Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #18



Zeon menaikkan alis, memanggil beberapa petir, menyambar Alzent berturut-turut, namun ia masih baik-baik saja dengan senyuman yang makin melebar "Oke, sepertinya Hellraiser sudah tidak selemah dulu. Tapi, apakah kau lupa kalau sihir milik bocah ini masih ada dalam dirimu" ia mengepalkan tangan yang diselimuti api hitam, namun tak ada satupun terjadi pada Alzent "Apa? Bukankah seharusnya.."


Alzent tertawa kecil, melangkah maju "Itu hanya berlaku pada Alzent, sementara aku bukanlah Alzent. Kekuatan yang sempat membuatku merasa ikut kesakitan itu, cuma berlaku pada dirinya saja karena ia masih belum mengizinkanku untuk menggunakan tubuh ini sepenuhnya dan kau dapat menyebutku sebagai wujud Alter Ego dari Alzent. Sosok yang jauh berbeda dengan kekuatan yang juga jauh berbeda. Untungnya, karena ia adalah bekas eksperimen, aku bisa menggunakan kekuatan yang ada dalam tubuh ini" Alzent berteleportasi ke depan Zeon. Tercipta gelombang energi besar saat tinju milik Alzent ditahan oleh Zeon hingga membuat udara tampak dipenuhi kepulan debu yang mengganggu penglihatan.


Tak hanya sampai disitu, Alzent melompat ke belakang saat menggenggam tangan yang menahan tinjunya, bertujuan membanting Immortal itu, tetapi Zeon berhasil bertahan dengan kedua kaki, lalu menerjang Alzent. Tinju dari mereka berdua kembali menciptakan gelombang energi besar yang merusak apapun di sekitar. Sekujur tubuh Zeon mulai dialiri oleh petir sementara tubuh Alzent mulai bersinar kemerahan dari lampu neon pada zirah robotik miliknya. Mereka berdua saling bertukar serangan yang tampak biasa saja, namun mengandung kekuatan besar yang mampu mengguncang tanah dan langit. Tak lama, kapten Leo serta Sang raja ikut bergabung, membantu Zeon. Lestra terus memberikan bantuan dari belakang menggunakan sihir jarak jauh. Tampaknya tatapan pada mata remaja itu masih menimbulkan rasa takut dalam hatinya, meskipun Zeus telah muncul.


Gerald pun tak tinggal diam. Ia berusaha memisahkan dua orang Arkbyss itu dari Alzent agar fokusnya tak harus terbagi, namun ia pun mengalami kesulitan saat Lestra terus menembakkan sihir ke arahnya. Siapapun yang melihat dapat mengetahui pihak manakah yang kini tersudut, sehingga rasa ingin membantu dalam hati keempat remaja menjadi makin kuat. Mereka tak ingin membiarkan dua orang itu bekerja sendiri menghadapi mereka, meskipun kekuatan mereka berempat tak terlalu berarti, setidaknya biarkan mereka ikut bekerja sama, saling membantu untuk mencapai kemenangan.


"Gerald, biarkan kami ikut membantu" ucap Veron "Kami tak mungkin membiarkan kalian sendiri melawan keempat orang itu"


"Veron benar, Gerald. Biarkan kami membantu, kami juga ingin berada di samping Alzent saat ia membutuhkannya" kata Luna.


"Ayolah kakek tua, lepaskan kubah sialan ini. Aku sudah tidak sabar melawan para Immortal sombong itu!" sahut Lucan penuh semangat.


"Apa yang mereka bilang, aku juga merasakannya. Lagipula, hidupku takkan lama lagi, jadi biarkan aku membantu Alzent untuk keterakhir kalinya" Yuna menyunggingkan senyuman manis.


Gerald mengepalkan tangan dengan erat, ia tak ingin melibatkan keempat remaja itu lalu menyesal karena sudah membuat mereka terluka, namun melihat situasi yang tidak mendukung, mau tidak mau Gerald menghilangkan kubah, lalu mengatakan "Terima kasih"


Tanpa butuh waktu lama, situasi mulai berbalik dengan Lestra yang perhatiannya terganggu akan empat remaja. Ia terpaksa mengarahkan fokus pada mereka, sebab ia tak menyangka keempat remaja ini memiliki kekuatan yang setidaknya hampir setara dengan seorang pasukan elite Immortal dan saat Lucan menggunakan wujud Godslayer, Lestra menjadi makin waspada. Ia sudah mendengar gosip mengenai Immortal yang memiliki sebuah kekuatan untuk menghapus keberadaan God maupun Goddess dari dunia. Awalnya ia tak percaya, tetapi melihat orang itu kini berada di hadapannya, Lestra mengerahkan segenap kekuatan yang ia miliki, bahkan Zeon pun berbalik ketika merasakan kekuatan Lucan. Ia memang dapat merasakan kekuatan misterius tersebut, namun masih ragu apakah itu benar atau tidak.


"Hey, tidak baik memalingkan muka saat sedang bertarung. Jika aku serius padamu, kau mungkin sudah mati dan akan bertemu kembali dengan Hades" sahut Alzent, berhasil memberikan luka sayat di belakang punggung Zeon menggunakan pedang merah Hellraiser.


Sebuah portal besar tercipta dari kumpulan energi yang saling bergabung menjadi satu. Satu per satu Immortal berzirah emas keluar dari dalamnya, melangkah ke samping Lestra dengan aura mencekam. Portal itu kemudian tertutup sesudah mengeluarkan sebanyak empat Immortal, berdiri tegap tampak begitu agung dan berkuasa.


"Biar aku menghadapi Lestra, kalian atasi sisanya" perintah Lucan dengan tatapan serius, namun sebelum Reyla beranjak pergi, Lucan menahan tangannya "Tolong berhati-hati" pinta Lucan pelan.


Reyla mengangguk, memberikan sebuah senyuman manis dan maju menerjang seorang Immortal bersenjatakan panah. Lucan ikut tersenyum melihat gadis itu, lalu kembali menoleh pada Lestra "Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"


Lestra tampak terkejut, namun mengiyakan "Tentu saja"


"Kau tidak takut jika terhapus dari dunia bukan?"


Mata Lestra terbelalak. Sedetik kemudian, Lucan sudah berada di sampingnya, mengayunkan pedang dan hampir berhasil memotong tangan kanan, untungnya Lestra berhasil menghindar, melompat jauh ke samping sembari menekan luka. Darah mulai jatuh menetes ke tanah, perlahan berubah menjadi aliran lalu makin deras. Ia mengernyitkan muka, menyadari luka ini terlalu dalam untuk disembuhkan menggunakan sihir penyembuh sehingga ia tak bisa bertarung terlalu lama atau ia akan mati "Yah sudahlah, lebih baik mati dibanding harus terhapus dari dunia" ucapnya begitu menyadari hal tersebut dan mengeluarkan seluruh kekuatan yang ia miliki hingga membuat kedua mata mengeluarkan cahaya hijau terang.


Pertarungan tersebut membuat keadaan pada kerajaan Arkbyss menjadi seperti sebuah mimpi buruk, sebuah malapetaka, sebuah pesan.. bahwa, ini adalah terakhir kalinya bangsa Arkbyss dapat berkuasa. Tak lama, tiga portal terbuka, portal yang masing-masing sudah sengaja dipasang oleh Gerald di beberapa tempat berbeda sebagai jalan masuk bagi bangsa Orc, bangsa Harpy serta bangsa Elven. Tak hanya rencana Zeon saja yang berhasil berjalan, tetapi rencananya pun tak lama lagi terwujudkan.


Pasukan Arkbyss yang tak siap menghadapi ketiga pasukan tersebut, menjadi kocar-kacir. Sebuah bahan yang sempurna untuk menjatuhkan sebuah kerajaan kuat dengan sedikit bumbu penghianatan. Tak sedikit bangsa Arkbyss beralih karena lelah akan perlakuan Sang raja pada rakyatnya, membantu tiga bangsa berbeda mengalahkan pasukan Arkbyss yang sangat besar.


Perang kembali terjadi.