
"Alzent!!" teriak Luna. Ia ingin berlari menuju orang yang disukainya itu, namun Reyla menahannya, Reyla tahu jika Luna terkena sedikit saja petir tersebut, Luna sudah pasti kehilangan kesadaran dengan luka serius "Lepaskan aku! Lepaskan aku!!" sahutnya meronta-ronta. Reyla hanya menutup mulut, menjegal Luna ke tanah dan menahannya disana.
Petir merah terang itu terus menyambar tanpa henti, Lucan dan Veron sudah tak mampu menggerakkan badan mereka dan kesadaran kedua orang itu mulai menghilang perlahan. Alzent terus berusaha bertahan meskipun rasa sakit yang diterimanya berkali-kali lipat dari yang seharusnya, ia menggigit bibir hingga mengeluarkan darah untuk mempertahankan kesadaran, sementara laki-laki berzirah hitam dengan wajah tampak retak serta berwarna kelabu, tertawa melihat mereka "Begini sajakah? Aku pikir kalian jauh lebih dibandingkan ini, ternyata tak lebih dari sampah peminjam kekuatan"
Alzent perlahan bangkit, tubuhnya bergetar hebat, tetapi ia terus memaksa untuk bangun. Laki-laki itu semakin kuat menyambarkan petir, membuat Alzent terjatuh sekali lagi, lalu berusaha bangkit, mengatakan "Memang benar.. I-ini hanyalah kekuatan pinjaman.. k-kami tak sekuat dirimu.. t-tapi, k-kami tak pernah menggunakan kekuatan untuk.. sesuatu yang bahkan lebih.. dari sampah!" Alzent berhasil bertekuk lutut, kini berusaha berdiri "Kami tak pernah, menyiksa yang lemah.. kami memanglah sampah, namun seseorang yang merasa bangga hanya karena.. dapat menyiksa seseorang, jauh lebih rendah dibanding sampah!"
Laki-laki tersebut melompat, mengambil jarak. Ia tidak menyangka Alzent mampu bertahan dari serangan petir sebanyak itu dengan kekuatan yang juga tidak main-main. Ia tersenyum senang, menantang "Ini baru aku suka. Gunakan seluruh kekuatanmu, mari kita bertarung dengan serius!" ia mengangkat tinggi tangan kanan, mengambil energi dari petir merah besar yang menyambar dirinya, kemudian petir tersebut terlihat mengelilingi tiap bagian tubuh dengan suara percikan listrik mengerikan.
Alzent membangkitkan kekuatan gelap di dalam dirinya, mengubah aura keemasan di pedang menjadi hitam pekat. Kedua mata Vampire muda tersebut berubah hitam dengan iris berwarna kuning menyala. Ketika Alzent melampiaskan kekuatannya keluar, setiap orang yang berjarak dalam radius seratus meter dapat merasakan kegelapan menyelimuti, membuat napas terasa sesak dan penglihatan kabur. Alzent dengan cepat menarik kembali aura tersebut sebelum ada pasukan yang pingsan, ia hanya mengeluarkannya untuk mengintimidasi laki-laki di hadapannya yang tampak sedikit terkena efek, namun masih dapat tersenyum lebar.
"Ohhh, kekuatan yang bagus, tapi.. biar aku tunjukkan kekuatan yang sebenarnya seperti apa" ia melampiaskan kekuatan gelapnya yang mampu membuat tiap orang dalam radius lima ratus meter bertekuk lutut, bahkan kehilangan kesadaran. Alzent sendiri harus mengeluarkan aura gelapnya kembali untuk melindungi diri dari aura milik laki-laki itu. Ia menariknya, memunculkan sebuah katana panjang mengilap, dengan gagang berwarna hitam.
Mereka berdua saling menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Saling fokus terhadap mata lawan, bergerak secara perlahan, lalu begitu angin bertiup, mereka saling menerjang, menggunakan pedang masing-masing untuk memberikan luka sayatan. Tidak butuh waktu lama, laki-laki itu sudah mulai mendominasi pertarungan, dimana Alzent terpaksa melangkah mundur menghadapi permainan pedang cepat miliki orang tersebut. Serangannya sulit untuk ditangkap oleh mata. Jika Alzent menggunakan mata normalnya, mungkin ia tak dapat menangkis tiap serangan yang datang dan sudah memiliki begitu banyak lubang dalam tubuh.
Laki-laki itu juga tampak tidak menahan diri, ia benar-benar mengeluarkan segalanya untuk menghabisi Alzent. Katana panjang miliknya bermain dengan gesit serta cepat, sebuah gaya bertarung yang berbeda dari ratu Ezra, namun memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menghabisi musuh dengan cepat setelah membuat lawan pusing dalam menebak pola serangan.
Benar saja, ketika Alzent tak mampu lagi menebak arah serangannya yang berubah-ubah, seperti mengikuti arah tiupan angin yang sulit ditebak, katana tersebut berhasil membuat luka sayatan di tiap bagian tubuh Vampire muda itu. Laki-laki yang sedang memainkan katananya tanpa rasa lelah sedikitpun, tersenyum merendahkan "Tidak mungkin kekuatan yang dipinjamkan oleh Zeon hanya begini saja. Aku tahu kau masih menahan diri, keluarkan semuanya atau.." permainan pedangnya berhenti, ia menunjuk Luna menggunakan katana tersebut "Kekasihmu itu, akan kuhabisi"
Alzent tahu ia tak bisa menghadapi orang ini hanya mengandalkan tehnik berpedang saja, Alzent segera mencari kesempatan untuk berteleportasi, lalu berpindah ke belakang orang itu, melempar pedangnya ke atas dan memberikan serangan menggunakan tinju serta tendangan keras. Begitu laki-laki tersebut melompat mundur untuk mengambil jarang, Alzent berteleportasi ke atasnya, tepat ketika pedang miliknya melayang jatuh. Alzent berhasil menghancurkan zirah hitam laki-laki itu, bahkan memberikan sebuah luka sayatan di dadanya.
Tak hanya sampai disitu, Alzent lanjut berteleportasi ke belakang laki-laki tersebut, menusukkan pedangnya menembus perut, kemudian menjegal, membuat laki-laki itu jatuh ke tanah selagi menarik keluar pedangnya dan menusukkan pedang tersebut ke jantung.
Dada Alzent kembang-kempis, napasnya terengah-engah, keringat bercucuran di keningnya. Alzent bangkit berdiri, mencabut pedangnya. Ketika ia berjalan menjauh, terdengar suara tawa menyebalkan laki-laki itu kembali. Alzent berbalik, tepat saat itu juga, sebuah katana menembus tubuh Alzent hingga ke belakang "Tak semudah itu kau mengalahkan diriku" bisiknya di telinga Alzent. Ia menarik keluar katana, memberikan sebuah tendangan Round House tepat ke bekas tusukan tersebut, lalu berlari sangat cepat hingga tak dapat terlihat oleh mata telanjang, muncul di samping Alzent yang baru saja akan bangkit sesudah terlempar dan terbanting di tanah.
Bekas luka itu kembali terkena tendangan kuat, membuat tubuh Alzent melayang tinggi ke udara, lalu ditendang kembali ke tanah menggunakan tumit kaki. Alzent berusaha bangkit sambil batuk mengeluarkan darah. Ia menyeka darah di sisi mulut dengan punggung tangan, menggenggam pedangnya dengan kuat, menahan ayunan katana yang berhasil mendorong mundur Alzent sejengkal "Tunjukkan dirimu yang asli! Aku ingin melihat kekuatan dari Sang Pangeran!!" sahutnya, memberikan sebuah tinju di luka tersebut, kembali menggunakan tendangan Round House ke wajah Alzent, membuatnya terlempar beberapa meter.
Luna melihat apa yang terjadi pada Vampire muda yang disukainya itu. Ia benar-benar ingin menolong Alzent, namun ia juga takut jika identitas aslinya ketahuan. Nyawa Alzent akan semakin dalam bahaya besar jika ia menunjukkan dirinya sekarang, setidaknya Alzent harus menjadi jauh lebih kuat terlebih dahulu sebelum Luna dapat menunjukkan identitas asli pada laki-laki itu.
Tak lama, Lucan dan Veron membuka mata, mereka bangkit berdiri dan langsung menoleh pada asal suara Alzent yang sementara dihajar habis-habisan oleh laki-laki Arkbyss tersebut. Mata mereka berdua berubah seperti sebelumnya, menggunakan kekuatan terbesar mereka, lalu maju menerjang laki-laki yang tampak tidak menyadari kedatangan mereka berdua, namun begitu sudah berjarak 3 meter darinya, laki-laki itu mengarahkan tangan kirinya ke belakang, memunculkan sebuah lingkaran sihir hitam, menahan serangan dua Vampire muda, selagi mencekik Alzent dengan tangan kanan.
"Tak semudah itu" ucapnya sambil tersenyum.