
Mereka berdua terus mengejar Esrene yang entah terbang menuju ke mana. Gadis itu terus berteriak agar mereka tidak mengikutinya, namun di akhir ia menyerah dan mendarat di sebuah gua besar yang dua laki-laki tersebut dapat menebak, bahwa itu adalah rumahnya.
Esrene mendarat dan langsung jatuh terduduk lemas di bawah sambil menghapus air matanya yang terus mengalir turun. Lightnar serta Lucan berpandangan, mereka tak tahu harus bagaimana menghadapi gadis yang sedang menangis tersedu-sedu seperti ini. Mereka bahkan baru saja memulai sebuah hubungan.
"Kalian tak perlu berpikir keras untuk menghiburkan atau apapun itu, jika kalian tak mampu" ucapnya, membuat dua laki-laki tersebut tak tahu harus merasa senang atau tersinggung.
"Bolehkah aku bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tahu kau bukan sosok yang akan rela meninggalkan mereka, melihat kau langsung terjun dalam pertarungan tadi tanpa memedulikan perilaku mereka padamu setelahnya. Aku yakin, kau sebenarnya tak diminta toloong untuk membantu, kebetulan saja kau mendengar keributan tersebut dan memutuskan untuk membantu, benar'kan?" tanya Lucan, memberanikan diri.
Esrene bangkit berdiri, berbalik sambil menyeka air mata "Bagi seorang laki-laki yang tak tahu cara memuji wanita, kau pintar menilai seseorang" balasnya, lalu menghela napas panjang "Maaf, aku seharusnya tak bersikap sememalukan itu. Seorang Alpha seharusnya tak pernah menangis dan tetap tegar menghadapi apapun"
Lightnar tersenyum dan menggeleng pelan "Itu tidak benar. Memang Alpha adalah Sang pelindung dan tidak gentar menghadapi musuh sekuat apapun, namun mereka juga masihlah mahluk hidup, mereka masih memiliki perasaan. Tak ada salahnya untuk merasakan tiap emosi tersebut, aku bahkan masih sering kemakan emosi, sebuah hal fatal dalam sebuah pertarungan. Namun, tak salah untuk menangis, tertawa, marah, jatuh cinta. Hanya karena kau Alpha, bukan berarti kau juga harus berubah, cukup mengerti apa tugas dan tanggung jawab"
"Ya, itu benar. Aku juga mengenal seseorang yang sering sekali termakan emosi dalam perang, namun ia mampu menggunakan emosi tersebut menjadi kekuatan untuk menghadapi lawan" kata Lucan, tersenyum lalu menoleh pada Lightnar yang tertawa kecil, mengetahui sosok orang tersebut.
"Sepertinya tidak apa-apa jika aku menceritakan hal ini. Sejujurnya, saat penyerangan tersebut terjadi, aku terjun membantu mereka menghadapi Arkbyss. Namun, di tengah-tengah pertarungan itu, Arkbyss tersebut mengancam akan membunuh Arlene"
"Apa!? Dimana dia sekarang?" tanya Lightnar memotong cerita Esrene.
Gadis itu menggeleng pelan dengan air mata yang mulai menumpuk "Aku langsung pergi kesini untuk memeriksanya. Dalam perjalanan, aku berharap ia baik-baik saja, aku tahu dia kuat, bahkan lebih kuat dariku, namun begitu sampai, seorang Arkbyss sudah membunuhnya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, laki-laki itu mencekik Arlene, aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa saat melihat wajahnya. Adikku tersenyum, ia tersenyum dengan tatapan yang mengarah padaku. Aku hanya terlambat sedetik sebelum ia menghembuskan napas terakhir! Aku sebagai kakaknya, yang seharusnya melindungi dia... ia bahkan masih percaya aku bakalan datang menolongnya"
Esrene menyeka air mata yang kembali turun dengan deras, lalu meminta untuk memberikan ia waktu sebentar. Lucan dan Lightnar berpandangan, menghela napas berat bersamaan "Ini.. terlalu sulit. Aku juga mengenal Arlene sebelum gerbang dimensi menghilang. Ia adalah sosok yang riang dan menaruh harapan begitu besar pada Esrene. Setiap hari aku mendengarnya memuji sosok kakaknya yang hebat itu, ia percaya Esrene akan menjadi sosok yang besar suatu saat nanti" Lightnar menggigit bibirnya, menahan air mata yang akan menetes turun.
"Aku juga bakalan terpukul jika hal yang sama terjadi padaku. Seseorang yang begitu dekat padamu, begitu percaya dan mengisi hari-harimu, tiba-tiba pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Kalau itu aku, aku sudah gila dan akan bunuh diri" balas Lucan.
Lucan melipat lengan, berbalik dan duduk di pinggir mulut gua yang di bawahnya adalah jurang tinggi sebab mereka berada di atas sebuah gunung "Tampaknya, kita harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu sebelum mencari cincin itu. Kita tak mungkin menutup mata pada seseorang yang membutuhkan bantuan"
"Ternyata kau memiliki hati nurani juga" balas Lightnar sambil tertawa.
Lucan ikut tertawa, lalu membalas "Itu semua karena Alzent, seandainya aku tidak bertemu dia, mungkin aku masih seorang anak berandalan yang tak peduli pada orang lain dan hanya membawa masalah ke manapun diriku pergi"
"Aku penasaran, apa yang sedang mereka semua lakukan sekarang?" tanya Lightnar.
"Entahlah, aku hanya berharap mereka baik-baik saja"
Sementara itu, di saat yang bersamaan, Alzent dan Luna berhadapan dengan beberapa ksatria Arkbyss. Mereka bertarung sekuat tenaga, namun para Arkbyss itu hampir sekuat Zeon, sehingga Alzent berhasil dipukul mundur. Zeon yang membawa mereka malah pergi, menghilang tanpa jejak, meninggalkan mereka sendirian di sebuah dunia asing.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Luna panik.
"Aku akan membuat kesempatan bagimu untuk kabur, pergilah saat itu juga, aku akan menyusul!" jawab Alzent sembari menahan serangan-serangan empat Arkbyss di hadapannya.
Tern dan Merith menghadapi seekor hewan gaib, hewan yang seharusnya telah punah, namun muncul kembali ke atas daratan, dengan mata berwarna hitam pekat. Tubuh mereka diselubungi oleh aura kehitaman yang sudah pasti adalah perbuatan para Arkbyss. Karena itu, hewan-hewan gaib tersebut menjadi lebih kuat dibanding yang aslinya dan membuat mereka kewalahan.
Di lain sisi lain, Veron serta putri Urvi dihadapkan dengan pemberontakan yang terjadi antara Elf dan Dark Elf. Kelompok pemberontak ini menolak untuk bergabung bersama, sebelumnya mereka hanya berpura-pura sebab takut pada sosok Alzent, namun kini setelah ia tiba-tiba menghilang, pemberontakan bermunculan.
Lalu Reyla, ia di utus oleh Sang ratu untuk mencari sebuah artefak peninggalan bangsa Elf sebelum mereka pindah ke daratan Risenland. Reyla harus pergi ke rumah para Dark Elf, sebab petunjuk yang ia dapatkan membawanya ke sana, di mana wilayah gelap itu dipenuhi oleh monster-monster yang telah sadar dari sihir gelap ratu Ezra yang ikut menghilang entah ke mana, tetapi masih memiliki sifat ganas dan menjadikan tempat kosong tersebut menjadi rumah baru mereka.