
Kabar mengenai 3 bangsa yang akan datang menyerang bersamaan telah terdengar hingga ke telinga para penduduk. Oleh karena itu, semua orang bergegas mengerahkan yang terbaik untuk melindungi kerajaan mereka, melindungi rumah sekaligus bukti bahwa bangsa Elf dan Dark Elf pernah terjatuh ke lubang paling dalam kehidupan dan bangkit bersama sebagai kesatuan yang baru... Elven.
Tak ada Elven yang gentar mendengar kabar tersebut, mereka tak lagi ingin tinggal dibalik sebuah perlindungan seseorang, mereka juga ingin menjadi sosok seperti Alzent, seseorang yang tidak dari kedua bangsa, namun mampu menyelesaikan semuanya tanpa membuat orang lain terluka.
Tak pernah ada yang menyangka pengaruh Alzent hari itu, membuat mereka seperti ini. Sebuah hal yang sangat baik dalam menghadapi situasi genting. Berkat itu, Alzent dan teman-temannya dapat berlatih serius untuk melawan 3 bangsa yang akan tiba tak lama lagi, di mana mereka tak tahu mahluk apakah salah satu dari bangsa tersebut. Mereka juga dapat membuat sebuah rencana baru, rencana yang akan membuat bangsa Orc bersekutu dengan Elven, lalu kedua bangsa lainnya. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama, tapi lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali bukan?
Di dalam lapangan latihan pasukan Elven, Alzent bertarung melawan Lightnar tanpa menggunakan kedua pedangnya. Ia ingin membuktikan, bahwa dirinya juga mampu berusaha, tanpa harus memanfaatkan kegelapan dalam dirinya.
Pertarungan itu telah berlangsung selama beberapa menit. Setiap detik yang terlewati, membuat para pasukan yang menonton semakin bersemangat. Dapat terlihat keduanya berusaha keras, hanya mengandalkan kekuatan fisik mereka untuk mencapai sebuah kemenangan, dengan begitu pasukan juga akan termotivasi serta tak ragu untuk mengikuti jejak Alzent, karena ia juga adalah mahluk biasa yang pantang menyerah untuk meraih tujuan.
Lightnar memberikan tendangan Round House, mengenai kepala Alzent, membuatnya terpelanting cukup jauh ke belakang. Darah segar mengalir dari sisi mulutnya, Alzent menyadari jika selama ini ia berhasil karena menggunakan kekuatan gelap, bukan potensi sebenarnya. Alzent lalu kembali menerjang, meluncur di tanah begitu Lightnar kembali menggunakan tendangan beruntun yang dapat mematahkan tulang jika terkena, kemudian menjegal naga tersebut, berharap Lightnar terjatuh, sayangnya, Lightnar melompat ke belakang begitu kedua tanganya menyentuh tanah.
"Tak kusangka, tanganmu kuat juga" puji Alzent.
"Haha, ini bukan apa-apa"
Mereka saling menyerang, memberikan kemampuan terbaik masing-masing. Lightnar yang dasarnya adalah seekor Alpha, memiliki kekuatan lebih dibanding Alzent, namun Alzent memanfaatkan tubuhnya yang dapat bergerak gesit dan cepat untuk mengendalikan situasi, mencari titik lemah di badan Lightnar menggunakan kesempatan menyerang.
Pertarungan terus berlanjut selama beberapa menit ke depan, napas keduanya terputus-putus, terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Keduanya tahu, sudah saatnya mengakhiri ini. Mereka mengambil jarak cukup jauh, bersiap untuk mengerahkan serangan terakhir. Para pasukan bersorak makin besar, tak sabar menyaksikan pemenang.
Begitu setetes keringat jatuh ke tanah, mereka menerjang, mengumpulkan seluruh tenaga dalam satu kepalan tinju yang bertemu tepat di tengah-tengah arena. Bahkan tanpa menggunakan kekuatan pun, tinju tersebut mengakibatkan angin kencang sampai membuat para pasukan harus menutup mata, menghindari debu-debu beterbangan.
Perlahan, angin mereda, tak terdengar lagi suara dari anggota tubuh yang saling menghantam. Terlihat di tengah-tengah lapangan, Alzent maupun Lightnar masih berdiri tegap dalam posisi menyerang. Tinju mereka bersentuhan, lalu keduanya bersamaan jatuh ke tanah dengan napas terengah-engah. Dada mereka kembang-kempis begitu cepat. Para pasukan bersorak meskipun tak ada yang keluar sebagai pemenang, mereka telah melihat dua prajurit terkuat saling bertarung sekuat tenaga, mengerahkan semua kemampuan yang ada dan bertarung hingga selesai.
Lightnar sengaja merencanakan ini untuk menunjukkan bahwa mereka itu sama seperti para pasukan, seseorang yang berusaha keras demi orang-orang, demi para penduduk yang telah percaya pada mereka, demi masa depan yang telah menunggu dibalik penyerangan besar.
Para Holy Knight bertepuk tangan melihatnya, mereka terpukau dan mengakui jika kedua orang itu memiliki tekad yang besar, tak dapat diremehkan. Mereka bersyukur, dua orang seperti itu mau menjadi sekutu mereka, bukannya musuh.
"Dengan begini... kita sudah.. membangun.. semangat para.. pasukan" kata Lightnar, serasa akan pingsan.
"Tadi benar-benar menakjubkan! Aku tak pernah melihatmu bertarung penuh wibawa seperti itu" sahut Lucan bangga "Terakhir kali, di medan perang, kau bertarung seperti seseorang yang tergesa-gesa dan tak memikirkan apapun selain mencapai tujuan, namun sekarang, kau bahkan memikirkan perasaan para pasukan"
"Yah, saat itu kita memang masih muda, mudah termakan oleh emosi. Terlebih, aku tidak ingin peperangan antara Vampire dan manusia berlangsung terlalu lama" jelas Alzent.
Veron tersenyum "Senang melihatmu telah kembali, kawan"
Alzent membalas senyuman tersebut "Ya"
"Oh, sepertinya pacarmu datang" kata Lightnar, melihat Luna datang dari arah para pasukan beranjak keluar. Alzent menggeleng cepat sambil mengatakan "Dia bukan pacarku", tapi senyuman ceria Alzent langsung terbentuk begitu Luna memberikan sebotol air padanya, lalu mengelap keringat Alzent dengan sapu tangan miliknya.
Lucan ikut berjalan bersama Lightnar dan Veron, meninggalkan dua remaja yang tampak begitu serasi "Aku tak pernah berpikir, Luna akan mampu membuat senyuman Alzent itu kembali" ucap Lucan tak percaya "Aku selalu merasa Alzent dapat menahan rasa sakit akan kepergian Yuna, tapi ternyata aku salah. Kini, sahabatku itu akan memiliki pacar baru, aku sungguh iri!" sahutnya kesal.
Lightnar dan Veron tertawa, tapi tawa mereka terhenti begitu melihat si gadis Elf yang sebelumnya ditolong oleh mereka, kini melakukan hal yang sama seperti Luna pada Alzent, bedanya ia melakukan itu pada Lucan yang juga tampak terkejut.
"A-aku melakukan ini karena kasihan melihatmu oke!" katanya ketus.
"O-oh, maaf kalau aku merepotkanmu" balas Lucan. Ia tak dapat membendung senyum jahilnya pada Veron dan Lightnar dengan tampang iri.
"Kini kita berdua yang tak memiliki siapa-siapa" kata Veron pasrah.
"Haha.."
"Hey, apa kalian baik-baik saja?"
Mereka berdua menoleh ke asal suara tersebut, senyuman terbentuk di bibir mereka melihat dua gadis cantik membawakan sebotol air. Dua orang itu adalah Merith dari bangsa Harpy yang sebelumnya menggoda Alzent terus-menerus, namun kini jatuh cinta pada Lightnar karena sikapnya yang begitu gentle, sementara Veron mendapatkan ratu Urvi. Sang ratu tertarik dengan sifatnya yang sedikit dingin, tapi dibalik itu Veron adalah sosok yang sangat perhatian. Veron juga lumayan pintar, menjadikannya kandidat yang cocok untuk menjadi pendamping seorang ratu.
Dengan begini, masing-masing dari mereka telah menemukan belahan jiwanya, sesuatu yang entah akan memberi semangat atau justru menghambat, pergerakan mereka dalam medan perang, di mana medan perang kali ini akan jauh lebih besar serta berbahaya, kematian dapat terjadi kapan saja. Namun, tak peduli bagaimanapun caranya, mereka pasti akan melindungi sosok yang mereka cintai.