
Namun, yang terjatuh ke tanah, tak bernyawa bukanlah ratu Urvi, melainkan ibunya, Sang mantan ratu, Ewhitna. Seluruh bangsa Elf terkejut melihat hal tersebut, terdiam, menyaksikan seseorang yang begitu mereka hormati dan kasihi, kini terbaring menghembuskan napas terakhirnya di dalam medan perang.
Ratu Ezra tertawa lantang menyaksikan hal tersebut, ia sangat bahagia seluruh rencananya berjalan lancar "Aku sudah menduganya! Kau adalah satu-satunya boneka yang dapat aku andalkan Alzent. Meskipun harus mengorbankan Darkoth, aku tahu kau adalah sosok yang terlalu baik untuk berada di sebuah dunia kacau seperti ini, sehingga merebut seluruh kegelapan dalam diri Darkoth, menyimpan seluruh kegelapan tersebut dalam dirimu. Kemudian kalian pergi ke Shrine of Light, mengira tempat tak berguna seperti itu akan membantumu mengurangi kegelapan milikku? Sayang sekali tidak. Kini! Kau adalah milikku dan mulai saat ini, bangsa Elf akan musnah!"
Apa yang sebelumnya bangsa Elf tak pernah ingin rasakan, kini meluap dari dalam diri mereka. Amarah yang begitu memuncak, lalu mereka kendalikan, membuat mereka menjadi pasukan berkali-kali lipat lebih kuat dibanding sebelumnya. Mereka tak pernah ingin berperang, tak ingin ada nyawa melayang, tak ingin melihat darah ataupun merasakan kehilangan. Tapi, jangan pernah membunuh seseorang yang begitu mereka hormati dan kasihi. Hanya karena mereka cinta damai, bukan berarti mereka lemah dan itulah yang akan menjadi senjata kekalahan Dark Elf.
Tanpa ragu, mereka semua maju menerjang, mengerahkan segenap kemampuan, semua sihir dan tak lagi menahan diri. Jasad dari Ewhitna telah dipindahkan ke dalam kerajaan bersama ratu Urvi yang terus menangis di sebelahnya.
Pasukan Dark Elf menjadi kewalahan menghadapi amarah dari bangsa Elf yang ternyata selama ini tertidur. Mereka tak pernah menyangka akan membangkitkan seekor singa yang sementara beristirahat. Sekarang, mereka akan merasakan amukan dari singa tersebut dan akan sungguh menyesalinya.
Ratu Ezra tak lagi tersenyum, ia memerintahkan seluruh pasukannya untuk segera menghabisi bangsa Elf atau Sang ratu akan menggunakan nyawa mereka sebagai bahan sihir kegelapannya yang di mana, membuat Dark Elf akan merasa begitu kesakitan sebelum akhirnya mati dalam penderitaan.
Dipenuhi rasa takut akan ratu Ezra, pasukan Dark Elf melangkah maju dalam medan perang, melawan bangsa Elf yang kini tampak begitu menakutkan. Mereka bahkan berharap hidup menjadi seorang Elf dibanding harus hidup sebagai seorang budak seperti ini.
Lightran, Veron dan Lucan sementara menghadapi Alzent yang terus mengamuk. Mereka berusaha sekuat mungkin agar Alzent tidak melukai satupun bangsa Elf, tapi karena kekuatannya yang terlalu besar, Lightran mau tidak mau harus menggunakan kekuatan penuhnya dalam wujud manusia, yang di mana membuat tubuhnya sedikit sakit menahan seluruh sihir tersebut.
Pertarungan antara Lightran dan Alzent mengguncang seluruh area peperangan. Dua mahluk terkuat, kini saling bertarung mempertaruhkan hidup dan mati. Lightran sebisa mungkin menahan diri untuk tidak melukai Alzent. Namun karena semakin terdesak, ia terpaksa sedikit melukai laki-laki itu, bertarung dengannya dengan lebih serius hingga melempar Alzent ke sana ke mari, menghantam dinding keras maupun terseret di tanah.
Pukulan demi pukulan diberikan oleh Lightran ke tubuh Alzent, begitu pula sebaliknya hingga mereka sama-sama terluka cukup parah, mengambil jarak, menunggu momentum dan saling menerjang, memukulkan tinju mereka yang membuat angin kencang, menerbangkan apapun di sekitar. Pukulan tersebut membuat lengan Lightran terasa seperti terbakar oleh api yang begitu panas, sementara Alzent merasakan tangannya gemetaran akibat tinjuan kuat tersebut.
Mereka kembali mengambil jarak sebelum saling menerjang, memberikan kombinasi antara tinju maupun tendangan, disertai sihir berelemen cahaya milik Lightran dan api hitam milik Alzent. Dibandingkan peperangan berskala besar antara Elf dan Dark Elf, pertarungan mereka berdua membuat apapun yang disekitar rusak jauh lebih parah, meninggalkan kawah-kawah berukuran besar di mana-mana dengan sisa-sisa dari sihir mereka.
Berkat kedatangan dua pemuda tersebut, mereka bisa sedikit seimbang melawan Alzent yang tampak begitu santai menghadapi mereka, sedangkan mereka bersusah payah hanya untuk mencari kesempatan memukul wajahnya meskipun hanya sekali.
Pertarungan mereka berempat semakin lama semakin mendekati tempat ratu Ezra berada, di mana Alzent dilempar tepat ke sampingnya, lalu dihajar oleh Lucan namun ditendang ke belakang oleh Alzent dan ditahan lagi oleh Veron. Lightnar kemudian datang untuk memberikan serangan kombinasi dari mereka bertiga.
Alzent melepaskan kekuatannya keluar, mementalkan tiga orang itu dan tiba-tiba saja menghilang. Ratu Ezra mengira Alzent berteleportasi entah ke mana untuk kabur, ia tak menyadari Alzent berada di belakangnya dan sebuah bilah pedang menembus masuk jantung ratu Ezra.
"Bagaimana kau-
"Sayang sekali, kau terlalu percaya pada kekuatanmu sendiri dibanding sesamamu. Itulah kelemahan terbesar anda, Yang Mulia" Alzent menarik kembali pedangnya, membiarkan tubuh tersebut jatuh ke bawah, menciptakan suara hantaman yang nyaring. Perang terhenti, setiap orang kembali memerhatikan dirinya yang kini telah kembali ke bentuk normal, lalu memerhatikan tubuh Sang ratu yang tak bernyawa.
"Rakyat dari bangsa Dark Elf! Dengarkan aku!" sahut Alzent "Apakah kalian masih ingin terus melanjutkan perang yang tiada artinya ini? Melanjutkan sesuatu yang membuat kalian merasa tidak nyaman.. karena sebuah keterpaksaan. Masih inginkah kalian menjadi budak dari sesuatu? Menjadi sebuah.. alat. Atau inginkah kalian ikut bersamaku? Seseorang yang berhasil lolos dari genggaman Sang ratu kegelapan, seseorang yang memperjuangkan hidupnya, untuk kebahagiaan bersama! Untuk sosok yang kalian sayangi maupun cintai!"
Alzent semakin berapi-api "Bahkan Lightnar pun dapat lolos dari sihir terkutuk itu! Kalian pun bisa! Karena kalian adalah seorang pejuang! Seseorang yang berhasil bertahan dari tirani Sang ratu kegelapan! Seseorang yang pantang menyerah! Dalam menghadapi kejamnya hidup" para Dark Elf mulai menjatuhkan senjata mereka "Aku tahu, di dalam hati, kalian ingin bebas! Kalian ingin merasakan hidup! Kalian ingin berjuang membentuk cerita kalian sendiri! Tak ada yang berbeda di dunia ini, seperti yang dikatakan ratu Urvi. Elf, Dark Elf, mereka adalah mahluk yang memiliki keahlian masing-masing, namun perbedaan itulah yang membuat kalian menjadi lebih kuat! Jadi aku katakan... tinggalkan masa lalu kalian! Mulailah melangkah untuk masa depan! Bentuklah jalan cerita kalian sendiri!!"
"Aaaaaaa!! Alzent! Alzent! Alzent!"
Dan sorakan tersebut terus berulang, memenuhi medan perang, membentuk sebuah kenangan baru, sebuah memori kebangkitan, sejarah yang akan terus diceritakan, persatuan antara Elf dan Dark Elf serta seorang pahlawan bernama Alzent.
Di atas puncak sebuah gunung, dua Orc berbadan besar menyaksikan hal tersebut, hati mereka sedikit terguncang melihat sosok bernama Alzent itu dan bergegas kembali ke wilayah mereka, membawa sebuah berita baik, berita yang akan membuat raja mereka sangat senang, sebuah keputusan.. untuk jalan cerita yang baru.