
"Lightnar, bagaimana kabarmu?" tanya Veron.
Lightnar berusaha untuk duduk bersandar, lalu menjawab "Yah, lebih baik dari kemarin, namun tampaknya sihir gelap yang kau berikan tak hanya ingin menguasai jiwaku, melainkan juga meracuni tubuhku"
Veron menghela napas "Aku benar-benar minta maaf untuk itu"
Tak lama, ratu Urvi memasuki ruangan pribadi Lightnar di dalam istana, membawa seorang Healer terkuat di kerajaan. Sesudah merawat sihir gelap tersebut, mereka kembali membicarakan apa saja yang terjadi selama berada di Frozenland. Lightnar menceritakan segalanya dari awal, mulai dari pertemuannya dengan Esrene, lalu bangsa Frostheim yang ternyata memihak Arkbyss, kemudian pertarungan melawan raja Feraz dan putranya. Ia juga tak lupa membicarakan soal Frost Ring yang telah berhasil mereka dapatkan, namun kini masih berada di jari manis Lucan, sebab hanya dia yang mampu menahan kekuatan besar tersebut.
"Aku memang merasa ada yang aneh dengan bocah itu, semenjak kalian kembali. Lalu, kau mengatakan hanya dia yang mampu mengendalikan kekuatan tersebut? Sementara kau seekor Alpha yang tak bisa ia kalahkan saja langsung membeku saat terkena dampak Frost Ring" Veron melipat lengan, bersandar di dinding "Sudah kuduga ada yang tidak beres. Semenjak aku menyentuh pundak Lucan, aku merasakan sebuah kekuatan besar, yang tak kalah kuatnya dengan kekuatan Hellheim Alzent. Aku menduga itu hanyalah perasaanku saja, karena aku sudah mengambil sedikit kekuatan Alzent, tapi aku tak menyangka jika Lucan benar-benar memiliki kekuatan sebesar itu"
Lightnar lalu teringat sesuatu "Ahh! Aku ingat, ketika kami bertarung melawan dua orang itu, Lucan tampak dengan mudah mengendalikan kekuatan di dalam Frost Ring, seakan kekuatan besar tersebut bukanlah apa-apa baginya. Aku juga mendapatkan penglihatan aneh dimana Lucan saling bertarung melawan seorang Goddess penjaga cincin tersebut. Lucan mengalahkan sosok Immortal itu dengan sangat mudah, bahkan tanpa berusaha sama sekali. Mereka juga sempat saling berbicara, dari raut wajah mereka berdua, aku tahu mereka sepertinya memiliki masalah. Namun, tiba-tiba aku sudah berada di ruangan yang sama dan tak terlihat sama sekali tanda-tanda bekas pertarungan, bahkan tak terlihat sosok Goddess tersebut" jelas Lightnar.
Kepala Veron makin pusing, dipenuhi oleh berbagai masalah yang menimpa kerajaan, kini ditambah dengan sosok Lucan yang misterius. Memang benar, mereka tak mengetahui Lucan itu siapa sebelum menjadi anggota Fox 1, tapi dari apa yang Lucan ceritakan ketika berada di Shrine of Light, ia tampaknya hanya seorang remaja biasa tanpa latar belakang yang begitu menakjubkan "Terlalu banyak masalah yang sedang terjadi sekarang. Masalah ini, jangan diberitahukan ke siapapun terlebih dahulu, jangan membuat Lucan merasa waspada dengan kita. Setidaknya, sampai masalah Alzent selesai, kemudian kita menanyakan yang sebenarnya pada bocah cerewet itu"
Ruangan menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara ratu Urvi yang pamit keluar karena masih ada masalah kerajaan yang harus ia selesaikan. Suasana terasa begitu canggung, hingga Lightnar akhirnya bertanya "Dimana Alzent dan Luna? Bukankah mereka seharusnya berada disini?"
Raut wajah Veron berubah buruk, ia kembali mengingat surat yang ditinggalkan oleh Zeon di atas mejanya. Surat berwarna hitam pekat yang tampak tercipta dari kabut hitam dengan tulisan berwarna putih mencekam "Dia dibawa pergi oleh Zeon"
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Lightnar khawatir.
"Tepat ketika kita semua berpisah, Alzent dan Luna juga langsung menghilang. Aku tidak tahu tepatnya kapan mereka dibawa pergi oleh Zeon, namun dari surat yang aku baca dari laki-laki Arkbyss itu, tampaknya ia membawa Alzent dengan maksud mengenalkan bangsa Arkbyss pada dirinya, kebetulan Alzent adalah pangeran dari bangsa Arkbyss" Veron masih sulit menerima kenyataan tersebut, ia mengepal kuat kedua tangannya.
Lightnar begitu terkejut, ia tak menyangka sosok yang akan melindungi dunia, yang dipilih oleh Gerald adalah seorang pangeran dari bangsa Arkbyss. Bangsa yang akan menutup dunia dengan kegelapan, bangsanya sendiri "Jika Alzent memang adalah pangeran dari bangsa Arkbyss, mengapa ia disika mati-matian oleh Zeon dan tidak dianggap oleh bangsanya sendiri?" tanya Lightnar tak percaya, kedua lengannya juga terkepal kuat hingga gemetar.
Lightnar memukul kuat meja di samping tempat tidur sampai rusak berantakan "Jadi selama ini, kita bertarung bersama seorang pangeran yang berasal dari bangsa Arkbyss?" tanyanya marah.
"Hey, jangan menilai seseorang hanya dari latar belakangnya" balas Veron tersinggung "Alzent juga tidak mengetahui hal ini, ia bahkan tak mengingat masa lalunya dan itulah yang membuatku curiga. Mengapa ingatan masa kecilnya dihapus? Mengapa ia seorang dari bangsa Hellheim? Dan apa hubungannya dengan anak dari raja Arslaz? Bukankah ini sedikit aneh?"
Lightnar menghela napas, menenangkan dirinya sendiri "Aku bukannya marah karena kita bertarung bersama Alzent, aku marah karena mengetahui ada bangsa yang tega membuang pangeran mereka hanya demi tujuan tak masuk akal" lalu menoleh pada Veron "Lagipula, permasalahan antar kerajaan, dimana Sang raja memiliki anak dari bangsa lain itu adalah hal yang wajar bukan? Mungkin saja Alzent adalah pemimpin dari kedua bangsa terkuat di dunia..ini..." katanya makin pelan, menyadari sesuatu "Itu berarti..."
Veron mengangguk pelan "Ya, Alzent adalah pemimpin berikutnya dari dua bangsa paling berjaya, paling kuat serta paling menakutkan dari tiap dunia yang ada. Kemungkinan besar, bangsa Arkbyss menyerang bersama ratusan bangsa lain itu karena, raja Arslaz ingin membunuh Sang ratu, yang tak setuju anaknya dijadikan sebuah senjata pemusnah massal, namun dengan kelicikan raja tersebut, membuat seolah-olah bangsa Hellheim lah yang ingin menguasai dunia. Padahal menurut cerita Gerald, mereka tak pernah ingin membuat masalah dan seharusnya mereka bisa menghabisi bangsa Arkbyss jika mereka mau, namun mengapa mereka bisa kalah? Kita sudah tahu jawabannya"
"Sang ratu tak ingin melukai bangsa Arkbyss yang dimana adalah bagian dari darah anaknya sendiri" jawab Lightnar, dibalas dengan anggukan kepala Veron "Aku tak dapat mengira, masalah ini ternyata jauh lebih rumit dibanding apa yang kupikirkan. Belum lagi, kita harus memecahkan mengapa Gerald memilih Alzent menjadi penyelemat dunia dan sosok sebenarnya Lucan"
"Untuk yang pertama, itu mudah saja" balas Veron "Karena Alzent memiliki kekuatan yang mampu menyatukan setiap dunia" jawabnya mudah "Untuk yang kedua, aku memiliki spekulasi lain. Bagaimana kalau sebenarnya, masalah ini berhubungan dengan para Immortal? Aku memiliki tebakan bahwa Lucan bukanlah Mortal, melainkan seorang Immortal. Mahluk apalagi yang memiliki kekuatan sebesar itu? Tentu tidak ada. Mengapa seorang Immortal yang tak pernah mau berurusan dengan Mortal, tiba-tiba ingin membantu masalah kita? Dan, bagaimana jika Alzent tak sepenuhnya Mortal?"
Veron tersenyum melihat wajah Lightnar yang tampak terperangah dan tak dapat mengeluarkan kata-kata "Yahh, ini masihlah sebuah kesimpulan yang aku dapatkan dari berbagai kejadian belakangan. Tapi, entah mengapa aku juga berharap bahwa yang aku pikirkan ini benar, sebab akan jauh lebih mudah menghadapi segalanya kalau kita telah tahu jalan ceritanya" Veron tersenyum penuh makna untuk terakhir kali, sebelum meninggalkan Lightnar sendiri agar ia dapat beristirahat.
Tetapi, siapa yang dapat beristirahat sesudah mendengar hal yang begitu kompleks seperti itu? Lightnar menghela napas berat, kembali berbaring sambil memikirkan semua kemungkinan tadi, lalu menyahut "Padahal kita belum menyelesaikan Arc pertama!!" keluhnya.
Jauh dari sana, dekat dengan istana lama ratu Ezra, Lucan telah sampai di gerbang hitam kerajaan tersebut. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, meneguhkan hati untuk memasuki tempat yang tampak angker ini "Ayo Lucan, kau pasti bisa, demi Reyla!"
Saat ia membuka gerbang yang menderit keras itu, seekor tikus lewat di sampingnya, membuat Lucan melompat tinggi sambil menjerit dan berlari masuk ke dalam tanpa ingin melihat ke belakang.
"Aku membencimu Rey- mamaa!! Takut!!"