Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Past of A Fate



Ratu Ezra menyayat leher pemimpin dari para pasukan yang pergi menyerang Elfiant. Sang ratu terus menatap Dark Elf tersebut, berusaha bertahan di saat-saat terakhirnya dengan darah segar berwarna kebiruan mengalir keluar dari lehernya. Ia tak menyangka, pasukan terkuat miliknya bahkan senjata rahasia miliknya, dikalahkan oleh pemuda bernama Alzent. Namun, rasa haus darahnya semakin mendidih, ia sangat menginginkan Alzent untuk menjadi miliknya seorang, menjadi sebuah boneka mematikan dalam genggaman. Berhari-hari ia menunggu kabar bagus, namun kenyataanlah yang didapatkan.


Sang ratu memerintahkan pasukan besar yang terdiri dari Dark Elf dan monster-monster kegelapan untuk mencari Alzent dalam skala penuh. Intinya mereka harus menemukan laki-laki itu atau Sang ratu sendiri yang akan mencarinya sesudah menghabiskan bawahannya yang tak berguna tentunya.


Setiap mahluk hidup di daratan ini tahu bagaimana kuat serta kejamnya Ratu Ezra, ia bahkan dapat membuat Lightnar Sang Alpha menjadi anak buahnya. Tak seorangpun ingin mencari tahu, apa yang akan terjadi jika Sang ratu mengamuk. Mungkin saja daratan ini akan menjadi lautan darah dan kegelapan menyelimuti.


Gerbang kerajaan Dark Elf terbuka, barisan panjang pasukan berjalan keluar, menciptakan getaran kuat dari setiap langkah, membawa teror bagi mahluk yang tidak tunduk pada Sang ratu. Sepanjang perjalanan itu, berbagai mahluk hidup tak berdaya dibunuh, sementara yang kuat diberi sihir kegelapan dan menjadi bagian dari pasukan. Kini kehancuran berjalan itu, menuju Dawnfiant.


Seorang gadis Elf, menyaksikan hal tersebut dari pinggir jurang, memanggil naganya yang sementara terbang di atas awan untuk segera membawanya pergi menemui Lightnar, mengikuti sinar terang menjulur tinggi ke langit. Ia berharap dirinya masih sempat sampai sebelum Dawnfiant hancur. Sedangkan temannya, yang juga seorang gadis Elf, menunggangi naga menuju Dawnfiant untuk memperingati hal ini.


Di tanah suci yang berada jauh dari sana, tempat pepohonan berdaun putih tumbuh berhiaskan bunga-bunga indah bercahaya, sebuah daratan yang tampak berbeda, Alzent sementara berendam di dalam kolam berbentuk naga itu, disinari oleh cahaya bulan yang masuk melalui bagian atas pohon yang mekar. Rambut putih halusnya berkilauan, kulit putih pucatnya tampak sedikit memantulkan cahaya, sehingga terlihat seperti berlian. Ia menatap ke atas, ke pada bulan yang masih dapat bersinar terang di gelapnya malam "Mengapa kau masih dapat bertahan? Seorang diri, tanpa siapapun, hanya ditemani oleh kegelepan" tanyanya sembari melihat bulan purnama.


Alzent menutup mata, mengingat hal-hal yang telah terjadi selama beberapa hari belakangan. Ia adalah seseorang yang baru saja akan masuk sekolah, memulai kehidupan barunya sebagai seorang murid, lalu dikejutkan oleh pertemuannya dengan Lucan dan Veron, mencari penjelasan dari perasaan aneh yang mereka rasakan di dalam hati. Berujung pada seorang kakek tua yang tampak masih bugar dan terlihat jauh lebih muda dibanding usia aslinya, lalu mendapatkan sebuah misi untuk menyelamatkan dunia, tak hanya satu, namun beberapa dunia yang terus berhubungan dengan dunia lainnya, seakan semua takdir alam semesta ada pada dirinya. Tapi, selama ia mencoba, tak ada usahanya yang berhasil, semuanya hancur berantakan.


"Apakah aku sudah melangkah di jalan yang salah?" tanya Alzent pada dirinya sendiri, bersandar pada dinding kolam, mengistirahatkan kepalanya di atas lantai, membiarkan perasaan nyaman dari air mengandung sihir ini masuk dalam dirinya, mengurangi kekuatan gelap dalam jiwa sehingga ia dapat bernapas lega untuk sementara.


Alzent tak habis berpikir, 'apakah yang dikatakan oleh Zeon itu benar? Namun, bukankah dirinya juga adalah mahluk kegelapan? Eh? Juga? Apakah aku adalah mahluk kegelapan?' Alzent menghela napas panjang "Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


Lightnar lalu ikut masuk berendam bersama Lucan dan Veron, mereka tampak begitu kelelahan sesudah mengarungi perjalanan panjang untuk mencapai tempat ini, terutama Lightnar yang kelihatan lebih tua beberapa tahun. Hanya ia sendiri dan Veron yang tahu apa alasannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Lightnar.


"Lumayan. Berkat kolam ini, kegelapan di dalam diriku berkurang drastis dan jika dilihat melalui pantulan air, mata hitamku telah berubah normal" jawab Alzent sambil meraba matanya itu.


"Baguslah, setidaknya kandungan sihir dalam kolam ini dapat menetralkan sihir gelap dalam dirimu sementara. Untuk sekarang, mari kita mengistirahatkan diri dari perjalanan yang terasa sudah bertahun-tahun ini" Lightnar merebahkan kepalanya di bantal sandaran, di atas lantai.


Lucan melihat itu, menyahut "Hey! Itu tidak adil. Punya kami mana?"


Alzent tertawa, lalu bertanya "Lightnar, kalau boleh aku tahu, apa yang dirimu lakukan sebelum berubah menjadi Darkoth?"


"Sama seperti mahluk hidup pada umumnya, bertahan hidup dan menjalankan tugas. Sebagai seorang Alpha, sudah pasti tanggung jawabku jauh lebih berat dibandingkan yang lain, sebab aku harus menjaga tempat ini dari penyusup maupun bangsa Elf itu sendiri, kecuali mereka terkena oleh sihir kegelapan milik Ezra, kolam inilah yang digunakan untuk membersihkannya. Namun, ketika Dark Elf datang menyerang, aku meminta bangsa Elf untuk segera pergi menjauh dari sini, sementara aku menahan mereka serta melindungi Shrine of Light. Semua berjalan lancar, hingga Ezra muncul di tengah-tengah pertarungan, menggunakan sihir kegelapannya yang menakutkan itu, bukan untuk menyerangku, namun menyerang Tryana, seekor naga muda, kekasihku pada waktu itu.


Ezra tahu aku akan melakukan apa saja demi dirinya, sehingga ia dengan liciknya menggunakan Tryana sebagai alat untuk mengancam. Mau tidak mau, aku melakukan apa yang diperintahkannya dan begitu ia lengah, aku mencakar mata sebelah kirinya, lalu melemparkan sebuah batu berbentuk lingkaran kepada Tryana yang kemudian membawanya pergi entah ke mana. Dengan begitu, aku dapat bertarung serius melawan Sang ratu Dark Elf, sayangnya, aku dikalahkan oleh kekuatan sihir tersebut, tidak kusangka seorang Dark Elf benar-benar memiliki kekuatan sebesar itu"


Lightnar menghela napas, lalu melanjutkan "Sebenarnya, dulu Dark Elf dan Elf hidup berdampingan, tak adanya permusuhan di antara mereka. Aku, yang saat itu adalah seekor naga kecil, begitu takju dengan dunia tempat aku berada, indah dan damai. Aku berharap itu tetap terjadi selamanya, namun tak ada dunia yang sempurna, penyerangan Dark Elf pertama kali dilakukan oleh Raja Irnoz, ayah kandung dari Raut Ezra. Dari apa yang kudengar, tampaknya Dark Elf iri kepada Elf yang dapat menggunakan sihir dan bersatu dengan alam, sementara mereka hanya dapat menggunakan sihir kegelapan.


Tak ada yang salah dengan sihir tersebut, cara menggunakannyalah yang salah. Raja Irnoz akhirnya memukul mundur bangsa Elf, kedua orang tuaku yang saat itu adalah Alpha dari para naga, menyerang Sang raja, mengakibatkan mereka berdua terbunuh dalam sihir yang membuat jiwa Raja Irnoz sendiri termakan oleh kegelapan. Peperangan berakhir di sana, namun Ratu Ezra yang masih kecil, menganggap kalau bangsa Elf merendahkan bangsa Dark Elf dan membuat ayahnya mati. Kebencian memenuhi hati kecilnya, membuatnya berubah menjadi sosok ratu tak berperasaan seperti sekarang"


Veron berdecak kesal, mengingat peperangan yang juga terjadi di dunia mereka sebelumnya "Cerita kami, kurang lebih sama seperti itu. Aku hanyalah seorang Vampire biasa dari keluarga bangsawan yang selalu menganggap bawah umat manusia maupun Vampire itu sama, tak berbeda. Namun, begitu menginjakkan kaki di dunia luar, aku baru mengerti betapa berbedanya kedua ras tersebut. Mereka hanya sama di satu hal, rasa takut. Rasa takut itulah yang membuat kami berperang, perang yang membuat tatanan pemerintahan di bumi berubah, nyawa-nyawa tak bersalah melayang dan semua hal indah, tersisa menjadi sebuah kenangan.


Sebagai seorang Vampire muda yang tak mengerti apa-apa, yang kerjanya hanyalah membaca buku dan belajar di dalam rumah, semua itu adalah sesuatu yang baru bagiku, sebuah pengalaman yang membuatku mengerti betapa kerasnya dunia luar dan betapa berharganya orang-orang yang peduli serta sayang padamu"


Lucan mengangguk setuju "Itu memang benar. Sebelum bertemu Alzent, aku juga adalah seorang Vampire yang dapat dikatakan, berandalan. Berkelahi, mencari masalah dan menyelesaikan apapun dengan kekerasan. Pikiranku saat itu, 'jika aku sekuat ini, siapa lagi yang berani menghadapiku?'" Lucan tersenyum merendahkan "Betapa bodohnya diriku, menganggap kekuatan adalah segalanya, lalu ketika umat manusia datang menyerang, aku tak mampu melakukan apa-apa untuk melindungi keluargaku dan... keluargaku habis di tangan mereka dengan cara yang terlalu kejam, terlalu brutal. Jujur saja, jika tak bertemu dengan Alzent, mungkin aku akan terus menghabisi umat manusia hingga sekarang.


Namun, pertemuanku dengan dirinya sehari sebelum berperang, membuatku sadar, membalas segala sesuatu dengan kekerasan hanya akan membawa masalah yang sama kembali. Apapun dapat diselesaikan dengan perkataan. Jika perkataan tak berhasil, maka hati orang tersebut telah tertutup dan itulah saatnya untuk membuka kembali hati mereka dalam menghadapi kenyataan, bahwa tak semua orang menginginkan hal yang sama dan sudah menjadi tugas bersama untuk mencari jalan keluarnya"


"Aku tak menyangka dirimu dapat berbicara seserius itu" puji Lightnar.


Sebelum Lucan membalas, seekor naga muda jatuh terseret di depan Shrine of Light, penunggangnya terjatuh dari atas naga tersebut, terbanting masuk ke dalam Shrine of Light, tepat di depan wajah Lucan. Gadis tersebut berusaha tetap sadar, mengatakan "Dawnfiant..." dengan lemah, lalu pingsan.