
Beberapa menit telah terlewati semenjak pertemuan pertama mereka dengan mahluk asing yang menggunakan sosok Denzel, sahabat seperjuangan mereka dalam Fox 1 yang menghilang entah ke mana. Merasa perasaan mereka dipermainkan oleh mahluk biadab itu, dari awal mereka bertiga sudah bertarung dengan serius tanpa memedulikan mahluk tersebut terluka parah atau tidak, lagipula tampaknya mahluk itu juga benar-benar akan membunuh mereka ketika mereka lengah.
Tak butuh waktu lama, mahluk yang awalnya sombong kini sudah terpojok oleh serangan kombinasi ketiga Vampire muda di hadapannya. Ia tak pernah menyangka dirinya akan dikalahkan oleh mahluk semacam Vampire yang hanya lebih kuat dari manusia, namun lebih lemah dibanding mahluk lain yang pernah dihadapinya, dalam dimensi lain.
Sebenarnya ia akan menyerah dan menyerahkan hidup pada mereka bertiga, setidaknya ia mati dalam pertarungan sengit, dibanding mati tak berdaya yang dimana itu sangat memalukan. Ia juga berhasil membuat dua dari ketiga Vampire itu terluka, meskipun tak terlalu parah. Namun niat awalnya menghilang saat memerhatikan warna mata salah satu Vampire, dimana warna matanya itu sama seperti dirinya, namun lebih kontras serta memiliki sebuah lambang familiar.
Begitu Alzent akan melayangkan sebuah tinjuan di wajah mahluk tersebut, tiba-tiba ia sudah berada di belakang di samping Alzent, menggenggam erat tangannya lalu membuat nyala api hitam di tangannya itu semakin besar, membakar tangan kiri Alzent dan tak berhenti sampai disitu saja, ia berlanjut mencekik leher Vampire muda itu selagi menyebarkan api hitamnya di sekitar mereka agar kedua Vampire lain tak datang mengganggu.
Dengan segenap tenaga yang dimilikinya, Alzent berusaha melepaskan cengkraman mahluk tersebut, segala macam cara sudah ia coba, tapi entah mengapa mahluk itu kini jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Alzent masih terus mencoba untuk meloloskan diri, tapi semua upayanya berhenti ketika mahluk itu mengatakan sesuatu yang membuat Alzent sangat penasaran.
"A-apa maksudmu?" tanya Alzent tak mengerti.
"Tunggu, kau tidak tahu?" ia lalu tertawa keras, seakan sedang menertawakan sesuatu yang sangat lucu "Kau benar-benar tidak tahu?" ia mendengus keras, kemudian tersenyum lebar "Kalau begitu, aku tak perlu menjelaskannya padamu, aku hanya akan menanyakan satu hal. Apa yang membuatmu melakukan semua ini?"
Alzent menggertakkan gigi "Tentu saja untuk keselamatan setiap mahluk yang ada dan membawa perdamaian tanpa adanya peperangan"
Tatapan mahluk itu berubah tajam, sangat tajam hingga membuat Alzent merasa terancam "Sebuah impian indah dari seorang pembawa malapetaka. Kau benar-benar tak tahu apa-apa'kan? Sungguh malang nasibmu, memikul beban dari setiap mahluk yang ada di setiap dimensi berbeda, tanpa mengetahui jati dirimu yang sebenarnya" cekikannya semakin menguat dan terasa begitu panas sampai membuat Alzent menjerit kesakitan, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya "Aku peringatkan dirimu, impianmu itu hanya akan berakhir menjadi sebuah mimpi buruk, mimpi yang menjadi kenyataan pahit bagi setiap mahluk. Aku sarankan kau untuk ikut denganku, sebelum kau menyesal nantinya"
Alzent akhirnya dilepaskan, luka bakar di lehernya kini berbentuk sebuah tato hitam berbentuk tribal yang kemudian menyusut dan hanya ada di leher bawah bagian kanan. Luka bakar tersebut menghilang, meninggalkan kulit putih bersih tanpa luka. Namun Alzent masih dapat merasakan rasa sakit yang luar biasa di lehernya itu, terutama di bagian yang terdapat tato tersebut.
"Ingatlah penawaranku tadi. Aku akan langsung datang padamu jika kau menyebut namaku" ucap mahluk tersebut sebelum menghilang menjadi abu.
Alzent bangkit berdiri dan mendengar suara dia menyebutkan sebuah nama "Zeon"
Lucan serta Veron kemudian datang mendekat. Mereka berdua tampak begitu khawatir sesudah mendengar jeritan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya sampai memeriksa sekujur tubuh Alzent yang kini sudah bersih dari luka, bahkan tak tampak adanya goresan sedikitpun, tidak seperti mereka yang gosong disana-sini.
"Sudahlah, aku baik-baik saja" jawab Alzent tak mau membuat kedua sahabatnya itu terlalu khawatir padanya.
Beberapa menit terlewati, Luna sementara mengobati luka Veron dan Lucan semampunya yang jujur saja masih membuat mereka terkejut melihat ia dapat mengambil barang dari udara. Yah, mereka melihat sebuah portal berukuran kecil muncul begitu tangannya meraih sesuatu di udara, lalu ia menarik keluar sebuah kotak P3K. Benar-benar gadis misterius.
"Jadi, mungkin itulah alasannya Gerald mengatakan pada kita untuk tidak merasa kecewa begitu menemukan mahluk tersebut" kata Lucan sambil memainkan salju di telapak tangannya.
Alzent menopang tubuh dengan kedua tangannya, memerhatikan aurora yang kini sudah kembali ke warnanya semula "Setidaknya kita mendapatkan pelajaran... Di atas yang tinggi masih ada yang lebih tinggi. Mungkin saja kita sudah termakan kesombongan di awal karena pernah menjadi bagian dari tim elite dan untungnya kita sadar sebelum menghadapi masalah yang jauh lebih besar dibandingkan ini"
Terdengar suara tepukan tangan. Mereka menoleh ke arah mereka datang tadinya, kemudian melihat Gerald dengan santainya menepuk tangan sembari tersenyum lebar, ia bahkan menggunakan pakaian tipis di cuaca dingin "Aku tidak menyangka kalian mampu melawan 'Arkbyss' di hari pertama kalian sebagai The Gate, selamat untuk kalian bertiga. Kalian bahkan mendapatkan satu anggota yang terlihat sangat cantik, seorang Witch loh"
Ketiga pemuda itu langsung berbalik pada Luna, sementara gadis yang dibicarakan masih sibuk mengemasi P3K nya. Ia sadar menjadi bahan perhatian begitu menyimpan kembali P3K tersebut ke dalam portal "Eh? Ada apa?" tanyanya bingung.
Gerald menggeleng pelan, lalu melanjutkan "Jaga dia dengan baik, dia akan sangat membantu dalam perjalanan kalian, bahkan bisa dibilang dialah yang memecahkan semua misterinya bukan? Tanpa dirinya, aku yakin masih butuh seminggu lagi bagi kalian untuk membuka portal tersebut"
Luna tersenyum meskipun tersipu malu, lalu mengucapkan terima kasih pada Gerald yang dimana membuat kakek itu malah tersipu lebih parah dibanding seorang gadis muda.
"Sebenarnya itu mahluk apa?" tanya Alzent.
Gerald tersadar, berdeham beberapa kali kemudian menjelaskan "Mereka disebut Arkbyss, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Mahluk yang berasal dari dimensi kegelapan, dimana tujuan mereka adalah menutup seluruh dunia dengan kegelapan pekat tanpa cahaya. Alasan mahluk itu keluar dari dalam portal dapat kalian tebak sendiri, lihat saja portal disana"
Mereka terbelalak ketika melihat portal yang tadinya bercahaya begitu terang serta indah, kini tertutupi oleh kegelapan pekat disertai kabut kehitaman yang keluar dari dalamnya. Tanpa perlu dijelaskan, Alzent, Lucan dan Veron paham maksud Gerald. Dunia asal para Vampire sudah tiada.
"Inilah alasannya aku minta kalian untuk tidak menyesal begitu menemukan jawabannya. Sekarang kalian paham mengapa aku meminta kalian untuk membunuh mahluk apa saja yang akan keluar dari dalam retakan dimensi di Afrika bukan?" Gerald melihat raut wajah ketiga pemuda itu, menghela napas dan mengatakan "Tapi karena retakan di Afrika masih lumayan lama terjadi, bagaimana kalau kalian memperkuat diri dengan mendatangi dimensi lain?"
"K-KAMI BISA MELAKUKANNYA??" tanya Lucan kelewat bersemangat.
Gerald mulai menyesali keputusannya itu, namun menepisnya dan mengangguk "Ya. Aku akan menunjukkan tempat berikutnya pada kalian, namun untuk membuka portal tersebut, tentu saja kalian membutuhkan bahan-bahan lainnya sama seperti Amethyst yang kalian gunakan tadi. Aku yakin gadis manis disana itu tahu bahan yang dibutuhkan untuk membuka portal menuju dunia para Elf" Gerald mengedipkan matanya.
Awalnya Luna terlihat bingung, kemudian mengangguk mengerti "Baiklah, tapi jika begitu, kita harus bergerak cepat karena menemukan bahan-bahan ini lumayan sulit"
"Aku serahkan sisanya pada kalian" ucap Gerald sebelum menghilang di balik pepohonan.
"Jadi, ke mana kita akan pergi sekarang?" tanya Alzent antusias.
"Jepang"