Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
A Sacrifice For Love #2



"Bagaimana? Masih ingin melawanku?" tanya Lucan yang duduk di atas punggung serigala berkepala dua.


Tiga mahluk itu menggeleng cepat. Mereka tak ingin menyaksikan sosok yang begitu besar, menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan seluruh kerajaan hanya dalam sedetik. Sehingga, mereka memutuskan untuk menjadi pengikut Lucan dan akan tunduk dibawah perintahnya, namun Lucan hanya meminta mereka untuk menjadi teman.


"Tak kami sangka, kami masih bisa hidup sesudah tak memilik tubuh lagi" ucap si serigala yang suaranya terdengar bergema, sebab kedua kepala tersebut berbicara secara bersamaan karena mereka saling membagi pikiran.


"Mudah saja, jiwa kalian masih berada di dunia ini, jadi aku masih bisa mengembalikan tubuh kalian yang telah hancur. Namun, jangan pernah membicarakan hal ini dengan siapapun, siapapun itu, mau dia sahabatku, seseorang yang penting atau seseorang yang kedudukannya lebih penting. Kalian tahu konsekuensinya jika melangar" ancam Lucan sambil tersenyum penuh makna, membuat tiga mahluk tersebut menggigil ketakutan.


Lucan lalu bangkit berdiri, membersihkan pakaiannya "Aku harus pergi, aku harus menemukan seseorang yang penting bagiku. Apakah kalian melihat seorang gadis Elven pergi kesini beberapa saat yang lalu?" tanya Lucan cepat, waktunya sudah termakan terlalu banyak.


Ketiga mahluk tersebut berpandangan, lalu menatap Lucan "Maksudmu gadis berambut pirang dengan mata sehijau zamrud dan pakaian seksi itu? Kami melihatnya tak lama ini, namun ia menuju pegunungan di belakang kerajaan" jawab si beruang.


"Apa yang sebenarnya ia cari- Mengapa kau menyebutnya seksi hah!?" bentak Lucan, memerhatikan pegunungan besar di kejauhan "Akan memakan waktu yang tak sedikit untuk mencapai pegunungan tersebut, sementara aku tak bisa menggunakan kekuatan utamaku terlalu lama atau mereka akan menyadarinya dan menghabisi tiap mahluk yang ada di dunia ini"


Tiga mahluk itu bergidik ngeri, dengan cepat mengatakan "Kami bisa membawamu dengan cepat ke sana, percayakan ini pada kami"


Lucan tersenyum "Ohh, baiklah, aku percaya pada kalian".


Dengan begitu, mereka bergegas menuju pegunungan yang tampak jauh lebih mengerikan dibanding kerajaan ratu Ezra. Dari kejauhan, dapat dilihat awan badai hitam menutupi ujung pegunungan tersebut disertai petir kemerahan yang terus menyambar tanpa henti, suara guntur menggelegar begitu keras hingga tanah bergetar.


Lucan menggenggam kalung di lehernya, berharap Reyla masih baik-baik saja, walaupun kemungkinannya tipis. Ia tidak ingin kehilangan seseorang yang berharga lagi. Sudah cukup apa yang terjadi di masa lalu, jangan sampai hal itu terjadi untuk kedua kalinya ketika ia ingin memulai hidup baru.


Sementara itu di dalam pegunungan, disebuah altar, Reyla bersembunyi dibalik pilar besar, menghindari semburan api panas dari seekor Hydra setinggi sepuluh meter. Di belakang Hydra tersebut, terdapat sebuah liontin berwarna hijau setengah biru muda. Liontin yang menurut legenda, dapat mengendalikan alam di setiap dunia dengan bebas, bahkan dapat mengendalikan cuaca serta musim. Sebuah kekuatan yang begitu penting untuk membantu menyelamatkan bumi yang berkemungkinan telah rusak parah.


Reyla memejamkan mata dengan erat, menggigit bibir. Ia telah melawan begitu banyak mahluk yang tak lemah untuk mencapai tempat ini, membuat mana dalam tubuhnya hampir habis. Apa yang tersisa, takkan cukup untuk menghadapi Hydra dengan tujuh element serta dua element tambahan di belakangya. Hydra ini terlalu kuat, ia yang seorang diri tanpa kekuatan besar seperti Alzent, Lightnar, Lucan, Veron dan lainnya, tak mungkin bisa mengalahkan mahluk tersebut.


"Lucan.. aku membutuhkanmu..." ucapnya pelan.


Tiba-tiba, tanah di bawahnya, menghempaskan Reyla ke atas dan saat itu juga, salah satu kepala Hydra menyemburkan lisrtrik bertegangan tinggi, menyetrum tubuh Reyla hingga gadis tersebut jatuh pingsan. Sang Hydra, berubah bentuk menjadi sosok seorang laki-laki tanpa baju, hanya sepasang celana panjang berwarna hitam dengan tato hydra di punggung, dengan setiap kepala menjulur ke masing-masing bagian tubuh, dua di tiap dada, dua di pipi dan satu di dahi.


Ia melihat ke arah Reyla, menjilat bibirnya "Sudah lama aku tidak bertemu seorang gadis secantik ini" ia melangkah mendekat, meraba lengan putih mulus Elven tersebut, lalu mengelus pipinya yang kotor sehabis bertarung "Mengapa wanita cantik sepertimu harus melakukan misi yang begitu berbahaya seperti ini? Kau bahkan hanya sekuat pasukan elite biasa"


Laki-laki tersebut mengangkat Reyla seperti seorang putri, mencium bau parfum samar-samar yang begitu harum menggoda "Gadis sepertimu seharusnya tetap berada dalam kerajaan, biarkan seseorang yang lebih pantas datang ke sini. Aku benar-benar bosan harus menjaga liontin yang bahkan tak dapat dikuasai oleh siapapun"


Ia membawa Reyla ke sebuah ruangan di belakang altar, menidurkan Reyla di atas sebuah kasur dengan tirai berwarna hitam yang kemudian berubah menjadi hijau ketika Reyla menyentuh permukaan tempat tidur. Seketika, tempat tidur yang bagaikan milik seorang ratu itu, bercahaya terang, menyembuhkan tiap luka di tubuh Reyla, mengembalikannya menjadi sosok gadis cantik dan manis.


"Kau bahkan cocok menjadi seorang putri" pujinya, menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Reyla, perlahan turun ke leher, namun tiba-tiba ia dapat merasakan empat mahluk memasuki daerah kekuasaannya. Salah satu dari mahluk tersebut, menyimpan kekuatan yang begitu besar hingga membuat Sang Hydra sedikit menggigil takut "Ouh? Tampaknya ada yang mencari dirimu dan mengapa ia memiliki aura seorang Immortal? Ini sedikit menarik, mungkin ia dapat menjadi teman bermain untuk sementara" ia tersenyum melihat wajah tampan seorang laki-laki berambut pirang dengan sepasang mata hazel, di asap yang ia ciptakan, lalu mengibaskan tangan dan melangkah menuju altar "Aku akan menyimpan kesenangan kita di lain waktu, bidadari. Aku akan membereskan kekasihmu terlebih dahulu" ucapnya pelan.


"Kita sebentar lagi sampai" sahut si harimau. Dapat terlihat di wajah ketiga mahluk itu, mereka senang sudah berhasil mencapai tempat ini beberapa hari lebih cepat dan akan membuat Lucan merasa bangga telah menerima mereka.


"Ternyata larimu cepat juga" puji Lucan pada si serigala, lalu melihat ke arah pegunungan di hadapannya "Tunggu aku Reyla, aku pasti akan menyelamatkanmu, aku janji" tapi, si serigala berhenti. Lucan yang terlempar ke belakang, bangkit berdiri akan marah, seketika terdiam melihat begitu banyak hewan gaib keluar dari balik pepohonan, menatap tajam mereka sembari mengeluarkan aura membunuh yang besar "Kalian benar-benar cari mati" kata Lucan pelan, menggunakan kekuatan utamanya sebab tak seorangpun dapat melihat dan ia berharap pertarungan tak terlalu banyak memakan waktu atau 'mereka' akan menyadarinya.