Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Queen of Syrens



Semenjak Veron menggunakan kekuatan barunya itu, ia menjadi incaran Sang ratu Sysilla. Setiap Syren kini mengepung dirinya, mencoba untuk membawanya pada Sang ratu. Veron berusaha untuk bertahan dari serangan mereka yang tidak ada habisnya itu. Memang ia memiliki kekuatan serta serangan yang sama namun lebih kuat, tapi jika menghadapi lebih dari 100 Syren bersamaan, tentu saja ia akan kelelahan.


Selain itu, plasma-plasma air milik para Syren mulai membuatnya pusing serta berkunang-kunang, sehingga ia tak mampu memberikan serangan dengan tepat. Sang ratu Syren tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut dan memerintah lebih banyak pasukannya untuk segera menangkap Veron. Sebab, Sang ratu berpikir kalau Veron akan berguna bagi mereka.


Untungnya, Lightnar, Lucan, Tern dan beberapa Holy Knight telah sampai dan segera melindungi Veron. Mereka menghabisi setiap Syren yang mengelilingi laki-laki itu, lalu berkumpul di depannya, melindungi sahabat mereka dari serangan para Syren.


"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Lucan.


"Apa begini yang kau bilang tidak apa-apa?" Balas Veron sarkas, berusaha bangkit berdiri sembari mengumpulkan kembali kekuatan ombaknya "Bagaimana di sisi kalian? Para mahluk raksasa itu sudah berhasil diatasi?" tanyanya penasaran.


Lightnar menciptakan lingkaran sihir berukuran besar, melindungi mereka dari hujan plasma air "Bisa dibilang seperti itu. Keadaan disini jauh lebih gawat dibanding disana, jadi sebaiknya kita berhenti berbicara dan fokus pada Syren-Syren yang tampak tidak menggunakan otak mereka ini" perintahnya. Lightnar meledakkan lingkaran sihir tersebut ke arah para Syren, mementalkan mereka cukup jauh hingga ombak milik mereka terpecah dan masuk dalam tanah, meninggalkan Syren-Syren yang menggelinjang mencari pernapasan, kemudian mati dalam keadaan tersiksa.


Tern lalu melompat tinggi, meremukkan tulang setiap Syren yang berusaha berlindung di balik ombak, namun sayangnya hal tersebut tak berlaku untuk kedua palu raksasa milik Tern. Palunya berhasil memecah ombak dan menghancurkan tubuh indah para Syren. Tak hanya sampai disitu, ia berputar kencang, menciptakan tornado mini yang menghisap apapun di sekitarnya, kemudian hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.


Lucan menggunakan darah milik para Syren, mengubahnya menjadi pedang-pedang tajam yang menusuk, menembus pertahanan ombak hingga melubangi tubuh Syren-Syren tersebut. Ia juga menggunakan darah mereka, perlahan tercampur dalam ombak dan mengubah darah tersebut menjadi duri tajam panjang, membunuh setiap Syren dari ombak milik mereka sendiri.


Para Holy Knight bekerja sama untuk menghabisi beberapa Syren. Mereka juga sama sekali tidak memberi belas kasihan terhadap bangsa yang telah menghabisi Elven hanya karena keserakahan. Terlebih, tanpa Alzent, pasukan Elven itu menjadi benar-benar mati dan tak dapat dihidupkan kembali. Mereka tidak tahu bagaimana cara Alzent melakukannya dan curiga terhadap hal itu, namun selama para Elven dapat hidup kembali, mereka tidak masalah Alzent menggunakan kekuatan apa untuk melakukannya.


Pasukan Syren mulai mundur perlahan, mereka masih ingin memberikan luka pada orang-orang itu, tapi insting mereka juga mengatakan lebih baik untuk menyusun rencana baru dalam menghadapi orang-orang ini. Mereka juga berharap pada Sang ratu untuk memberikan mereka perintah atau setidaknya arahan, namun begitu melihat wajah Sang ratu, mereka mengurungkan niat untuk bertanya.


Sysilla, Sang ratu Syren begitu marah menyaksikan pasukannya dihabisi dengan mudah oleh orang-orang yang baru saja datang tersebut. Ia menoleh ke belakang dan menemukan bangsa Orc juga menyerang mereka menggunakan hewan-hewan ganas berukuran besar serta mesin-mesin aneh namun berbahaya, lalu sihir-sihir gelap para Shaman yang dapat membangkitkan jiwa para Orc yang telah mati, untuk digunakan kembali sebagai pion-pion dalam peperangan. Ia tidak menyangka bangsa Elven dan Orc akan bersekutu, sehingga dengan percaya dirinya maju menyerang, tapi ketika mengetahui hal ini, sudah terlambat untuk mundur, Lifestone juga berada di depan mata, mereka dapat merasakannya.


"Aku perintahkan kalian semua! Gunakan Aqua Binding!" perintah Sang ratu.


Para Syren terkejut mendengar perintah itu, mereka saling berpandangan, merasa sedikit ragu untuk melakukannya. Tetapi, perintah ratu mutlak, mereka harus melakukannya atau mereka akan diusir dari bangsa Syren. Para pasukan kemudian mundur mendekati Sang ratu yang berada di atas ombak utama yang besar, mereka lalu melakukan sebuah tarian disertai nyanyian indah yang mengendalikan arah arus deras ombak. Perlahan setiap ombak tersebut bercahaya kebiruan, membentuk semacam telur, menyimpan setiap Syren di dalam, lalu di kulit mereka terbentuk sisik berwarna zamrud yang keras serta sekuat zirah Holy Knight. Sirip mereka berubah menjadi dua pasang kaki yang juga tertutupi oleh sisik-sisik tersebut. Ombak-ombak itu menyatu dalam zirah mereka, menutupi kulit yang tak tertutupi oleh sisik, lalu membentuk selang di masing-masing kiri-kanan tubuh, masuk ke dalam helm emas mereka. Kini mereka tampak lebih seperti pasukan mutasi dalam video game, yang menggunakan selang-selang dengan cairan kehijauan yang mengalir ke setiap bagian tubuh.


Tak lama, sesudah setiap pasukannya berubah, Sang ratu ikut menyelesaikan tarian tersebut, ombak besar miliknya terpecah menjadi butiran-butiran air, begitu banyak, melayang di udara bersama Sang ratu. Perlahan sisik berwarna keemasan juga terbentuk di kulit Sang ratu, dengan bentuk yang lebih elegan dan berbahaya. Setiap butiran air bergetar kuat, lalu melesat masuk dalam tubuh Sang ratu, membentuk lapisan luar dari sisik tersebut, seperti sebuah cairan kental berwarna biru dengan cahaya-cahaya redup kehijauan yang kemudian sedikit mengeras. Sekarang Sang ratu menjadi sama kuatnya dengan Lightnar dalam wujud manusia, bahkan ia memiliki dua pedang satu sisi, dari air di belakang punggungnya dengan gagang keemaasan.


Lighnar dan yang lainnya melangkah mundur, mengambil jarak dari bangsa yang tampak begitu berbeda "Sebaiknya kita berhati-hati sekarang, aku merasa ada yang aneh dengan pasukan Syren itu" ucapnya sambil terus memerhatikan tatapan penuh hawa membunuh, yang sebelumnya tak ada pada mereka.


Aura yang dikeluarkan oleh bangsa Syren kini tak lagi terasa seperti bangsa yang hanya ingin mengambil dan merampas, melainkan sebuah ancaman berbahaya yang dapat membuat pasukan Holy Knight menelan ludahnya sendiri. Tatapan tajam dari mata berwarna biru milik Sang ratu, dibalik helm satu wajah berwarna emasnya itu, seakan memberitahu 'Kami tidak akan bermain-main lagi'.