
Medan pertempuran dipenuhi oleh suara dari jeritan, teriakan, sahutan, genderang perang, nyanyian para Syren, pedang-pedang yang saling beradu, hantaman senjata-senjata berat para Orc, panah-panah yang melesat cepat, rapalan sihir, ledakan, gemuruh badai, bola-bola api berukuran besar yang terus berjatuhan, namun semua itu berhenti ketika sebuah sinar hitam seperti sebuah pilar, menjurus tinggi ke angkasa disertai ledakan energi kuat dari arah kerajaan.
Bangunan tempat Alzent berada kini hancur berantakan, Luna terjatuh dari tempat tinggi tersebut. Begitu tubuhnya hampir menyentuh tanah, Lucan sudah menangkapnya terlebih dahulu, memindahkannya ke medan peperangan, dimana Lucan yakin ia akan lebih aman di sana. Entah mengapa, perasaannya mengatakan Alzent bukanlah Alzent yang ia kenal, melainkan sosok yang berbeda, terlebih sesudah melihat sinar hitam tersebut, ia yakin nyawa Luna dalam bahaya besar.
Medan peperangan menjadi hening, mereka memperhatikan sinar hitam itu, tak mampu bergerak dari tempatnya. Begitu sinar tersebut menghilang, tampak seorang laki-laki terbang di atas Risenland, kepakan kedua sayapnya menimbulkan angin kuat, terdengar hingga mencapai medan perang di bawah. Setiap pasang mata menatap sosok itu, sosok yang begitu familiar, namun tak dikenal.
Tiba-tiba, sosok tersebut sudah berada di tengah-tengah medan peperangan, menjentikkan jarinya. Tanpa disadari, hampir sebagian dari pasukan Orc maupun Elven memiliki mata berwarna ungu dengan setiap urat dalam tubuh mereka berubah hitam. Mereka lalu membunuh siapapun yang tak berubah di sekitar, barulah para pasukan yang tersisa sadar, kemudian bertahan sambil berusaha membuat mereka kembali sadar.
"Tak ada gunanya, kalian takkan bisa membuat mereka sadar, mereka adalah budak-budakku sekarang" ucap sosok tersebut dengan suaranya yang seakan berada dalam kepala dan terasa seperti akan membuat kepala pecah.
Lightnar terkejut begitu mendengarnya, ia tahu itu adalah suara Alzent, bukanlah orang lain yang mengendalikan tubuhnya. Ia berusaha menepis pemikiran bahwa Alzent adalah sosok orang yang seperti dijelaskan oleh Uhro, tapi melihat stuasi buruk di sekitarnya, Lightnar mengumpulkan setiap kekuatannya, maju menerjang Alzent yang dengan mudah menahan serangannya, hanya menggunakan satu tangan "Oh, Lightnar? Haha.. aku tidak menyangka kau akan melawan diriku, bukankah kita adalah teman?" ucapnya, lalu mementalkan Lightnar hingga terlempar beberapa meter ke belakang.
Alzent lalu pindah ke hadapan para Holy Knight yang sedang bertarung, tersenyum melihat wajah mereka yang tampak bingung serta takut "Ohh, pasukan yang malang. Kalian takut menghadapiku? Bukankah kalian adalah Holy Knight yang pemberani, pasukan elite dari bangsa Elven?" dua bola energi berwarna hitam muncul di kedua tangan Alzent, memancarkan aura kehitaman yang menyebar luas "Bagaimana kalau kalian ikut denganku? Aku sudah pasti akan memperlakukan kalian dengan sangat istimewa.. bukankah kalian menginginkan kebebasan?"
Salah satu Holy Knight berubah, kedua matanya kini menjadi api ungu. Ia lalu berjalan menuju sisi Alzent "Lihat.. bahkan salah satu dari kalian sudah mengakuinya. Ikutlah denganku.. akan kubuat kalian menjadi pasukan yang paling dihormati dan tak terkalahkan.."
Beberapa Holy Knight ikut pindah ke sisi Alzent, sementara Holy Knight yang masih bertahan mendapatkan serangan dari dua bola energi tersebut, membakar mereka menjadi abu dan tak tersisa. Mereka yang masih sadar, seketika kehilangan semangat bertarung. Alzent menoleh pada mereka, lalu sedetik kemudian mereka sudah menjadi bagian dari pasukan kegelapannya.
Tak terhitung berapa banyak pasukan kegelapan yang dimiliki laki-laki itu, tapi bangsa Syren tetap maju dan menghadapi mereka. Beberapa Syren yang paling dekat, melancarkan serangan bersamaan ke seorang Orc, namun sebelum pedang mereka mengenai kulit Orc tersebut, parang besarnya sudah membelah tubuh mereka menjadi dua. Syren yang lain terhenti di tempat, tak mampu bergerak begitu Orc itu menatap tajam, tatapannya seolah-olah masuk menusuk jiwa mereka.
"Lebih baik.. kalau kalian ikut bersamaku, tak seorangpun dapat mengimbangi pasukan kegelapan ini" ucap Alzent, memberikan lengan kanannya, seperti mengajak seseorang "Ikutlah denganku.."
"Jangan dengarkan dia!" sahut Lucan, menyadarkan pasukan yang hampir saja terbawa masuk dalam kegelapan.
"Oh?" Alzent pindah tepat ke depan Lucan, tersenyum melihat sahabatnya itu "Lucan.. sahabatku. Mengapa kau bertindak melawan sahabatmu ini, hmm? Kita sahabat bukan? Aku tahu kau sebenarnya ingin ikut denganku, tapi keberadaan Reyla membuatmu berpikir dua kali kan?"
Mata Lucan terbelalak begitu Alzent menarik Reyla yang berjarak cukup jauh dari mereka dan mencekik lehernya "Haruskah aku membuatnya menderita.. agar kau mau ikut denganku?" cengkramannya di leher gadis itu semakin kuat, membuat Reyla memberontak sambil menjerit keras "Jawab Lucan" perintah Alzent.
Alzent melempar Reyla cukup jauh "Bagus.. sekarang terima tanganku ini"
Perlahan Lucan mengambil ajakan dari Alzent, lalu dengan tiba-tiba menusuk tubuh sahabatnya dengan pedang darah "Maafkan aku, kawan" ia mencabutnya kembali, berlari menuju kekasihnya yang tampak kesulitan berdiri dengan napas terengah-engah.
Alzent meraba dadanya, menemukan darah hitam lalu mengepalkan tangan dengan kuat "Tega sekali dirimu.. kau baru saja membunuh sahabatmu sendiri?" Alzent terbang tinggi ke udara, menciptakan bola api hitam seukuran kelereng yang kemudian melesat cepat ke arah Lucan. Lightnar langsung pindah ke depan Lucan, memasang lingkaran sihir emasnya, melindungi mereka bertiga dari serangan Alzent yang berhasil membuat lingkaran tersebut pecah disertai ledakan besar yang menghanguskan apapun di depan Lightnar, sebab terpantul oleh lingkaran miliknya.
"Alzent sadarlah!" teriak Lightnar putus asa. Ia masih tidak ingin percaya pada perkataan Uhro.
"Alzent? Siapa dia?"
Lightnar mengumpulkan setiap kekuatannya, maju menerjang laki-laki itu hingga terjatuh di tanah. Ia tak memberikan satu kesempatan pun bagi Alzent untuk menghindar dan terus menghajarnya hingga Alzent tampak lemah dengan tubuh gemetaran "Sadarlah, kumohon!"
Senyuman di wajah Alzent menghilang, ia menatap tajam Lightnar lalu memberikan pukulan kuat di perutnya "Sudah kukatakan, aku tidak tahu siapa dia!"
Lightnar terlempar jauh, menghantam dinding kerajaan hingga hancur dan terbanting di tanah, berakhir menghantam dinding bangunan. Veron kemudian maju menghadapi Alzent menggunakan Scythe miliknya, ia memutar dan menyerang menggunakan senjata tersebut yang dengan mudah dihindari oleh Alzent, kemudian ditangkap olehnya "Bahkan kau juga, Veron? Aku tidak mengerti.. mengapa kalian menjauhiku seperti ini?" ia menggunakan Scythe tersebut untuk menyerang balik tuannya, memberikan luka sayatan besar di dada Veron, kemudian mematahkan senjata tersebut, membuangnya ke samping laki-laki yang kini mendapatkan pendarahan.
"Apa salahku terhadap kalian? Aku hanya ingin menciptakan dunia yang aman dan damai, tidak lebih. Mengapa kalian menolaknya? Atau kalian hanya menolak keberadaanku?" Alzent melangkah pelan, menutup mata dan membukanya disertai gelombang energi gelap besar yang mendorong apapun sejauh 5 meter ke belakang. Ia lalu menembakkan sebuah bola energi gelap ke langit, di mana bola energi tersebut menutupi seluruh langit di dunia itu dengan kegelapan, kemudian menghujani mereka dengan bola-bola api hitam "Karena kalian menolak keberadaanku, kalianlah yang akan pergi dari dunia ini"
Lalu, langit di belakang Alzent terbelah, menciptakan sebuah bola api hitam berukuran sangat besar yang panasnya dapat dirasakan. Begitu panas dan menusuk kulit, sampai setiap orang yang tidak berada di bawah pengaruh kegelapan, jatuh pingsan bahkan ada yang mati melepuh "Aku rasa ini saatnya mengucapkan selamat tinggal"
Begitu bola api tersebut akan menghantam, sebuah lingkaran sihir besar menghalanginya, membuat ledakannya tak sampai di bawah dan justru terpantul kembali ke atas. Lucan dan yang lainnya membuka mata perlahan, menemukan sosok seorang laki-laki berambut putih yang mereka kenal.
"Alzent! Haha.. aku tahu itu bukan dirimu" sahut Lucan bahagia.
"Maaf telat. Ada sedikit kendala tadinya" jawab Alzent santai dengan senyuman lembut khas dirinya.