
Di atas sebuah gedung tinggi, seorang laki-laki mengawasi mangsa menggunakan sniper besar. Tiga lampu berbentuk jajar genjang, tampak di sisi kiri serta kanan, bercahaya terang ketika ia menekan pelatuk. Terdengar suara menggelegar dari energi melesat cepat mengenai salah satu mangsa tepat di kepala. Ia menarik napas, menahannya sembari mendengar informasi dari earpiece.
"Tiga dari mereka berlari ke arah sebelah kiri, bersembunyi dibalik mobil dan dua sisanya tiarap di belakang semak-semak. Mereka masih belum tahu dari mana arah tembakan berasal"
Pelatuk kembali ditekan, kali ini menghancurkan kepala satu orang yang berada di semak-semak, berlanjut ke orang di sebelahnya. Ia menunggu hingga tiga lampu neon di tiap sisi senjata kembali menyala, tanda bahwa energi telah terisi dan siap untuk digunakan. Salah seorang dari mereka, mengintip sedikit namun langsung kehilangan setengah kepala hanya dalam sedetik, membuat kedua orang sisanya kini hanya mampu bertekuk lutut, memohon terjadinya keajaiban. Sayang sekali, takkan ada keajaiban di bumi, hanya ada.. penyesalan. Ia menembak tangki bensin mobil, membuat tubuh kedua orang tersebut terlempar ke depan karena ledakan dan tak sadarkan diri.
"Semua target telah dimusnahkan" ucap laki-laki itu menggunakan earpiece, kemudian mulai melangkah menuju tangga turun, diikuti oleh seorang gadis cantik berambut coklat.
Jauh dari sana, pemimpin dari pasukan Arkbyss tampak terdesak oleh pasukan manusia. Mereka tak pernah menghadapi sesuatu seperti ini, dimana begitu banyak proyektil dan ledakan yang dapat melesat sangat cepat, bahkan melalui kecepatan laju sihir jarak jauh. Pasukan Arkbyss memang kuat, juga mampu menangkis tiap peluru, namun karena kekuatan mereka hanya ada pada serangan jarak dekat, sementara para pasukan pemanah telah mati terbunuh dengan kepala terlubangi sesuatu atau hancur tak berbentuk, mereka hanya bisa bertahan selagi menunggu bantuan dari kerajaan, yang tanpa mereka ketahui telah tiada.
Tank-tank mulai mengepung dari arah bukit, mortal diluncurkan, menghujani dengan ledakan. Senjata mesin terus menembakkan peluru tanpa henti dan tiap helikopter mengejar mereka yang berusaha kabur, kemudian dihancurkan menggunakan missile. Para pasukan Arkbyss kini benar-benar menyesal, telah meremehkan para manusia yang mereka anggap lemah dan tak ada perlawanan. Mereka tak tahu manusia telah berevolusi sejauh ini, meskipun mereka tak bisa menggunakan sihir.
Akhirnya tiap pasukan Arkbyss di tempat tersebut telah kalah, mereka berlutut menyerah memohon ampun. Seorang laki-laki melompat turun dari atas helikopter, menggunakan baju robot berwarna hitam-keabuan dengan lambang kepala serigala di bagian lengan kanan. Ia melangkah mendekat, menatap tajam pemimpin Arkbyss yang kini memberikan mereka tatapan penuh amarah "Katakan padaku, darimana kalian berasal" perintahnya. Sang pemimpin Arkbyss meludah tepat di depan laki-laki tersebut. Ia hanya menatapnya, memberikan tanda bagi para anak buah untuk memborgol Arkbyss itu menggunakan dua besi tipis yang saling dihubungkan laser kemerahan, kemudian dibawa pergi ke markas besar.
Salah seorang dari pasukan Arkbyss yang berhasil kabur, melihat itu semua dari balik semak-semak, menutup mulutnya untuk tak meneriakkan nama pemimpin. Dapat terlihat kebencian begitu mendalam dibalik tatapan remaja itu, tatapan yang mengatakan ia akan membalaskan dendam para Arkbyss dan takkan berhenti hingga seluruh manusia musnah "Tunggu saja, aku pasti akan membalas kalian semua" ucapnya sembari mengepalkan tangan dengan kuat dan menggigit bibir hingga berdarah.
Di dalam sebuah pesawat kecil yang hanya dapat menampung sekitar sepuluh orang pasukan berbaju besi dan ditenagai oleh mesin jet serta mesin yang baru-baru ini dikembangkan oleh umat manusia untuk menghadapi pasukan Arkbyss, yaitu sebuah Ultradrive yang dipasangkan di sisi kiri-kanan sayap untuk dapat bergerak dengan kecepatan suara hanya dalam bumi, sehingga dapat bergerak cepat dan memberi serangan balik yang tak disangka mengubah seluruh struktur tanah, dimana sebuah benua baru muncul beberapa waktu sebelumnya, benua asing yang penuh akan sumber daya asing serta sebuah tempat penuh bahaya akan mahluk-mahluk berukuran besar tercipta dari aliran lahar dan bebatuan panas.
Sang kapten tampak terkejut untuk sesaat, melihat ke arah anak buahnya itu, kemudian menghela napas "Markas masih belum menemukan dirinya, seakan dia menghilang begitu saja dari bumi. Aku juga tak tahu kemanakah orang itu pergi, namun aku tahu dia sedang mengerjakan sesuatu yang penting dan suatu saat pasti akan kembali"
"Mengapa kapten begitu percaya pada orang tersebut?" tanya salah seorang anggotanya lagi.
Ia tersenyum, bangkit berdiri dan tanpa disangka sudah mengarahkan pistol besar berwarna silver dengan tiga lampu neon kebiruan di sisi kiri-kanan ke arah kepala anggotanya tersebut "Jika kau adalah Alzent, ia sudah bereaksi jauh lebih cepat dan sudah menundukkanku ke bawah" ucap Sang kapten, menyimpan kembali pistol dalam pistol holster berwarna hitam, terbuat dari besi dan membuka dirinya begitu pistol masuk dan kembali menutup, mengunci pistol tersebut "Namun bayangkan, seseorang sekuat itu berani mempertaruhkan nyawa cuma demi kedamaian yang belum tentu terjadi, aku bahkan bisa saja menghianatinya saat itu, tetapi tatapan matanya menunjukkan sesuatu yang baru padaku, sesuatu yang tanpa kusadari telah hilang, yaitu... kehidupan. Karena itulah perdamaian antara Vampire dan Human dapat terjadi, sayangnya kita kedatangan mahluk lain yang.. entah mengapa tiba-tiba menyerang" jelasnya.
Pesawat bergoyang, para pasukan memegang erat apapun yang dapat mempertahankan keseimbangan tubuh mereka, menunggu hingga goncangan menghilang, kemudian kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing, walau sebenarnya mereka bertanya-tanya mengapa kapten mereka yang terkenal dingin, seketika tersenyum hanya dengan mendengar nama orang tersebut?
Sang kapten terdiam melihat langit dari arah jendela, membayangkan situasi hidup dan mati tiga tahun yang lalu, dimana ia dan Alzent berjuang keras untuk mempertahankan diri dari serangan para pemberontak, kemudian berpindah ke pemandangan dimana Alzent tampak begitu rapuh sesudah kehilangan sosok yang begitu ia cintai. Membayangkan wajahnya, membuat alis kapten tampak berkedut sekali.
Hening selama beberapa saat, lalu seorang gadis mengangkat tangan, menanyakan "Seperti apakah orang tersebut?"
Anggota yang lain langsung berbalik menatap dirinya, kaget mendengar pertama kalinya sosok gadis cantik itu berbicara semenjak bergabung dengan pasukan Wolf dan jauh lebih kaget lagi karena ia menanyakan nama seorang laki-laki yang kini menjadi legenda dalam markas.
Sang kapten tertawa kecil, menjawab "Sosok yang begitu tampan dan sangat aku kagumi"