Alive But Dead Inside

Alive But Dead Inside
Dark Path #23



"Dimana kata-katamu, kau tidak akan berbuat semena-mena seperti para Immortal? Kau baru saja  membahayakan seluruh mahluk Mortal!" sahut Veron tak percaya "Apa kau sudah memikirkannya dengan baik dalam kepalamu? Apa kau pikir Alzent akan menyukai hal ini?"


Lucan berbalik, mengendalikan rantai di pergelangan Veron, menarik masing-masing lengan saling menjauh dari tubuh. Veron menjerit tertahan, menatap sosok yang tak lagi ia kenal, "Sudah kubilang, tutup mulutmu. Kau tidak tahu apa-apa mengenai diriku, kau hanya mengenal bagian luarnya saja. Selama ini, aku sudah menahan diri untuk tidak menghancurkan para Immortal, namun kini adalah saat yang tepat untuk melampiaskan seluruh amarah, lagipula, aku yakin Alzent pasti setuju dengan rencanaku. Dia juga tidak suka melihat Immortal berbuat seenaknya pada Mortal, dia sudah pasti akan bergabung dan menghancurkannya bersama diriku.. jika dia masih hidup tentunya"


"Alzent takkan pernah setuju dengan perbuatanmu ini!" tukas Veron.


Lucan hanya mendengus pelan, kembali berbalik pada Zeus yang tampak sudah tak berenergi "Bagaimana menurutmu, Zeus? Kau adalah raja terkuat, raja paling menakutkan dalam dunia Immortal. Bukankah kau memiliki sebuah komentar terhadap hal ini? Kau suka menghancurkan dunia para Mortal bukan?"


Namun Zeus hanya terdiam di tempat, tak bereaksi sama sekali. Lucan berlutut, menatap wajah yang sudah tampak tak bernyawa "Hey, kau sudah tiada? Padahal aku berbalik cuma sekitar dua sampai tiga menit. Hoi Zeus!" Lucan menepuk-nepuk pipinya, tiba-tiba sebuah portal terbuka tepat di atas mereka. Sosok seorang Immortal turun dari atas, melebarkan tangan selagi awan-awan badai mengelilingi dirinya, membentuk badai petir besar membuat para pasukan Immortal bersorak. Sosok itu menatap ke bawah, tepat ke arah Lucan dan dalam sekejap sudah berada di depan, mencekik lehernya "Z-Zeus? B-bagaimana.. bisa-"


Ia tertawa kecil, menunjuk tubuh yang tertusuk beberapa besi besar "Itu, hanyalah sebuah boneka bagiku. Yang sebenarnya kau bunuh adalah Zeon, bukan diriku. Selama ini aku bertarung dengan kalian menggunakan tubuhnya, diriku yang asli cuma duduk di atas singgahsana, tertawa dalam diam memerhatikan kalian para mahluk Mortal berjuang begitu keras demi mencapai sebuah tujuan sia-sia dan kau?" Cekikan pada leher Lucan makin menguat "Adalah mahluk kecil yang sudah berani menantang para Immortal. Kau pikir mahluk Mortal bisa mengalahkan kami? Tentu saja tidak" Zeus menarik wajahnya mendekat "Biar kuperlihatkan, bagaimana rasanya melawan sosok Immortal yang sesungguhnya" ia menghempaskan Lucan ke tanah, mencekik leher mungil itu makin kuat hingga ia sulit mengambil napas, kemudian melemparkannya ke arah Veron dan mereka berdua terlempar jauh ke belakang bersama, saat rantai yang mengikat tangan Veron menghilang bersamaan dengan berhantamannya tubuh mereka.


Zeus mengawasi keduanya jatuh terlempar, lalu terseret. Ia tidak lagi bertarung secara agresif dan brutal, ia cuma ingin menunjukkan sosok seorang Immortal itu seperti apa dan mahluk seperti mereka sama sekali bukan tandingan para Immortal.


Baru saja akan bangkit berdiri, mereka sudah dihujani oleh petir besar yang terus menyambar tanpa memedulikan jeritan, perlahan menghilang dikalahkan oleh suara gemuruh awan yang begitu memekakkan telinga. Zeus melipat lengan, tersenyum menyaksikan mereka tak dapat melakukan apa-apa, tetapi senyumannya itu memudar begitu melihat Lucan berhasil bangkit berdiri dan aura kemerahan tampak di sekitar tubuh remaja tersebut. Begitu Zeus berkedip, sosok Lucan sudah berada di hadapan dengan penglihatan visor bercahaya merah terang dari helm hitam pekat yang entah kapan munculnya, melindungi kepala Lucan. Sebuah tinju keras mendarat di tubuh Zeus, memberikan ia rasa sakit yang sudah lama tak ia rasakan. Zeus terlempar beberapa meter ke belakang, tetapi ia berhasil mendapatkan keseimbangan, mendaratkan kedua kakinya, menciptakan bekas seretan panjang hingga akhirnya benar-benar berhenti.


Mereka berdua saling bertatapan, menunggu saat yang tepat untuk maju menerjang. Sementara itu, Veron bangkit berdiri, melihat di kejauhan sosok Lucan yang kini sudah sepenuhnya tertutup oleh zirah robotik berwarna hitam pekat, sebuah zirah yang biasa ia dapatkan dalam film-film Sci-fi atau bergenre mecha. Veron tak tahu kapan dan bagaimana ia mendapatkan zirah keren tersebut, namun ia harus membantu Lucan sebelum sahabatnya itu terluka parah, terlebih melawan sosok Immortal dengan wujud asli.


Lucan dengan cepat menekuk lutut, akan menjegal kaki Zeus, tetapi tampaknya ia tahu maksud dari remaja tersebut dan backflip ke belakang, sekaligus menghindari tendangan Lucan yang selanjutnya menggunakan dua kaki, memakai satu tangan untuk bertumpu pada tanah, memutar tubuhnya dan berdiri kembali di tempat semula.


"Semakin lama kau menghabisiku, semakin lama pula portal di atas itu terbuka dan semakin banyak Immortal yang akan tiba di tempat ini" ucap Zeus sambil tersenyum penuh makna "Kau tentunya tak ingin kalah di hari pertama Ragnarok dimulai, bukan?"


Tanpa menunggu lagi, Lucan melancarkan serangan-serangan mematikan menggunakan pedang yang dapat ia tarik masuk ke dalam zirah, memunculkan duri-duri merah-kehitaman tajam dari dalam tanah serta menggunakan rantai yang sebelumnya berhasil mengikat para Immortal, tetapi kali ini tak berhasil pada Zeus. Lucan yang mulai kehabisan ide, akhirnya memilih untuk mendekat, mengayunkan pedang yang dihindari Zeus dengan mudah lalu memukulkan tangan ke tanah. Duri-duri tajam baru, bermunculan tepat di bawah Zeus, menjalar tinggi ke atas, lalu hancur begitu Zeus menembakkan petirnya dan satu petir lagi ke arah Lucan. Ia sengaja tidak menghindar, membiarkan petir itu mengenai tubuh lalu menyetrum dirinya, tetapi Lucan tampak baik-baik saja selama petir biru menyelimuti sekujur tubuh, seolah petir tersebut melindunginya.


Zeus melompat jauh ke belakang ketika Lucan maju menerjang, namun ia ikut melesat cepat, mengumpulkan bola energi merah di tangan kanan dengan percikan-percikan listrik yang ia tarik dari petir Zeus sebelumnya, berteleportasi ke belakang Immortal itu, menghantamkan bola energi tepat ke punggung Zeus dan terus mendorongnya ke tanah hingga tercipta kawah besar dari ledakan yang terjadi. Lucan melompat ke pinggir kawah, mencari jarak aman karena ia tahu serangan tadi tak cukup untuk mengalahkan sosok Immortal di bawah.


Dapat terdengar suara puing-puing bebatuan berjatuhan. Zeus bangkit berdiri, membersihkan bajunya, lalu melihat ke arah Lucan sembari membunyikan sendi leher "Tampaknya, aku harus menggunakan kekerasan pada bocah kepala batu sepertimu"


Baru saja Lucan akan bereaksi, Zeus sudah muncul di belakang, mencengkram kepala dan menariknya sejajar dengan tinggi lengan, kemudian melempar Lucan jauh ke arah salah satu pulau apung tepat di sebelah pulau apung yang sudah setengahnya hancur karena pertarungan dia dan Alter. Lucan dapat merasakan tiap bebatuan serta tanah keras menghantam bagian belakang tubuh, memberikan ia rasa sakit baru serta perasaan kaget, membayangkan Alter sempat bertarung seperti ini sebelumnya dan masih tampak baik-baik saja.


Zeus sama sekali tak memberikan napas bagi Lucan, ia meraih tubuh tersebut, melemparnya lagi, jauh ke atas, memberikan beberapa pukulan keras kemudian menendangnya turun ke bawah menghantam pulau apung yang sama. Dengan cepat, awan-awan badai berkumpul, membentuk sebuah spiral, menembakkan petir berukuran sangat besar begitu tubuh Lucan sudah terhempas ke tanah. Remaja tersebut masih berusaha bangkit, membuat Zeus sedikit mengagumi keteguhan hatinya.