
Langit telah berubah cerah. Angin berhembus pelan, membawa terbang dedaunan putih, mengikuti arah angin menerbangkan mereka ke sebuah tempat yang baru dan asing. Lucan menoleh ke kanan-kiri, ia merasa ada yang kurang semenjak mereka selesai menghabisi dua orang tadi.
"Dimana Esrene?" tanyanya begitu sadar.
Lightnar memperhatikan tempat ia membawa Esrene sebelumnya. Raut wajah laki-laki itu seketika berubah saat tak melihat sosok gadis manis tersebut "Ia seharusnya berada di sana dan ia takkan pernah pergi meninggalkan kita, kecuali ada hal buruk yang terjadi" jelas Lightnar cepat.
Mereka berjalan mendekati tempat itu, melihat sekitar jika Esrene mungkin saja bersembunyi atau jatuh pingsan karena dampak gelombang energi besar. Tanpa sengaja, Lightnar melihat bekas sihir tergunakan di atas salju. Bekas sihir tersebut berwarna emas, tampak seperti serbuk glitter dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Lightnar merabanya, seketika terpental beberapa meter ke belakang dengan tangan kanan gemetar hebat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lucan, membantu Lightnar berdiri.
Lightnar mengangguk pelan, berusaha menenangkan lengannya yang gemetaran. Ia kembali mendekati bekas sihir tersebut, mengaktifkan penglihatan naga. Lightnar terperangah, melihat bekas sihir tersebut memancarkan energi yang begitu besar. Ia yakin, bekas energi itu jauh lebih besar kekuatannya dibanding LifeStone "Aku tak pernah menemukan adanya mana dengan kekuatan sebesar ini. Hanya sebuah bekas, namun mengeluarkan kekuatan yang begitu besar, mahluk apa yang memilikinya?" tanya Lightnar penasaran.
"Oh" ucap Lucan kaget, saat menyadari siapa yang memiliki kekuatan itu "Aku rasa, ada sesuatu yang terjadi disini, selama kita bertarung. Kemungkinan besar, Esrene diculik atau dibawa entah karena alasan apa. Lalu, kau seharusnya tahu mahluk apalagi yang memiliki kekuatan sebesar itu jika bukan Immortal?"
Lightnar bangkit berdiri, merubah tanganya menjadi lengan naga, lalu mengambil serbuk sihir yang terasa menekan tangan "Mengapa seorang Immortal menculik Esrene? Dia tak pernah berhubungan dengan para Immortal. Atau mungkin dia telah membuat kesalahan dari tugasnya sebagai Alpha?"
Lucan menggeleng pelan "Tidak. Immortal takkan pernah mau mencampuri kehidupan para Mortal. Pastinya ada hal yang jauh lebih besar dibanding itu, sehingga ia harus membawa Esrene" Lucan melipat lengan, berpikir sejenak "Kemungkinan besar, ia dibawa ke dunia mereka. Daratan yang akan langsung menghabisi kita, sekali kita menginjakkan kaki di dalamnya"
Angin kembali berhembus, kali ini terasa lebih dingin dibanding sebelumnya. Tiba-tiba, sebuah portal terbuka, portal milik para Arkbyss dan Zeon melangkah keluar dari dalamnya dengan senyuman yang selalu ia pasang, senyuman sombong dengan tatapan setajam silet "Ohh, tampaknya kalian sedang mencari sesuatu. Apakah itu berhubungan dengan teman kalian? Sang Alpha cantik yang terlihat lemah itu?"
Lightnar mengumpulkan kekuatannya, langsung menerjang sosok tersebut, namun seperti biasa, ia dengan mudah menghempaskan Lightnar ke belakang hingga menghantam sebuah batu besar. Lucan mengeluarkan pedang darahnya, bersiap jika hal buruk terjadi "Apa kau yang menculik Esrene?" tanya Lucan marah.
Zeon mengangkat bahu, memasukkan kedua lengan dalam saku jas hitam panjangnya yang tampak sudah usang, namun mengeluarkan kepulan kabut hitam "Apa untungnya bagiku, jika aku memberitahukan hal tersebut pada kalian? Lagipula, sudah jelas di sana bekas sihirnya berwarna emas dengan kekuatan yang bahkan melebihi The Watcher. Kalian masih beranggapan aku yang menculiknya? Jahat sekali, padahal aku ingin memberitahu.."
Laki-laki itu, dalam sekejap sudah berada di samping Lucan, mengucapkan "Kekasihmu dalam bahaya besar" dengan pelan, berpindah tempat ke hadapan Lightnar, melemparnya tinggi ke atas, lalu memberikan sebuah tendangan kuat di dada hingga Lightnar memuntahkan darah segar yang kini terlihat memiliki bercak-bercak hitam mengilap.
Lucan menangkap laki-laki itu, menanyakan apakah dia baik-baik saja yang dibalas dengan anggukan. Lucan, kemudian menatap tajam Zeon "Apa yang terjadi pada Reyla!? Cepat beritahu aku!" bentaknya.
'Lucan.. Tolong aku..'
Kemudian Zeon menghilangkan apinya tepat saat hewan-hewan itu, melompat akan menerkam. Lucan menjerit saat itu juga, ia berlari ke arah Zeon, mengayunkan pedang darahnya, namun Zeon dengan mudah menghempaskan ia ke belakang, hanya dengan sebuah ayunan tangan. Lucan menghantam tubuh Lightnar, berusaha bangkit kembali, namun Zeon telah masuk ke dalam portal sembari mengatakan "Cepatlah tolong dia atau kau akan kehilangan gadis itu untuk selamanya dan tampaknya, teman Alpha mu itu membutuhkan pertolongan. Aku yakin jiwa kegelapan mulai menguasai dirinya kembali"
"Zeon tunggu!!" sahut Lucan, namun sosok tersebut sudah menghilang bersama portalnya. Lucan mengepalkan tangan dengan kuat, membantu Lightnar berdiri "Kita akan kembali ke Risenland secepat mungkin, merawat dirimu di sana, lalu aku akan menolong Reyla. Sesudah dirimu baikan, jangan pernah mencari Esrene seorang diri, Alzent tak ingin kehilangan salah satu sahabatnya yang berharga. Tunggu kita semua lengkap, lalu kita akan mencari gadis cengeng itu bersama" perintahnya, seperti seorang pemimpin.
Lightnar menatap tatapan Lucan, menemukan sosok seorang pemimpin di sana, lalu tersenyum bangga "Baiklah. Aku akan menunggu kalian semua" ucapnya. Lightnar jadi semakin penasaran, siapa sebenarnya sosok Lucan ini? Mengapa ia memiliki kekuatan yang tak kalah kuatnya dengan Alzent, mengesampingkan kekuatan yang diberikan oleh Zeon pada dirinya. Tetapi, Lightnar dapat menyadari, Lucan bukanlah sosok orang biasa, melainkan sosok yang besar, bahkan kemungkinan lebih besar lagi daripada Alzent.
"Sebentar, cincinnya mana?" tanya Lightnar.
Kedua mata Lucan membulat, ia dengan cepat berlari ke tempat Sang pangeran mati, memungut Frost Ring sesudah mencarinya di antara tumpukan salju selama beberapa menit, mendapatkan wajah Lightnar yang seakan mengatakan 'Aku menarik kata-kataku kembali'.
Mereka akhirnya meninggalkan dunia tersebut, meninggalkan sisa-sisa dari bangsa Frostheim yang kini kehilangan tujuan hidup mereka, sesudah menyaksikan dua orang yang seharusnya memimpin, kini telah mati di tangan dua orang asing dari dunia lain.
Ketika mereka akan mengakhiri nyawa, sesuatu yang menakjubkan sekaligus mengerikan terjadi. Lembah tempat para Frosgant hidup, tiba-tiba bercahaya terang. Duri-duri es besar yang tampak seperti tulang rusuk itu, mengeluarkan cahaya kebiruan, disertai gempa bumi hebat. Sosok Frosgant raksasa yang masih terdiam di tempat, seketika seluruh bagian tubuhnya mengeluarkan cahaya biru terang, lalu terjadi ledakan besar.
Sosok Frosgant tersebut kini tampak jauh lebih hidup dengan seekor naga berukuran dua kali lebih besar dari tubuhnya, terbang melayang di belakang Frosgant tersebut, menyatu bersama, membentuk mahluk lain yang tampak begitu besar dan mengerikan.
Zeon kembali muncul dari dalam portal, masih di tempat yang sama. Ia memerhatikan sosok di hadapannya, lalu tersenyum senang "Dengan begini, kekuatan Arkbyss akan bertambah" ia menoleh ke arah dua orang itu pergi "Betapa bodohnya kalian, menjadi alat yang begitu berguna bagi kami untuk mengumpulkan kekuatan. Kurasa, rencananya berjalan lancar, benar begitu'kan? Hades?"
Sosok bertopeng yang menculik Esrene, seketika muncul di samping Zeon. Ia membuak topengnya, menunjukkan wajah yang terpahat dengan sempurna serta sebuah senyuman licik "Benar sekali, Zeon. Dengan begini, kehancuran kedua dunia telah dipastikan akan terjadi"
Zeon mengedipkan matanya beberapa kali "Aku tak menyangka, sosok yang berkuasa di neraka itu ternyata tampan. Aku pikir lebih seperti om-om berjenggot tua dan tampak mengerikan"
Hades melempar bola salju yang dicampurkan dengan sedikit kekuatannya, melempari Zeon menggunakan itu, menciptakan sebuah ledakan besar yang menerbangkan laki-laki tersebut, tinggi ke atas langit hingga dapat melihat wajah dari Frosgant di hadapannya "Cepat ambil mahluk itu, sebelum ia mengamuk. Aku masih memiliki hal penting yang harus kuurus" perintahnya, lalu menghilang.