Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #15



"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Yuna, membantu Luna berdiri di antara puing-puing bangunan besar disekitar, membuat Yuna bertanya-tanya, mengapa gadis itu tidak tertimpa, padahal seharusnya ia terkena langit-langit yang jatuh. Yuna memerhatikan sekitar, melihat puing-puing bangunan tersebut tampak mengelilingi Luna, membentuk seakan ada sebuah lingkaran pelindung.


Luna menerima tangan Yuna, bangkit berdiri lalu membersihkan pakaian "Dimana Alzent?" tanyanya.


"Dia sementara bertarung melawan seorang Immortal yang entah muncul darimana" jawab Yuna.


"Kita harus membantunya!"


Yuna mengangguk setuju, tapi menahan lengan Luna ketika gadis itu akan pergi "Tunggu sebentar, apakah Alzent sudah berhasil mengingat kembali ingatan masa lalunya?"


Luna melepas tangan Yuna dengan kasar. Amarah mulai terlihat di sepasang mata indah tersebut "Tidak ada waktu untuk membicarakan itu! Alzent sekarang dalam bahaya, jika kita telat membantunya, kau yakin ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya?" karena perkataan Luna itu, Yuna menghela napas, mengangguk. Namun ketika mereka akan beranjak pergi, Zeon tiba-tiba muncul di depan dengan api hitam berkobar-kobar di kedua lengannya.


"Kalian ingin pergi ke mana?" tanya laki-laki itu dengan senyuman khas dirinya ketika akan mencari masalah "Menyelamatkan Alzent? Alzent tak perlu diselamatkan, dia sebentar lagi mengalahkan tiga orang yang mengganggunya. Oh, maksudku adalah.. membunuh mereka" Zeon tertawa kecil "Aku lupa kalian tak memiliki otak untuk hal semacam ini"


Yuna melangkah ke depan, menarik keluar pedang miliknya "Jangan menghalangi kami Zeon. Kau sudah berjanji padaku, jika aku membantu Alzent menemukan ingatan lamanya kembali, kau akan membiarkan dia pergi" sahutnya marah.


"Apa sekarang kau lihat aku tampak menahannya? Tidak bukan? Dia sendiri yang ingin mengamuk dan menyerahkan diri pada kekuatan besar dalam dirinya, jadi aku tidak mengingkari janji. Aku adalah laki-laki yang selalu menepati janji" Zeon tersenyum "Jika janji itu memiliki sebuah nilai bagiku" berteleportasi ke belakang Luna, lalu menendangnya ke depan menghantam Yuna "Kalau kalian ingin membantunya, persiapkan diri kalian terlebih dahulu. Kalian membiarkan emosi menguasai diri, kalian itu ingin membantunya atau menyusahkannya?"


Angin kembali berhembus kencang, meniup rambut Zeon. Dibalik poni panjangnya itu, dapat terlihat sepasang mata yang sedang menatap dingin dua gadis di hadapannya. Tatapan dengan sebuah maksud, bahwa dia tidak sedang bermain-main sekarang. Yuna mengenali tatapan tersebut, tatapan yang hanya muncul saat Zeon akan membunuh seseorang. Yuna bangkit berdiri, mengarahkan pedangnya ke Zeon "Biar aku yang menemanimu bermain disini. Luna, kau pergilah menemui Alzent"


"Kau ingin menghadapinya sendirian?" tanya Luna khawatir.


"Sudah pergilah!"


Luna berbalik, mengucapkan "Maafkan aku" dan mulai berlari menuju tempat Alzent.


Zeon tersenyum, melangkah maju, melayangkan sebuah pukulan keras yang Yuna tangkis menggunakan pedangnya. Yuna terpaksa mundur beberapa langkah saat menerima hantaman tersebut, hantaman yang terasa begitu kuat. Seandainya pukulan itu mengenai tubuhnya, mungkin ia organ dalamnya sudah terkoyak sekarang. Yuna menggigit bibir, mengeratkan pegangan pada gagang pedang yang kini gemetar.


Saat petir menyambar, Zeon maju menerjang, memberikan begitu banyak pukulan serta tendangan pada gadis cantik itu. Tak terlihat sedikit pun belas kasihan pada sepasang matanya. Yuna tak menyangka Zeon benar-benar ingin membunuh dirinya, padahal mereka sudah lama menjadi teman dan mengerjakan misi bersama, namun menatap mata tersebut, Yuna tak perlu ragu lagi untuk melukai Zeon. Yuna mengucapkan rapalan sihir dengan cepat saat melompat ke belakang, mencari jarak aman. Rapalan sihir tersebut kemudian muncul di permukaan pedang Yuna, bercahaya terang dan memberikan Yuna kekuatan tambahan sehingga dapat menyaingi laki-laki itu.


Suara antara pedang dan sepasang tangan sekeras baja, membawa melodi kematian yang semakin terasa dalam tiap ayunan. Angin berhawa panas, berhembus pelan, membawa bara api ke udara, seakan memberitahu bahwa ini adalah pertarungan terakhir penuh darah. Darah segar mulai mengalir di satu sisi mulut Yuna, sekujur tubuhnya mulai terasa berat. Ia harus menggunakan mana yang semenjak tadi ia simpan untuk keadaan genting, namun melihat Luna di kejauhan, berlari tanpa memedulikan apa yang akan terjadi pada dia berikutnya, mengukir sebuah senyuman di wajah Yuna. Mungkin memang sudah saatnya melepaskan Alzent, memberikan ia pada seseorang yang baru, seseorang yang kini mencintainya sepenuh hati.


Zeon melayangkan sebuah pukulan keras yang berhasil menerbangkan Yuna beberapa meter ke belakang. Napasnya mulai terengah-engah, keringat bercucuran, menetes jatuh bercampur darah. Mereka berdua terdiam sesaat, menunggu sesuatu yang akan terjadi dan keduanya tahu mungkin kisah salah satu dari mereka berakhir sampai disini. Ketika Yuna mulai merapalkan sebuah mantra yang membuat tanah di sekitar bergetar hebat, mata Zeon terbelalak. Ia tak pernah menduga Yuna akan menggunakan mantra terlarang ini.


"Hei, kau yakin? Menggunakan mantra ini sama saja dengan mengorbankan diri. Apakah kau tak ingin melihat wajah Alzent yang kau cintai itu?" tanya Zeon.


Yuna menoleh kembali ke arah Luna. Hatinya memang merasa sakit, tetapi mencintai bukan berarti memiliki. Sebuah senyuman terbentuk di bibir Yuna "Terkadang, dalam mencintai seseorang, kita juga harus melepaskan mereka demi kebaikan bersama" setetes air mata jatuh dari pipinya "Saat aku membaca kata-kata itu, aku berpikir rasanya akan lega saat membiarkan sosok yang sudah hidup dalam hati, pergi begitu saja. Tetapi..."


Ketika Yuna kembali berbalik pada Zeon, laki-laki itu tertegun. Yuna yang sebelumnya jarang menunjukkan ekspresi, kini menangis sembari tersenyum. Zeon dapat melihat perasaan tulus itu pada sepasang mata indah yang tertutupi oleh debu dan luka. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tetapi demi menyelesaikan rencana yang telah disusun bertahun-tahun semenjak ia masih berada dalam akademi, mau tidak mau Zeon harus mengorbankan seseorang. Kedua tangannya mulai gemetar akan emosi. Zeon menutup kepalan tangan lebih erat lagi untuk menekan emosi tersebut.


Sekujur tubuh Yuna mulai bercahaya terang. Zirah berwarna silver terbentuk perlahan. Zirah yang tampak turun dari surga, mengeluarkan cahaya terang di tiap selanya. Sepasang sayap putih keluar dari punggung gadis itu, sayap dengan sinar terang hingga cahayanya dapat terlihat dari luar kerajaan sekalipun. Awan badai di atas kerajaan perlahan terbuka, membentuk lingkaran dimana cahaya matahari masuk menyinari Yuna. Butir-butir cahaya kebiruan tampak muncul disekeliling gadis tersebut, melayang tinggi ke udara, lalu menghilang seakan tanpa jejak, seakan tak pernah muncul kembali. Perhatian semua orang teralihkan oleh dirinya, bahkan Alzent terdiam saat melihat Yuna.


Ketika tatapan pada gadis itu berubah serius, Zeon memunculkan dua rantai hitam miliknya dengan sebuah Scythe di tiap pangkal. Aura hitam membara tampak keluar dari masing-masing Scythe, memberikan rasa takut bagi siapapun yang melihat. Namun tak berlaku untuk Yuna saat ini yang sudah menjalin kontrak dengan seorang malaikat sehingga dapat menggunakan kekuatan besar. Sayangnya, kekuatan yang besar juga memiliki konsekuensi yang besar.


"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu bagi Alzent untuk terakhir kalinya?" tanya Zeon serius.


Yuna menghela napas, memantapkan diri "Tidak, aku sudah membuat keputusanku"


"Kuharap kau tidak menyesal"