Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
The Elfiant's Holy Knight



"Jadi beginikah cara bangsa Elf bertanya? Menyerangnya terlebih dahulu kemudian menanyakan pertanyaan jika tidak mati?" tanya Lucan tak percaya, ia merasa dikecewakan dengan sifat bangsa Elf yang tampak merendahkan bangsa lain.


Elf tersebut menjawab "Tak seorangpun diizinkan menginjakkan kaki di tanah ini jika tanpa seizin ratu, sudah menjadi tugas seorang Holy Knight untuk mendisiplinkan orang-orang seperti kalian, dan maksudnya mendisiplinkan itu adalah... membunuh kalian"


Meskipun pergerakannya terbilang cukup lamban bagi mata para Vampire, namun kekuatan yang dikeluarkannya tidak main-main. Mereka bertiga merasa akan terpotong dengan mudah seperti pisau panas membelah sebuah keju. Setiap serangannya juga mengandung gerakan yang mematikan, dimana salah sedikit dalam menghindar, salah satu anggota tubuh mereka dapat terpisah tanpa mereka sadari.


Holy Knight tersebut sama sekali tidak menahan diri dan bersungguh-sungguh dalam perkataannya, ciri khas seorang kesatria terpilih, namun mengapa bangsa Elf begitu sombong? Seharusnya mereka adalah mahluk yang murah hati dan baik kepada ras manapun dan hal itu membuat Lucan gelisah, ingin mencari tahu jawabannya sesegera mungkin.


Tanpa mendengarkan perintah dari Alzent, Lucan menerjang Holy Knight tersebut, mengandalkan pergerakannya yang gesit serta cepat, Lucan berhasil membuat luka gores di wajah tampan ksatria tersebut menggunakan kuku-kukunya yang tajam seperti belati. Merasa dirinya berada di atas angin, Lucan kembali melancarkan serangan tanpa memerhatikan situasi dan benar saja, Holy Knight tersebut berhasil mendapatkan celah untuk menyerang Lucan, menyayat dada Vampire muda itu hingga terlempar menghantam sebuah pohon di belakangnya.


Alzent dan Veron berlari mendekati Lucan yang kini terluka parah, padahal lukanya dari pertarungan sebelumnya belum sembuh sempurna. Holy Knight itu kembali menancapkan pedangnya ke dalam tanah, kali ini menciptakan suara dengungan dari besi yang sedikit memekakkan telinga, dengan suara berat dan lantangnya ia mengatakan "Sebaiknya kalian segera pergi dari sini atau ini tidak akan berakhir baik untuk kalian" ancamnya.


Entah apa yang merasuki Alzent, Vampire muda itu berdiri tegap membelakangi Lucan, menghadap pada Holy Knight yang tampak mengintimidasi, menoleh pada Lucan melalui pundaknya "Jangan khawatir kawan, aku akan membalaskan ini untukmu, jadi tetaplah sadar dan lihat sahabatmu ini melakukannya"


Merasa adanya hawa aneh dari dalam diri Vampire berambut putih di depannya, Holy Knight tersebut mengambil kembali pedanngnya, mencoba untuk mengancam sekali lagi "Ini untuk yang keterakhir kalinya, aku minta kalian-


tanpa disadari Alzent sudah berada di depan mata, menghancurkan zirah bagian kanan milik Holy Knight tersebut, namun sayangnya masih kurang dalam "Cih, seberapa tebal zirahnya itu?" keluh Alzent.


Sang ksatria mencoba untuk menahan serangan Alzent lagi, namun terus gagal karena pergerakan Alzent yang begitu cepat sampai ia tidak sempat bertindak. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, Alzent berhasil membuat Holy Knight tersebut bertekuk lutut, menggunakan pedangnya sebagai penopang untuk tidak ambruk ke tanah. Luka goresan yang diakibatkan pecahan dari zirahnya mulai terlihat di sekujur tubuhnya yang tak sudah tak terlindungi. Separuh dari zirah kanannya kini sudah benar-benar rusak, memperlihatkan tubuh kekarnya, mengenakan sebuah chainmail keemasan.


"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Holy Knight tersebut, terengah-engah.


"Alzent Montaque" jawab Alzent "Sekarang aku minta kau membawa sahabatku ke rumah sakit, tempat berobat atau apapun itu" pintanya.


Tiba-tiba sebuah panah beraura kehijauan melesat cepat, hampir menyamai kecepatan sebuah peluru,mengiris pipi Alzent bertepatan saat ia melompat ke belakang. Tidak lama terdengar suara kepakan beberapa naga, empat ekor naga menunjukkan diri dari balik jurang, mendarat tepat di samping naga milik Holy Knight yang kini berusaha untuk berdiri.


Empat Holy Knight dengan senjata berbeda melompat turun, berjalan mendekati Holy Knight itu lalu berhenti tepat di kiri-kanannya. Masing-masing dari mereka membawa sebuah panah, dua pedang pendek, tombak dan sebuah cakram.


"Aku tidak menyangka dirimu akan dikalahkan oleh seorang mahluk rendahan sepertinya" ucap salah satu Holy Knight yang jika dilihat dari bentuk zirah serta suaranya, adalah seorang perempuan berumur 20an. Entah mengapa ia menggunakan topeng besi yang tampak begitu keren.


"Aku terlalu meremehkan mereka, terutama dirinya" jawab Holy Knight tampan itu sambil menatap tajam Alzent "Aku sarankan kalian jangan meremehkan orang itu, kekuatannya tidak main-main" tegasnya, takut ada anggotanya yang terluka.


Begitu keempat Holy Knight lainnya bersiap untuk menyerang, Alzent sudah berada di belakang salah satu dari mereka yang menggunakan panah, merebut panah tersebut dan menggunakannya untuk mencekik leher milik Holy Knight tersebut, lalu dilemparnya mengenai Holy Knight yang menggunakan dua pedang pendek. Alzent merebut pedangnya itu dan menancapkannya ke zirah milik Holy Knight tersebut, di bagian leher, namun tak sampai melukainya. Berlanjut menggunakan satu pedang yang masih ada di tangan kirinya, melempar pedang itu ke arah Holy Knight pengguna tombak, sebagai pengalih perhatian sebab mau tidak mau ia harus menangkis pedang yang melesat cepat ke arahnya. Alzent menggunakan kesempatan tersebut untuk maju menerjang, membanting Holy Knight tersebut ke tanah dan mengarahkan tombak laki-laki itu ke leher seorang gadis yang menggunakan cakram. Tanpa sempat melemparkan cakram, gadis itu menjatuhkannya ke tanah, terduduk menyerah.


"Apa masih perlu dilanjutkan? Sahabatku membutuhkan pertolongan" kata Alzent dingin, ia tidak segan untuk melukai setiap Holy Knight yang ada di sana jika tak mendengar permintaan sederhananya.


Melihat tatapan Alzent, Holy Knight tampan itu akhirnya meminta bawahannya untuk menyerah dan segera membawa Lucan ke kerajaan untuk diobati. Ia juga melihat adanya potensi dalam diri Alzent serta sesuatu yang aneh di dalam Vampire muda itu. Itulah alasan lain mengapa ia mengizinkan Alzent dan kawan-kawannya menginjakkan kaki di Elfiant.


Di tempat lain, seorang Dark Elf mengawasi semua yang terjadi dari awal menggunakan kupu-kupu hitam-keunguan yang hinggap di salah satu batang pohon. Ia tersenyum melihat Alzent dari Magic Cauldronnya dan berencana untuk mengirim pasukan, membawa Vampire tampan itu ke hadapannya "Alzent Montaque yah? Kau akan menjadi mainan paling berhargaku, oh pangeran tampan atau haruskan aku bilang, kegelapan bersemayam?"


Dengan begini, beban yang harus dipikul Alzent semakin berat, di mana kini ia harus mempertaruhkan nyawa untuk melindungi ras Elf dari Dark Elf. Satu kesalahan akan berakibat fatal bahkan berpengaruh untuk misinya menyelamatkan setiap dimensi.


Dari kejauhan, Gerald berdiri melihat pertarungan Alzent dari atas sebuah bukit. Senyuman yang sama seperti sebelumnya masih belum bisa lepas dari wajahnya setiap kali ia melihat Alzent beraksi. Vampire itu akan sangat membantu dalam rencana besar Gerald.