak pernah mereka pikirkan terjadi pada raja Arslaz, orang yang dikenal karena kekuatan besarnya yang mampu membuat para Immortal harus berpikir dua kali untuk menghadapi dia.


Alzent menangkap pedang milik kedua orang itu, kemudian memberikan mereka sebuah tendangan di dada menggunakan dua pedang tersebut sebagai penyangga, selagi ia menendang lalu melompat ke belakang, akan melancarkan serangan selanjutnya. Tetapi sebuah tombak berkekuatan besar melesat cepat, namun ditangkap oleh Alzent dan dilemparkannya kembali pada si pemilik tombak. Anggota pasukan elite pemilik tombak itu mencoba menangkap kembali tombak tersebut. Ia berhasil, sayangnya tangan kiri yang ia gunakan kini terasa kebas, lalu tak berasa sama sekali, seakan terkena bius dan mati rasa.


Mereka berhenti melangkah di jarak yang mereka anggap aman dari Alzent, menunggu laki-laki itu untuk datang menyerang, namun ia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan maju. Tiba-tiba kapten Leo serta Sang raja sudah berada di kiri dan kanan, melayangkan sebuah pukulan. Apa yang terjadi berikutnya, sangat sulit dipercaya oleh anggota pasukan Leo. Waktu di sekitar Alzent tampak melambat, mereka bahkan dapat melihat butiran debu beterbangan di udara dan tanpa disadari, kapten Leo dan Sang raja kini sudah terlempar ke arah yang berlawanan dari arah mereka datang tadi.


Baru saja anggota pasukan elite akan bertindak, sosok Alzent sudah menghilang dari hadapan mereka "Apa kalian mencariku?" dengan cepat pasukan elite berbalik, melancarkan sebuah serangan yang hanya berakhir di udara kosong. Sedetik kemudian, mereka dapat merasakan sebuah hantaman kuat di punggung, menghempaskan mereka dengan kuat ke atas tanah. Tak seorangpun tahu apa yang baru saja terjadi, mereka benar-benar bingung dan mulai dikuasai rasa takut, perasaan yang seharusnya tak boleh dimiliki oleh pasukan Arkbyss, apalagi pasukan elite seperti mereka. Namun, entah mengapa, menghadapi sosok berkekuatan misterius ini, tubuh mereka gemetaran.